Duapuluh
"Binatang, binatang apa yang suka nyanyi dangdut?"
"Mana ada, bego!"
"Ada, nyet!"
"Apaan?"
"Cheetah - Cheetatah..."
"HAHAHA!"
"Anjuu, dasar brosur sedot WC!"
"Garing you!"
Bambang tertawa terbahak-bahak di kursinya. Tanpa memperdulikan ejekan teman-temannya, dia kembali memberi tebak-tebakan.
"Bebek, bebek apa yang nggak ada masalah?"
"Semua bebek nggak ada masalah. Kecuali kalau lagi dikejar buat dijadiin Bebek goreng." Dwiki bersuara malas.
"Ye, kebanyakan nonton bokep begini nih..."
"Shey-than,"
"Jawabannya, Bebek yang udah taubat." Jawab Agung. Yang sejak tadi juga ikut duduk mengelompok disana.
"Bambang tuh suruh taubat, kerjaannya nyimpen video 3gp di hengpon jadul." Dwiki bersiul. Mengejek Bambang yang hobi menonton desah-mendesah.
"Nggak malu, semalem yang ngirimin gue video baru, siapa emang?"
Senjata makan tuan, namanya. Sambil menggerakkan tangannya membentuk tanda X, Dwiki langsung menoleh ke meja Lala, mencari tahu apakah cewek itu mendengar ucapan Bambang atau tidak. Bukannya bisa menarik napas lega, Wajah Lala yang memerah dan seolah-olah ingin menelannya langsung menyambut Dwiki. Dwiki menelan ludah, "Nggak, La, Bambang bohong! Aku mah mana pernah nyimpen video begituan!"
"Tapi kalo foto pantat bugil nya Kim Kardashian, ada ya, Ki?" Bambang menimpali.
"Nggak, La. Kamu tau aja kalau aku suka nonton ceramah ustad Hanan Attaki sekarang."
"Astagfirullah, mau jadi apa kalau semua cowok kayak kita, Ki..." Bambang geleng-geleng.
"Dasar mesum, lo!" Lala melengos sambil mengeluarkan ekspresi jijik pada Dwiki. Memilih untuk tidak mendengarkan ucapan Dwiki, dan memusatkan kembali fokusnya pada novel ditangannya.
"Ya namanya juga sedang dalam masa pencarian jati diri, La." Gumaman Dwiki yang langsung disambut riak tawa dari teman-teman mereka.
Salah benar memang kalau jam kosong pada jam akhir begini. Lihat saja, sudah jelas jam pulang masih satu jam lagi, tapi dua cowok bersahabat itu sudah menyelempangkan tas mereka di badan. Seolah-olah ada benda berharga di dalamnya yang dijaga supaya tidak ada yang mencuri.
Bagi seluruh penghuni kelas sih, udah bukan hal aneh melihat kelakuan 'duo biang kerok' itu, malah akan terasa aneh kalau sehari saja mereka menjadi pendiam. Meskipun nggak berguna, tapi harus diakui dengan adanya Bambang dan Dwiki, kelas ini terasa lebih 'hidup'. Karena jujur saja, setiap kelas di seluruh penjuru dunia pasti memiliki setidaknya satu orang anak yang nyeleneh, bukan?
"Kemarin pas pulang, gue liat ada penganten baru lagi mesra-mesraan di depan ruko." kini, suara Bambang kembali terdengar. Lengkap dengan nada menggodanya, cowok itu melirik kearah Hani yang sedang asyik menonton comeback dari boyband kesayangannya di salah satu platform dalam jaringan. Headset terpasang pada kedua telinga Hani, membuat cewek itu terisolasi dari dunia nyata untuk beberapa waktu.
"Pake sumpelan kuping, Beng, anaknya." Jelas Dwiki ketika melihat kabel headset yang terpasang pada gawai di depan Hani.
Bambang memajukan badan, memastikan. Saat melihat apa yang dilihat Dwiki, Bambang lalu berdiri. Berjalan menuju meja depan Hani. Berhubung Hani dan Lala duduk pada bangku nomor dua dari depan pada deretan ujung dekat pintu dan jendela, Bambang langsung menyerobot. Menyuruh si penghuni meja depan--yang tak tetap siapa pemiliknya--menyingkir. Dengan santai, Bambang menduduki kursi yang semula di tempati Dwi untuk mendengarkan musik.
"Gilaaa, panas banget nih kursi. Banyak anak ntar lo, Wi!" Komentar Bambang setelah menduduki kursi itu.
Cewek bernama Dwi hanya mendelik kesal karena kegiatannya di ganggu si perusuh. Namun, karena malas adu mulut, cewek itu memilih kembali ke mejanya. Ini sedikit aneh, pasalnya, jumlah meja dan kursi di kelas 11 IPS 2 ini sebanding lurus dengan jumlah siswa nya. Tapi, setiap hari pasti selalu saja ada satu meja dan dua bangku yang tak berpenghuni. Dan yang paling sering adalah yang di depan meja Hani dan Lala.
Bambang menyandarkan tubuhnya ke dinding, satu kakinya diangkat ke kursi kosong lainnya. Tangannya bertengger pada kepala kursi kayu yang ia duduki, lalu menggunakan tangannya yang lain, Bambang menutup layar ponsel Hani.
"Ih, rese!" Hani mengomel. Suaranya sedikit bindeng akibat kehujanan kemarin.
"Ebeb kuh, kamuh cakit?" Bambang menjulurkan tangannya, memegang dahi Hani dan satu tangannya lagi memegang pantat, lalu bergumam, "Sama kok..."
"Sialan, lo!" Dengan kesal, Hani menepis tangan Bambang. Sedang Bambang yang menyeringai nakal, Lala tertawa terbahak-bahak di bangkunya dengan novel menutupi separuh wajah cewek itu.
"Jadi, kemaren mantis-mantisan sama dek Unggah sambil ujan-ujanan kayak di drama korea itu?" Bambang mencondongkan tubuhnya.
Hani berdecak. Melepas headset dari kedua telinganya dan menaruh ponselnya kedalam kolong meja. Dia sudah hilang konsentrasi menonton comeback idolanya berulang kali. Dan, semua itu karena cowok triplek di depannya kini.
"Kehujanan. Bukan, hujan-hujanan."
"Ya, sama aja."
"Ya beda, lah."
"Sama-sama basah."
Hani memutar bola matanya.
"Ya udah dong, traktir. Somay, kek... nasi uduk, kek..." Bambang mulai mengabsen menu-menu pada kantin sekolah mereka. "Lo kan janji."
"Kapan?" Hani menaikkan alis.
"Nah, ini nih...," kata Bambang sambil menurun-naikkan jari telunjuknya, "Kayak janji caleg, suka lupa kalau udah sukses kepilih."
Hani mencoba mengingat. Samar, dia seperti pernah menjanjikan akan mentraktir seseorang, tapi, mana mungkin dia mentraktir Bambang kan? Secara yang sahabat baiknya itu kan Lala, bukannya Bambang...
"Gue traktir deh...,"
"Serius?" Bambang antusias."
"Tapi, tunggu lo pinter. At least, sampai lo nggak remedial aja di mata pelajaran Bu Tuti." Hani terkikik ketika mendapati wajah masam cowok di depannya.
"Gue tuh sebenernya pinter, cuman nggak mau sombong aja." Ucap Bambang dengan percaya diri. Seolah-olah apa yang dikatakannya memang benar adanya. Membuat beberapa anak yang mendengar, langsung tergelak tawa.
"Mana ada orang pinter remedial bahasa Indonesia." Kali ini, Lala yang merespon. Novel ditangannya sudah menghilang, digantikan dengan ponsel yang dilayarnya sedang menampilkan laman instagram.
"Kan nggak mau sombong."
"Y aja deh, biar ppali."
***
Di kelas lain, pada bagian koridor kelas sepuluh, beberapa anak dari satu kelas berjajar duduk diluar. Duduk mengampar di lantai, ataupun pada bangku semen yang panjang, digunakan sebagai pembatas antara taman kelas dan teras kelas. Sedangkan buku tulis ataupun buku cetak bertuliskan 'Matematika' berada di pangkuan mereka--yang mayoritas adalah murid perempuan-- yang sibuk belajar berkelompok membahas rumus yang membingungkan. Sedangkan, beberapa murid laki-laki sibuk melampar canda dengan guyonan kasar.
Satu diantara laki-laki yang kalau kata Bu Rahma sudah bodoh, bukannya banyak belajar malah banyak mengganggu teman. Kata-kata itulah yang sepertinya layak dilontarkan kepada Bima. Yang dengan sok mau belajarnya, dia ikut masuk kedalam kerumunan siswi-siswi disana. Namun, bukannya berkonsentrasi, cowok itu malah mengganggu konsentrasis teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan keluar topik yang ia lontarkan. Unggah, Bayu dan teman-teman cowok lainnya sibuk menertawakan kejahilan Bima. Sedangkan, murid cewek disana sibuk menyumpahi Bima. Membuat suasana diluar kelas menjadi bising seketika.
Bu Rahma, dengan penggaris ditangannya keluar, lalu berkacak pinggang. Guru Matematika kelas sepuluh yang juga terkenal karena kegalakannya itu menemukan target utama yang membuat kegaduhan di luar kelasnya. Padahal, jelas-jelas murid nya yang lain sedang mengerjakan Kuis post-test di dalam.
Perempuan cantik yang baru menikah itu geleng-geleng kepala, merasa sial karena harus mendapatkan murid seperti pendahulunya dulu. "Bima, jangan ganggu teman-temannya. Ibu kan sudah bilang, post-test ini akan diakumulasikan dengan nilai Mid-Semester dan Semesteran kalian nanti kalau dikira kecil. Bukannya sungguh-sungguh, ini malah mengganggu temannya yang lain."
Seketika, semua tawa lenyap, digantikan dengan keheningan mendadak. Cowok yang kini menjadi fokus kemarahan sang guru nampak menundukkan kepalanya.
"Kamu ini makanya jangan banyak-banyak temenan sama Bambang. Aduh, pusing deh Ibu." Bu Rahma memijit pelipisnya pelan, lalu melirik Unggah dan Bayu yang menggambil tempat bersama kerumunan siswa laki-laki. "Ini lagi, bukannya belajar, sibuk main ponsel dan berguyon kasar. Kalian udah merasa pinter memangnya?"
Unggah memasukkan ponselnya diantara kedua buku yang sejak tadi dipegang cowok itu. Lalu menutup buku itu, tanpa bertemu pandang dengan sang guru.
Catatan nomor satu:
Jangan pernah beradu pandang dengan guru killer. Bisa mampus!
"Ayo, sekarang giliran kalian yang masuk," ujar Bu Rahma. Kemudian berbalik arah, menginteruksika kepada setengah dari murid yang mengerjakan kuis-nya di dalam kelas untuk segera mengumpulkan pekerjaan mereka dan berganti posisi dengan temannya yang lain. "Awas ya sampai nilainya dibawah angka 6." Ancam guru cantik itu.
Murid-murid yang berada diluar langsung berdiri. Berjalan masuk ke dalam kelas.
"CCM!" umpat Bima.
"Apaan?" Unggah menaikkan alisnya tak maksud dengan umpatan temannya itu.
"Cantik-cantik Muacan." Bayu yang menjawab. Mengambil tempat duduk di belakang Unggah, sebagai dewa penyelamatnya di mata pelajaran Matematika ini. Karena sekolah bareng sejak SMP, Bayu jadi sudah tahu pasti kalau sahabatnya yang satu ini benar-benar expert di bidang menghitung. Padahal, belajar saja tidak karena kerjaannya mereka hanya bermain PES dan futsal. Dan, hampir setiap hari Bayu menghabiskan waktu bermain bersama Unggah. Tapi, kalau soal Matematika... jangan ditanya. Hanya melihat soal saja, Unggah pasti langsung bisa mengerjakannya.
"Woi, licik kan, licik!" Bima bersungut tak rela ketika Bayu lebih dulu mengambil tempat di belakang Unggah, sedangkan di meja sebelah kanan sudah terisi orang lain. Dan Unggah duduk di bangkunya, diujung dekat dinding.
"Apaan?"
"Gue bisa mampus kalau di depan. Masa gue di depan sih?" Gerutu Bima. Matanya memerhatikan hanya bangku di depan Unggah saja yang masih kosong belum berpenghuni. "Ung, lo depan deh, gue di kursi--" belum sempat Bima melanjutkan, Bu Rahma sudah lebih dulu menyela. Membuat cowok itu mau tak mau mengambil tempat disana dengan berat hati...
Bayu tertawa tanpa suara di tempatnya, sedangkan Unggah hanya tersenyum tipis sambil merobek kertas dibagian tengah. Dan mulai menuliskan identitas diri.
***
Unggah memasukkan tangannya di dalam kedua saku celana, dengan tas ransel menggantung di bahunya, tubuh cowok itu menyandar pada pilar koridor dengan santai. Matanya menatap lurus kearah kelas 11 IPS 2. Disampingnya, ada Bayu dan juga Bima yang ikut bersandar pada tembok dinding. Bima yang melebih-lebihkan, cowok yang kelebihan energi itu sibuk menggoda siswi-siswi yang lewat diantara mereka. Yang, kebanyakan adalah anak kelas sebelas karena mereka kini berdiri pada koridor kelas sebelas.
"Hai kak, lama nggak keliatan makin cantik aja..." Bima memulai. Kali ini target sasarannya adalah Lala yang berjalan mendekat kearah mereka bersama Hani--yang mengeluarkan tampang kesalnya karena Bambang terus mengganggunya.
Lala hanya tersenyum menanggapi.
"Cewek gue nih! Cari yang lain aja gih." Tiba-tiba Dwiki datang dari arah belakang Bima dengan tangan sibuk memainkan rambutnya. "Balik yuk, beb. Aku mau latihan futsal nanti sama mereka."
"Futsal atau Aku?"
"Serius pake nanya nih?" Dwiki menaikkan alisnya. Ketika melihat wajah Lala yang mulai berubah, cowok itu menghela napas, "Ya, Kamu lah... Tapi, hari ini latihan futsal dulu ya, kan seminggu lagi ada turnamen pocari sweat, inget?"
"Katanya janji mau nonton..." Lala mendesah. Melirik Dwiki dengan kesal. Cowok ini selalu saja ingkar, Lala bisa mengerti kalau tim futsal di sekolahnya akan ikut turnamen, tapi kenapa Dwiki harus janji kemaren--pakai bilang kalau hari ini free dan bisa jalan bareng, plus nonton film yang sudah dijanjikan--kalau taunya masih harus latihan juga. "Yaudah deh, nggak usah anterin pulang. Aku naik busway aja!" Ucap Lala, lalu pandangannya menoleh kearah Hani yang--bibirnya mengerucut melihat Unggah yang sedang mengacak-acak dengan gemas rambut Hani.
"Penganten baru mesra-mesraan mulu..." komentar Bima, "Jadi, iri..." lanjutnya.
"Yuk, sama abang Bams, dek?" Bambang bersuara dengan nada menggoda. Membuat semua yang ada disana ngakak, kecuali Bima yang memasang raut wajah jijiknya. "Cukup ya gue difitnah kalau gue kembaran sama lo, males amat sampe dapet skandal homoan juga sama lo."
"Babe udah nelponin nih, suruh ke GSG bentar katanya sebelum latihan." Ucap Bambang, ketika melihat notif pada ponselnya yang bergetar. Padahal kelas baru juga keluar, tapi guru olah raga mereka sudah menyuruh berkumpul lagi saja.
Unggah menatap Hani, "Yakin nggak usah gue anterin balik dulu? Lo kan lagi nggak enak badan..."
"Nggak pa-pa. Gue sama Lala kok naik busway nya. Lagian dia nggak jadi tuh jalan ama Dwiki..." ucap Hani.
"Kan beda jurusan?" Unggah tetep kekeh.
"Gue nggak akan pingsan, Unggah."
"Tapi..."
"Udah gih," Hani mendorong cowok itu supaya ikut bergerak mengikuti teman-temannya yang sudah mulai berjalan. "Ntar Babe ngamuk, lho. Sana, gue nggak pa-pa, lagian ini cuman flu doang."
Unggah memerhatikan Hani sesaat, "Yaudah ntar kalau udah selesai gue mampir deh kerumah."
"Ha? Gima--"
Belum sempat dia bertanya lebih rinci, Unggah mengacak rambutnya kembali sebelum berlari pergi dengan sebelah kedipan mata nakal milik Unggah yang masih bertahan dalam ingatan. Meninggalkan, Hani dengan wajah memerah yang kentara.
"Ih, gue iri! Pengen punya adek gemes juga ih!" Suara dari Lala yang membuat Hani sadar kalau sejak tadi Lala masih dalam radius dekat dengan ia dan Unggah. Hani lalu menoleh, tersenyum dengan bangga,
"Belakangan ini adek-adek emang lebih bikin ketar-ketir sih, La." Kikik Hani. "Yuk!"
***
"Ih, najees! Katanya suka, kok malah ena-ena sama cewek lain, hih dasar laki!" Hani mengomentari salah satu drama korea yang sedang tayang di tivi kabel nya. Piyama berpotongan setenang tiang dengan gambar tokoh disney Stitch berwarna Biru keunguan melekat pas di badannya. Hani, sedang duduk di sofa bed abu-abu di ruang tengah dengan setoples Tous Les Jours cookies dipangkuannya. Hani mengambil satu Green Tea cookies dan membawa lidahnya meresapi rasa kue terbaik--menurut Hani-- ketika ponselnya yang di letakkan pada sofa di sebelahnya menderingkan panggilan telepon. Kedua fokus mata Hani masih terarah pada layar tivi, tangannya mencari benda persegi itu dan meliriknya.
"Hani disini." Ucapnya setelah mengangkat panggilan telepon itu.
"Keluar dong."
"Ha? Maksudnya?" Keningnya mengernyit heran. Jam sudah menunjukan pukul setengah enam sore, dan Unggah menyuruhnya keluar? Keluar mana?
Hani kembali bertanya. "Keluar rumah? Ngapain?"
"Bentar aja."
"Iya, ngapain? Lo diluar?" Tanya Hani. Tangannya bergerak menaruh toples cookies nya ke atas meja.
"Udah, keluar aja bawel."
Klik!
Hani menjauhkan ponselnya. Ditatapnya benda persegi itu dengan bibir mengerucut kecil. "Nggak jelas banget sih nih dedek gemes..." gerutunya. Namun, tak urung ia membawa kakinya melangkah ke pintu depan. Mengikuti instruksi yang dikatakan Unggah padanya.
Hani membuka pintu rumahnya dan langsung mendapati wajah Unggah memenuhi pandangannya. Cowok itu berbalut setelan baju olahraga berikut dengan messy hair -nya, tersenyum dengan mengulurkan sekantong plastik berlabel nama apotik besar di-Bogor.
"Ini...," Unggah menggoyangkan plastik tersebut supaya Hani menerimanya. Tak menunggu waktu lama, cewek itu membawa tangannya untuk mengambil kantong plastik dari tangan Unggah, meskipun sedikit bingung. Unggah menyadari, cowok itu tersenyum tipis sebelum menjelaskan, "Lo tadi masih panas suhu tubuhnya, jadi gue beliin obat dan vitamin, diminum ya."
Lalu, tanpa banyak bicara lagi. Unggah lantas berbalik arah. Membuka pintu pagar, menaiki motor NMax nya dan melesat pergi meninggalkan komplek Adnan Residence, membawa tubuh jangkung beserta motornya ikut melebur bersama sekelompok mobil dan motor yang mengarungi jalan raya dengan berpandangkan matahari yang mulai kembali masuk ke dalam tempat peraduannya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co