8
LANGIT nampak kelabu ketika dua mobil berhenti pada pemakaman umum di kaki bukit. Pintu mobil itu terbuka, seorang pria baya mengenakan pakaian serba gelap turun dari dalamnya dengan tongkat andalan yang lebih dulu menapaki tanah, lalu disusul kaki yang dibungkus sepatu hitam. Seseorang memayungi Kim Bin—pria baya yang baru saja turun itu—dengan hati-hati.
Kim Bin melangkah mendekat pada dua orang dari mobil satunya—yang sudah lebih dulu turun, lalu berkata pada wanita yang juga memakai terusan hitam panjang selutut. "Dimana kakekmu?"
"Ini." tunjuk Suzy dengan sopan. Dari balik kacamata hitamnya, dia bisa melihat bagaimana raut wajah sedih Kim Bin sekarang. Laki-laki itu melangkah mendekat pada salah satu pohon tinggi dengan papan nama yang menempel: Bae Yun.
Kemudian, meletakkan buket bunga—yang diberikan oleh salah satu pengawalnya—ke dekat pohon Bae Yun, dan memberi penghormatan.
Suzy, Myungsoo, dan Ella mengikuti dibelakang.
Suzy menatap punggung Kim Bin yang berguncang. Pria baya itu jelas sedang menangis. Sekelebat Suzy mengingat kakeknya pernah bercerita tentang teman dekatnya yang suka mengajaknya memancing—juga orang yang mengenalkan kakek dengan neneknya. Suzy lupa namanya, namun ini jelas tidak salah lagi, kalau teman yang di maksud kakeknya dulu adalah Kim Bin. Perasaan sedih itu kembali menggerogoti hati Suzy, dadanya sakit tiap mengingat sang kakek, namun air mata Suzy jelas sudah tak bisa keluar lagi. dulu, saat berkali-kali dia menangis sesegukan setiap mengunjungi kakek hingga pada akhirnya Suzy sampai di satu titik yang membuatnya sadar, mau menangis sebagaimanapun dia tak mungkin bisa menghidupkan kakeknya. Jadi, kini yang dilakukan Suzy ialah berdoa. Meminta kepada pencipta supaya setidaknya, bisa mempertemukan ia dan orang terkasihnya kembali... di kehidupan selanjutnya.
Suzy melangkah maju, membawa lututnya menyentuh tanah kemudian memberi puk-puk-an menenangkan kepada orang yang sedang membutuhkan. Tangis yang semula tak didengar itu, perlahan pecah dan menggema seirama dengan puk-puk-an tangan yang kini terasa. Lima jemari Kim Bin ia gunakan untuk menahan kedua matanya, berharap hal itu bisa juga menahan air matanya agar tak terus-terusan turun. Semua orang di sana membiarkan, tidak menginterupsi sama sekali. Mereka seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar isakan yang memilukan itu.
Ella mendongak, menatap ayahnya dari bawah. Lalu, kembali memusatkan pandangannya kembali pada Suzy yang sedang menenangkan buyutnya itu. Gadis kecil itu menyunggingkan senyum kecil, dia yakin kalau bidadari yang sedang ada di antara mereka ini memanglah ibunya. Kalau dugaan Ella benar, sepertinya Tuhan sedang berjalan untuk mengabulkan doa-doanya setiap malam sebelum tidur:
Ya Tuhan, aku ingin Ibu...
Tangan Myungsoo yang merangkul bahu Ella terlepas saat gadis kecil itu melangkah mendekati dua orang yang sedang bersimpuh duduk. Diperhatikannya Ella yang kini berdiri disebelah Kim Bin dengan raut wajah tak terbaca. Melihat bagaimana Ella yang tiba-tiba duduk dan memeluk Kim Bin, tubuh Myungsoo menegang.
Apa yang kini dilakukan Ella, adalah versi kecil dari apa yang dilakukan Suzy sekarang. Tubuh Myungsoo menegang dan sulit untuk ia kendalikan. Tatapannya jatuh pada tiga punggung di depannya, namun pikiran Myungsoo melayang-layang dengan hantaman percakapan masa lalu yang mulai mendesak keluar.
"Kita hanya bisa menyelamatkan satu. Tidak bisa keduanya."
Myungsoo terdiam. Dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, karena jujur jauh didalam lubuk hatinya, dia sama sekali tidak menginginkan keduanya. Pernikahan mereka bukan dilandasi cinta sama cinta, dan bayi yang kini ada di dalam kandungan wanita yang orang-orang sebut istri itu ada karena ketidaksengajaan. Tentu saja, ini semua pernikahan bisnis, dan anak yang dikandung itu adalah sebuah "tali pengikat" antara kedua belah perusahaan.
"Selamatkan anaknya." jawab Myungsoo dengan suara dingin.
Wanita yang sedang merintih kesakitan itu penggeleng dengan pandangan tersakiti. "Kau benar-benar tidak mencintaiku ya?"
Myungsoo terdiam.
Wanita itu tersenyum lirih. Wajahnya pucat pasi sedang menahan kesakitan. "Bahkan ketika aku sudah sekarat begini?"
Myungsoo masih terdiam.
Wanita itu kembali tersenyum, kali ini sambil memegangi perutnya. "Mungkin ini adalah karmaku karena memaksakan diri dengan menggunakan koneksi untuk bisa bersamamu. Kuharap, anak yang akan lahir ini akan bisa secantik orang yang kau cintai dan baik seperti orang yang kau cintai itu. Seorang yang tempatnya sama sekali tidak bisa kuambil. Juga, kumohon, tolong cintai anak ini sepenuh hatimu..."
***
"Eomma, aaaa..." Ella membuka mulutnya lebar, menunggu Suzy menyuapkan daging bakar kepadanya.
Suzy yang bingung atas tindakan Ella, tapi tersenyum dan menuruti. Ia kemudian menyumpitkan galbi dan menyodorkannya ke depan mulut Ella. Melihat Ella yang tersenyum senang sambil menikmati galbi-nya mau tak mau membuat Suzy ikut tersenyum. Sepertinya, sudah lama dia tidak merasakan perasaan damai seperti sekarang. Ella benar-benar happy virus untuknya.
Sedangkan disisi lain, Myungsoo yang sejak tadi sama sekali tidak menyentuh makanannya itu kembali tertegun. Ditatapnya kedua wanita berbeda usia itu bergantian, lalu tanpa sadar ia kembali menghela napas. Sejak bayangan masalalu itu muncul, Myungsoo sama sekali tak fokus. Perasaan bersalahnya dulu, dan bagaimana sikap dinginnya kepada Wonhee selama ini, dan bagaimana keinginan Wonhee dikabulkan oleh semesta.
"Ella, seharusnya kau meminta izin dulu sebelum memanggil seseorang dengan panggilan keinginanmu." Tegur Myungsoo pada anaknya.
Tidak hanya Ella, Suzy bahkan ikut menoleh. Sejujurnya, Suzy sedikit merasa aneh karena sejak pulang dari tempat peristirahatan kakeknya hingga mereka sampai di resto yakiniku ini, Myungsoo mendadak pendiam. Laki-laki itu memang tidak banyak bicara—sejauh dia kenal Myungsoo—tapi kediamannya tadi di mobil itu benar-benar terasa aneh. Myungsoo seperti sedang pergi ke dunia lain... Suzy bahkan takut jangan-jangan laki-laki itu kerasukan.
Ella menatap Myungsoo dengan heran. "Kupikir Ayah jiwanya diculik. Sejak tadi hanya diam, dan sekarang bicara hanya untuk mengatakan itu? serius, Ayah?"
"Hanya untuk mengatakan itu?" Myungsoo balik bertanya. Dia jelas heran bagaimana bisa Ella mengatakan hal itu, karena itu tidak cuma perihal "Hanya".
Ella mengangguk. "Kupikir untuk apa memanggilnya Ahjumma jika pada akhirnya nanti aku akan mengganti panggilanku dengan eomma. Bikin kerjaan saja."
Myungsoo melongo. Suzy ikutan melongo. Dari sekian banyak jawaban, bagaimana bisa Ella menjawab dengan jawaban itu? dan... sesantai itu. Suzy melirik melalui ekor matanya, mendapati Myungsoo yang terlihat salah tingkah.
Tentu saja, jawaban Ella memang tidak salah, yang salah itu adalah Myungsoo dan Suzy. Tidak, Suzy menolak untuk disalahkan, karena dia hanya bekerja di sini. Semua ini jelas ide Myungsoo dan laki-laki itu harusnya memikirkan sampai jauh kalau anaknya—Ella—tentu berharap lebih pada "Hubungan berbayar" yang sedang ayahnya jalani ini.
Melihat kalau kekasih gadungannya ini tidak akan merespons dalam waktu dekat, dan bagaimana wajah keingintahuan Ella yang semakin menjadi-jadi, Suzy buru-buru mengambil alih. Dia kembali menyumpit galbi, menyodorkannya kepada Ella sambil berkata, "Tidak apa, Myungsoo. Aku tidak keberatan dipanggil begitu."
Ella tersenyum, menjulurkan lidahnya pada sang ayah.
"Omong-omong, eomma tinggal dengan siapa?"
"Sendiri."
"Lalu, ayah dan ibumu di mana? Kenapa tidak tinggal dengan mereka?"
"Ella." Myungsoo menegur. Suzy menepuk pelan punggung tangan Myungsoo sambil berkata tanpa suara "Tidak apa-apa..." membuat Myungsoo menghela napas dan menegak isi gelas minumannya.
"Ayah dan Ibuku sudah tiada."
"Omoo, aku turut berduka cita. Maafkan pertanyaanku ya, eomma?" ucap Ella sambil membawa kedua tangannya menutup mulut.
Suzy tersenyum. "Tidak masalah. Mereka meninggal saat aku masih kecil, Ella beruntung masih memiliki ayah yang begitu sayang dengan Ella." lanjut Suzy, satu tangannya terulur mengelus puncak kepala gadis kecil itu dengan lembut.
Bibir Ella sedikit maju sambil bertumpu dagu. "Aku bersyukur punya ayah yang kaya raya dan super sibuk. Tapi, aku kesepian. Aku butuh ibu."
Myungsoo tertegun. Dia kemudian meraih tangan Ella dan menggenggamnya. "Maafkan ayah, sayang."
"It's okay, Ayah. Aku sudah punya ibu sekarang." jawab Ella riang sambil menatap 'ibu'-nya.
Kali ini, giliran Suzy yang tertegun di tempatnya.
***
duh pusing wkwkwk
P.S vote di atas 100, update.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co