Truyen3h.Co

Hello mellow

Sembilan

authoriya

"HANI, sayang, my love... bagi duit dong?" Bambang, mengetuk-ngetuk kaca jendela di sebelah Hani. Membuat Hani yang sedang membaca novel yang baru dipinjamnya dari Mifta mendongakan kepalanya. Hani menoleh dan pandangannya langsung dipenuhi dengan wajah Bambang yang menempel langsung di kaca jendela.

"Jangan tempelin muka lo di kaca, ntar tercemar kaca gue!" Hani berseru ganas, mengibaskan tangannya memberi interuksi agar Bambang menjauh dari kaca jendela itu. Hari ini adalah tugas piketnya, dan nanti ada mata pelajaran Bu Yemi yang super duper mendewakan kebersihan. Jadi, wajib hukumnya bagi mereka yang kedapatan tugas piket hari ini agar menyempurnakan pekerjaan mereka. Debu secuil di pojok ruangan aja bisa mendapat komentar negatif, apalagi hawa Bambang yang menempel di kaca jendela...

Bambang menyengir kuda, menjauhkan kepalanya dari sana kemudian mengelap jendela itu menggunakan tangannya, "Nih udah gue bersihin. Bagi duit dong, Han?"

"Buat apaan?"

"Beli spidol, kan spidol nya ilang kemaren." Jawab Bambang dengan senyuman sok polosnya. Tapi, kalau Bambang yang tersenyum begitu, alamat malah bikin orang naik darah saking menyebalkannya.

Mata pelajaran pada jam pertama tadi tidak ada jam karena guru mereka sedang berhalangan hadir. Sakit. Makanya tidak ada yang mengomeli mereka karena dikelas itu sama sekali tidak ada alat tulis.

"Lo yang ngilangin, kenapa jadi minta duitnya sama gue sih?" Jawab Hani sewot. Begini nih, kelakuan anak cowok yang tidak bertanggung jawab. Masa iya seenaknya aja menghilangkan barang di kelas, terus minta sama Bendahara untuk menggantinya? Apa coba alasannya kalau walikelas mereka sampai bertanya kenapa spidol dua-dua nya tidak diisi ulang saja?

"My love kan Direktur Keuangan utusan bu Indri."

"Ogah, ntar gue kasih alibi apaan ke Bu Indri kalau beliau ngecek buku kas." Hani kembali memusatkan fokusnya pada novel yang sedang dibaca.

"Yaaah, nanti gue kasih tahu tanggal lahir Unggah deh. Ya, ya?"

Oke baik, ini penyuapan namanya. Bambang memang paling bisa membuat Hani jadi nurut hanya dengan menyebut nama Unggah saja. Ugh, menyebalkan!

"Yaudah deh," Hani membuka tas ranselnya dan mengambil dompet yang digunakan khusus untuk uang kelas. Lalu, memberikannya kepada Bambang, "Pake nota ya jangan lupa!"

"Ashiaap bossque. Sangkyu, sangkyu." Jawab Bambang dengan girang. Kemudian cowok itu melesat menuju koperasi sekolah dengan berlari kecil.

***

Seisi kelas 10 IPS 1 itu nampak diam tak berkutik. Bulu kuduk langsung berdiri kala Bu Indri—dengan penggaris kayu ditangannya kini berjalan memasuki kelas. Berjalan dengan penuh wibawa sampai akhirnya Bu Indri duduk di kursi singgasana nya. Perempuan berusia 49 tahun itu menaruh buku-bukunya di atas meja, kegiatan simpel tapi bisa membuat siswa-siswi di dalamnya duduk layaknya manekin. Semua buku sudah dikeluarkan di atas meja mereka, lengkap dengan Buku paketan berwarna putih yang diminta Bu Indri pada pertemuan sebelumnya.

Unggah, mengeluarkan buku yang dipinjamnya dari Hani dengan santai, tanpa beban. Sedangkan senyumannya hampir lepas ketika merasakan kegupekan Bima di belakang meja mereka. Pasalnya, Bima yang terkena kutukan sial hari ini karena si cungkring Bambang lupa membawakan buku cetak PKN milik cowok itu yang mau dipinjamnya. Dan sialnya, mata pelajaran Bu Indri ada di jam pertama hari ini.

"Baiklah, sebelumnya saya akan mengabsen terlebih dahulu dan kalian harus menunjukan buku yang dikatakan pada pertemuan minggu lalu pada saya. Mengerti?" Suara Bu Indri mengalun laksana lonceng kematian. Membuat wajah Bima pucat sepucat kapas.

"Ntar gantian aja sama gue, Bim." bisik Bayu sambil menyandarkan punggungnya ke belakang agar Bima bisa mendengar suaranya.

Bima mengangguk.

"Alda Fairus?" Bu Indri memulai mengabsen.

"Ada, Bu." Jawab cowok berkacamata bernama Alda itu, cowok itu menunjukan buku miliknya yang sudah disampul plastik transparan.

"Kemari," Bu Indri menyuruh cowok itu menemuinya. Tanpa menunggu lama, si cowok bernama Alda itu langsung bergegas berdiri dan menyamperi sang guru. Ntah apa yang dibuat oleh Bu Indri, yang jelas bisa disimpulkan kalau sang guru sedang memberikan tanda di Buku itu. Menandakan kalau buku itu sudah dimiliki.

"Kelar udah. Tu bukunya dikasih cupangan, cuy." Bisik Unggah.

"Anjay cupangan..." Bayu mau tak mau menahan tawanya.

"Gagal jadi murid teladan deh gue..." Bima mendesah berat. Hari ini pasti dia sudah menjadi salah satu murid "Most wanted" versi Bu Indri—yang mungkin berakhir menjadi musuh sang guru sepanjang pelajaran sampai semesteran tiba. Atau bahkan sampai kelulusan.

"Mana ada murid teladan minjem buku sama kakak kelas." Sergah Rendi, yang duduk disamping Bima.

"Oh, iya juga ya..."

Lalu, ke empatnya terdiam. Menunggu giliran untuk dipanggil oleh Bu Indri.

"Bayu Ungtar?"

"Hadir." Jawab Bayu, kemudian berjalan kedepan, memberikan buku hasil pinjamannya kepada Lala tadi pagi.

"Buku anak saya, ya?" Kening Bu Indri mengernyit ketika melihat nama Lala di depannya.

"Ha?" Bayu nampak bingung. Pasalnya ia tidak meminjam buku milik anak ibu guru tambun itu, kenal saja tidak.

"Syaila Pratiwi ini saya walikelas-nya. Kau minjam buku dia?"

"Kata Ibu nggak apa-apa minjem sama kakak kelas..." Bayu membela diri, sedikit agak takut kalau saja tidak boleh.

Bu Indri mendesah, "Ya sudah, ya sudah." Jawabnya kemudian memberikan tandatangannya di depan buku itu.

Kemudian, Bu Indri lanjut mengabsen.

"Betra Kusuma?"

"Saya, bu."

"Bima Derajat Selsius?"

"Hadir."

Bu Indri mengerutkan kening, lalu mendongak dari buku absensinya. "Mana buku kau?"

"Kemarin sore pecah ban bu waktu mau beli, jadi uang bukunya ke pakai buat ganti ban..." Bima mulai berdusta. Tak tanggung-tanggung, ekspresi wajahnya dibuat sememelas mungkin.

"Kau ini, kau kira Ibu percaya? Sudah puluhan siswa nakal seperti kau yang Ibu ajar," Maki Bu Indri, lalu masih dengan tatapan tajamnya Bu Indri berujar dingin, "keluar kau, tidak usah ikut pelajaran saja hari ini."

"Tapi, Bu..."

"Tidak pakai tapi-tapian." Finalnya. Bu Indri lalu menatap absensi nya kembali, "Siapapun yang belum memiliki Buku, segera ikut Bima keluar."

***

Unggah mengerutkan keningnya sambil menatap tulisan pada buku cetak didepannya dan ponsel di sebelah buku itu secara bergantian. Bell istirahat pertama sudah berbunyi tiga menit yang lalu, membuat hampir seluruh anak di kelasnya berlari ke kantin untuk mendapatkan makanan karena tidak sempat sarapan pagi tadi, atau hanya untuk membeli beberapa bakwan dan bercokol bersama teman-teman mereka di sana. Termasuk Bayu dan Bima, mereka mengajak Unggah ke kantin tadi, namun Unggah menolak. Kedua matanya ngantuk sekali hari ini karena semalaman dia bergadang menonton pertandingan sepak bola. Dan, paginya dia harus menjemput Hani ke rumah agar dia tidak lupa  untuk membawa buku yang akan di pinjamnya.

Tapi, bukannya malah melajukan niatnya untuk tidur, Unggah malah sibuk memerhatikan dari kesamaan tulisan pada Buku dan foto di ponselnya. Keningnya sampai mengerut kentara, tulisan itu sama. Unggah yakin. Tapi, lagi-lagi, yang membuatnya tidak yakin adalah buat apa juga Hani menuliskan namanya di papan tulis?

Masih dalam pemikiran yang berseliweran di otaknya, Bayu dan Bima sudah masuk. Bayu mengambil tempat di sebelah Unggah sedangkan Bima di kursi depan.

"Serius amat mandangin namanya di buku. Noh orangnya ada di kantin lagi ngantri batagor." Bayu menyampaikan sebuah informasi.

Unggah melirik kedua temannya itu dengan kening mengerut, "Nggak nyoto? Tumben cepet amat."

"Rame cuy," Bima mendesah, "Gue nggak sanggup. Mana tadi lari keliling lapangan gara-gara si Ibu galak. Ck, gue sumpahin anaknya ntar kena hukuman juga sama guru dia di sekolahnya." Ujar Bima.

"Anaknya lulusan terbaik, bro. Jadi sumpah lo nggak akan mempan." jawab Unggah.

"Kok tahu?"

"Karena kau telah menstalker hatiku..." Bayu menjawab dengan nada manja. Membuat Bima ingin langsung menggeplak kepala cowok itu. Sumpah, dangdut abis!

"Najis!" Bima mendengus, "Gini-gini gue masih normal ya, masih suka nonton theater di FX Sudirman sambil bawa light stick. Selalu ditemenin member tiap tidur dan bangun tidur."

"Poster aja bangga." Bayu memutar bola matanya.

Bima cengengesan. Cowok itu kembali mengarahkan pandangannya pada Unggah, lalu menatap ponsel dan buku itu bergantian, "Sama ya?" Bima menyelidik. Lalu, dengan cepat mengambil ponsel Unggah dan buku itu. Mencocokkannya.

"Anjaay, berkah banget hidup lo..." gumam Bima tak percaya.

"Apaan sih? Apanya yang sama?" Bayu, yang tidak mengerti akar pembicaraan kedua sahabatnya itu lantas menaikkan alisnya bingung. Kemudian, tubuhnya ikut condong ke depan melihat apa yang dilihat oleh Bima. "Tulisannya sama, kok gue nggak tahu ada tulisan nama lo? Dimana?" Tanya Bayu.

"Ada di papan tulis tadi pagi," Bima menjawab dengan semangat, "Hani sir lo ini mah. Jelas banget ini semacam kode sandi morse."

"Ngaco! Kenapa juga dia suka sama gue." Unggah mendengus.

"Yah si Okan, merendah untuk meroket," Bima memutar bola matanya, "Gue udah yakin sih kalau dia suka sama lo, cara dia memandang lo itu loh..."

"'Memandang' banget ya, Bim?" Bayu mengejek Bima karena cowok itu menggunakan bahasa kelewat puitis nan KBBI sekali. Padahal, baru kemarin maju ke depan diminta guru mereka untuk menulis kalimat baku saja dia salah.

"Fokus, bay, fokus." Ucap Bima sok serius. "Ini kita lagi membicarakan tentang kakak tersayang kita yang ternyata menyimpan rasa sama si Upload Lazuardi. Emang tampang nggak pernah bisa di tolak ya."

"Aku sih yes."

"Gue juga," Bima mengangguk-angguk, lalu mendesah. "mau no juga percuma si Hani nggak mungkin beralih naksir gue. Haha!"

Pembicaraan itu membuat Unggah menghela napasnya berkali-kali. Sedikit tidak mengerti kenapa bisa Hani menuliskan namanya di papan tulis, namun entah kenapa ada perasaan senang pada saat yang sama. Cewek itu selalu bisa membuat siapa saja yang sedang membicarakannya jadi mengulas senyuman, meskipun si pemilik nama tidak ada disini.

Unggah mengambil ponselnya dari atas meja, bersamaan dengan satu pesan masuk yang ditandai dengan getaran kecil dari ponsel itu.

Unggah membukanya.

Rini: Aku mau ngmng nanti plg sklh. tunggu di belakang.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co