Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

31

authoriya

              SUZY mengerutkan dahi ketika respons yang  diberikan Myungsoo begitu diluar ekspektasi. Kalau tidak salah Myungsoo kemarin bercerita kalau mereka—Watermart—sedang ada proyek deal baru yang sedang dikerjakan, dan Myungsoo meminta maaf kalau dia telat membalas atau mengabari Suzy. Tapi, yang membuat aneh adalah ketika Myungsoo ternyata langsung menjawab “Aku bisa menemanimu.” Untuk pertanyaannya tadi.

Dan saat ini, Myungsoo mengatakan kalau dia sudah di jalan hendak menjemput Suzy di TJS.

“Yoksi, aku sudah menduga Myungsoo akan langsung mengiakan.” Soojung mengangguk-angguk bangga.

“Padahal aku tahu kalau dia sedang sibuk. Aku jadi tidak enak.”

“Tenang saja,” Soojung menggelengkan jari telunjuknya. “Myungsoo pasti dengan senang hati menemanimu. Bahkan aku menduga kalau dia jelas ingin menemanimu. Kalau kau tidak mengajaknya, dia mungkin akan mengirim orangnya untuk membuntutimu.” Lanjut Soojung dengan segala analisanya.

Suzy memutar bola mata. “Kau ini,”

“Aku serius.”

“Untuk apa juga dia melakukan itu. Jung, kau sepertinya terlalu sering menonton drama sejak menjomblo.”

“Benar,” bibir Soojung manyun seketika. Satu tangannya menumpu dagu, lalu berkata. “Sulit dikatakan, tapi sejak kehilangan aku merasa kehilangan diriku juga. Aku butuh orang untuk menemukanku.”

“Oh, kau di sini!” suara seseorang terdengar dari arah pintu.

Kedua wanita itu langsung menoleh dan menemukan laki-laki yang juga merupakan klien baru TJS berdiri di ambang pintu.

“Maaf unnie, aku sudah bilang kalau tidak bisa menemui unnie tanpa membuat janji, tapi beliau memaksa.” Kata salah seorang staff dengan wajah ketakutan.

Soojung mengangguk, lalu menyuruh staff wanita itu pergi. Selepas itu, pandangannya kembali menatap laki-laki dengan pakaian kasual yang ‘sederhana’. Beginilah dia yang Soojung kenal. Tidak dengan jas atau tuksedonya, hanya pakaian kasual senyamannya.

Soojung mengangkat alisnya. “Kau mencariku?”

Jongin mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku ingin makan di restoran tempat favorit kita dulu, tapi aku lupa namanya.”

Soojung melongo, lalu menoleh ke arah sahabatnya yang juga sedang melongo. Pandangan mereka saling bersirobok seolah menyatakan, “Apa dia serius?” lewat telepati. Sebelum Soojung kembali menatap Jongin dengan pandangan penuh dengan pertanyaan. Dia sengaja tidak mengatakan apa-apa karena Jongin jelas mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Begitulah laki-laki itu sejak dulu, seolah cenayang yang mengetahui apa yang tidak orang ketahui tentang dirinya.

“Aku serius. Aku tiba-tiba rindu.” Jongin berkata dengan lembut.

Soojung melihat jam tangannya, lalu mengangguk. “Baiklah akan kutemani. Tapi, aku tidak makan. Aku sedang diet.”

“Segala hal di tubuhmu sudah pas.” Jongin mengernyit seraya memindai tubuh wanita di depannya.

“Yya, mesum! Akan kucolok matamu kalau sekali lagi kedapatan menatap tubuhku!” gerutu Soojung. Lalu, menoleh ke Suzy. “Myungsoo belum sampai?”

“Mungkin tak lama lagi.” Jawab Suzy menahan senyum. “Kalian pergilah.”

“Kau tidak ikut, Suzy?” tanya Jongin.

“Dia ada janji dengan kekasihnya.” Soojung menjawab seraya melangkah elegan melewati Jongin yang memberikan jalan untuk wanita itu dengan membuka lebih lebar pintu ruangan, Soojung menoleh sesaat menatap Jongin. “Kajja.”

Kim Jongin masih tetap sama. Perhatian dan penuh kasih.

“Kami pergi dulu ya!” Jongin melambai ke arah Suzy sebelum menutup pintu dan bergegas mensejajari langkahnya dengan Soojung. “Kau jalan cepat sekali.”

“Kau yang lambat.” jawab Soojung santai.

***


Tarikan napas Suzy sudah terdengar panjang—nyaris Myungsoo mengira kalau wanita itu sedang kesakitan—sejak mereka berhasil memarkirkan mobil di area parkir rumah sakit.

Myungsoo tahu kalau Suzy jelas sedang gugup sekarang, bagaimanapun wanita itu pernah berbagi cerita dengan pria yang akan mereka kunjungi sekarang meskipun hasil akhir tetap padanya. Karena itu, meskipun rasanya ingin menarik Suzy dengan posesif, Myungsoo mencoba paham. Untuk hari ini dia akan berkooporatif dan membiarkan.

Kali ini bukan sebuah lorong dengan bau yang khas yang mereka lewati. Tapi, sebuah jalan setapak bebatuan yang mengantarkan mereka menuju taman rumah sakit. Tadi, suster mengatakan kalau Jimin sedang ada di taman, katanya dia bosan.

“Kau tahu untuk pertama kalinya aku gugup menemui Jimin.” Ucap Suzy. Ini adalah suara pertama yang dikeluarkan Suzy sejak keheningan mereka di dalam mobil hingga mereka turun.

Myungsoo menoleh, kemudian mengambil ke lima jari Suzy untuk di genggam. “Aku tahu, tapi aku yakin Jimin akan memahaminya.”

“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau ucapanku malah berakibat fatal?” kata Suzy hampir menangis.

Myungsoo tersenyum menenangkan, mengusap puncak kepala Suzy dengan satu tangannya yang bebas. “Percaya padaku, semua akan baik-baik saja, sayang.”

“Aku benar-benar belum terbiasa dipanggil itu...” kedua pipi Suzy langsung berubah warna menjadi merah dengan cepat. Jantungnya berdebar, Myungsoo’s effect memang luar biasa.

Shireo?”

Ani.” Suzy menjawab cepat, lalu menatap ke arah lain. “aku menyukainya.”

Myungsoo tersenyum lebar, dia jelas ingin merengkuh tubuh kecil di depannya ini ke dalam pelukan kalau saja dia tidak ingat mereka sedang ada misi penting sekarang. Karena itu, digantinya pelukan yang diinginkan itu dengan sebuah tatapan penuh cinta yang langsung di sadari oleh Suzy. Perut Suzy mendadak mulas seperti dipenuhi banyak kupu-kupu di dalamnya. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

Kajja. Kita harus segera menemukan Jimin.” Ucap Suzy dan melangkah lebih dulu di depan Myungsoo.

Myungsoo mengikuti langkah itu dari belakang. Dia benar-benar bahagia sekarang. Dia tidak ingin yang lain, hanya menghabiskan banyak waktu bersama Suzy. Dengan wanita ini, Myungsoo merasakan pulang yang sesungguhnya.

“Itu dia.” Langkah Suzy mendadak berhenti, membuat Myungsoo juga menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandang Suzy.

Duduk di dekat tanaman hijau dan bunga lavender, tubuh yang kini dibalut dengan pakaian pasien yang tak jauh dari tempat mereka berdiri itu terlihat Jimin tampak tenggelam dalam dunia yang kini sedang dipikirkannya.

Suzy menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya. Dia menolehkan kepala ke belakang. “Ayo?”

Myungsoo mengangguk. Dia sengaja memberikan ruang untuk Suzy dan tetap memilih berjalan di belakang wanita itu. Dia memang tidak peduli dengan perasaan Jimin, tapi dia peduli dengan perasaan Suzy. Yang bisa dipastikan adalah jika mereka berjalan berdampingan mungkin Jimin akan mengatakan hal yang membuat wanitanya kepikiran. Myungsoo menghentikan langkah ketika Suzy sudah berada dalam jarak sentuh pria yang sedang tenggelam dalam pikirannya.

“Kenapa kau diluar?” Suzy bertanya—setelah menghitung banyaknya pertanyaan apa yang akan dia lontarkan—kepada Jimin.

Seperti ditarik paksa, Jimin kembali ke kenyataannya. Kepalanya mendongak dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Senyuman Jimin langsung terbit, sambil memegang tiang infusnya ia berdiri. “Suzy!”

Suzy tersenyum. Hatinya lega ketika melihat Jimin yang nampak lebih berisi sejak kunjungan terakhirnya.

“Apa kabar?”

“Seperti yang kau lihat,” Jimin merentangkan tangannya seolah memperlihatkan. Dia merindukan wanita di hadapannya ini. Sangat merindukannya. “Aku ingin memelukmu.”

Jimin yang dulu tidak akan pernah meminta izin untuk sebuah pelukan atau ciuman.

“Bolehkah?”

Myungsoo yang mendengarnya langsung naik darah. Kakinya hendak melangkah sebelum diurungkan ketika mendengar jawaban Suzy untuk Jimin.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu?”

Jimin tersenyum masam untuk alasan penolakan implisit yang baru saja diterimanya. Dia mengangguk dan mengikuti Suzy yang telah duduk di bangku kayu yang sebelumnya ia duduki. Jimin menoleh, memandangi kecantikan Suzy dari samping. Baginya dulu, bersama Suzy adalah sebuah kebosanan. Dia memang jatuh cinta dengan wanita itu dulu, namun karena Suzy yang terlalu mudah ditebak dan tidak ada tantangan itulah yang membuat Jimin menyalakan api. Tapi, melihat hanya wanita itu yang tetap di sampingnya sekarang—bahkan keluarganya tidak satupun—Jimin seperti ditampar penyesalan.

“Kenapa kau jarang kemari?” tanya Jimin masih menatap Suzy sebelum mengalihkan perhatian pada rerumputan yang dipijaknya. Jimin mencoba berkelakar. “Kau melupakan aku ya?”

Suzy menunduk, memainkan jemarinya dengan begitu antusias. Kalau boleh jujur dia memang sejenak melupakan keberadaan Jimin. Dia sibuk dengan kegundahan hatinya dan lupa kalau Jimin membutuhkannya. Sebelum dia bertemu Myungsoo dan Ella, Suzy berpikir jika dia bisa menghabiskan waktu dan menebus rasa bersalahnya dengan merawat Jimin seumur hidupnya. Tapi, saat dia mengira sisa hidupnya akan dipakai seperti itu, Myungsoo datang membawa Ella.

Suzy ingin mengajarkan Ella dan memberikan Ella kasih sayang yang tidak pernah didapatkan gadis kecil itu dari seorang Ibu. Untuk kali pertama di hidupnya setelah kejadian itu, Suzy ingin menghabiskan waktu bersama orang yang juga ingin menghabiskan waktu dengannya. Bersama orang yang bahagia dan menyayanginya. Bersama orang yang didamba dan juga mendambanya.

“Jimin-ah, mianhae...” satu tetes air mata Suzy turun mengalir di pipinya. Dia menegakkan kepalanya menatap Jimin. “Mianhae. Aku ingin terbebas dari perasaan ini, dan aku membutuhkan kau untuk membebaskanku.”

Jimin tidak menduga kalau hari ini adalah harinya. Sebuah permintaan yang sudah bisa di prediksi Jimin sejak kedatangan gadis kecil bersama Suzy waktu itu.

“Suzy...”

“Perasaan bersalah atas kejadian itu selalu menghantuiku, hidupku seperti berhenti pada satu hari sebelum kejadian itu dan aku terus-terusan menyalahi diriku.”

“Tidak,” Jimin menggeleng. Dipegangnya kedua tangan Suzy dengan lembut. “Kalau ada orang yang harus disalahkan, maka akulah orangnya. Aku yang bertanggung jawab atas diriku sendiri, bukan kau. Kau harus berhenti menyalahkan dirimu, Suzy. Kau tidak ada kaitannya sama sekali. Kau orang baik, aku bahkan malu, tapi aku yakin kita bisa kembali mengisi kekosongan yang sempat hadir. Kita bisa kembali bersama seperti dulu. Hm?” lanjut Jimin sambil meremas jemari Suzy dalam genggamannya.

“Aku mencintai orang lain.” Suzy menarik tangannya kemudian mengusap airmatanya menatap Jimin. “Kupikir perasaanku padamu masih seperti dulu, namun aku baru menyadarinya belakangan ini kalau perasaan cinta itu sudah tidak berjalan kepadamu lagi. Jantungku sudah lama berhenti berdetak karenamu. Aku minta maaf...”

“Tidak, aku yakin perasaanmu ke orang itu hanya perasaan semu. Kau mencintaiku dan masih mencintaiku. Aku yakin itu.”

Suzy menatap sepasang sepatu yang ia kenakan. Kedua matanya terpejam sebentar, dia membutuhkan udara untuk mengisi relung pernapasannya yang terasa mencekik. Melihat itu, Jimin kembali bersuara. “Aku janji kalau aku akan menjadi pria yang baik untukmu. Kita bisa memulai dari aw—“

“Bro, kau tidak bisa memaksakan perasaan seseorang.” Sergah Myungsoo seraya melangkah mendekat.

Dua kepala itu menoleh dengan memberikan tatapan yang berbeda. Sepasang mata milik Myungsoo menatap Suzy sebentar sebelum kembali menatap ke arah pria yang kini mulai membual memanipulasi. Dia tahu sejak awal kalau pria ini memang tidak benar.

“Kau suka sekali ikut campur urusan orang ya?” ledek Jimin.

“Aku tidak suka ikut campur urusan orang lain. Tentu saja Suzy menjadi pengecualian.” Myungsoo mengeluarkan smirk-nya. “Kau tidak bisa memanipulasi Suzy.”

“Aku tidak memanipulasinya. Aku sedang membicarakan kemungkinan kami kembali bersama.” Jawab Jimin dengan nada tak suka.

“Simpan saja itu karena tidak akan ada kemungkinan kalian akan kembali bersama.”

“Apa?” Jimin mengerutkan dahi.

Walaupun tahu kalau uluran tangannya tidak akan diterima, Myungsoo tetap melakukannya. Pria yang masih berdiri dibawah naungan matahari sore yang menghasilkan bayangan indah di atas rumput hijau itu tersenyum penuh percaya diri. Kali ini dia pemenangnya. Karena itu, seraya menikmati kekalahan sang lawan, Myungsoo berujar mantap. "Perkenalkan, aku Myungsoo. Aku adalah kekasih Suzy sekarang.

***

 
Met hari jumat guyss🧡💛

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co