Delapan
AYAH berjalan keluar pintu rumah dengan tangan yang menenteng tas kerja, diikuti Bunda yang berjalan di belakang Ayah. Hal yang setiap pagi di perlihatkan sepasang suami-istri ini sejak dulu, Bunda yang selalu menghantar kepergian Ayah berangkat bekerja.
Jika Indonesia punya Raffi-Gigi sebagai pasangan romantis, maka Hani menjadikan Ayah dan Bunda sebagai role model dalam impiannya membangun rumah tangga yang romantis dan harmonis, kelak.
Bunda pernah bercerita di suatu sore santai di taman belakang rumah, bahwa Ayah dan Bunda bertemu untuk pertama kali di bank saat Ayah ingin mengambil sejumlah uang di tabungannya untuk keperluan bisnis yang di kelola Ayah. Saat itu, Bunda masih bekerja sebagai karyawan di sebuah bank di Yogyakarta sebagai front liner. Singkat cerita, sejak saat itu Ayahnya selalu mengajak Bunda pergi bersama ketika weekend dan setahun kemudian Ayah melamar Bunda. Kemudian, Bunda mengajukan resign di perusahaan tempat beliau bekerja ketika Ayah memboyong Bunda untuk tinggal dan menetap di Bogor, sampai saat ini.
Bunda pernah bilang kepada kedua anaknya, walaupun kita sebagai wanita kodratnya adalah mengurus rumah tangga, bukan berarti kita berdiam di rumah dan menunggu suami memberikan uang, tutur Bunda saat itu. "Jadi, kenapa bunda resign dong?" Pertanyaan yang di lontarkan Hani saat itu, yang langsung mendapat jawaban dari Bunda, "Nggak mungkin kan, Bunda sama Ayah langsung LDRan padahal kami baru menikah? Lagipula, Bunda nggak punya kesempatan mengembangkan bakat bunda di bidang pastry kalau bunda masih jadi banker."
Hani setuju, untuk wanita yang sudah menikah seperti Bunda. Berkarir dan Menikah harus seimbang, sama seperti saat mengerjakan neraca saldo soal Akuntansi, kedua kolom antara debit dan juga kredit harus memiliki hasil yang sama rata. Bunda juga pernah bercerita kalau beliau pernah sekolah kejuruan sebelum akhirnya kuliah mengambil jurusan ekonomi.
Bunda baru saja akan menutup pintu pagar rumah ketika kedua matanya mendapati cowok berseragam yang sama dengan seragam Hani berhenti tepat di depan pagar rumah mereka. Bunda kembali membuka pintu pagar, dengan daster yang melekat di tubuhnya, wanita setengah baya itu mengulas sebuah senyum ketika seorang cowok jangkung turun dari motor yang dikendarainya dan melepas helm.
"Pagi, tante." Sapa Unggah sopan.
Bunda mengangguk, "Temannya Hani?" tanyanya, lalu mengajak Unggah untuk masuk menunggu sang anak yang masih berada di meja makan. Bunda tahu kalau Hani akan pergi ke sekolah bersama temannya, tapi Bunda tidak tahu kalau teman yang dimaksud putrinya itu merupakan seorang cowok dan satu sekolah. Terakhir yang Bunda tahu, Hani sedang dekat dengan teman satu SMP-nya dulu, "Mari nak—" Bunda menggantungkan kalimatnya,
"Unggah, Te." Unggah memberitahukan namanya dengan nada sopan.
"Mari nak, Unggah, duduk dulu. Biar tante panggilkan Hani." Ujar Bunda kembali.
Unggah mengangguk dan mengambil tempat pada salah satu kursi kosong di teras. Sementara Bunda masuk untuk memanggil Hani di dalam, cowok itu kemudian membawa pandangannya memerhatikan halaman kecil rumah ini, meskipun taman buatan itu tidak terlalu besar, tapi setiap pasang mata yanh melihat rumah ini pasti memiliki pemikiran yang sama; bahwa si pemilik rumah tidak main-main saat membangun rumahnya.
Bagaimana tidak, taman buatan yang langsung menarik perhatian Unggah selain karena keasrian karena tanaman hijaunya, tapi juga karena peletakan kolam ikan yang dibarengi dengan air mancur kecil yang indah. Kolam ikan yang tidak terlalu besar itu memiliki bentuk memanjang dan yang membuat keunikannya adalah karena peletakkan jembatan mungil di tengah-tengah kolam itu. Menghubungkan ke bagian paling depan dinding pagar yang juga memiliki tanaman hijau yang di tanam di sana. Begitu indah.
"Sori ya Ung, lama," Suara Hani membuat Unggah melepaskan pandangan dari kolam ikan, beralih menatap Hani yang sudah berdiri di sebelahnya dengan senyuman secerah matahari pagi. "Nih."
Unggah mengambil buku yang di sodorkan Hani kepadanya dengan senyuman, "Pinjem ya, kak."
"Aish, kalau lo panggil gue 'kak' lagi, gue ambil nih bukunya?" Ancam Hani, tangannya hendak mengambil kembali buku yang sudah berpindah tangan itu, namun Unggah buru-buru memasukkannya ke dalam tas.
"Iya, iya. Hani."
Hani tersenyum senang.
Merpati pagi-nya pagi ini begitu tampan dan segar dengan wangi khas cowok itu yang diam-diam sudah disematkan dalam indera penciuman dan pengingat Hani dengan folder bernama 'wangi Unggah' . Satu folder yang merupakan bagian folder penting dalam memori otaknya, yang akan terus dia upgrade seiring dengan kedekatan mereka nanti. Tunggu saja, pikir Hani.
"Sekarang?" Unggah bertanya.
"Pacaran sama gue nya?" Dengan suara polos itu Hani menjawab pertanyaan Unggah. Sebenarnya, Hani hanya bercanda saat mengatakan hal itu. Maklumi saja selera humornya yang semakin receh karena oleh sebab akun-akun receh yang bertebaran di lini massa cewek itu. Namun, ketika mendengar respon Unggah yang—
"Lo mau pacaran sama gue?"
—yang Hani tahu kalau Unggah juga cuma bercanda mengatakan hal itu, tapi tetap saja ia tidak bisa mengontrol pipinya yang otomatis bersemu merah.
Hani berdeham, "Yuk, ah. Udah mau jam macet nih kayaknya." Ucap Hani tanpa menatap cowok di sampingnya, lalu dengan cepat Hani berjalan ke arah motor Unggah yang terparkir di luar pintu pagar rumah. Ia berdiri menunggu Unggah yang juga mengikutinya berjalan dari belakang dengan senyuman diwajah cowok itu.
Unggah mengambil satu helm baru dari dalam jok motornya dan memberikannya kepada Hani, "Nih, ntar kena tilang, repot."
"Gue kira mau lewat jalan tikus lagi," Jawab Hani sambil mengambil helm itu kemudian memakainya.
"Katanya nggak mau lewat sana lagi karena ada banci?" Unggah mengejek, ia mengingat pertama dan mungkin jadi yang terakhir kali mereka melewati area jalan tikus itu, mendapati beberapa pria bertulang presto yang duduk di teras rumah bedeng sambil bersiul-siul. Tapi sebenarnya, yang harusnya trauma itu Unggah karena jelas-jelas para pria bertulang presto itu menggoda Unggah bukan Hani.
Hani tertawa, "Lagian, tahu aja tu banci-banci sama kualitas premium..." ujar Hani. Ia membawa tangannya memegang bahu Unggah agar membantu menopangnya untuk duduk di jok motor itu.
Unggah tertawa, "Udah?"
"He-eh," jawab Hani.
***
Bambang sudah bersiap dengan kalimat-kalimat menggoda yang sebentar lagi akan meluncur dari mulutnya ketika kedua mata Bambang tanpa sengaja melihat Hani turun dari atas boncengan motor milik adik kelas mereka. Dengan gerakan secepat kilat Bambang melepaskan helm yang dipakainya, menggantungkan benda pelindung kepala tersebut pada salah satu kaca spion motor, lalu berjalan mendekat ke arah dua orang itu. Selama dia mengenal cewek-cewek, Bambang bisa membaca ekspresi-ekspresi apa yang sering dikeluarkan cewek-cewek itu. Dan ekspresi yang ada di wajah Hani sekarang, sama seperti saat Bambang memberikan salah satu mantan pacarnya dulu sebuah hadiah coklat dan bunga.
"Pagi, sayang." Bambang langsung merangkul pundak Hani dengan santainya. Membuat Hani yang tidak siap akan perlakuan cowok itu, tidak bisa menghindar.
Hani menoleh kesal, lalu segera melepaskan lengan Bambang yang melingkari bahunya, "Sayang, sayang. Inget anak IPA 2." Ucapnya sambil memberi ingatan kepada Bambang kalau cowok itu memiliki satu gebetan baru di kelas 11 IPA 2.
Bambang memamerkan deretan giginya, "Kok bisa barengan sama kembang kelas gue? Widih... menang banyak."
Unggah menyugar rambut seraya memberikan tatapan dengan mengangkat satu alis kearah Bambang, "Kenapa emang?"
"Bejo aja setahun ngajakin Hani balik bareng, ni cewek nggak pernah mau." Ujar Bambang. Cowok itu mengingat salah satu nama kakak kelas mereka yang sudah lulus bernama asli Ardiansyah—namun, teman-teman mereka sering memanggilnya dengan panggilan Bejo—berusaha mendekati Hani dari semester pertama mereka masuk ke SMA Kartini ini. Tapi, saat itu Hani sedang menjalin hubungan dengan cowok lain. Jadi, otomatis Hani tidak merespon cowok itu. Bambang kemudian melirik Hani, "Nyesel nggak lo Han kare—"
"Nggak usah liat jurnal umum gue ya?" potong Hani cepat dengan nada sewot. Kemudian mengajak Unggah untuk pergi dari sana.
"Dih, dih, baperan Hani mah. Mati gue di marahin sama bu Yemi kalau sampe nggak ngerjain tugas akuntansi." Bambang berjalan cepat menyusul Hani dan langsung mengambil tempat di sebelah cewek itu.
Hani memutar bola mata menatap dengan Bambang sedikit memicing, "Lo kayak gini nggak malu apa dilihatin sama adik kelas lo? Ketahuan malesnya gini?"
"Nggak. Gue kan bukannya korupsi, tapi gue hanya mau nyontek tugas doang," jawab Bambang lugas. "Ya, ya?" Lanjutnya kembali, kedua alisnya sampai dinaik-turunkan saat berkata. Membuat Hani akhirnya mengangguk dengan ekspresi malas.
Bambang ini mengganggunya berjalan berduaan bersama Unggah saja, pikir Hani. Dengan perasaan kesal yang menyelimuti cewek itu karena tidak bisa mengobrol leluasa dengan Unggah, dan malah berakhir membiarkan telinganya terkontaminasi karena mendengar lelucon garing yang dilontarkan Bambang sepanjang jalan menuju ke kelas.
***
"Widih, pagi-pagi udah sama Hani aja." Bima langsung bangkit dari duduknya di teras lantai depan kelas mereka ketika melihat Unggah berjalan menuju kelas mereka.
"Ngapain lo nggak masuk?"
"Nggak ah, selip dikit di dalem ada yang ngajakin kenalan lagi." Bima tertawa. Lain halnya dengan Unggah yang mendengus malas ketika mendengar alasan klise dari temannya itu.
Suasana di SMA Kartini masih begitu sepi, bahkan kelas-kelas pun masih tertutup rapat, menandakan kalau penghuni kelas itu masih belum pada berdatangan. Saat ini pun sebenarnya, sedikit kaget karena Bima yang biasanya datang lima menit sebelum bel masuk—atau bahkan lebih—malah sudah duduk mengampar di teras kelas. Suatu keajaiban.
Unggah membuka pintu ruang kelas mereka dan berjalan menuju meja nya. Bima mengekor di belakang.
"Kok lo bareng Hani, Ung?"
"Gue jemput dia tadi. Sekalian minjem buku." Jawab Unggah sekenanya.
Bima menatap dengan cara menggoda ke arah temannya itu. Meskipun dia menyukai kakak kelasnya yang super imut itu, tapi rasa sukanya hanya sebatas senang melihat perawakan saja, bukan seperti rasa suka karena naksir begitu. Jadi, melihat Unggah yang selangkah lebih maju, apalagi dengan fakta kalau cowok itu baru saja putus, membuat Bima tertarik menggodanya, "Cepet juga move on-nya, bro. Ke Hani lagi, selera lo emang juara."
"Siapa yang move on sih?" Unggah menggerutu. Dengan malas dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya dengan mata menatap lurus ke depan. Dan pada saat itulah ia menemukan sesuatu di papan tulis kelas.
Bima, yang bingung karena Unggah tak juga mengedip, akhirnya mengikuti arah pandang Unggah dan langsung ikut memandangi tulisan dengan font super besar di papan tulis itu.
"Anjir! sampe setan pun naksir sama lo nih bro?" Gumam Bima sambil melirik Unggah sekilas.
"Ya kali, mana ada setan bisa nulis pake spidol." Unggah mendengus. Diurungkan cowok itu pada keinginan pertamanya untuk bermain game, dan bangkit dari tempat duduknya. Unggah melangkah mendekat ke arah papan tulis di depan kelas, mengeluarkan ponselnya dan menekan mode kamera.
Klik!
Suara pada ponsel itu menandakan kalau Unggah sukses membidik sesuatu dari ponselnya.
"Di foto? Buat apaan? Koleksi mading?"
"Buat gue samain lah tulisan sama anak kelas ini ntar" jawab Unggah santai, kemudian memasukkan ponsel hitamnya kembali kedalam saku celana.
Tangannya mengambil penghapus di atas meja dan berjalan menghapus tulisan itu sebelum ada banyak yang membacanya dan menjadikan hal itu sebagai bahan gurauan kepadanya nanti.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co