Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

29

authoriya


“AKU tidak bisa melarangnya jika dia menyukaiku, tapi aku menyukaimu. Fakta itu tidak bisa dihilangkan, Suzy. Aku tidak peduli dengan perasaan wanita lain, aku hanya peduli pada perasaanmu, apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Itu adalah satu-satunya hal yang aku pedulikan saat ini.”

Jantung Suzy sama sekali tidak bisa berkooporatif sekarang. Detaknya mungkin bisa terdengar sampai ke telinga Myungsoo saking kerasnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Myungsoo akan mengatakan hal seperti ini kepadanya. Padahal, niat awa Suzy adalah ingin mengakhiri hubungan palsu mereka berdua. Tentu saja dalam arti harfiah.

“Suzy, aku mulai berpikiran macam-macam kalau kau tidak mengatakan apa-apa sekarang...” suara Myungsoo kembali terdengar, mengalun ke telinga bersamaan dengan embusan angin malam.

Coba katakan, bagaimana Suzy bisa merespons dengan benar sekarang?

Jantungnya berdebar keras dan pikirannya mendadak beku.

Kepala Suzy menunduk kala merasakan sebuah kehangatan dari genggaman tangan Myungsoo kepadanya. Dia menatap tangan besar itu lama, lalu mendongak dan menemukan kedua mata Myungsoo yang menguncinya.

Aroma parfum dari tubuh Myungsoo sama sekali tidak membantu kewarasan jiwa Suzy sekarang, namun, agar dirinya tidak terlihat bodoh sekarang, dia harus segera mengatakan sesuatu. Karena itu dengan sekuat tenaga menggunakan sisa kewarasannya Suzy mencoba bangkit dari keterpanaan yang menguncinya.

Suzy menarik napas sekali sebelum bicara. “Menurutmu kenapa cuaca malam begitu dingin?”

Oh tuhan, kenapa aku malah memberikan pertanyaan konyol? Suzy memejamkan mata seraya menggurutu pelan. Pertanyaan tadi jelas diluar kesadarannya. Keren, Myungsoo mungkin akan mengira dia sudah tidak waras.

“Uh?”

Suzy tertawa dengan dipaksakan.

“Kau ingin jawaban berbasis buku atau jawaban dari pemikiranku?”

“Jawabanmu.”

“Menurutku...,” Myungsoo menggantung kalimatnya, dan tiba-tiba saja dia menarik Suzy ke dalam pelukannya. “Agar kita bisa melakukan hal ini.”

Kedua mata Suzy membeliak, dia hendak melepaskan pelukan itu—refleks—namun, Myungsoo menahannya. “Kim Myungsoo, lepas. Bagaimana kalau ada yang melihat?”

“Siapa yang peduli?”

Suzy mendesah. Kali ini dia mulai menikmati kehangatan dari pelukan itu. Memandangi kota Seoul dari atas balkon apartemennya di malam hari ternyata lebih membahagiakan jika dalam pelukan laki-laki ini. Entah sejak kapan, dan Suzy juga tidak ingin menyangkal perasaannya lebih lama lagi, tapi, rasanya memang menyenangkan menghabiskan waktu bersama laki-laki ini; seperti sekarang.

Dia ingin hubungan mereka berlangsung lama...

“Meskipun aku tidak mengerti kenapa kau menanyakan hal tadi, tapi aku senang karena itu aku jadi memiliki alasan untuk memelukmu.”

Suzy tersenyum hangat. “Kau tidak perlu mencari alasan untuk memelukku.”

“Hm?”

Suzy mendongak, menatap wajah Myungsoo dari bawah sebelum akhirnya laki-laki itu menunduk dan balas menatap Suzy. Suzy memberanikan diri untuk menyentuh helaian rambut Myungsoo lalu menyampirkannya, kemudian berkata. “Kau memiliki akses untuk memelukku kapanpun mulai hari ini.”

“K-kau...?”

Ng, I love you too?”

Myungsoo tersenyum. Lalu, menarik kembali Suzy ke dalam pelukannya. Senyumannya lebar dan penuh dengan kebahagiaan sekarang. “I love you. I Love you. a lot.”

Suyz tersenyum dalam pelukan Myungsoo. Diterpa angin sepoi malam hari, kini rasanya sudah tidak dingin lagi. Dia harusnya mengatakan ini sejak ia menyadari perasaannya. Dia harusnya tidak menyangkal begitu lama, padahal sejak ciuman mereka waktu itu—hatinya sudah dipenuhi Myungsoo. Tidak ada yang lain.

Suzy yakin kalau Soojung pasti akan bersorak bahagia jika mengetahui hal ini. Keinginannya untuk menyiapkan acara pernikahan keluarga Watermart mungkin akan segera terwujud dalam waktu dekat. Wajah Suzy bersemu merah membayangkan hal itu... mungkinkah tak masalah jika membayangkan pernikahan di hari pertama kencannya?

Klik!

Suzy langsung melepaskan pelukan Myungsoo dengan cepat dan menoleh ke arah dalam apartemennya. Kedua matanya membeliak—dia yakin Myungsoo juga melakukan hal yang sama—saat melihat gadis kecil dengan piyama bergambar sedang tersenyum memamerkan giginya. Satu tangannya memegang ponsel sang ayah sedikit di sembunyikan, Ella kemudian bersuara. “Ups, aku ketahuan.”

“Apa yang sedang kau lakukan, Ella?” tanya Myungsoo.

 “Aku hanya mengambil dokumentasi untuk dikirimkan ke halmoni,” Ella mengedikkan bahu. “tapi ternyata ponsel ayah tidak bisa mode silent. Menyebalkan, aku ketahuan.” Ia menggerutu kecil.

Suzy memejamkan matanya sebentar, dia jelas malu sekali dipergoki sedang bemesraan oleh anak dari kekasih barunya ini. Karena itu Suzy dengan cepat berdiri kemudian melangkah menuju Ella. “Ayo masuk, udara diluar begitu dingin.”

“Aku tidak apa-apa kalau eomma masih mau bersama ayah.”

“Tidak. Ayo.” Ucap Suzy kemudian menuntun gadis kecil itu untuk masuk.

Myungsoo memerhatikan kedua punggung yang semakin jauh dari jarak pandangnya itu sambil tersenyum. Dia bersorak senang sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam sambil membawa dua mug dalam genggaman tangan. Ini adalah hari membahagiakan seumur hidup Myungsoo.

“Ella, bersiap. Kita harus pulang.” Ucap Myungsoo kepada Ella setelah ia selesai meletakkan kedua mug itu ke tempat cuci piring.

Myungsoo mengambil ponselnya dan tersenyum kecil ketika tatapannya jatuh ke Suzy tapi wanita itu jelas sedang menghindari tatapan mereka dengan cara yang berbeda dari yang tadi siang—tentu saja.

“Ella,”

“Ayah,” Ella merengek, memeluk Suzy dengan erat. “Aku tidur di sini ya, ya, ya?”

Myungsoo menggeleng tegas. “Kita harus pulang.”

“Aku kan bilang aku tidur di sini. Bukan kita.” Ella cemberut.

Myungsoo terdiam.

“Aku tidak keberatan kalau Ella tidur di sini.” Ucap Suzy sambil mengelus rambut Ella yang masih dalam pelukannya. Kedua matanya menatap Myungsoo nampak gelisah ketika dibalas dengan tatapan dalam oleh laki-laki itu.

Sialan, dia tidak pernah grogi hanya ditatap laki-laki sebelumnya.

“Tidak bisa, sayang, Ella harus ikut aku pulang.”

Suzy langsung bersemu merah dan terdiam seribu bahasa. Jantungnya nyaris copot mendengar panggilan Myungsoo untuknya. Kenapa Myungsoo tidak bisa berkooporatif dalam menjaga kesehatan jantungnya, sih?

“Huh, ayah begitu kaku!” seru Ella.

“Ella,” Myungsoo menegur.

“Arraso, arraso,” Ella menghela napas, kemudian menarik diri dari pelukan Suzy. Wajahnya masih cemberut tapi dia sudah menurut. Hal itu yang kadang membuat Suzy begitu kagum dengan gadis kecil ini karena dia tidak sampai merengek seperti kebanyakan anak-anak jika keinginannya tidak dituruti. Suzy tersenyum ketika pandangannya bertemu dengan manik mata Ella. Gadis kecil itu tersenyum, lalu berkata. “Eomma jangan telponan dengan laki-laki lain. Oke?”

Suzy tersenyum. “Kecuali klien?”

Ella mengangguk. “Ya. Dan orang yang tadi.” Tukasnya sambil tersenyum jahil menatap sang ayah.

“Yang tadi?” Suzy mengernyit, berpikir. “Ella kan tahu kalau tadi ibu ditelepon oleh aunty Jung. Bukannya Ella yang memberikan ponsel kepadaku?”

“Ah!” Ella menepuk dahi bertingkah pura-pura lupa. “Aku belakang banyak pikiran jadi lupa.”

Gadis kecil itu berdiri, lalu memberikan senyuman lebar kepada sang ayah yang kini menatapnya dengan tatapan sadar kalau dia sudah dibohongi. Ella langsung berlari dan menggenggam jemari sang ayah. “Ayo, ayah!”

***

“OH MY GOD! OH MY GOD! KAPALKU BERLAYAR!?” Soojung histeris. Kedua tanganya menangkup wajah Suzy dan menatapnya lamat-lamat. “KAU TIDAK BERCANDA KAN?”

“Untuk apa?”

“Kau tidak sedang prank ‘kan?”

Suzy menghela napas. “Untuk apa?”

Soojung mengangguk, kemudian menjauhkan tangannya dari wajah sahabatnya itu. “Benar. Kau kan bukan youtuber, untuk apa melakukan prank.”

Suzy menggeleng-geleng. Baru saja dia meletakkan tasnya ke atas meja, suara Soojung kembali terdengar.

“Jadi, semalam kalian ciuman lagi?”

“Kau gila ya?”

“Kenapa?” Soojung mengerjap bingung.

Tampak menahan diri untuk tidak mengumpat, Suzy menghela napas kembali. “Kami tidak berciuman.”

“Tidak asyik.”

No comment.”

“Jadi—“

“Jung, lebih baik kita bersia-siap untuk bertemu Kim Jongin dan calon istrinya, bukan?”

“Aku bisa men-cancel janji dengan mereka asalkan dapat cerita lengkapmu, teman.”

“Ayolah, aku masih banyak cicilan. Tahu?”

“Baiklah, baiklah.” Soojung mengalah dan kembali menyeret kursinya ke mejanya. “Jadi, kau sudah diajak menikah?”

“Jung...”

Arrasso, arrasso...”

***

Yippie bentar lagi endddd

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co