Satu
31536000 detik sebelumnya...
Hai, gue balik lagi! Ada yang kangen?
*Nggak ada, Han... (nangis dipojokkan)
Hoho, sorry ada banyak kegiatan dan jadwal ekskul gue yang lumayan padet membuat gue sedikit pusing belakangan ini dan nggak sempet nyentuh blog gue *bersih-bersih sawang*
Btw, guys... gue putus.
Nggak sedih sih, cuma nggak nyangka aja gue kira selama ini gue dan dia sama-sama sayang dan sama-sama berjuang. Ternyata itu cuma gue doang.
Bukannya maksud mau bikin dia jelek dimata kalian, cuma itulah adanya Aldi. Dia itu pengen fokus gue selalu sama dia 24/7. Possesif.
Gue kira Aldi orangnya mau tahu kalau gue emang lagi sibuk disekolah, secara baru aja tahun ajaran baru dan gue abis nge-MOS anak-anak baru dan nggak mungkin dong sebagai anggota ekskul Seni dan Tari gue nggak sibuk?
Dan Aldi mutusin gue. Seminggu yang lalu.
Yaudah, nggak apa-apa.
Btw, gimana dedek-dedek di sekolah kalian? Ada yang gemesin nggak? Hehehe, gue ada dong. Satu. Dia cuek. Tapi, tadi yang dikasih coklat ama dia, gue dong :))
Okedeeh, see youu!:)
***
HANI MEMATIKAN laptop, kemudian menutupnya. Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan Hani setiap malam. Biasanya, dia selalu menuliskan kegiatan sepanjang hari pada blog pribadinya. Menurut Hani, menulis diary di blog lebih menyenangkan dan simpel daripada harus menulis sebuah buku harian.
Hani menggeser kursi yang di duduki kebelakang, lalu berdiri. Kedua tangan Hani terangkat ke atas dengan bertahutan membuat gerakan seperti meregangkan otot-ototnya dengan menggeliat. Hari ini hari terakhir MOS di sekolah SMA Kartini dan juga hari ini hari terakhirnya menjadi kakak asuh bagi calon-calon adik kelasnya. Lalu, dialihkan pandangan mata Hani pada box berukuran medium yang tergeletak di sebelah laptop. Box berisi penuh dengan cokelat silverqueen, beng-beng, diarymilk, dan selempang bertuliskan 'kakak ter-sayang 2018'. Alasannya disematkan gelar itu pada Hani adalah, karena namanya 'Hani' yang jika di artikan dalam panggilan manis oleh orang barat sana berarti 'sayang' .
"Honey, kali ah!" Hani pernah menyeletuk saat itu. Sedikit keki karena alasannya mendapat selempang itu karena namanya bukan karena memang dia disayang. Hani maju kedepan, disaksikan anak-anak baru yang berkumpul dibawah tenda putih.
Semuanya lantas tergelak mendengar Hani berbicara seperti itu. Padahal alasan sebenarnya bukan karena nama cewek itu adalah Hani, tapi memang karena voting yang di dapat dari murid-murid baru itulah yang membawanya bisa mendapatkan predikat itu.
Hani mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang sambil menjatuhkan tubuhnya di sana. Jam dinding pada kamar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ia harus mendapatkan tidur yang cukup agar besok fresh dan tidak mengantuk saat di kelas.
Setelah membalas beberapa pesan dari grup di WhatsApp, lalu cewek itu segera mematikan data seluler pada ponsel dan meletakkan ponselnya ke atas nakas tempat tidur. Kedua matanya mulai mengantuk, bisa karena kelelahan, atau karena memang sudah waktunya untuk tidur. Yang jelas, pada menit berikutnya, Hani sudah melayang ke dalam dunia mimpi.
***
"Dek, buruaaan ih! Gue ada kuliah pagi!" Meta, kakak Hani berteriak dari pintu luar. Cewek itu sudah terbalut baju batik dengan rok setinggi lutut, plus sepatu berhak tinggi bewarna hitam polos. Seperti biasa, di hari senin Meta akan selalu mengenakan batik karena kewajiban dari salah satu dosen pengampu. Mata berlapis soflens itu berkali-kali menatap jam tangannya dengan mulut yang tak hentinya mengeluarkan gerutuan. Dan ketika sosok sang adik—Hani—sudah keluar dari pintu utama rumah mereka, Meta langsung melangkah masuk ke mobil. Diikuti Hani yang sudah berseragam sekolah lengkap.
"Makanya, jangan putus dulu kalau belum bisa bawa kendaraan sendiri." Oceh Meta sambil menyalakan mesin mobil. Meta membawa mobil bewarna kuningnya keluar dari komplek perumahan. Ini hari senin, dan sekarang masih jam setengah enam lebih lima belas menit. Tapi, lihat saja jalanan Bogor sudah di padati oleh mobil, motor, dan busway yang diisi para pekerja ataupun anak sekolahan.
Hani memajukan bibirnya sewot karena masih pagi yang dibahas sudah mantan. "Gue di putusin, kak. Fyi, aja ini mah."
Meta tertawa mengejek, "Kasian... Makanya dong jangan ketergantungan sama cowok. Belajar motor atau mobil kek."
"Bunda sama Ayah kan nggak kasih izin. Lagian, gue juga males, selagi HP gue ada kuota, gue nggak bakalan kesendet karena kang ojol selalu bisa mengantar kak Hani kemanapun." Ujar Hani dengan nada menirukan perkataan driver ojek online pada kalimat terakhirnya tadi.
Meta mendengus. Jika ada predikat orang ter-mager dan tersering memesan ojek online mungkin Hani akan menjadi pemenangnya. Selain karena sang adik yang katro—sebutannya untuk sang adik yang sudah kelas 11 masih saja nggak bisa bawa kendaraan sendiri—dia juga selalu memesan ojek online untuk membeli makanan karena alasan males ribet harus antri-antri.
"Cari cowok itu makanya yang satu sekolah. Biar sering ketemu, jadi nggak berantem-beranteman karena sering ketemu."
Hani memutar bola matanya.
Ngomong memang lebih enak, lagian kak Meta juga sudah ada Ryan yang lagi pendidikan polisi. Jadi, nggak mungkinlah mereka beranteman, sedangkan buat telponan aja jarang... Batin Hani.
Setelah perjalanan tiga puluh lima menit dengan macet dan terjebak lampu merah berkali-kali, mobil kuning itu akhirnya sampai juga di depan gerbang SMA Kartini. Hani lantas mencium pipi sang kakak sambil mengucap salam, kemudian cewek itu bergegas keluar dari dalam mobil dan berjalan melewati gerbang sekolahnya. Sebagai siswi kelas sebelas, Hani tidak perlu mencari-cari lagi dimana kelasnya berada karena untuk dua tahun kedepan dia akan selalu berada di kelas yang sama dengan kelasnya saat baru masuk ke sekolah ini.
"Haniiii!"
Satu panggilan bersuara nyaring terdengar dari belakang Hani. Dia menoleh, dan mendapati Lala teman akrabnya tersenyum dengan kedua tangan membentuk simbol love di atas kepala.
Hani membalas dengan melambai senang, tangan kanannya terulur dengan jemari membentuk fingerheart ke arah Lala. Lala ini merupakan sahabat Hani sejak pertama kali mengikuti orientasi sekolah, dan mereka tidak menyangka kalau nama keduanya berada di kelas yang sama saat pembagian kelas berlangsung. Karena libur kenaikkan kelas, Lala berlibur ke kampung tempat neneknya tinggal, sehingga mereka tidak bisa melakukan kebiasaan mereka menonton, mencari pernak-pernik, dan berburu novel di toko buku.
"OMG, pipi lo nggak kontrol begini dah padahal libur cuma dua mingguan," Lala memerhatikan pipi sahabatnya yang kian mengembang. "lo makan baking powder ya?" Kikiknya.
Hani berdecak, "Ini karena adek-adek itu pada ngasih gue cokelat dan makanan tiap hari. Padahal gue nggak minta bawain."
Keduanya mulai bercerita-cerita sambil berjalan menuju ke kelas mereka.
"Bawa-bawa kali kalau dapet banyak cokelat mah," Lala merangkul Hani, kemudian menoleh, "gimana, ada yang ganteng nggak anak baru nya?"
"Ke rumah gue lah kalau mau," Balas Hani. Kepalanya menoleh menatap sahabatnya sekilas, "banyak. Ada satu yang ganteng banget, La! Tapi cuek banget juga, ya cool gitu kayak dispenser."
"Terus?"
"Ya udah, gitu aja." Hani mengernyit.
Dia mengingat satu cowok yang merupakan anak baru di sekolah mereka. Dari kelompoknya sih cowok itu sama-sama anak sosial seperti dirinya. Dan dia cowok yang semalam dimaksud pada blog pribadinya itu, yang memberinya cokelat pada saat sesi terakhir di kegiatan orientasi kemarin.
Lala mendesah kesal. Beginilah si Hani, giliran sudah serius mendengarkan, eh ceritanya bersambung hanya sampai disitu saja.
"Inginku berkata kasar..." gumam Lala senewen.
"Nggak boleh, dosa," Hani tersenyum, lalu menambahkan, "Jangan bikin dosa, La. Berat. Biar orang-orang saja." Ujarnya seperti mengikuti adegan disalah satu novel favoritnya.
Lala mendengus, "Milea bukan nih?"
"Bukanlah! Kenalin gue—" Perkataan Hani menggantung diudara ketika sapaan kompak dari beberapa siswa cowok yang sedang duduk berjajar di depan kelas terdengar menyapa cewek itu. Keduanya—Hani dan Lala—berhenti melangkah dan menoleh kesumber suara.
"Pagi, Hani!"
Hani menaikkan alisnya, "Kok nggak pake kak, sih? Baru juga selesai MOS kemarin." Jawab Hani dengan pura-pura jutek, meladeni sapaan adik kelasnya itu.
Hani mengetahui siapa saja cowok-cowok yang duduk di bangku panjang yang terbuat dari semen itu karena memang beberapa adalah siswa yang sama yang memberinya cokelat dan memang senang menggodanya saat masa orientasi berlangsung. Beberapa anak yang juga sepertinya sudah memiliki 'bibit badung' karena sering terlambat datang pagi saat MOS berlangsung.
Ada lima siswa yang duduk di sana, namun hanya ada empat orang siswa yang kompak memanggilnya dengan nama Hani. Sedangkan, satu siswa yang nampaknya adem-anyem saja sambil memandang layar ponselnya. Seperti mengisolasi diri dari dunia luar. Hani mengerutkan kening, ketika menyadari hanya cowok itulah yang tidak memanggilnya tadi.
"Kalau pakai kakak, nanti nggak bisa sayang-sayangan dong." Jawab Bima, cowok berpotongan rambut seperti abri.
"Duh, asbak fir'aun! Mana mau Hani sama lo." Saut siswa laki-laki yang duduk di samping Bima. Yang diketahui Hani bernama Bayu.
Semua yang berada di sana kontan tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Bayu. Termasuk, dua cewek yang masih berdiri ditempatnya berhenti tadi.
"Hani udah sarapan belum?" Kini giliran satu anak yang tidak diketahui Hani namanya yang bertanya.
Hani mengangguk, meladeni anak-anak itu, "Udah,"
Sontak saja dengan ekspresi kompak bak paduan suara, ke empat siswa yang duduk di sana menjawab lesu, "Yah..."
"Kenapa?"
"Nggak bisa minta jajanin dong..." jawab mereka dengan serempak lagi.
"Anjir, gue kira mau ngajakin makan bareng!" Celetuk Lala pelan yang sejak tadi diam.
Hani mengangguk menyetujui ucapan Lala barusan, lalu kedua matanya kembali menatap adik-adik kelasnya itu, "Gue kirain mau nraktir nasi uduk bang Toyib di kantin belakang." Ucapnya sambil menyebutkan salah satu nama tukang nasi uduk di kantin SMA Kartini.
"Traktirnya nanti ya kalau Unggah udah resmi putus sama ceweknya." Jawab Bayu sambil melirik penuh arti ke arah cowok yang sejak tadi memokuskan perhatian pada layar ponsel cowok itu.
Dan untuk pertama kali sejak tiga menit berlangsung ramai, cowok bernama Unggah mendongak. Kedua manik mata Unggah dan Hani bersibobrok selama tiga detik sebelum akhirnya Unggah beralih menatap jengkel kepada Bayu. "Sialan! Gue nggak bakal putus woy."
Hani terdiam. Jadi cowok itu sudah ada pacar? Siapa?
"Cowok kayak lo mana sanggup LDR-an. Keenan sama Raisa nggak Ldr-an aja putus." Lagi-lagi Bayu bersuara. Cowok berpostur kurus itu sepertinya yakin sekali kalau teman sejak di SMP itu bakal berakhir dengan kekasihnya.
Unggah mendengus, sedikit sebal karena Bayu menyebutnya LDRan, "Cuma beda kelas doang,"
Bayu menyeringai, Kemudian menoleh ke arah Hani dengan pandangan jahilnya, "Nanti kalau Unggah udah ready stock, gue kabarin ya, Han."
Hani menaikkan alisnya. "Kok gue?"
"Jangan dipikirin, berat." Jawab Bayu singkat.
"Hani nggak akan kuat." Tambah Bima dan dua orang teman mereka secara kompak. Dengan gaya dan nada bicara yang juga sama-sama kompaknya.
Hani menggeleng pelan. Ke empat adik kelasnya ini sukses membuat perutnya terkocok pagi ini karena tingkah mereka yang benar-benar seperti anak SMP. Tentu saja, mereka bahkan baru resmi memakai seragam SMA hari ini, pikir Hani.
Cewek itu menyenggol Lala menggunakan sikunya secara pelan, "Yuk, La?" Ajaknya.
Lala mengangguk, "Yuk, ah. Gila gue lama-lama berdiri di sini."
Hani tertawa dan mengiakan.
Ya, hitung-hitung intermezo sebelum menghadapi walikelas mereka yang super galak nanti. Jadi, nggak apa-apa sekarang ketawa-ketawa dulu. Hani menoleh kembali ke arah siswa-siswa tersebut untuk berpamitan. "Gue ke kelas dulu deh. Yang rajin kalian, ya!"
Empat dari lima siswa yang duduk di sana langsung mengeluh. Menyayangkan kepergian kakak kelas mereka yang memiliki wajah baby face itu. Mata mereka bahkan mengikuti dan menatap ke arah pandang yang sama; punggung Hani yang semakin menjauh.
Kemudian Bima bergumam pelan, "Melihat kenyataan kalau Hani itu adalah kakak kelas, gue jadi nyesel lahir belakangan."
Unggah menaikkan alisnya saat melihat ketiga temannya yang lain ikut mengiakan ucapan Bima barusan.
"Kenapa coba?" tanya Unggah tidak mengerti.
"Hani mana suka sama brondong!" Bima menimpali.
"Cuma beda setahun doang," Jawab Unggah, kedua matanya lalu bertemu pandang dengan Bayu. Satu alisnya naik ke atas ketika melihat bayu menyeringai, "kalau Hani suka sama lo, gimana, Ung?"
"Nggak lah. Nggak mungkin."
"Kan gue nanya," Bayu menatap tali sepatunya sesaat, kemudian memandang ke Unggah lagi, "Kayaknya dia suka deh sama lo."
"Wih, jangan dong. Ke gue aja, gimana?" Bima menyela. Satu tangannya bergerak menyugar rambut dengan gaya ala aktor. Namun, tanpa diduga dengan semena-mena langsung mendapat tempelengan dari satu cowok lain yang duduk di sana, "Gue jajanin batagor lo selama setahun kalau sampe Hani suka sama lo." Cowok itu berucap pada Bima dengan nada meremehkan.
Membuat yang lain tertawa terbahak-bahak menyetujui.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co