Duabelas
SUARA rintik hujan yang jatuh di atas atap rumah bercampur dengan suara guntur membenarkan spekulasi kalau hujan diluar sana memang sedang deras-derasnya. Hani yang sedang mengganti template pada blog pribadinya itu langsung bergegas mematikan laptop secapat kilat saat mendengar suara guntur beserta petir saling bersautan.
Jam pada dinding kamarnya masih menunjukkan pukul 08.18 malam, dan Hani tidak memiliki tugas apapun untuk dikerjakan. Luar biasa. Ini benar-benar malam terbaik yang pernah ada dari beberapa malam penuh cobaan karena tugas-tugas sekolah yang beruntut tak ada hentinya itu.
Setelah mematikan laptop dan menyampirkannya di pojok meja belajar, kedua mata Hani terpaku pada deretan novel yang berada di rak bukunya. Matanya fokus pada satu novel yang masih disegel plastik—di antara deretan novel lusuhnya. Ya, walaupun tidak begitu lusuh karena Hani selalu memberikan sampul plastik untuk novel-novel miliknya, namun perbedaan jelas terlihat dari warna kertas yang mulai menguning.
Hani mengambil novel baru itu cepat. Dia kembali mengingat membeli novel itu karena tanpa sengaja melihat bazaar di toko buku kenamaan di kota Bogor. Sebenarnya, Hani adalah tipikal cewek yang menganut prinsip 'selagi bisa pinjem, buat apa beli?' sejak kelas sepuluh. Karena, teman sekelasnya Mifta sangat-sangat up to date mengenai novel keluaran terbaru, dan yang membuat Hani—maupun teman-temannya yang lain—senang adalah Mifta ini tidak pelit karena dia selalu mau meminjamkan novel-novelnya kepada fakir novel seperti Hani dan teman lainnya. Hanya saja, kemarin saat ada bazaar ada satu novel yang menarik perhatiannya. Lebih tepatnya, kover novel itu yang sebenarnya menarik perhatian Hani sampai membuatnya tergerak membawa novel itu ke kasir. Hani masih berdiri, setelah membuka segel plastik itu ia langsung melangkah menuju ranjang. Tempat ternyaman membaca novel adalah di ranjang tidur. Selain karena empuk, Hani juga bisa menginterprestasikan sisi kreatifnya dalam pose-pose nyaman saat membaca novel.
***
Cukup!
Hani menyerah, mendesah kasar kemudian menutup novel yang baru dibaca sampai halaman lima belas. Bayangan Unggah yang sejak tadi bergelayut manja di pikiran cewek itu tak juga terhapus meski Hani sudah susah payah mendistraksi otaknya dengan kesibukan-kesibukan lain.
Ini benar-benar kacau, Hani segera menutup wajahnya dengan bantal kecil ketika bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Bundaaa, bawa aku ke psikiater sekarang!" Teriaknya dari balik bantal.
Padahal bersama Aldi dulu Hani bahkan lebih sering menahan emosi daripada senyum-senyum seperti orang gila begini. Selain karena sifat ngeselin Aldi yang meminta dihubungi 24/7, si mantan pacar itu juga lebih sering membuat pembicaraan menjadi ngambang dan berakhir ribut.
Bayangan Unggah yang tadi sore masih terpatri jelas dibenaknya bersama dengan rasa sengatan listrik yang ditimbulkan akibat Unggah memegang pergelangan tangannya tadi. Belum lagi, kalimat yang di lontarkan Unggah—meskipun sudah sering Hani membacanya di akun motivasi cinta, tetap saja terasa berbeda ketika diucapkan langsung oleh seseorang. Apalagi jika seseorang itu sudah masuk katagori penting di hidup kita.
Buat gue, balikan sama mantan itu sama aja kayak baca ulang buku yang udah pernah dibaca sebelumnya. Udah ketahuan akhirnya bakal kayak gimana... Hani mengulang dalam hati, kemudian ia kembali senyum-senyum sendiri.
Luluh lantak sudah.
"Itu artinya dia lagi ngejelasin kalau dia nggak akan balikan lagi sama mantannya kan?" Gumam Hani dengan senyuman yang masih bertengger manis di wajahnya. Ia membawa bantalnya turun dan mendekapnya di atas dada dengan kedua kaki bergoyang-goyang di atas selama beberapa detik sebelum Hani kembali tersadar bahwa kelakuannya begitu memalukan. "Fix, gue bakal minta bunda bawa gue ke psikiater."
Suara guntur sudah tidak lagi terdengar, namun hujan malah semakin deras. Daripada dia tidak jelas dan senyum-senyum seperti orang gila begini, Hani memutuskan untuk mencari akun twitter Unggah. Walaupun kemungkinan besar cowok itu pasti sudah tidak memainkannya lagi karena sekarang pengguna twitter sudah kebanyakan transmigrasi ke Instagram dan sibuk memamerkan kehidupan bahagia dan pencitraan mereka melalui intagram-story yang mereka buat.
Ternyata tidak membutuhkan waktu lama sampai Hani menemukan akun twitter Unggah. Wajahnya langsung sewot ketika melihat nama Rini masih terpampang di bio twitter cowok itu. Hani menggerakkan kebawah, melihat tahun 2017 awal terakhir kali cowok itu membuka lini massa itu.
"Bego banget sih!" Hani mengumpat ketika tanpa sengaja menekan tombol follow di profil twitter Unggah. Dan seolah semakin menambah ketololannya, hanya berselang tiga detik ikon twitter muncul pada status bar di ponsel Hani, dia mengusap layar ke bawah untuk melihat notifikasi, dan langsung membelakan mata sejadi-jadinya ketika membaca notifikasi yang masuk di tab mention.
@UnggahLazuardi follows you.
"Benar kata kak Meta, jangan kebanyakan jajan lidi-lidian di sekolah..." gumamnya frustasi seraya memukul wajahnya menggunakan bantal.
Hani menekan back di ponselnya dan timeline pada akun twitternya langsung memenuhi layar. Ada 5 update-an baru di sana, namun Hani sudah terlanjur malas membacanya karena sibuk meruntuki kebodohannya sendiri. Niat awalnya tadi hanya ingin mengecek akun Unggah saja, bukannya sampai follow seolah menunjukan kalau ia benar-benar tertarik dengan cowok itu. Tapi, bukannya selama ini Hani memang sudah menunjukan secara terang-terangan, ya? Kalau saja lupa, Hani bahkan menulis nama Unggah di papan tulis di kelas cowok itu tempo lalu.
Jadi, kenapa juga dia harus merasa malu cuma karena follow duluan?
Detik berikutnya senyumannya kembali terukir. Lalu, memokuskan matanya pada timeline twitter.
@UnggahLazuardi 2 mins ago
Kelar.
Akhirnya!
Retweet, nggak, retweet, nggak... Kalau di Retweet nunjukin banget kalau gue seneng dia udahan. Tapi, kalau nggak di retweet jemarinya terasa gatal ingin menekan ikon retweet pada twitternya itu. Setelah menghitung jari, keputusan Hani berakhir pada me-retweet tweet yang dibuat cowok itu. Hani membuka profil Unggah kembali dan senyumnya makin lebar saat nama Rini sudah tidak ada di bio twitter cowok itu.
Whoops, what a very beautiful night!
***
"Sejarah atau matematika?"
"Akuntansi."
"Film romance atau comedy?"
"Horor."
"Thailand atau Jepang?"
"Korea."
"Rock atau Pop?"
"Klasik."
"Ji Chang Wook atau Lee Min Ho?"
"Park Chanyeol."
"Red Velvet atau Twice?"
"Blackpink."
"SUJU atau TVXQ?"
"EXO."
"IU atau Taeyeon?"
"Suzy."
"Aldi atau Unggah?"
"Tunggu, itu pertanyaan apaan." Hani mengerutkan kening.
"Jawab aja,"
"Unggah."
Lala mendengus dengan terus mencoret-coret buku yang dia pegang menggunakan pena warna-warninya, "Yang bener dong, Han, jawabnya, masa cuma satu yang sesuai sama pertanyaan gue?"
"Ya di antara pilihan lo cuma yang terakhir doang yang sesuai dengan jawaban gue." Jawab Hani tanpa minat, dagunya bertumpu pada tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk menggambar simbol hati di kertas kosong.
"Gimana coba gue bisa ngitung penilaiannya," Lala sewot. Hani benar-benar tidak bisa diajak kompromi, padahal Lala sedang belajar menjadi psikolog dadakan karena saat kuliah nanti ia berencana mengambil jurusan itu.
Alih-alih membuat Lala baikan, Hani malah semakin membuat sahabatnya itu sewot, "Lagian, mana ada di mata kuliah psikologi nanti nanya-nanya kayak begitu."
"Ih, kesel deh." Lala mendengus, mengambil bukunya kembali, "Ulang ya, Han?"
"Nggak mau,"
"Ih, Hani... nggak gue bantuin lo ntar deketin Unggah." Lala mengancam.
"Emangnya lo bisa bantuin apa?" Hani menoleh, menatap Lala dengan alis bertahut.
"Doa. Hehe."
Jawaban yang membuat Hani memutar bola matanya, "Pft, Doa itu konsekuensinya sama Tuhan, La. Tapi, selain itu harus dibarengi dengan stategi yang tepat juga. Kalau doa doang nggak usaha, sama aja kali gue juga udah kayak gitu dari kemaren-kemaren."
"Ya kan semakin banyak yang doain maka semakin cepat dikabulin," Lala tetap kekeuh, "Ayo dong, Han... Sekali lagi, ya, ya?" Rengeknya.
Hani melepaskan tangannya dari dagu, kalau bukan teman saja mungkin Hani sudah memasukkan Lala ke dalam lemari agar cewek itu tidak berisik mengganggunya. Lagian, Lala aneh-aneh saja, mana ada psikotes begitu pertanyaannya.
"Oke, sekali aja ya? Nggak pake nawar lagi?" Hani mengancungkan jari telunjuknya kedepan seperti mengancam.
Lala mengangguk. "Kalau gitu gue buat lagi list pertanyaannya dulu. Tapi inget, jangan ngasal lagi jawabnya!"
"Hooh."
Tepat pada saat Lala sedang akan menulis daftar pertanyaan-pertanyaan baru yang akan ditanyainya, Dwiki datang dan mengambil tempat di bangku depan mereka berdua, "Ngapain, beb?"
"Makan ati." Jawab Lala ketus. Dia masih marah karena Dwiki tidak mau menjawab pertanyaan abal-abalnya ini tadi, malah memilih bermain futsal di lapangan bersama Bambang dan beberapa teman mereka yang lain.
"Minumnya teh botol dong. Mau dibeliin?"
Lala menekan ujung bolpoin di buku, menatap Dwiki dengan pandangan malas, "Udah sana lo main aja, pusing gue lihat lo!"
"Baper deh, tadi aku diajak main futsal ama Bambang, Boy, Haikal... masa ditolak."
"Iya, pacar lo kan Bambang bukan gue, udah sana!" Usir Lala.
"Aku beliin roti isi keju kesukaan kamu ya?" Tawar Dwiki. Masih kekeuh supaya sang pacar mau berbicara lagi dan tidak marah.
"Nggak perlu. Udah kenyang." Jawab Lala jutek.
Dwiki mendesah, kemudian matanya beralih ke cewek di sebelah Lala. Hani. Dwiki memandang Hani dengan tatapan memelas agar cewek itu mau membantunya berbaikan dengan Lala, namun sepertinya dia harus menelan kekecewaan dan pengharapannya. Pertama, Cewek selalu benar. Kedua, dalam pertemanan cewek, mutlak hukumnya saling membela sesama anggota pertemanan.
"Lo juga aneh, dimintain tolong buat jawab pertanyaan aja nggak mau. Jadi kalau Lala marah, ya semua ini karena kesalahan lo sendiri, Ki." Kata Hani dengan santai.
***
Hani mendongak, menatap selembar kertas yang melayang di depannya dengan alis berkerut.
"Nih," ucap Bambang dari arah samping. Kemudian menaruh selembar kertas itu ke atas meja, "Janji gue kemarin."
Bibir Hani langsung membentuk senyuman lebar, diraihnya kertas itu dari atas meja. Lalu membaca isinya.
Biodata
Nama: Unggah Lazuardi
Kelas: 10 IPS 1
Alamat: Botania residence blok D10 no. 16, Bogor.
TTL: Saudi Arabia, 12 Febuari
Nomor Hp: 0893-9998-880
Sosial media: @UnggahLazuardi
Dengan ini menyampaikan keinginan untuk keikutsertaan dalam anggota tim futsal SMA Kartini. Adapun data yang terlampir di atas adalah benar dan tidak keberatan jika di bagikan sebagaimana untuk keperluan keanggotaan.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co