Truyen3h.Co

Hello mellow

Dua

authoriya

BEBERAPA siswa dan siswi yang masih duduk mengampar di depan kelas masing-masing kontan langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kelas saat melihat sosok walikelas mereka dari kejauhan yang berjalan dengan beberapa guru lainnya ke arah kelas mereka.

Hari pertama masuk kembali ke sekolah setelah libur panjang biasanya memang tidak langsung diadakan proses belajar-mengajar. Jadwal pelajaran di tahun ajaran baru biasanya baru akan diberikan oleh walikelas masing-masing nanti, lalu setelahnya akan ada acara bersih-bersih kelas. Sedangkan guru-guru akan mengadakan rapat sekolah, dan bagi anak-anak yang sudah selesai membersihkan kelas mereka biasanya di perbolehkan untuk pulang lebih awal setelah Bel berbunyi.

Suasana di kelas 11 IPS 2 nampak ramai karena bising yang tercipta di dominasi oleh siswa laki-laki yang memang terkenal biang ribut di kelas itu mulai berulah. Seperti sekarang, cowok berbadan kurus dengan kulit gelap sedang naik di atas kursi guru dengan gagang sapu ditangannya.

"Ohhhh hoo Hani... Hani engkau lah gadis India..." Bambang bernyanyi dengan ujung sapu sebagai mic-nya. Sedangkan satu tangannya terulur ke depan sambil menatap ke arah meja Hani. Pasalnya, itu adalah lagu dangdut milik Mansyur S yang berjudul Khana, tapi Bambang dengan tidak tahu malu malah mengganti liriknya menjadi nama Hani. Membuat orang-orang yang berada di kelas itu tertawa terbahak-bahak.

"Hani made in Indonesia kali, rumahnya di Adnan Residence, anaknya Pak RT." Jawab Dwiki dari tempat duduknya. Tubuhnya menyender ke dinding, sedangkan satu kakinya terangkat ditaruh di atas kursi yang ia duduki.

Dwiki ini merupakan teman sekelas Hani dan  kebetulan keduanya tinggal di komplek perumahan yang sama. Makanya, cowok itu tahu dimana Hani tinggal.

Tanpa memerdulikan komentar Dwiki, Bambang kembali melanjutkan nyanyiannya dengan suara yang kalau boleh jujur—lumayan juga. "Hani... Hani engkaulah gadis pujaan... Senyum serta gayamu sungguh mempesona..."

"Mau dong di senyumin Hani juga..." Dwiki lagi-lagi menyaut.

"Yaudah, Lala buat gue ya?" Bambang menantang. Membuat Dwiki bangkit dari posisi menyandarnya, kedua matanya menatap Bambang dengan santai,

"Jangan jadi PHO, mas Bambang." ujar Dwiki.

Seisi kelas sontak tertawa kembali bergema hingga ke kelas sebelah. Jokes receh setiap pagi atau setiap ada kesempatan di kelas itulah yang membuat mereka saling merindukan satu sama lainnya jika sedang libur semester seperti kemarin. Termasuk Hani. Walaupun namanya lah yang selalu digunakan teman-teman laki nya di kelas, atau terkadang Lala—sahabatnya yang juga menjadi 'bahan' cowok-cowok itu melucu, Hani sama sekali tidak keberatan. Mereka semua temannya dan menurut Hani tidak ada yang salah akan hal itu.

Dwiki melirik ke arah pintu saat menyadari Bu Indri sudah sampai didepan pintu kelas mereka. Seperti sudah ada interuksi sebelumnya, seisi kelas kompak untuk tidak memberitahu Bambang jika walikelas mereka sudah datang dan membiarkan cowok kurus berkulit gelap itu sukses menjadi bahan amukan walikelas mereka yang sepertinya memang selalu mengelus dada menghadapi siswanya yang satu ini.

Sungguh penutup yang sangat sempurna, pikir murid-murid kelas itu.

"Pandang matamu penuh cahaya, Mengundang rasa—" kepala Bambang tanpa sengaja menoleh ke arah pintu kelas mereka dan seketika berhenti bernyanyi."Eh, Bu In... he he he." sapa Bambang dengan kaku, tawanya membentuk suku kata. Lalu bergegas melompat turun dari kursi. Tangan Bambang bergerak mengusap debu di kursi yang di injaknya tadi, kemudian merapihkannya kembali. Bambang menoleh ke arah Bu Indri sekali lagi, lalu mengangguk dengan seulas senyum sok manis di wajah cowok itu. "Misi bu..." katanya mengangguk kecil, kemudian melesat duduk ke kursinya di samping Dwiki.

Bambang melirik satu-satu wajah teman kelasnya yang bagaikan tanpa dosa itu dengan raut kesal karena mereka kedapatan berkonpirasi untuk tidak memberitahu dirinya kalau walikelas mereka sudah berdiri di depan pintu—sedang menyaksikan konser dadakannya.

Bu Indri, menurunkan tangannya dari pinggang, lalu membenarkan posisi kacamata. Tubuh tambunnya berjalan masuk dengan aura yang tidak bersahabat. Jika di setiap sekolah memiliki guru killer—sebutan untuk guru-guru yang galak dan tidak kenal kata maaf jika siswanya bersalah—maka Bu Indri lah milik SMA Kartini. Guru wanita itu bukan cuma walikelas 11 IPS 2 saja, tetapi juga merupakan guru mata pelajaran PKN untuk kelas 10, 11, 12. Ada tiga guru dalam mata pelajaran itu. Namun, dua di antaranya mengajar sebagian anak kelas 10 dan 12. Sedangkan, jika siswa SMA Kartini sedang bernasib sial, mereka akan bertemu Bu Indri sejak kelas 10. Kesialan yang dialami oleh siswa 11 IPS 2 karena harus bertemu dengan guru tambun itu selama tiga tahun. Di SMA Kartini pergantian walikelas hanya dilakukan tiga tahun sekali. Jadi, siapapun guru yang menjadi walikelas itu akan terus menjadi walikelas hingga kelulusan nanti. 

Dengan Bu Indri, jangan pernah berharap akan dapat nilai bagus kalau kalian tidak sanggup menghafal dan mengingat pasal-pasal yang ada di buku saku UUD, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saat post test berlangsung. Karena bagi Bu Indri, nilai yang paling berpengaruh adalah dari dua aspek tersebut. Sedangkan jika nilai UTS dan UAS sudah sulit dipercaya, kecuali budaya mensontek dikalangan murid-murid sudah tidak ada lagi.

"Bambang, kau ini selalu saja bercanda," Ucap Bu Indri setelah duduk di kursinya. Buku besar dan beberapa kertas yang di bawanya tadi ia letakkan di atas meja. Matanya menatap murid laki-lakinya yang selalu membuatnya geleng-geleng kepala, "Sudah kelas sebelas kalian ini, tidak terasa setahun lagi UN. Berubahlah kelakuan itu, lebih dipikirkan lagi belajarnya agar kelak tidak menyesal." Lanjut Bu Indri.

Semuanya terdiam. Tidak ada yang berani membantah dan juga tidak ada yang berani beradu pandang dengan guru mereka yang satu ini. Takut salah tanggap dan berakhir kena makian, jadi menundukkan kepala adalah sebaik-baiknya cara.

Bu Indri menghela napas. Baru saja di mulai tahun ajaran baru ini, tapi sudah ada saja yang membuat onar. "Ya sudah, kita mulai mencatat jadwal baru kalian saja. Lala?" ujar Bu Indri kepada Lala, sambil memberikan kertas berisi jadwal kelas 11 IPS 2.

Lala mendongak, mengambil spidol dari dalam kotak pensil, mendorong kursinya sedikit ke belakang dan berjalan ke depan. Syaila Pratiwi, atau biasa dipanggil Lala. Merupakan satu-satunya manusia penghuni 11 IPS 2 dengan tulisan layaknya mesin ketik, alhasil dengan keikhlasan yang luar biasa itu seluruh anak kelas 11 IPS 2 menunjuk Lala sebagai wakil sekaligus sekretaris kelas. Sedangkan untuk posisi ketua kelas diisi oleh Dwiki. Kenapa bisa? Karena dulu sebelum bergaul dengan Bambang, Dwiki merupakan siswa yang pendiam dan menurut Bu Indri tampang Dwiki lah yang paling bisa dipercaya di antara siswa-siswa cowok dikelas itu. Tapi, sepertinya ibu guru ini harus menelan kekecewaan karena melihat hanya dari bungkus luarnya saja—Dwiki sama nakalnya dengan teman sebangku cowok itu. Sedangkan, jabatan bendahara kelas dipegang oleh Hani Azzahra. Kalau kata Bambang, Hani -nya Via Vallen.

Kok bisa?

Iya. Kemudian cowok itu bernyanyi lagu Via Vallen yang berjudul "Sayang" hingga membuat anak-anak yang mendengar kala itu ingin mengubur Bambang hidup-hidup di kebun belakang sekolah.

"Setelah mencatat jadwal, kalian bersih-bersih kelas ya." ucap Bu Indri.

Yang langsung dijawab, "Iya, bu..." secara berjamaah oleh murid-murid dikelas itu.

Bu Indri mengangguk, lalu menatap Hani, "Hani, mulai besok sudah bisa menagih uang kas mingguan. Bilang sama Ibu kalau ada yang ngutang-ngutang." Bu Indri menatap ke arah murid laki-laki di kelas itu. Kaum-kaum yang suka menunda bayar uang kas sebesar dua ribu rupiah dengan alasan tidak punya uang, sedangkan beli nasi uduk mereka bisa sampai nambah dua piring.

Hani mengangguk, "Baik, bu."

"Ibu ke kantor dulu. Jam sembilan nanti akan ada rapat." Pamit Bu Indri setelah melihat—Bu Tuti, guru bahasa Indonesia mereka yang merupakan walikelas kelas 11 IPS 3 sudah menunggunya di depan pintu.

Selepas kepergian Bu Indri, suasana kelas yang tadinya hening berubah kembali kewujud semula. Bising.

Bambang berdiri sambil menepuk pundak Dwiki, "Yuk, kantin. Laper gue!"

Lala menoleh, menatap Bambang dan Dwiki dengan kesal, "Woy, angkatin bangku dulu, enak aja lo main  kelayapan!"

Dwiki tersenyum manis, "Ntar ya sayang, laper nih."

Bambang mengangguk, "Betul, kalau kami pingsan pas ngangkatin bangku ini, gimana coba? Lagian, gue dan Dwiki mau buka rekruitmen buat jadi anggota geng The Baki."

"Geng bandel dipelihara," Lala berujar malas, lalu menatap Dwiki tajam. "Angkat dulu, nggak? Gue putusin ntar lo!" ancamnya. Kemudian kembali meneruskan mencatat jadwal yang diberikan oleh walikelas mereka.

Mendengar ucapan Lala, sontak saja membuat anak-anak di kelas tertawa. Apalagi ditambah melihat raut wajah Dwiki yang langsung berubah memelas. Bahkan, cowok itu langsung kembali ke tempat duduknya saat itu juga. Membuat Bambang mengangkat alis heran, "Kok duduk lagi sih, Ki?"

"Laper bisa di tahan, bro. Kalau jadi jomblo, kelar hidup lo." Jawab Dwiki.

"Uh, Papa nggak like ah kalau begini!" Bambang mendengus, namun tak urung ikut duduk kembali juga.

***

"Han, pembersih lantai habis, Sapu hilang, kain pel juga patah!" Lapor Dwi kepada Hani. Cewek itu baru saja masuk ke dalam kelas karena tadi dipanggil oleh walikelas mereka untuk datang ke kantor guru. Jika bagi sebagian murid di SMA Kartini ruang guru merupakan 'momok' selain ruang kepala sekolah—jadi kalau bisa mereka tidak akan pergi kesana deh, lewat pun kalau bisa tidak usah—tapi berbeda untuk Hani. Selain karena Bu Indri sering menyuruhnya datang ke ruangan itu, guru-guru yang mengajar pun memang hafal dengan wajahnya dan juga kepribadian Hani yang ramah.

"Kenapa nggak bilang dari tadi waktu gue mau ke kantor coba?" Hani ikut memerhatikan alat-alat kelas yang disimpan di dalam lemari diujung ruangan dengan pandangan iba, "Kok bisa sampe patah gini deh?" Hani menoleh ke arah Dwi, sambil memerhatikan kain pel mereka yang terpotek menjadi dua dalam keadaan mengenaskan itu.

"Terakhir kita sekolah, dimainin sama Bambang, Edo, Dwiki." Dwi mengingat.

Benar-benar!

Tiga biang kerok kelas yang selalu merusak peralatan kelas mereka. Sudah empat kali selama kelas sepuluh kemarin mereka mengganti sapu lantai karena ijuknya di cabuti oleh anak-anak cowok yang marah karena disuruh piket. Dan ini, Hani langsung ingat kenapa bisa rusak seperti ini, itu karena cowok-cowok bermain pertarungan dengan sapu dan kain pel sebagai 'senjata' mereka.

Hani menoleh ke arah Lala yang sedang mengelap kaca jendela, "La, bawa motor nggak?"

Lala menggeleng, "Enggak, tadi bareng bokap. Kenapa?"

"Cowok lo nih, ngerusak alat pel sama sapu. Gue mau beli ke pasar, tapi sama siapa dong?" Hani mendengus. Cowok-cowok dikelas 11 IPS 2 ada sebelas orang, dan masalahnya ke sebelas cowok itu semuanya sama saja. Nggak jauh beda dan satu produk. Ada sih, dua orang. Tapi lagi solat dhuha di masjid. Dan sama aja nggak bisa diandelin kecuali buat nyontek saat ulangan.

"Aish, tu orang adalah ketua kelas paling nggak berkompeten. Ntar Han, gue telpon dulu." Ucap Lala. Di jatuhkannya koran kering yang semula dipegang cewek itu ke lantai. Lalu merogoh smartphone nya dari dalam saku rok, Kemudian mendial nomor sang kekasih. Hani ikut menunggu, sekarang cewek itu sudah berada di sebelah sahabatnya. Lala mengerutkan kening ketika lagi-lagi panggilannya berakhir pada suara operator yang mengatakan kalau si yang punya nomor tidak mengangkat panggilan itu.

Lala kembali mendial nomor itu. Dan jawabannya tetap sama.

"Nggak diangkat." Ucap Lala.

"Aduh, gue nyesel deh jadi bendahara kelas bikin pusing sendiri gini." Hani mengeluh, "Yaudah deh, gue susulin aja mereka ke kantin ya?"

Lala mengangguk. "Mau di temenin nggak?"

"Nggak usah. Lo disini aja, jagain kelas sama yang lainnya," Kata Hani berjalan masuk ke dalam kelas dan menuju mejanya. Dia membuka tas-nya untuk mengambil dompet khusus uang kas. Sebelum melangkah ke kantin, Hani berpamit kepada Lala dan yang lain di sana, "Gue cari tu cowok-cowok dulu ya, mau minta anterin beli peralatan."

***

Hani melangkah sedikit cepat keluar koridor menuju kantin. Untuk mencapai kantin, siswa Kartini harus melewati area parkir dan gedung GSG terlebih dahulu karena letak kantin tepat dibelakang gedung GSG. Rambut Hani sedikit diterbangkan oleh angin saat cewek itu juga sedikit berlari, kemudian kembali berjalan normal saat melewati area kelas sepuluh yang gedungnya terletak di depan dekat lapangan basket dan tiang bendera. Pandangan Hani sempat melirik kepada satu kelas, namun tidak mendapati sang target. Hani menggela napas pelan dan bergumam, "Dia udah ada cewek?"

Karena tidak fokus dengan jalannya, cewek itu hampir saja terjerembap jatuh kalau saja dia tidak bisa menjaga keseimbangannya. "Duh! Sori, sori..."

"Kak Hani?"

Hani mendongak, "Eh.. elo. Sori ya, sori." Ucap Hani kepada seorang cowok. Karena dia tadi sibuk melihat ke arah kelas cowok itu sampai tidak menyadari kalau si target malah berada di depannya, lalu berujung menabrak cowok itu.

"Nggak apa-apa. Gue yang nabrak lo tadi. Lo nggak apa-apa kan, kak?"

Duh, harus kakak banget ya ini? batin Hani.

"Enggak, gue nggak kenapa-napa juga kok," Hani tersenyum manis. "Lo, dari mana? Mau kemana?" Tanya cewek itu saat menyadari si cowok hanya sendiri dan tidak bersama teman-temannya seperti tadi pagi.

"Mau ke fotokopian, beli rokok." Unggah—si cowok itu, berujar dengan santai.

"Ha?" Hani bingung sesaat. Tapi, siapa juga yang tidak bingung atas ucapan cowok ini. Sejak kapan tukang fotokopian merangkap jadi penjual asongan?

Unggah tertawa melihat raut wajah kakak kelasnya itu, "Becanda. Gue mau beli spidol sama penghapus."

"Jauh amat ke fotokopian, di koperasi sekolah juga ada kali." Hani memutar bola matanya. Tipikal siswa cowok begini nih... ada yang deket, wajib banget beli yang sedikit jauhan supaya ada alasan bisa keluar gerbang sekolah.

Unggah mengedikkan bahunya, "Lo sendiri mau kemana?"

"Mau ke kantin nyari tebengan buat nganterin ke pasar beli peralatan kelas," Hani melirik jam dipergelangan tangannya. Sebenarnya dia masih ingin bercakap dengan cowok di depannya ini, namun dia harus segera membeli peralatan itu kalau tidak bisa-bisa kelas mereka telat pulang dari kelas-kelas lainnya. "Umm, oke kalau gitu gue nyari—"

"Gue anter, mau?"

"Mau!" Jawab Hani cepat, bahkan terlalu cepat karena cewek itu sama sekali tidak berpikir dua kali untuk menolak tawaran Unggah kepadanya.

Unggah tersenyum lebar, lebih tepatnya menyeringai menatap cewek di depannya, "Ke parkiran dulu ya, ambil motor."

Hani menggerutu dalam hati sambil mengikuti Unggah yang berjalan didepannya. Bagaimana bisa dia sebagai cewek langsung mengiakan tawaran adik kelasnya tanpa berpikir—at least, pura-pura berpikir dulu, gitu?

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co