Truyen3h.Co

Hello mellow

Sembilanbelas

authoriya

Hai!!! Gue lagi seneng banget nih!

Kalian tau Unggah Lazuardi kan? Itu loh, yang ganteng itu. Yang namanya sering gue sebut di blog ini sebelumnya. Yang namanya sering gue bawa di sepertiga malam. Yang suka futsal. Yang tinggi. Yang anaknya teman Bunda. Yang sering gue sumpahin putus waktu dia masih punya pacar. Yang cuek dan gue kira dia nggak suka sama gue. Yang waktu gue sakit, dia tetiba dateng ke UKS ngejengukin gue. Iyaaa, Unggah yang itu!

Gue jadian loh sama dia!

Doain ya semoga langgeng aja sampai maut memisahkan. Aamiin!

-Hani

*****************

"Terus, lo terima?" Lala merespon dengan volume suara kecil setelah mendengar informasi yang mengejutkan dari teman sebangkunya. Tangannya berhenti mencatat hal-hal penting yang tertulis di papan tulis, kepalanya menengok kearah Hani yang kini memasang senyuman bodoh sambil terus menyalin tulisan di depannya ke dalam buku catatan milik cewek itu.

Hani mengangguk tanpa menoleh. Aneh sekali Lala perlu untuk bertanya tentang perkara itu.

"Duh, sok jual mahal dikit kek." Lala membawa buku catatannya menutupi mulutnya ketika berucap. Cewek itu selalu tak habis pikir kenapa Hani selalu menjadi 'murah' kalau menyangkut Unggah.

Hani berhenti menulis. Menoleh kearah Lala dengan kedua alis berkerut. "Terus, harusnya gue tolak gitu?"

"Ya enggak...," Lala menggaruk kepalanya, merasa bingung bagaimana cara mendrskripsikan maksudnya, "Paling nggak, lo pura-pura mikir dulu gitu."

"Nggak mau," Hani kembali melanjutkan catatannya, "Jadi cewek itu nggak boleh sok jual mahal. Ntar pas doi pindah ke lain hati, baru deh nyesel dan galau berkepanjangan di sosmed." Lanjut Hani secara realistis.

Lala mendesah. Ucapan Hani ada benarnya juga, namun tetap saja cewek itu tak habis pikir kenapa Hani langsung mengiyakan begitu saja. Pikirannya langsung melayang-layang mencoba membayangkan bagaimana raut wajah teman sebangkunya itu ketika menerima pertanyaan cinta dari cowok pujaannya. Jangan-jangan...

"Lo nggak langsung ngangguk dan kesenangan kan bilang 'iya' nya?" Kedua mata Lala menyipit, menatap Hani dengan pandangan menginterogasi.

"Gue elegan kok!" Hani sedikit tersinggung mendengar nada suara Lala yang seolah-olah menganggapnya seperti cewek yang terlalu berpasrah dan bucin, "Sebagai cewek yang jomblo dan agak sedikit kaget ketika akhirnya di tembak sama gebetan, pembawaan gue lumayan elegan juga waktu menjawab cinta-nya cinta gue itu."

Lala mendengus mendengar jawaban pembanggaan dari sahabatnya, Lala lalu membawa tangannya yang memegang buku kembali menaruhnya keatas meja, kemudian tanpa berkomentar lagi cewek itu kembali melanjutkan catatannya yang sudah tertinggal jauh. Untung saja, Bu Tuti tidak menyadari kalau dua murid perempuannya terlibat pembicaraan dan tidak mencatat tugas darinya.

***

"HAN, LO FIX PACARAN SAMA UNGGAH? WOW WOW WOW, UDAH KIRIM PESAN PAKE AYANG-BEB SEGALA PULA! CEMBURU NIH MAS BAMBANG..." begitulah ungkapan suara Bambang yang ngeselin menggunakan volume maksimal. Semaksimal suara alat pengeras suara di sekolah mereka. Kabar itu tersiar dari bisik-bisik kelas antar murid yang mendengar percakapan, dari kabar yang terdengar tanpa sengaja, dan yang pasti... dari beberapa mulut 'sampah' yang mulai menggoda-goda; mulut sampah yang di maksud adalah mulut milik teman-teman Unggah, plus Bambang. Bicara soal bambang, nyatanya besar kecepatan gosip yang keluar dari mulut cowok itu bahkan alat secanggih anemometer pun tidak bisa menghitungnya karena hanya dalam kurun waktu satu detik saja, semua teman-teman di kelas mereka sudah tahu jika Hani memiliki pacar baru bernama Unggah. Ada dua jenis tanggapan yang keluar ketika mendengar kabar itu; kesatu, Mereka yang mengetahui siapa itu Unggah dan mulai mengorek informasi sebagai bahan bergosip di angkutan umum. Kedua, Mereka yang tidak mengetahui siapa itu Unggah dan tidak tertarik untuk mencari tahu.

Hani sewot setengah mati, lebih lagi karena Bambang seperti jin pohon yang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan mencuri baca pesan singkat di whatsapp bersama Unggah. Sialan, padahal sudah tiga hari berjalan lancar-lancar saja, tapi langsung bubar ketika suara Bambang berkoar.

"Gue sebel banget deh, kenapa juga Bambang ini mulutnya kayak netijen di instagram!" Hani memasangkan helm yang diberikan Unggah kepadanya di kepala. Dan Unggah membantu cewek itu mengancingkan helm yang dipakainya dengan tenang. Cowok itu sama sekali belum merespon keluhan Hani yang dituju untuk seorang bernama Bambang.

"Kok lo diem aja sih?" Hani akhirnya menyadari kalau kekasihnya sejak tadi tidak meresponnya. Menunda dirinya untuk naik keatas motor, Hani malah beralih memandangi Unggah dengan kening berkerut sebal.

"Emang gue harus apa?" Unggah menaikkan sebelah alisnya. Kali ini suara Unggah terdengar agak bingung ketika Hani memintanya untuk merespon omongan cewek itu.

"Marah kek, apa kek gitu untuk mendukung emosi pacarnya..."

"Gue nggak masalah soalnya kalau semua orang tau kalau lo itu pacar gue. Kalau kita pacaran. Kan emang kenyataannya gitu." Unggah menaikkan bahu. Cowok itu menatap Hani dari atas motor miliknya, "Terus, apa masalahnya?"

"Lo nggak risih dikatain pacaran sama gue ntar?"

"Sama sekali enggak," Unggah menggeleng pelan sambil tersenyum. Kemudian meraih satu pergelangan tangan Hani, "Udah deh, ntar lo sakit kalau apa-apa dipikirin. Yuk, udah sore nih pasti macet banget jalanan mana mendung." Kata Unggah dengan kedua menatap langit yang kini sedikit mendung, lalu menuntun Hani untuk naik ke motornya.

Tak lama motor silver Unggah sudah melesat meninggalkan gerbang SMA Kartini tanpa hambatan. Menyisakan kelegangan di area parkir sekolah yang sudah tak berpenghunikan kendaraan lagi.

Belum juga genap 10 menit perjalanan menuju rumah, awan yang memang sudah mendung itu mendadak mengguyurkan air hujan kepada seluruh bagian di Kota Bogor. Bulir-bulir hujan jatuh secara beraturan membasahi jalanan raya dan juga kendaraan yang sedang melintas di jalanan itu. Sedangkan, beberapa kendaraan sedikit sial karena harus terjebak dalam lampu lalu-lintas yang sedang menyala merah menyerahkan pakaian dan atribut mereka terguyur hujan sore itu. Malang bukan kepalang, Unggah dan Hani masuk kedalam jajaran orang-orang yang terjebak pada lampu lalu-lintas itu. Baju bagian depan Unggah sudah basah kuyup, sedangkan milik Hani, basah di hampir keseluruh bagian. Ketika lampu berhasil menjadi hijau kembali, seluruh kendaraan bermotor yang berhenti itu langsung berbondong melaju dengan cepat karena guyuran air hujan sudah membasahi pakaian mereka, Unggah melajukan motornya dna berhenti pada salah satu ruko yang sejajar di pinggiran jalan raya. Yang beberapa Folding Gate pada ruko disana sudah tertutup di karenakan hari sudah menjelang petang.

Hani menuruni motor, lalu berlari kecil dan mengambil tempat diantara beberapa orang yang lebih dulu berdiri di teras ruko itu, kemudian setelah Unggah berhasil memarkirkan motornya pada lahan kosong bersebelahan dengan motor-motor lain yang juga berhenti disana, cowok itu langsung mengikuti dan berdiri di sebelah Hani. Masih dengan helm yang membungkus kepala mereka, Unggah memerhatikan Hani yang mengusap-usap kedua lengannya secara teratur sambil memerhatikan ujung kain dibagian tangannya yang basah terkena air hujan, lantas memeras ujung kain baju itu keras-keras.

"Baju lo jadi basah..." komentar Unggah sambil memerhatikan cewek yang lebih pendek dari nya itu. Kening Unggah mengernyit tak suka.

Hani mendongak dan tersenyum, "Lo juga basah." Ucapnya dengan mata memandang kemeja osis bagian depan milik Unggah yang basah kuyup. Sedangkan tangannya, terlindungi oleh jaket bomber hitam cowok itu.

Unggah melepaskan jaket nya lalu menyelimutinya di tubuh Hani. Membuat cewek itu terkejut sambil memerhatikan jaket yang menyelimutinya, "Eh--terus lo gimana?"

"Nggak pa-pa." Unggah membawa tangannya melipat di depan dada, satu senyuman terbit seiring deras hujan yang semakin menggila, "Gue lebih nggak rela kalau baju cewek gue keliatan ngecap begitu." Ungkap Unggah sambil mengeluarkan smirknya.

Hani merona. Kepalanya langsung menunduk dengan sekuat tenaga cewek itu menatap kearah bajunya yang basah.

Sial, bajunya tembus pandang!

Hani menyadari. Lalu, mengambil jaket yang dipasangkan Unggah dan mengeratkannya hingga baju nya yang basah--yang kini menampilkan tanktop berwarna krem yang ia pakai-- dengan sempurna.

Dan setelah itu, keduanya saling memandang rintik hujan yang membasahi bumi dengan diam. Mengikuti helaan napas kesal dari beberapa orang yang juga sedang menunggu hujan reda. Pandangan Hani mengarah menatap genangan air yang mulai tercipta, beberapa membuat kubangan pada jalanan aspal yang rusak, beberapa nya lagi menggenang diantara siring kecil di depan ruko.

Hujan semakin menjadi, dan sepertinya tidak berniat berhenti untuk sementara ini. Hani melirik jam pada pergelangan tangannya ketika senja mulai menyemburkan semburat warna jingga nya. Karena menunggu Unggah yang memiliki jadwal olahraga hari ini, membuat mereka berdua harus pulang sedikit sore dari waktu jam pulang biasanya.

"Kayaknya hujannya makin deras aja deh bukannya berhenti..." gumam Hani sambil menatapi langit-langit mendung kota Bogor.

Unggah mengikuti. Kemudian, Diliriknya beberapa orang yang berdiri menunggu di ruko itu juga yang kini dengan nekatnya menerobos hujan deras tanpa perlindungan apapun. "Nomor telepon tante Ajeng, mana?"

"Ha?" Respon Hani tidak mengerti.

"Gue minta nomor nyokap lo dong."

Masih dengan kening yang berkerut, Hani mengeluarkan ponselnya dari dalam tas--yang untung saja tidak tembus air--kemudian mencari nomor telepon Bunda dan mendiktekan kepada Unggah. Unggah mencatat, setelah selesai ia langsung menekan ikon panggil dan membawa ponselnya ke dekat telinga.

Kedua mata Hani membulat kaget dengan degup jantung yang langsung tak beraturan. Ditatapnya Unggah dengan tatapan tak percaya darinya. Cowok itu sedang menelpon Bunda!

"Lo ngapai--" suara Hani kian menghilang ketika Unggah berbicara karena panggilannya telah tersambung.

"Hallo tante, ini Unggah... iya, tan... Unggah cuman mau izin kayaknya Hani bakal pulang agak maleman, tan, soalnya kami berdua lagi kejebak hujan di Sudirman... Siap tan, oke." Unggah melirik Hani, lalu menyunggingkan senyum, "Pasti Tan... Assalamualaikum." Unggah menyelesaikan.

"Kok nelpon Bunda?"

"Karena kalau nelepon bokap lo, mungkin dia juga lagi kerja. Bunda kan yang nungguin lo selama 24 jam siap siaga di rumah." Jelas Unggah dengan nada santai. Cowok itu menatap rintik hujan selama beberapa detik sebelum mengalihkan pandang kembali pada Hani ketika suara Hani bergumam pelan, "Harusnya nggak usah nelpon. Ntar juga sampai rumah."

"Biar Bunda lo nggak cemas. Mulai sekarang biasain kasih kabar, ya."

"Emang lo juga gitu?" Hani menaikkan alis.

Sudut bibir Unggah naik keatas, "Iya. Mungkin aja itu hal sepele, cuman siapa yang tau kalau ternyata ada orang yang sedang menunggu kabar dari kita 'kan?"

"Misalnya?"

"Gue." Jawab Unggah, kemudian melirik Hani melalui ekor mata, "Gue selalu nunggu lo ngechat duluan, tapi berakhir dengan gue yang ngechat duluan."

Hani masih diam.

"Gue jadi mikir, apa mungkin ini cara lo supaya membuat gue kepikiran sama lo terus?" Tambah Unggah. Kepalanya menunduk, menatap Hani dengan pandangan sedikit menyipit. "Ya?"

"Eh-- enggak." Hani menjawab. Kedua tangannya merapatkan jaket Unggah yang dipakainya, "Ntar gue yang ngechat duluan deh kalau gitu biar nggak di pikir negatif sama lo. Karena sebenarnya cewek kan kodratnya adalah kebanyakan mikir dan nunggu..."

Hani tersenyum dalam hati. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Unggah akan berpikiran seperti itu. Fakta bahwa kenapa cewek itu tidak melakukan 'tindakan' duluan adalah karena dia masih sedikit shock. Lagipula, mereka berdua bahkan tidak melakuka pedekate spesifik seperti remaja pada umumnya. Mereka dekat, tapi tidak dekat juga. Bagaimana cara menjelaskannya, Hani juga masih kebingungan. Yang jelas, mereka berdua tidak melakukan pedekate selayaknya pasangan-pasangan sebelum jadian. Hani hanya membawa nama Unggah pada setiap doa di sepertiga malamnya, hampir tiap hari. Kadang, Lala pernah mengomelinya karena Hani jadi rajin sholat tahajud karena ada mau nya. Namun, pikirnya sekali lagi, bukankah Tuhan mereka menyukai orang-orang yang banyak meminta kepada-Nya?

"Nggak selalu cewek ditakdirkan untuk menunggu, menurut gue keseimbangan itu perlu, supaya kedua yang terlibat bisa sama-sama saling merasa dibutuhkan dan diinginkan." tukas Unggah.

Hani mendongak, binar di kedua matanya mulai menyala-nyala ketika melihat Unggah yang juga sedang menatapnya tepat di kedua manik mata. Tak ada komentar balasan apapun dari Hani, kedua mata Hani sudah terlanjur dikunci dengan mata hitam Unggah. Cowok tampan yang kini menjadi kekasihnya ini. Hani tak bisa menyembunyikan senyuman riang di paras ayu nya, senyuman khas remaja SMA yang akhirnya mendapatkan kekasih idaman nya.

Perjalanan mereka masih jauh, cita belum separuhnya terlewati, dan segala hal belum terjadi. Pun, dengan kejadian yang mungkin akan terjadi kedepannya nanti. Namun, Hani meyakini jikalau bersama Unggah hidupnya akan lebih memiliki arti.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co