Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

32

authoriya

              WANITA disebelahnya itu tidak bisa mengeluarkan ekspresi lain selain membuka mulutnya selebar mungkin karena terkejut. Dari segala hal yang dipikiran Suzy dalam benaknya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Myungsoo akan 'ikut' bicara dan mengatakan pada Jimin secara frontal begitu.

Suzy menarik sedikit pakaian Myungsoo berniat kepada Myungsoo untuk menahan diri. Dia bisa melihat bagaimana raut wajah Jimin yang pucat sekarang, dan dia bisa melihat wajah Myungsoo melalui ekor mata yang terlihat sangat amat menikmati pembicaraan mereka bertiga sekarang.

Suzy harusnya bernapas lega karena di sekitar mereka sedang tidak ramai orang, dia mungkin bisa membuat sepasang telinga di sekitar mereka menjadi semakin tajam kalau saja di sini ramai.

"Dia bohong kan?" Jimin menatap Suzy, mencoba menolak apayang di dengar barusan. Sejujurnya dia tidak percaya kalau Suzy bisa berkhianat darinya. Namun, karena yang ditanya tetap diam, Jimin kembali menegur. "Suzy?"

"Untuk apa aku berbohong?" suara Myungsoo kembalimenyalang. Kobaran api bisa terlihat di kedua manik matanya kala berbicara. Diajelas tak suka karena dituduh bohong. Enak saja, pikirnya.

"Suzy tidak mungkin selingkuh dariku!"

Myungsoo mengangkat alis. "Selingkuh?"

"Aku?" kali ini Suzy mengeluarkan suaranya. Dia menunjukdirinya sendiri dengan pandangan bingung bercampur aduk. Kenapa tiba-tiba dia dituduh selingkuh, coba?

"Kita tidak putus."

"Kau yang meninggalkanku, Jimin." Suara Suzy naik satu oktaf. Napasnya memburu melihat Jimin, dia jelas sedang menahan amarahnya agar tidak meluap. Diingatkan pada kejadian masa lalu membuat luka Suzy yang hampir kering kembali basah seolah disiram air. "Kau meninggalkanku lebih dulu dan bersama kekasihmu yang bahkan sama sekali tidak pernah datang menjengukmu kesini. Aku sangsi kalau dia masih menunggumu, dia pasti sudah punya pria baru."

Oh tuhan, aku seharusnya mengerem kalimatku, aku tidak seharusnya membahas itu pada Jimin. Bagaimana kalau dia ngedrop lagi?Perasaan bersalah langsung menyelimuti Suzy. Ditambah dengan raut wajah Jimin yang kini berubah kaku dan memucat.

Suzy merasa ingin menampar dirinya sendiri sekarang.

Bodoh.

Saat dia ingin mengatakan sesuatu kembali, sebelum kata itu terucap keluar dari mulutnya, Suzy merasakan tangan Myungsoo kembali menggenggam tangannya; meremasnya dengan hangat. Seolah sedang mengingatkan kalau dia sedang bersamanya sekarang, bahwa apa yang barusan Suzy ucapkan ituadalah sebuah kebenaran. Yang paling penting adalah; bahwa Myungsoo tidak ingin Suzy melemah.

Dengan langit jingga yang mulai mengambil peran, kedua pandangan Suzy bertemu dengan manik mata Jimin. Suzy menghela napas sekali sebelum berbicara. "Kau tahu bagaimana tidurku tidak nyenyak selama ini? Bagaimana aku terus dihantui rasa bersalah sepanjang saat. Jimin-ah, aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan kita. Aku harap kau melakukan hal yang sama."

"Tapi, Suzy..."

"Pembicaraan ini tidak akan ada akhir kalau begini. Aku kesini ingin melihat keadaanmu, dan sepertinya kau sudah semakin baik." Suzymenghela napas. "Aku akan tetap menjadi temanmu, Jimin-ah."

Kepala Jimin menunduk. Penyesalan langsung melingkupinya. Suzymenunggu dengan sabar, dia menunggu sampai kepala itu kembali tegak dan pendarmata yang meredup itu benar-benar membuat Suzy ingin menangis juga. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Jimin, laki-laki itu menatapnya dengan ekspresiseperti itu...

"Bolehkah aku memelukmu sebagai salam perpisahan?"

"Tentu sa—"

"Tidak ada salam perpisahan." Myungsoo menarik tangan Suzymembuat wanita itu kini berdiri sedikit di belakangnya. Dia menatap tak sukapada Suzy sebentar, lalu menatap Jimin. "Aku tidak akan membiarkannya, bung."

Jimin tertawa kecil, lalu menarik napas dalam sebelumkembali mengembuskannya cepat. "Aku harusnya melakukan hal itu juga dulu.Menjaga Suzy, bukannya menyakitinya. Kali ini Aku benar-benar kehilangan orangyang paling baik sekarang."

"Jimin-ah..."

"Berbahagialah, Suzy-ah. Annyeong!" ucap Jimin kemudian menarik tiang selang infusnya dan melangkah pergi tanpa menoleh kembali.

***

Pakaian merah itu begitu pas dipakai oleh Suzy, denganrambut di gelung asal dan sedang sibuk membuat spageti untuk makan malammereka. Pandangan Myungsoo meredup dan hatinya terasa menghangat. Kini tak adalagi perasaan takut akan kehilangan karena apa yang dicintainya akan iapertahankan sebisa mungkin.

Sudut bibirnya ikut terangkat saat orang yang dicintainya melangkah mendekat dengan membawa dua piring spageti di tangan. "Aku begitu cantik ya?"

"Mm,"

Pipi Suzy bersemu merah. "Mwoya, kau jujur sekali. Kau jelas sangat berpengalaman soal wanita." Ucapnya seraya memberikan satu piring ke hadapan Myungsoo, sementara Suzy mengambil duduk di sebelah laki-laki itu dengan piringyang lain. "Aku sudah lama tidak masak, dan mengisi kulkas. Maaf kalau rasanyasedikit aneh."

"Aku bisa memakan apapun selagi bukan racun." Jawab Myungsoo santai kemudian membawa garpu yang sudah terlilit mie masuk ke dalam mulutnya.

Suzy menatap penuh. "Bagaimana?"

"Enak."

Wanita itu tersenyum bangga, kemudian menyuapkan satu sendok ke mulutnya sendiri. Ini sepertinya adalah makan berdua dengan Myungsoo yang sempat tertunda waktu itu. Tentu saja sekarang dengan status yang berbeda seolah tembok yang dibangun sebagai pembatas itu runtuh tak bersisa.

"Aku sudah lama tidak membuat makanan kecuali waktu Ella kesini. Aku biasanya membeli makanan cepat saji karena lebih praktis."

"Kalau begitu kau harus siap-siap untuk kerepotan setiap pagi dan malam."

"Huh?"

Myungsoo menghentikan kegiatannya, kedua manik mata hitam kelam itu menatap Suzy sampai ke maniknya. Dia tersenyum perlahan, "Aku pikir Ella dan aku jelas lebih menginginkan makan masakan buatanmu daripada bibi dirumah."

Suzy mengerjap.

"Aku ingin menikahimu sesegera mungkin, Suzy."

"Kau serius?"

Myungsoo mengangguk mantap. "Ya."

"Maksudku kau serius melamarku di meja akan saat kita sedang makan spageti begini?" kening Suzy mengerut, meskipun begitu hatinyabenar-benar menghangat sekarang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari malam ini.

"Aku akan mengulangnya di tempat yang—"

"Aku mau."

"Apa?"

Suzy tersenyum. "Aku sangat sudah siap kerepotan mengurus Ella dan dirimu."

Myungsoo tidak bisa menahan senyuman lebarnya, diletakkannya sendok yang ia pegang kemudian menarik kursi Suzy mendekat kearahnya. Satu tangan Myungsoo yang bebas langsung menelusup ke belakang kepala Suzy mendorong wanita itu untuk mendekat kemudian dengan langkah pasti Myungsoo langsung meraup bibir ranum Suzy.

Menciumnya.

***
Selesai

Terima kasih buat temen2 yang udah setia baca ini, dan pasti bakalan ngomel2 karena "Hah, kok cuma segini doang? Gantung bgt!" Ya tapi kan aku memang gitu😬 aku penganut open-ending guys sejak nonton netflix trus wkwkwk

Buat epilog, hmm mungkin akan kutulis kalau ada waktu ya. Tp ini udah pas kok. Pas bingit yekaan😆

Oiya, ada cerita baru mari di ramaikan, aku gak jamin update cepet, tapi aku jamin ini cerita bakalan ringan dan menenangkan pikiran2 kalian yg lagi pusing🙂

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co