Truyen3h.Co

Hello mellow

Sebelas

authoriya

"BAMBANG... kamu ini ya! ditanya rumus yang dasar-dasar gini aja nggak bisa. Modal awal, modal akhir, prive, laba, rugi, mulut ibu sudah sampai berbusa ngejelasinnya dan kamu masih aja nggak bisa menjawab." Bu Yemi memijat kening pelan. Keharusannya untuk mengajar di kelas 11 IPS dan bertemu kembali dengan anak didiknya yang nakal juga terkenal sukses membuat ibu guru cantik itu pusing akhhirnya terjadi lagi. Belum juga emosi bu Yemi redup akibat ulah Bambang dan Dwiki ketika beliau baru masuk kelas sejam yang lalu, sekarang mesti ditambah lagi—karena si biang kerok kelas itu tidak bisa menjawab pertanyaan yang tadi diajukan.

Tak sampai disitu saja, kali ini bahkan bu Yemi mendengar suara cekikikan yang tertahan dari deretan bangku cowok di sebelah kiri. Dengan mata yang dibingkai kacamata plus berwarna hitam, bu Yemi menoleh ke satu meja. "Dwiki, siapa yang nyuruh kamu untuk tertawa?"

Sontak saja setiap pasang mata di kelas itu langsung menoleh ke sumber masalah. Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa Dwiki tertawa di saat bu Yemi sudah memunculkan dua tanduk tak kasat mata di kepalanya?

"Bukan cowok gue, bukan cowok gue." Gumam Lala pelan. Hani yang mendengar gumaman itu mau tak mau tertawa dalam hati. Mana berani ia tertawa keras kalau situasinya sedang gencatan sejata begini.

Hal ini sangat lumrah terjadi, si duo maut sungguh apik dalam berkolaborasi dan selalu berhasil membuat para guru yang mengajar senewen. Bahkan, dulu ada mahasiswi PKL hingga menangis karena kelakuan Bambang dan Dwiki yang nyebelin itu.

Sekali lagi bu Yemi menghela napas dengan berat, setelah melihat wajah penyesalan—yang beliau yakin tak dari hati itu—di wajah Dwiki, bu Yemi membawa tangannya berkancak pinggang. Kemudian kembali fokus pada Bambang yang berdiri di di dekatnya, "Coba jelasin ke ibu bunyi hukum permintaan!"

Bambang menelan saliva kering. Mampus gue! Dengan gugup Bambang bersuara. "Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan."

"Itu hukum penawaran, Bambang. Aduh kepala ibu pusing jadinya..." untuk kesekian kalinya dalam hari ini, bu Yemi lagi-lagi mendesah frustasi. Mata itu menatap anak muridnya yang kini menundukkan kepala. Ibu guru itu yakin kalau beliau bisa keriput jika lama-lama berada di kelas ini. Sialnya, kenapa dari banyak guru Ekonomi dan Akuntansi di sekolah ini harus dia yang kebagian untuk mengajar anak-anak ini?

Dengan menahan emosi agar tak semakin menyulut, bu Yemi kembali berbicara dengan nada dingin—menandakan bahwa guru cantik itu sudah marah. "Udah ah sana, kembali ke kursi kamu. Berdiri selama apapun disini nggak akan berguna."

Bambang bersorak girang dalam hati, namun ekspresi wajahnya tetap menampilkan penyesalan dan kesedihan mendalam agar hukuman tidak jadi diberikan. Setelah Bambang mencapai mejanya, bu Yemi kembali mengedarkan pandangan pada murid-muridnya yang lain. Lalu bersuara, "Buka buku paket halaman delapan belas, dan kerjakan soal itu di Buku Besar."

***

Suasana dikantin pada jam istirahat kedua selalu lebih ramai daripada jam istirahat pertama. Terbukti dari antrian soto ayam, batagor, nasi uduk, dan nasi sayur yang membeludak membuat beberapa siswa yang merasa masih bisa menenangkan cacing diperut mereka lebih memilih untuk membeli beberapa jajanan ringan sebagai pengganjal.

Begitu pula dengan Hani dan Lala yang baru saja kembali dari mushola SMA Kartini seusai melaksanakan solat dzuhur, keduanya melangkah beriringan menuju kantin sekolah. Tadi pada jam istirahat pertama, Hani dan Lala sibuk menyelesaikan tugas tambahan mereka sebagai murid SMA; membaca novel picisan, juga karena sudah sarapan di rumah rasa lapar pada jam segitu masih belum terasa. Namun, ketika jam makan siang tiba-tiba cacing-cacing diperut curi semua nutrisi alias pada demo dan minta diberi asupan makanan. Ditambah, pelajaran Ekonomi-Akuntansi yang menguras pikiran dan tenaga hingga membuat asam lambung naik dengan cepat.

"Ini Ibu kantin lagi ngadain meet and greet atau jualan makanan deh?" Lala menggeleng heran ketika melihat suasana kantin dari kejauhan. "Rame amat."

"Masih ada sekitar lima belasan menit lagi sih," Hani melihat alrojinya sebentar. Lalu menoleh ke arah Lala, "Terabas, jangan?"

"Lapar gue,"

Hani mengangguk, "Iya sih... yaudah yuk?" Ajaknya. Lala mengangguk dan langsung mengikuti Hani berjalan menuju kantin sekolah mereka.

Terdapat lima gerai makanan di sana. Biasanya kalau sedang lapar banget, Hani dan Lala akan memilih mengantre makanan pada gerai nasi sayur atau nasi uduk. Namun, ternyata kedua gerai tersebut tutup lebih awal karena sudah habis sejak istirahat pertama.

"Habis neng, nasi uduknya." Ucap Bang Toyib—sapaan akrab lelaki penunggu gerai nasi uduk legendaris di kantin SMA Kartini saat melihat Hani dan Lala di depan gerainya. Pria itu sedang mengelap perkakas, dan kembali bertanya. "Kok tadi pagi nggak keliatan?"

"Semedi, Bang!" Seru Lala dengan penuh semangat. "Si Hani abis mimpiin nomor togel semalem, dan kayaknya bakal keluar, soalnya hari ini dia hoki banget."

Bang Toyib menghentikan sejenak aktifitasnya untuk menatap penasaran. "Yang bener? Wah bisa lah bagi-bagi neng, buat daftar Haji."

"Boleh bang, tapi nasi uduk gratis sampe lulus ya?" Lala tertawa menanggapi.

"Sip deh!" Jawab Bang Toyib sambil mengacungkan jempolnya. Tertawa, kemudian kembali melakukan kegiatannya mengelap perkakas.

"Gue baru tahu kalau lapar bisa bikin orang jadi sinting," Hani geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya itu.

Lala hanya membalas dengan sebuah cengiran.

Just in case, Lala ini memiliki pribadi yang supel sama seperti Hani, jadi jangan salah kalau keduanya bisa akrab sama siapa saja dan tidak pandang bulu apa lagi bulu kaki. Bagi mereka, menjalin silaturahim dan pertemanan itu kepada siapa saja. Mau itu kepada yang lebih tua, maupun yang sebaya. Karena siapa yang tahu jika suatu saat nanti kita membutuhkan bantuan mereka, bukan?

"Makan apa ya, La?" Tanya Hani. Untuk kesekian kalinya dia selalu bingung bahkan hanya sekadar untuk mengisi perut saja.

"Apa ya..." Lala berpikir sembari melihat-lihat gerai yang antriannya masih saja ramai itu. "Soto ayam deh. Lo?"

Hani menimang-nimang. Jika dia mengikuti Lala membeli Soto Ayam, maka ia tidak bisa membeli minuman kesukaannya, es kelapa muda. Karena dua itu berbeda gerai, dan Hani cukup mager kalau harus mengantre dua kali.

"Gue batagor deh," Putusnya. Baiklah, ini pilihan yang tepat. Selain mengenyangkan, gerai batagor inilah yang memiliki minuman es kelapa muda kesukaannya.

"Okelah, w di sana u di situ. Ntar kita ketemu di sini." Tunjuk Lala pada meja kosong dekat mereka berdiri, "Bye!" lanjutnya.

Kemudian, cewek itu berjalan menuju gerai soto ayam sambil menyerobot-menyerobot di antara kerumunan siswa yang di dominasi oleh cowok-cowok itu.

Hani menurunkan bahu. Tidak mungkin baginya untuk menyerobot di antara kerumunan cewek begini. Pertama, cewek itu bermulut besar. Kedua, cewek itu cerewet. Hani saja akan mengumpat sepanjang waktu jika tahu orang lain asal masuk dan tidak membudayakan antre, apalagi cewek-cewek ini. Kalau satu sih masih bisa adu mulut, kalau udah sebanyak ini? Kalah sebelum bertanding yang ada. Karenanya, Hani memutuskan untuk menunggu di belakang hingga antrian mengerucut.

"Kalau nggak maju dan ikut ngantre, sampe bel masuk juga nggak bakal dapat batagornya."

Kepala Hani langsung menoleh ke samping kiri dan mendapati tubuh tinggi Unggah tak jauh darinya. Cowok itu tidak memandangnya melainkan ke depan dengan tangan terlipat di depan dada.

"Rame gitu, Lala sih enak bisa nyerobot di sana, Lah gue?" Hani menggerutu. "yang ada berantem ama cewek-cewek itu." keluhnya.

"Tunggu bentar,"

"Ha?" Hani mengerutkan kening bingung. Dan tanpa menjelaskan apapun kepadanya, Unggah sudah berdiri di antara antrean itu. sedikit menaikkan intonasi kepada si penjual agar terdengar—bahwa ia memesan dua porsi batagor berikut es kelapa muda.

"Kok dia tahu gue mau es kelapa muda?" Gumam Hani sambil memerhatikan Unggah di depan sana dengan kedua sudut bibir terangkat ke atas.

Idaman banget!

***

"Makasih," Hani tersenyum manis saat Unggah meletakkan nampan berisi es kelapa muda dan batagor milik cewek itu ke atas meja.

Unggah mengangguk, "Gue ke sana ya?" Tunjuknya pada meja yang sudah diisi oleh teman-teman cowok itu.

"Eh—tunggu!" Cegah Hani ketika Unggah mulai membalikkan tubuhnya. Membuat cowok yang sedang memegang sepiring batagor itu menoleh, menatap bingung. "Gue kan belum ganti uang batagornya," lanjutnya. Ia merogoh saku baju seragam, tapi berhenti saat Unggah mengatakan kalau Hani tidak perlu mengganti uangnya. "Serius? Gue nggak enak nih." Ucap Hani.

Padahal dalam hati girang sekali karena di teraktir cowok pujaan hati.

"Iya, serius."

"Umm, makasih. Lagi."

Unggah mengangguk dengan senyuman tipis, lalu berbalik pergi menghampiri teman-teman di meja ujung yang kini sedang menatap nakal ke arah cowok itu. Sudah jelas kalau sebentar lagi ia akan menjadi bual-bualan teman-temannya.

"Dih, dih sok manis sih!" Lala mendengus, berkata dengan nada bercanda sambil menuangkan kecap kedalam kuah sotonya.

"Emang manizz kaleee," jawab Hani santai, lalu menyuapkan potongan batagor ke dalam mulut saat selesai mencampur bumbu.

"Dih," Lala tertawa. "tapi beneran deh yang kata gue tadi, Han," Lala mencicipi soto ayamnya. Setelah merasakan rasanya yang sudah pas dilidahnya, ia menoleh ke arah sahabatnya itu.

"Apaan?"

"Lo kayaknya emang mimpi dapat nomor togel ya? Ngaku deh!"

"Enggak. Aneh-aneh aja deh lo, La."

Lala menyendokkan soto ayamnya ke dalam mulut, "Ya abis, lo hoki banget gitu dari pagi—ini gue bicara soal dedek gemes gebetan lo ya."

Cewek berbando biru itu kembali menyunggingkan senyum. Lala benar, mungkin saja ia memang semalam memimpikan nomor togel hingga bisa se-hoki ini, atau Tuhan mulai menjawab doa-doa malamnya mengenai permintaannya untuk diberikan pria baik seperti Unggah di kehidupannya ini? Entahlah.

"Sampe jadian sama Unggah, traktir gue ya!?" Ancam Lala dengan nada bercanda.

"Mm-hm, tenang aja. Ntar gue beliin indomie lima bungkus buat lo mukbang." Jawab Hani sambil terkekeh. Membuat Lala memajukan bibirnya ke depan.

***

"Han, gue balik sama Dwiki. Mau gue temenin dulu nggak piket sorenya?" Tanya Lala sambil memasukkan buku-buku pelajaran terakhir ke dalam tas.

Jam pembelajaran sudah habis dan guru mata pelajaran mereka sudah keluar beberapa detik yang lalu. Hani mengancingkan reseleting tasnya hingga tertutup, "Udah nggak usah. Aku mah strong biasa sendirian."

"Hoo... percaya aja," Lala tertawa, lalu bangkit. "Yaudah, kalo gitu Raisa duluan ya!"

Dengan ekspresi seperti ingin muntah, Hani mengangguk. Sudah menjadi kewajiban bagi murid sekolah SMA Kartini untuk melaksanakan piket kelas dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. Tapi sialnya, anggota piket hari ini hanya ada dua orang cewek dan sisanya cowok semua. Dan lagi, partner piket Hani itu hari ini tidak masuk sekolah karena sakit. Alhasil, Hani merasa seperti piket sendiri.

"Bembeng, mau kemana lo?!" Seru Hani ketika mendapati Bambang dengan tas selempang kecil melangkah keluar pintu kelas.

"Balik lah. Ngapa, mau bareng?"

"Angkat dulu nggak kursi-kursinya ke atas meja!?" Hani menatap kesal pada cowok kurus itu. Kemudian mengedarkan pandangannya mencari dua orang lainnya yang juga kedapatan piket hari ini, "Boy sama Haikal mana dah?" tanyanya pada Bambang ketika tidak mendapati kedua orang itu.

"Lagi syuting sinetron."

Jawaban yang membuat Hani hampir melemparkan kursi ke wajah yang tak pernah serius itu. Hani mendesah, bisa mati dia kalau meladeni kekonyolan Bambang yang tak pernah selesai.

Bambang tertawa saat melihat raut wajah Hani yang sudah menahan kesal karenanya. Kemudian cowok itu melangkah mendekat sambil menaruh tasnya di atas meja guru.

"Bercanda, bercanda." Kekehnya, lalu mengangkat kursi dari bagian terdepan, "Lagian nggak setia kawan banget si Lala, masa honey gue dibiarin piket sendiri."

"Ya dari pada dibiarin cinta sendirian," jawab Hani asal.

"Waduh, curhat bu aji?"

Hani tertawa. "Ya, kan Lala bukan piket hari ini, Beng."

"Iya juga sih. Makanya jangan jomblo, Han."

"Gue nggak jomblo. Single." Jelas Hani.

Bambang tertawa geli. "Besok deh gue bawain ya biodata Unggah. Tadi lupa." Kedua mata Bambang melihat sinar senang yang dipancarkan oleh temannya ini mau tak mau ikut senang juga.

Kalau boleh berbicara jujur, sejak dulu Bambang paling anti berteman dengan cewek karena menurutnya pertemanan kaum cewek itu banyak drama dan perselisihan. Makanya, alih-alih berteman dengan cewek-cewek itu Bambang lebih memilih menjadikan mereka gebetan saja. Namun, sejak awal dia masuk di kelas barunya satu tahun lalu dan bertemu dengan Hani juga Lala, Bambang menepis segala spekulasi mengenai kaum cewek. Kedua cewek bersahabat itu jauh dari kesan drama.

Bambang mengangkat kursi terakhirnya ke atas meja, secara telungkup. "Dah, selesai." Ujarnya sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan. Cowok itu berjalan ke arah depan dan mengambil tas miliknya yang berada di atas meja guru, lalu memakainya. Dan pada saat itu, dengan kedua mata Bambang tak sengaja mendapati seorang cowok dan cewek yang sedang terlibat pembicaraan—yang sepertinya serius.

Dengan bersemangat, Bambang kemudian memanggil Hani yang sedang menyapu lantai kelas, "Han, Unggah tuh, lagi ngobrol sama cewek!"

***

Sekali lagi Unggah menghela napas dalam-dalam, menahan agar tidak berbicara kasar yang nantinya bisa menyakiti hati perempuan di depannya ini. Unggah sangat anti membuat kaum cewek sakit karena kata-kata yang dia lontarkan, karena Unggah sangat menghormati Ibu, dan Unggah pasti akan marah kalau ada yang berbicara kasar kepada perempuan yang sangat dia sayangi itu. Tapi, sekali lagi, Unggah benar-benar harus menaruh kesabaran ekstra untuk cewek didepannya ini.

"Kamu beneran lebih milih putus daripada masuk ekskul basket?" Pertanyaan yang sama, yang jujur, sudah amat sangat bosan di dengarnya.

"Lo yang ngajakin putus, Rin. Kalau lo lupa," Jawab Unggah dengan nada malas. Unggah menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.

"Aku bisa mempertimbangkan balikan kalau kamu mau masuk ekskul Basket."

Perkataan Rini barusan membuat Unggah mengerutkan kening hingga alisnya menyatu, "Nggak deh, makasih."

Rini mengatup rapat-rapat bibir mungilnya, "Kenapa? Udah dapat cenel baru? Siapa?" Tanya Rini dengan suara sewot. Cewek berkadigan maroon itu menatap sang mantan dengan pandangan kesalnya, "Yaudah kalau nggak mau, lo bakalan nyesel kalau gue jadian sama Faki!"

"Kalau cowok itu yang bisa ngabulin impian konyol lo itu, nggak masalah," Unggah mengedikkan bahu. "Gue udah ikhlas kok kalau ternyata selama ini jagain jodoh orang."

"Oh, yaudah!"

Unggah mengangguk meresponsnya. Lalu, mendengar suara teriakan dari arah lain. Suara yang memanggil namanya, membuat Unggah menoleh dan mendapati Bambang yang sedang menyeringai kepadanya, "Cie balikan ya?" Kata Bambang dengan suara keras.

Unggah sebenarnya malas meladeni kakak kelasnya itu karena... pertama, mulut Bambang sama seperti mulut kedua temannya. Kedua, hari ini panas banget dan Unggah hanya ingin cepat pulang. Namun, niat malasnya itu menghilang ketika melihat siapa yang berdiri tak jauh dari Bambang.

Hani!

Yang sedang memandanginya dengan tatapan kesal, namun segera masuk ke dalam kelas saat pandangan mereka bersinggungan.

***

Hani mengambil ikat rambut dari dalam kantong tas kemudian mengikat asal rambutnya yang sepanjang lengan itu. Ia berjalan sambil memandangi kedua ujung sepatu dengan pikiran-pikiran aneh menggelayuti kepalanya.

Baru saja dia dibuat senang karena dijemput dan dipesankan makanan oleh Unggah, dan sekarang dia harus menceburkan dirinya ke dasar laut lagi karena melihat cowok itu bersama si mantan pacar. Walaupun tidak jelas apa yang dibicarakan mereka berdua, tapi Hani bisa menebak kalau itu adalah jenis pembicaraan yang serius.

Mungkin dia ngajak mantannya balikan, pikiran-pikiran itu yang membuat Hani tiba-tiba merasa kesal. Ada semacam perasaan yang tidak rela bergelayut dihatinya. Bahkan, dia dan Unggah belum sempat terjadi apa-apa, tapi kini cowok itu kembali pada macannya.

Hani mendesah. Nyebelin!

"Lama banget," satu suara yang membuat Hani mendongak.

Dengan kedua bola mata coklatnya, ia mendapati Unggah keluar dari balik tenda pada warung depan sekolah dengan menggendong tas di satu bahu. Kalau saja rasa kesalnya tadi tidak menyelimuti, Hani yakin dirinya akan langsung tersenyum ketika melihat ketampanan Unggah yang makin menjadi-jadi meski hari sudah siang.

Hani tak menjawab dan memilih meneruskan jalannya.

"Kok nggak jawab sih, kak?" Unggah menyusul untuk berjalan di belakang Hani. Dengan sengaja memanggil cewek itu dengan sebutan 'kak' karena Unggah tahu bahwa itu akan memicu kekesalan Hani. Namun alih-alih mendapatkan respons, Unggah harus gigit jari karena Hani sama sekali tak menggubrisnya.

"Abis piket kelas, ya lama." Jelas Hani singkat. Bad Hani, padahal seharusnya dia bisa bersikap dewasa untuk tidak menunjukan rasa kesalnya pada Unggah. Namun, dia tetap saja sama seperti anak SMA pada umumnya.

"Kok nggak marah gue panggil 'kak'?" tanya Unggah sambil mensejajarkan diri dengan Hani.

Matahari semakin bersinar terik di atas sana dan Hani tidak menyangka kalau Unggah bisa menambah kekesalannya. Bukannya dia tidak marah, hanya saja...

Hani menghela napas, "Itu hak lo mau manggil apa aja, lagian gue emang kakak kelas lo kan?"

Unggah tersenyum kecil, "Gue anterin balik yuk?"

Mauu... kata gadis batin Hani tak tahu malu.

"Nggak deh, gue naik busway aja." Jawab Hani, masih dengan nada yang sama.

"Gue nggak nawarin dua kali loh."

Resek banget sih! Ajak aja sana pulang pacar lo! Teriak Hani dalam hatinya.

"Mau, nggak?"

Hani menghentikan langkah, Unggah mengikuti.

Ditatapnya Unggah dengan pandangan heran. "Lo kenapa deh?"

Kali ini malah Unggah yang keheranan, lalu menjawab, "Nawarin tebengan, emang ada yang salah?"

Hani mendengus, "Balik aja sana sama pacar lo."

Cewek itu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya sebelum Unggah dengan tiba-tiba menahan dengan menggenggam pergelangan tangannya.

Hani memilih tidak menoleh. Padahal hati sudah deg-degan parah.

"Buat gue, balikan sama mantan itu sama aja kayak baca ulang buku yang udah pernah dibaca sebelumnya. Udah ketahuan akhirnya bakal kayak gimana." Ujar Unggah.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co