9
SUZY mendesah. Belakangan ini dia jelas sudah berikan info kalau dia sedang "off duty" untuk beberapa bulan ke depan. Perjajiannya dengan Myungsoo—orang kaya raya dari Watermart—tidak boleh di sepelekan. Dia tidak mau reputasi Myungsoo dan juga reputasi dirinya buruk karena dia tamak. Tidak, jelas saja ini bukan soal uang—lalu, soal apa lagi?—Suzy mendengus munafik.
Ini memang soal uang... Batin Suzy mengejek. Tetapi, dia harus melihat situasinya juga, bukan karena dia membutuhkan banyak uang, dia jadi mengambil semua kesempatan yang ada. Di atas itu semua, sejujurnya bayaran yang ia terima dari Myungsoo sudah sangat amat banyak.
Well, menurut Suzy itu sepadan dengan apa yang harus dia lakukan. Karena pada akhirnya nanti, setiap orang yang telah terlibat dengannya mungkin akan merasakan kecewa. Dan Suzy tidak bisa memikirkan dampak yang akan dialami Ella nanti saat dia tahu kalau semua ini hanya sebuah pengaturan.
"Jung, aku rasa aku sudah mulai merasa bersalah dengan Ella..." Suzy menghela napas. Kepalanya menoleh, menatap Soojung yang sedang berkutat dengan iPad di tangannya. Layar pada iPad sedang menunjukan beberapa jenis pakaian, sudah jelas Soojung pasti sedang mencoba menghamburkan uang.
"Mengapa?"
Suzy kemudian menceritakan apa yang dilakukannya tadi siang sampai pada ucapan Ella yang sudah berharap banyak pada "hubungan" ayahnya dan Suzy. "Dia bahkan sudah memanggilku 'eomma' coba kau bayangkan bagaimana kecewanya dia nanti. Aku benar-benar takut jika dia mengalami trust issue..."
"Hm...," Soojung meletakkan iPad-nya ke sofa di sebelahnya yang kosong. Pandangannya lurus menatap Suzy yang sedang duduk di sebrangnya. Lalu, berkata. "aku tahu solusinya!"
"Apa itu?"
"Kalian kencan dan menikah sungguhan saja. Tidak akan ada ruginya menjadi istri orang kaya, teman. Percayalah padaku." kata Soojung dengan ekspresi seolah-olah apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah solusi terbaik tahun ini.
Suzy mengembuskan napas frustasi. "Salah memang bercerita denganmu."
"Lho, aku kan bicara seadanya," Sambil tersenyum manis, Soojung kembali menambahkan. "Kau tahu, pokoknya hanya sampai Jimin sembuh. Ya?"
"Apanya?"
"Kau bersamanya. Aku akan setuju kau berkencan dan menikah dengan siapapun kecuali Jimin. Aku tahu kau orang yang cerdas sama sepertiku, tapi dengarkan aku, seseorang tidak akan pernah berubah demi orang lain. Apalagi tukang selingkuh. Ketika dia sudah pernah menyakitimu satu kali, maka dia akan berpotensi untuk menyakitimu dua kali. Aku tidak akan pernah lelah mengingatkanmu tentang yang satu ini."
***
Senyuman Ella mengembang sejak ia bangun dari tidurnya. Biasanya, ahjumma harus masuk ke kamar yang di dominasi warna jingga itu paling sedikit tiga kali barulah Ella bisa sepenuhnya 'sadar'. Tapi hari ini, tanpa alarm, tanpa ahjumma, Ella bisa langsung bangun pagi... kelewat pagi malah.
Jam lima, gadis kecil itu sudah terjaga. Tidak tahu harus melakukan apa, dia memilih untuk mengeluarkan semua baju yang ada di dalam lemari pakaiannya. Sebenarnya dia ingin memakai baju favoritnya, namun karena baju ini sudah dipakai lebih dari tiga kali, Ella mengurungkan niatnya itu. Nanti di taman bermain, Ella mau mengajak Suzy dan Myungsoo untuk photobooth—lalu menunjukan hasilnya kepada Eunbi yang jelek dan sok cantik itu pada hari senin nanti—jadi dia tidak boleh pakai baju yang sudah pernah dipakai. Bisa-bisa Eunbi mengomentari macam-macam lagi dan berkata kalau ayahnya tidak pernah membelikannya baju. Padahal, ayahnya sering membelikannya baju, hanya saja ukurannya tidak pernah pas, dan seleranya benar-benar buruk.
Tipikal selera bapak-bapak. Bikin geleng kepala saja.
"Ayah!" Ella berlari menuju kamar ayahnya saat jam sudah menunjukan pukul tujuh. Dengan masih menggunakan kimono, dibukanya pintu kamar Myungsoo dengan terburu-buru.
Kedua matanya menyipit saat melihat Myungsoo masih tertidur pulas di ranjang. Kedua kaki mungil itu melangkah mendekat, menggoyangkan lengan Myungsoo sambil berkata, "Bangun, Ayah! Nanti terlambat menyusul kekasih ayah!"
"Ella, jangan ganggu ayah. Ayah baru bisa tidur jam 2 pagi tadi." erang Myungsoo.
Ella cemberut. "Bagaimana bisa malah aku yang sangat antusias padahal ini akan menjadi kencan ayah! Ayo bangun, ayah!"
"Ella."
"Aih, menyebalkan!" Ella mundur tiga langkah.
Melihat sang ayah yang tidak ada niatan untuk bangun, dia lantas melirik meja nakas dan menemukan ponsel Myungsoo di samping lampu tidur. Diambilnya benda elektronik itu dan dengan cepat menekan password yang sudah dia hapal sekali itu dengan satu kali tekan. Ketika ponsel itu sudah sepenuhnya hidup, Ella langsung menekan aplikasi kirim pesan singkat dan menemukan pesan Suzy yang disematkan di paling atas. Kedua mata Ella menyipit, "Apaan ini, kenapa ayahku benar-benar tidak romantis? Masa kontak ibu hanya ditulis namanya saja? hmm, biar aku revisi." dengan cepat Ella langsung mengedit kontak Suzy di ponsel Myungsoo.
Senyuman diwajah Ella mengembang, ia lalu membuka pesan itu dan menekan ikon kamera. Ella melangkah mendekat ke arah sang ayah kemudian berpose dengan wajahnya yang dibuat sedih. Lalu, Ella melihat hasil fotonya itu sebelum mengirimnya kepada Suzy dengan menulis keterangan di bawahnya:
***
"Yya, gwenchana?" tanya Soojung seraya menyodorkan segelas air mineral kepada Suzy yang tiba-tiba terbatuk. Wajah Soojung khawatir menatap sahabatnya itu. "Jangan-jangan tukang masakku lupa dan pakai merica dimasakan ini lagi..."
"Tidak," Suzy menggeleng saat dia sudah tidak tersedak lagi. Ella benar-benar sesuatu. "bukan salah makanannya."
"Lalu, kau kenapa?" Soojung bertanya bingung.
Suzy langsung memberikan ponselnya kepada Soojung, masih dengan raut wajah bingungnya Soojung menerima ponsel itu dan seketika kedua matanya membeliak tak percaya. Pada detik berikutnya dia sudah berkomentar, "Lihat punggung telanjang itu. Bayangkan kalau setiap pagi kau menemukan pemandangan itu di dalam kamar, Suzy. Aku sepertinya rela terlambat ke TJS tiap hari."
Suzy memutar bola mata. "Jika Minhyuk mendengar ini, dia pasti akan langsung mengajakmu ke Gereja."
"Iya, mengajakku menikah."
"Bukan laa!" potong Suzy cepat. "Kau perlu diajak berdoa banyak-banyak agar pikiranmu kembali suci."
"Sialan!" Soojung tertawa. Sambil mengembalikan ponsel sahabatnya itu, Soojung kembali bicara. "Jadi, apa rencanamu nanti?"
"Hanya menemani Ella agar lebih dekat dengan Myungsoo ke Taman Bermain. Dan mungkin nanti saat pulang jika tidak kemalaman aku akan ke Rumah Sakit."
Soojung memutar bola mata. Didorongnya piring di hadapannya tanda kalau dia sudah selesai makan, lalu mengelap sudut bibirnya dengan serbet. "Ayolah, Suzy, kau masih saja memikirkan Jimin. Toh dia tidak kenapa-napa dan masih saja koma."
Suzy diam saja. Tahu kalau berdebat dengan Soojung tentang masalah ini pasti tidak akan ada habisnya. "Kau jadi nonton dengan Minhyuk hari ini?" tanya Suzy mengalihkan topik.
"He'eh," Soojung mengangguk sambil memainkan rambutnya. "sejujurnya aku malas sekali. Lebih nyaman berada di rumahnya sepanjang hari. Apa aku ajak Minhyuk ke Taman Bermain juga ya? kukatakan padanya kalau tiba-tiba saja Na memintaku untuk menjaga Bian."
"Jung, Bian kan sudah ke Jepang."
"Duh, tinggal terbang saja, mudah sekali. Hanya butuh waktu 2.5 jam untuk sampai di sini, darl."
Orang gila...
***
"Eomma!" Ella melambaikan tangannya dari dalam mobil, menyapa Suzy yang sudah melangkah mendekat.
Suzy tersenyum, hendak membuka pintu belakang penumpang ketika suara Myungsoo menginterupsinya. "Tidak bisakah kau duduk di depan? Aku tidak mau dikira sopir." ucap laki-laki itu dengan nada bergurau.
Suzy menatap bingung, melirik Ella sebentar—dan langsung mendapatkan persetujuan dari gadis kecil itu—lalu, akhirnya mengikuti omongan Myungsoo.
Kepala Ella menyembul di antara dua kursi kemudi dan penumpang, wajahnya berseri-seri menatap Suzy. "Tidak sia-sia aku memilih pakaian selama hampir satu jam. Ternyata warna pakaian kita sama!"
Suzy tersenyum sambil mengelus pipi kanan Ella. "Benar. Kurasa kita punya warna favorit yang sama."
Ella mengangguk setuju. "Eomma, aku belum makan."
"Ella, duduk. Nanti kau terjatuh." ucap Myungsoo memperingati.
Ella cemberut. Tapi, langsung menurut.
"Kalian belum sarapan?" tanya Suzy pada Myungsoo.
"Aku sudah," Myungsoo melirik sebentar, sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya. "tapi, Ella belum. Dia bersikeras ingin disuapi ibunya." Kata Myungsoo sambil sedikit menekankan kata 'ibu'.
Ella tersenyum, lalu mengeluarkan kotak bento dari dalam tote bag hitam di dekatnya. Kemudian memberikan kotak bento itu kepada Suzy. "Aku baru menyadari makanku semakin lahap ketika disuapi oleh eomma. Apakah kalau seperti ini aku akan merepotkanmu?"
Suzy tersenyum menenangkan sambil mengambil kotak bento itu dan membukanya. "Tentu saja tidak."
"Ternyata ini rasanya disuapi oleh seorang Ibu. Asik sekali!"
Sementara Suzy dan Myungsoo saling lirik, bingung harus bagaimana. Situasi yang terjadi kali ini, sepanjang perjalanan menuju lokasi taman bermain ini, semuanya telah dipenuhi oleh suara Ella dan Suzy. Sesekali Myungsoo menimpali.
Myungsoo merasakan ada sesuatu yang menjalar di rongga-rongga dadanya, mau tak mau membuatnya merasa nyaman dan tenang... sebuah perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Pandangannya melirik pada Suzy yang kini tengah memangku Ella—gadis itu bersikeras minta dipangku oleh Suzy—yang kini sedang tertidur.
Dan tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas ketika melihat pemandangan di sebelahnya sekarang.
***
✨Setiap orang yang klik love and comment bakal cepet dapet jodoh.✨
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co