Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

26

authoriya

"KAU tidak berpikir untuk mengabaikan panggilannya kan?" Soojung memberikan pandangan 'tidak mungkin 'kan?'—nya kepada Suzy dengan raut mencari pembenaran. Sejak tadi ponsel Suzy terus-terusan bergetar dan sepertinya yang punya ponsel itu tidak berniat sama sekali untuk mengangkatnya.

Bukannya dia merasa terganggu, namun ketika Soojung melihat id caller si penelepon insting siaganya langsung hidup. Dia yang mencoba 'menjodohkan' Suzy dengan si kaya raya dari Watermart itu, dan rencana itu mestinya berjalan lancar. Walaupun Suzy tidak bicara apa-apa mengenai perasaannya, namun Soojung bisa yakin kalau sahabatnya itu menyukai pewaris Watermart. Kalau bicara soal Myungsoo, Na—kakak Soojung—bahkan sudah menceritakan kalau Suzy adalah cinta Myungsoo yang tak sempat diutarakan. Dimana, hal itu menurut Soojung amat sangat romantis, persis seperti drama rabu-kamis yang sering ditontonnya. Mendebarkan!

Suzy melirik ponselnya sebentar, lalu kembali menekuni pekerjaannya.

"Ha! Kau tidak menjawab aku!" Soojung berdecak. Wanita dengan blouse krem itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Soojung membawa kursinya memutar ke arah Suzy sambil menatap wanita itu ia kembali berkata. "Kau serius?"

"Apa?"

"Kenapa?"

"Apa?"

Soojung mengembuskan napas setengah mendengus. "Ada yang tidak kau ceritakan padaku ya?"

Masih dengan menatap Soojung, Suzy melepas tangannya dari pekerjaan yang ia tekuni. Kedua matanya melirik sebentar ke arah jendela yang menembus keluar—tapi orang diluar tidak bisa melihat bagian dalam ruangan—lalu kembali menatap Soojung. "Kalau aku katakan tidak?"

"Itu artinya kau berbohong."

Suzy mengembuskan napas. Lalu menunduk, memainkan kuku jemarinya dengan minat berlebih. "Sepertinya aku jatuh cinta pada Myungsoo."

"Kalau itu aku sudah tahu."

Suzy mendongak, terkejut. "Kau tahu?"

"Mm," dengan senyuman lebar Soojung mengangguk semangat. "Sangat jelas, teman. Sangat amat jelas."

Kedua bahu Suzy merosot, ia kembali menghela napas. "Kemarin Myungsoo tidak jadi datang ke rumahku kan? Dan aku merasa kecewa soal itu."

"Yeah, kau bahkan kusut sekali waktu itu," Soojung mengangguk. Kemudian menegakkan tubuhnya. "Dengar, kau sudah maju duluan kan?"

"Jung," alih-alih menjawab, Suzy malah memanggil nama sahabatnya itu. Dia menimbang dalam hati apakah akan mengatakan hal ini atau tidak, namun menahannya sendiri pun rasanya sulit. Akhirnya, setelah menarik napas panjang, dia mulai bercerita. "Si Naeun itu... dia magang di Watermart. Katanya ada projek drama baru, dan dia ingin belajar langsung."

"MWO!?" kedua mata Soojung membeliak. "Naeun yang jelek itu?"

Suzy ragu, tapi mengangguk juga. "Ya, dia."

"Oh tuhan kenapa wanita itu selalu menjadi duri coba?"

"Molla..."

Wajah Soojung nampak kesal. Dia jelas masih tidak ingin membahas wanita yang masuk ke hubungannya dan Minhyuk. Soojung tidak menyimpan luka, hanya saja untuk memaafkan rasanya belum bisa. Kedua matanya menyipit. "Kenapa harus Watermart?"

"Mungkin karena Perusahaan itu yang mudah digapai, kau tahu kan pamannya bekerja di sana dan dia temannya Myungsoo."

"Dia pasti punya modus lain."

Suzy juga berpikir demikian, namun dia tidak mengutarakannya.

"Dia tahu kalau Myungsoo punya kekasih?"

Suzy mengedikkan bahu. "Aku tidak yakin. Mungkin tidak."

"Ella menyukainya?"

"Huh?"

Kening Soojung mengernyit. "Kita bisa tenang kalau Ella tidak menyukai si ular itu. Sekarang dimana Ella?"

"Harusnya dia di sekolah dan akan segera pulang. Kenapa kau menanyakan dia?"

Soojung menatap jam di ponselnya, sebelum kembali menatap Suzy sambil mengambil tasnya. "Kita harus menyapa Ella agar perasaannya padamu tidak berkurang. Suzy, Ella menyukaimu. Selagi perasaan gadis kecil itu tetap sama, kau yang menggenggam segalanya. Kajja."

***

Ella cemberut. Ini adalah hari yang tidak seru—meskipun hari-hari biasanya juga tidak seru tapi hari ini lebih tidak seru dari biasanya—dan menurut Ella jarum jam berpindah dengan sangat lamban.

Huh!

"Dasar anak jelek sialan!" gerutu Ella sambil menendang kakinya ke udara.

"Siapa yang jelek?"

Dengan terkejut Ella mendongak. Kedua matanya membulat dan sudut bibirnya mulai tertarik ke atas dengan otomatis. Seketika awan kelabu di atas kepala Ella langsung hilang berganti dengan sinar matahari pagi yang menyegarkan. Ella langsung memeluk tubuh ramping yang ada di depannya dengan penuh kerinduan. "Eomma, aku sangat merindukanmu!"

"Aku juga sayang." Jawab Suzy sambil mengelus puncak kepala Ella dengan sayang.

Soojung tersenyum, dia melepas kacamatanya dan turun dari mobil. "Kau tidak merindukan aunty Jung?"

Ella sedikit menggeser kepalanya dan menatap ke belakang. Lalu tersenyum lebar. "Aku juga merindukan aunty Jung tentu saja!"

Soojung tersenyum.

"Eomma dan Aunty ada urusan di sini?" tanya Ella, mendongak.

"Tidak," Suzy menggeleng. "Kami ingin mengajakmu makan siang. Ella bisa?"

Ella mengangguk semangat. "Tentu saja waktuku infinity untuk eomma."

"Bagus sekali. Kalau begitu ayo masuk ke mobil." ajak Suzy sambil menggenggam tangan Ella.

"Tapi, Pak Lee?"

"Eomma sudah menghubungi nenekmu meminta supaya pak Lee tidak usah menjemput ke sekolah."

"Asyik!"

Suzy dan Soojung saling beradu pandang sesaat sambil menahan tawa mereka, kemudian mereka bertiga kemudian melangkah masuk ke mobil.

--

Karena ini jam makan siang banyak restoran cepat saji yang penuh, karena itulah membutuhkan waktu cukup lama hingga mereka berakhir di kafe di daerah Itaewon. Ella turun dari pintu belakang dan langsung menggenggam tangan Suzy dengan erat. "Omona eomma, bagaimana bisa kita ke sini?"

"Hm?"

"Kafe ini milik ayahnya Jun."

"Oh ya?"

Ella mengangguk. "Kalau begitu ayo kita masuk, aku akan pilihkan spot ternyaman di dalam. aku tahu tempatnya!" ajak Ella kemudian melangkah lebih dulu masuk ke dalam kafe. Seorang staff yang melihat Ella langsung menyapa anak gadis itu dengan ramah dan mengatakan kalau Jun ada di lantai atas.

"Aku tidak mencari Jun. Tapi, terima kasih. Oh ya, ahjussi, aku membawa ibu dan aunty sekarang jadi izinkan kami memakai lantai atas oke?" jawabnya. Kemudian menolehkan kepala, "Ayo, Eomma, Aunty, tempatnya ada di lantai atas."

Soojung menggeleng tak percaya. "Woah, dia benar-benar suka bicara."

"Mm, aku setuju."

"Dia bisa menjadi juru bicara Watermart di masa depan." Ucap Soojung lagi.

"Kupikir Ella tidak akan mau." Suzy mengernyitkan dahi, lalu menoleh kepada Soojung. "Bukankah Watermart punya dia? Dia duduk di rumah saja kebutuhannya jelas sudah terpenuhi."

***

"Yya, Kim Jun, kenapa kau duduk di samping eommaku?!" Ella melotot kesal melihat bagaimana tempat duduknya jadi tertukar. Padahal, dia cuma turun untuk memesan minuman di bawah, kenapa saat dia naik, tempat duduknya sudah ada yang menempati? Huh!

Jun menoleh kemudian memamerkan cengiran andalannya—yang akan membuat Ella semakin kesal—dengan sengaja. "Terserah aku laa."

"Tapi, itu tempat dudukku." Seru Ella seraya melangkah mendekat. "Hush, go away!"

"Shireondae naega wae olmajulkon dae?" balas Jun sambil menjulurkan lidahnya.

Ella menggerutu. Sekali lagi dia berusaha mengambil tempat duduknya. "Yya, Kim Jun! Ini tempat dudukku."

"Tapi, ini kafe-ku."

Ella mendengus. "Punya Ayahmu."

"Tapi aku anak laki-lakinya otomatis ini akan menjadi milikku."

"Huh, Menyebalkan! awas kalau kau main ke rumahku!" Ella cemberut. Kedua tangannya terlipat di depan dada kemudian menatap Ella Suzy dengan raut wajah memelas. "Eomma..."

Suzy mengulurkan tangannya. "Ella duduk di samping Aunty Jung, tapi tetap bisa memegang tangan eomma, bagaimana?"

Gadis kecil itu mengangguk dan langsung mengikuti ucapan Suzy. Soojung terkejut, Kim Jun lebih terkejut. Anak laki-laki kecil itu tadi hendak memakan sandwich-nya tapi urung karena melihat ekspresi langka dari sepupu perempuannya ini. Sepanjang ia mengenal Ella, sepupunya itu bahkan tidak pernah mau mengalah—jiwa kompetetifnya begitu tinggi—dan jarang sekali menurut ucapan orang. Ella yang terbiasa dengan apapun keinginannya harus dituruti itu kini menuruti ucapan 'calon ibu'-nya tanpa penolakan lebih dahulu. Wow...

"Aunty, aku tidak percaya Ella akan menurut langsung perkataanmu."

"Hm?" Suzy menoleh dengan pandangan bertanya kepada Jun.

Dengan kening berkerut samar, Jun kembali bicara. "Sepupuku itu hanya menurut pada ucapan Neneknya. Bahkan Paman Myungsoo lumayan sedikit sulit menjinakkannya."

"Yya, aku mendengarmu, Kim Jun!" Ella membawa jari telunjuk dan jari tengannya menunjuk bergantian ke matanya dan mata jun sambil menatap tajam.

"Aku kan bicara fakta." Jun menjulurkan lidah, lalu menoleh pada Suzy kembali. "Aku setuju kalau Aunty segera menikah dengan paman. Akhirnya Ella bisa dijinakkan!"

"Ugh!"

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co