30
NAEUN menatap laki-laki yang sedang meninjau dokumen yang baru saja ia berikan itu dengan seksama. Myungsoo jelas sedang bahagia karena Naeun bisa melihat dengan jelas menggunakan kedua matanya—bahkan orang rabun sekalipun bisa melihatnya—bagaimana wajah itu sedang berseri-seri sekarang. Atau bahkan sejak pagi? Sekelebat terdengar para pegawai Watermart pagi ini berkasak-kusuk bagaimana mereka yang mendapati bos mereka yang super kaku itu tiba-tiba menjadi ramah menyapa. Dan detik ini Naeun berhasil membuktikan omongan-omongan itu dengan kedua matanya sendiri.
Dia mengenal Myungsoo sudah terhitung lama, dan ekspresi wajahnya yang ini jelas mengusik pikirannya. Myungsoo nampak sedang jatuh cinta.
Naeun meremas ke sepuluh jemari di sisinya. Apakah ini karena wanita yang kemarin itu?
“Semuanya baik. Kau bisa langsung meminta menghubungi pihak sana untuk membahas lebih rincinya.” Ucap Myungsoo sambil menutup dokumen yang tadi ia baca, lalu menyerahkannya kepada Naeun.
Naeun mengubah ekspresinya dengan cepat menjadi ramah. Diulasnya senyuman super cerah seraya mengambil dokumen dari tangan Myungsoo. “Ya, aku akan segera menghubungi pihak sana.”
Myungsoo mengangguk. “Kau boleh kembali ke tempatmu.”
“Kau mengusirku?”
Myungsoo menatap dengan pandangan bertanya. Dia yang baru saja hendak mengambil ponselnya dari dalam laci meja kerjanya mendadak terhenti, ditatapnya wanita dengan blus krem dan rok span itu kembali.
Naeun kembali bicara dengan nada yang dibuat setengah bercanda. “Kau sedang bahagia ya? Apa kau menang lotre?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Apa maksudmu?”
“Hanya saja,” Naeun mengedikkan bahu. Lalu menunjuk ke arah luar menggunakan dagunya. “para pegawaimu tak henti-hentinya bergosip pagi ini karena bos mereka yang kelewat kaku mendadak jadi super ramah begini.”
“Aku?”
“Siapa lagi?”
Myungsoo mengernyitkan dahi. “Sepertinya aku melakukan hal seperti biasanya.”
“Jadi kau tidak menang lotre?”
“Tidak.”
“Hm, karena wanita itu ya—“
“BRO KATA ADIKKU, KAU DAN—“ suara laki-laki memotong kalimat Naeun. Pria dengan pakaian jas kantoran itu membuka pintu, senyumnya yang mekar mendadak kuncup lagi saat tahu sang sahabat sedang ada tamu di ruangannya. “Ups, kau sedang ada tamu ternyata.”
“Na, kau ke Seoul?” Myungsoo yang nampak kaget melihat sahabatnya itu langsung berdiri. Dia menatap Naeun sebentar dan bicara, “Kau boleh pergi.”
Naeun mengangguk dan berbalik, mengulas senyumnya kepada sahabat dari Myungsoo itu dengan sopan sebelum melangkah keluar ruangan.
Na memalingkan pandangannya kembali setelah mengikuti kepergian wanita itu, dahinya kini berkerut. “Bukankah dia model itu?”
“Ya,” Myungsoo mengangguk. “Kapan kau dari Jepang?”
“Kemarin lusa.” Jawab Na pendek, lalu kembali memberikan pertanyaan lanjutan. “Kenapa dia di sini?”
“Magang. Naeun dapat tawaran membintangi drama dan dia ingin memperdalam perannya.”
Wajah Na masih menampilkan reaksi yang sama dengan sebelumnya, dia langsung mengingat cerita Soojung dan Suzy saat ia mengintrogasi kedua wanita itu ketika ia memergoki sepasang mata sembap milik sang adik pagi itu. Na saat itu hanya mendengar ceritanya, namun dia menjadi emosi ketika tahu bahwa satu-satunya adik perempuan yang ia miliki disakiti oleh pria lain. Dan sekarang, Na bertemu dengan wanita yang menjadi alasan putusnya hubungan percintaan si brengsek itu dan sang adik. Tapi dia enggan membahas, dia hanya ingin professional dan tidak ingin ceritanya menjadi beban untuk sahabatnya ini.
Na akhirnya mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan. “Omong-omong, kau akhirnya punya hubungan serius dengan Suzy?”
Myungsoo tersenyum lebar. “Informanmu jelas bisa dipercaya.”
“Aku tidak percaya kau akhirnya berlabuh, teman.” Na tersenyum lebar. “Jadi, Suzy sudah selesai dengan laki-laki itu?”
“Siapa?”
“Jimin. Bukankah kau pernah bertemu dengannya di rumah sakit?” Na mengangkat satu alisnya. Lalu kembali bicara, “Aku senang saat tahu Suzy berakhir dengan si pengecut itu. Dia berhak bersamamu dan bahagia, teman. Aku pendukungmu nomor 2.”
“Nomor 2?”
Na mengangguk. “Nomor satunya adalah Soojung. Aku tidak akan merebut tempatnya meskipun dia menyebalkan.”
Myungsoo jadi tertawa, tapi kini dengan pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tadi diberikan Na kepadanya. Mengenai keberadaan Jimin yang sempat ia lupakan.
***
Kacamata Suzy sampai merosot dari batang hidungnya ketika dia menyadari kalau dia butuh kafein sekarang. Suzy menarik napas, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang hampir keram lalu melepas kacamatanya.
Kedua matanya menatap ke arah meja di sampingnya dan tidak menemukan Soojung di sana.
“Mwoya... kemana perginya?” gumam Suzy yang langsung dijawab oleh semesta.
Kepalanya menoleh ke arah pintu ruangan dan menemukan Soojung sudah membawa dua cup kopi dalam genggamannya. Wajahnya sumringah ketika melihat Suzy, lalu diberikannya satu cup kopi itu untuk sahabatnya itu. “Aku istri idaman sekali kan?”
“Gumawo.” Suzy mengangguk.lalu, menyesap kopinya. Rasa dingin dicampur rasa kopi langsung terasa melegakan tenggorokan dan pikirannya yang tadinya keruh. “Kau benar-benar wifey material sekali. Kalau aku laki-laki mungkin aku sudah mengajakmu menikah, Jung.”
Soojung mengibaskan rambutnya. “Sayang sekali para laki-laki diluar sana tidak melihat potensiku.”
“Nanti juga kau akan bertemu dengan laki-laki yang tepat itu. Kau tidak perlu menurunkan standarmu, mereka yang perlu menaikkan standar mereka.”
“Sepakat.” Soojung menjentikkan jarinya. Kepalanya melongok menatap ke arah Suzy, lalu bergumam takjub. “Itu hasilmu pagi ini?”
“Ya, ini. Tapi bukankah ini tampak penuh?” Suzy mengerutkan dahi. Dia jelas keluar dari zona nyamannya kali ini, bahkan dia harus memberikan gambaran baru. “Ini seperti bukan TJS kita, Jung.”
“Aku setuju,” Soojung mengangguk-anggukan kepalanya. “Bagaimana bisa orang kaya seperti mereka punya selera seperti ini...”
“Entahlah.”
“Tapi biarkan saja, acara ini jelas akan sukses. Aku yakin, senorak apapun kekasih Jongin itu, aku yakin TJS bisa mengakalinya dan tidak membuat keluarga Jongin malu.”
Suzy tersenyum kecil. “Ya, aku juga yakin.”
“Ah, Omong-omong kau jadi akan menemui Jimin hari ini?”
Suzy mengangguk. “Suster Hoesook tadi bilang hari ini Jimin tidak ada terapi apapun, jadi aku memutuskan untuk datang menemuinya.”
“Kau ingin aku temani?” Soojung menawarkan diri khawatir, dia jelas tahu bagaimana pergulatan batin Suzy sekarang. Meskipun Suzy jelas sudah tidak menyukai Jimin, tapi perasaan iba sahabatnya itu jelas masih tersisa. “Aku tidak ingin kau ragu-ragu. Jimin jelas manipulatif.”
“Aku tidak akan ragu-ragu, Jung. Tenang saja.”
Soojung menyipitkan kedua matanya, kemudian bertekad seraya mengambil ponselnya. “Pilihannya kau pergi denganku atau aku akan menelepon Myungsoo untuk menemanimu.”
“Yya, Soojung...”
“Wae? Aku takut kau salah jalan, teman.”
“Myungsoo jelas tidak akan nyaman.”
“Dia lebih tidak akan nyaman ketika memikirkan kekasihnya berduaan dengan pria lain.”
“Tapi—“
“Suzy, dengar, aku pernah ada di posisi itu dan rasanya tidak nyaman ketika memikirkan kalau kekasihku bersama wanita lain. Memang tidak bisa dibandingkan karena kasusku perselingkuhan, tapi rasa tidak nyamannya jelas sama.”
Suzy menghela napas. “Baiklah, aku akan menelepon Myungsoo bertanya apakah dia bisa menemaniku atau tidak.”
“Anak baik.” Soojung tersenyum puas.
***
Tbc
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co