Truyen3h.Co

Hello mellow

Tigapuluh-satu

authoriya

Hani terbangun dengan kepala pusing yang berlebihan. Dua bulan pasca kemoterapi dan radiasi pertamanya, sekarang Hani semakin merasakan gejala aneh. Seolah-olah nasofaring tidak ingin minggat dari tubuhnya, seolah-olah kanker itu ingin mengatakan bahwa dialah yang tak termusnahkan.

Hani memegangi kepalanya saat denyutan mulai terasa menyakitkan, mengaduh pelan. Namun, sebisa mungkin untuk tidak bersuara supaya keluarganya tidak khawatir. Selain itu, Hani mulai merasakan tenggorokannya semakin sakit, suaranya sengau seperti orang sedang pilek. Dia paham situasi ini, mungkin saja umurnya sudah tidak lama lagi.

Air mata menetes dari pelupuk dan segera diusapnya. Tidak, tidak, dia tidak boleh menangis. Dia kuat, dia bisa. Setidaknya, jika pada akhirnya dia akan pergi, maka dia tidak boleh meninggalkan kesedihan kepada semua orang yang menyayanginya.

Ketika Lala dan teman-temannya kemari, Hani sudah mengatakan permohonan maaf kepada mereka--yang langsung dimarahi Lala karena cewek itu tidak suka mendengar Hani berbicara hal aneh--juga, saat semalam Hani meminta maaf dan mengatakan kalau dia menyayangi Ayah, Bunda dan Kak Meta sungguh-sungguh. Tapi, Bunda malah menangis tersedu-sedu, dan meminta Hani untuk berjanji supaya tidak mengatakan hal itu lagi.

Kata Ayah, "Adek pasti sembuh. Jangan ngomong yang aneh-aneh."

Kata Bunda, "Adek harus bahagia. Bersama-sama dengan Bunda, Ayah dan kakak."

Sedang, kata kak Meta, "Lo satu-satunya teman berantem gue. Gue sayang banget sama lo." dan berakhir dengan pelukan pertama mereka setelah bertahun-tahun.

Karena semalam dilewati dengan drama haru biru dan nangis bombay, alhasil pagi ini matanya sembab luar biasa. Hani menoleh saat Bunda keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk di tangan. Perempuan setengah baya itu mengukir senyum, "Mau mandi?"

Hani mengangguk.

Beruntung karena Hani memaksakan diri untuk makan, dia jadi tidak membutuhkan selang infus lagi. Karenanya, dia bergerak menuruni brankar dan mengambil handuk yang diberikan Bunda kepadanya. "Ayah mana, Bun?" tanyanya sebelum melangkah masuk kamar mandi.

"Lagi ngurusin administrasi. Kata dokter kamu boleh rawat jalan mulai besok."

Hani tersenyum. Dia tentu saja senang akan berita itu, karena Hani terus-terus mengatakan kalau dirinya memang sudah membaik dan tidak mual-mual lagi. Tapi, tidak satupun diantara mereka yang tahu kalau apa yang dia ucapkan adalah kebohongan. Karena jauh dari itu, Hani mulai merasakan keanehan pada fisiknya. Tangannya gemetar, tenggorokannya sakit, dan rasa mual selalu mengganggunya, bahkan saat Unggah kesini dan menyuapinya makanan--yang biasanya akan baik-baik saja.

Keluarnya dari dalam kamar mandi, Hani mendapati Unggah sedang mengobrol dengan Bunda, senyuman terbit seiring dengan suara Unggah yang menjawab pertanyaan Bunda, "Iya, Tante. Kalau nggak ada halangan bulan depan ke GBK nya."

"Wah, semoga sukses ya, Nak. Ayo diminum," Bunda menyodorkan air mineral kepada Unggah. Lalu, menatap Hani dengan senyuman yang sama. "Yang happy karena udah mau pulang." komentarnya ketika melihat raut wajah Hani yang riang.

Hani tersenyum lebar, "Bun, adek pergi bentar ya sama Unggah. Nggak jauh kok. Bunda sama Ayah pulang duluan aja nanti. Ya, ya, ya?"

"Mau kemana?" Bunda mengangkat alis. Lalu, tatapannya berpindah kepada Unggah menanyakan hal serupa.

"Liat yang hijau-hijau, Bun. Nggak pulang malem kok. Nanti adek yang bilang sama Ayah."

Bunda masih mengerutkan alis, menatap si anak gadis dengan pandangan menimang, sebelum akhirnya kepala Bunda mengangguk sebagai jawaban, "Jangan ngerepotin Unggah, inget?"

"Siap, Bunda!" Hani memberi hormat.

***

"Lo yakin mau ke Danau Dora?"

Adalah, pertanyaan yang kesekian kali dari Unggah yang ditujukan untuk sang pacar. Setelah mendapatkan restu dari Ayah, mereka segera melesat pergi, membawa mobil itu berbaur dengan jalanan kota Bogor yang padat merayap pada weekend begini. Sepertinya, pengaruh Ibu Kota memang sudah nggak diragukan lagi. Yang biasanya kota ini selalu mengirimkan banjir ke Ibu Kota, sekarang gantian mereka yang mengirimkan kemacetan kepada kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan ini.

Hani melirik sekilas melalui ekor mata pada cowok yang sedang menyetir di sampingnya. Agak heran karena tumben sekali Unggah mulai budek dan pikun begini? Jelas saja Hani sejak tadi sudah menjawab 'Iya' sebagai jawaban, tapi cowok ini lagi-lagi menanyakan pertanyaan serupa. Dengan nada serupa. Seolah kaset kusut saja. Ih!

"Gue nggak tau kalau lo udah congekan dan kena penyakit pikun."

"Njir." alih-alih kesal, Unggah malah tertawa lebar atas jawaban Hani. Tangannya bergerak cekatan di perseneling, "Bukan gitu. Pokoknya, jangan lama-lama ya?"

"Iya sayang..."

"Gini aja lo panggil sayang," Unggah mendengus. Dia mulai ingat kalau Hani memang jarang memanggilnya dengan kata romantis satu itu. Ya, walaupun dia juga nggak terlalu ngarep sih, hanya saja sebagai cowok dia kan juga pengin dipanggil begitu sama pacar.

"Nggak manggil sayang juga lo udah tau kalau hati gue detaknya pake nama lo doang." Lalu, Hani terdiam. Merasa mulas karena melafalkan kalimat dangdut begitu. Dia berdehem ketika tak ada sahutan dari cowok di sebelahnya, "Dangdut abis. Bye."

Tak lama, suara tawa menggelegar mengisi mobil itu. Unggah mengusap pelan puncak kepala Hani yang dilapisi hijab plain berwarna senada dengan bajunya. "Lo bener-bener paham ya gimana buat gue makin sayang dan sulit buat ngelepas lo."

Ya, Tuhan... aku masih ingin hidup. Masih ingin bersamanya, bersama keluarga juga. Aku masih butuh cowok ini. Aku ingin hidup lebih lama lagi.

Hani tersenyum getir. Seharusnya, dia tidak boleh membuat Unggah semakin menyayanginya. Karena, cowok itu akan terluka. Itu pasti.

***

Pemandangan super menyejukkan langsung menghujam ketika keduanya berhasil sampai disana. Berjalan sambil berpegangan tangan, Unggah mengikuti kemana Hani ingin membawanya. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang dibuat dengan alas kayu yang akan menghantar mereka menuju danau yang dikelilingi pepohonan rindang nan menyejukkan. Jalan setapak dengan beralas kayu itu juga dibuat mengelilingi danau, sehingga bagi siapapun akan merasa nyaman untuk duduk disana. Biasanya, tempat ini merupakan destinasi favorit bagi warga lokal ataupun bukan karena tempatnya yang asri. Tapi, hari ini nampak sepi padahal cuaca lumayan cerah.

Hani menarik Unggah untuk ikut duduk di pinggiran danau. "Bagus kan tempatnya?"

Mau tak mau Unggah mengangguk. Meremas pelan tangan Hani yang berada dalam genggamannya. "Kok tau ada tempat ginian?"

"Waktu kelas 10, Bu Tuti minta per-kelompok untuk mereview destinasi wisata di Bogor," Hani menjelaskan. Pandangannya lurus menatap riak air yang tenang. "Ahya, katanya, disini banyak yang teriak gitu buat ngelepas beban pikiran."

"Terus, lo pernah?"

Hani menggeleng, kemudian terkikik pelan. "Nggak pernah nyoba."

"Mau?"

"Apa?"

"Teriak."

Lagi-lagi, Hani menggeleng. "Enggak ah, udah lama gue nggak ada beban pikiran. Paling banter pikiran gue cuma gimana orang-orang nanti tanpa gue. Tapi sekarang udah nggak lagi."

Unggah terdiam. Diam-diam dia menarik napas guna menghalau air mata yang hendak turun melalui pelupuk matanya. Cowok itu mendongak sebentar, kemudian memilih untuk menatap pepohonan di arah timur. Baginya, pembicaraan ini sungguh menyakitkan.

Bukannya Hani tidak menyadari, karena sama seperti Unggah pembicaraan ini juga menguras energinya, menyesakkan dadanya. Hani membawa kepalanya bersandar di pundak Unggah, "Cita-cita lo apa, Ung?"

"Kerja di EA."

Tentu saja semua tentang game. Cowok seperti Unggah, yang IQ-nya juga diatas rata-rata, tentu nggak akan sulit untuk bersaing di Jurusan Teknik Informatika. Hani tersenyum, "Lo pokoknya harus janji untuk bisa ngewujudin cita-cita lo. Oke?"

"Lo juga janji untuk selalu sama gue?"

Hani terdiam sejenak, dia menggigit bibir bawahnya pelan sebelum mendongak dan mengumbar senyuman, "Lo nggak nanya gue mau jadi apa?" dia mengalihkan pembicaraan.

"Jadi apa?"

Hani membawa tangannya merangkul lengan Unggah, kepalanya kembali menyandar pada pundak cowok yang lebih tinggi darinya itu dengan nyaman. "Gue pengin jadi sebatang pohon," ada jeda sebelum suara Hani kembali mengudara, "Karena pohon nggak akan pernah pergi. Dia akan selalu ada tepat dimana pohon itu pertama ditanam."

Rangkulannya semakin mengerat, "Gue boleh minta lo peluk gue nggak?" tanya Hani lagi pada Unggah.

Tidak perlu memikirkan jawaban apa yang harus diberi, karena Unggah langsung memiringkan badan, lalu merengkuh Hani kedalam pelukan. Tangannya bergerak mengeratkan pelukan itu, sedangkan dia membawa wajahnya tenggelam pada bahu kecil Hani. "Gue sayang sama lo."

"Gue juga."

"Gue pengin sama-sama ama lo sampe seterusnya." suara Unggah gemetar menahan isak tangis yang hampir pecah.

"Lo harus tau kalo gue akan selalu sama lo."

Meski kita beda dimensi... Lanjut Hani dalam hati.

Unggah semakin mengeratkan pelukannya. "Han..."

"Mm,"

"Han..."

"Mm,"

Unggah menghela napas, mengeluarkan sisa-sisa rasa yang mengilukan dada. Dalam beberapa detik yang terlewat, akhirnya suara Unggah kembali mengudara. "Han..."

Dan sampai pada suatu titik dimana Hani tak lagi menyahutnya, Unggah mendongak menatap langit-langit dengan tangisnya yang kemudian pecah ketika dia merasakan pelukan tangan Hani di tubuhnya yang melepas.

Baiklah, Hani-nya telah berusaha, dia telah berjuang melewati waktu yang panjang. Unggah meminta dalam hati semoga Hani bahagia tanpa sakitnya. Jangan memikirkan apapun dan tidurlah dengan tenang. Sampai kelak, mereka akan bertemu lagi.

***

Satu per satu payung hitam yang mengelilingi mulai meninggalkan tanah kubur yang masih basah, membawa serta yang ditinggalkan disana. Beberapa kerabat, beberapa teman dan guru dari SMA Kartini, juga Bunda yang dibawa Ayah lebih dulu ke dalam mobil karena perempuan setengah baya itu terus menangis disana. Ayah hanya tidak ingin, tangisan itu menjadi siksa bagi anak tersayangnya kelak. Ayah menepuk pelan bahu Unggah sebelum pergi dari sana, meninggalkan remaja dengan payung hitam yang nampaknya masih enggan untuk pergi.

Sedangkan Meta, yang sejak tadi sudah seperti mumi hidup, menatap nanar punggung Unggah. Setidaknya, adiknya telah mendapatkan lelaki yang tepat sebelum tutup usia. Setidaknya, sang adik kini sudah bahagia meski kini meninggalkan pedih pada keluarga. Kepala berkerudung hitam itu menunduk, menatap paperbag dalam genggamannya. Beberapa minggu lalu sang adik menitipkan ini kepadanya, katanya dia harus memberikan ini kepada Unggah saat dirinya sudah tidak ada lagi di Bumi. Ntah apa isinya, tapi hari ini adalah waktunya.

Dengan berjalan pelan di tengah genangan tanah yang basah di guyur hujan, Meta menyentuh pundak Unggah pelan. "Dek,"

Unggah menoleh. Kedua matanya memerah, bahkan Meta bisa melihat sisa-sisa airmata yang ada di pipi cowok itu. Mau tak mau Meta menghela napas kembali. Tangannya terulur memberikan paperbag dalam genggaman kepada Unggah, "Titipan Hani." lalu, Meta menepuk pelan lengan Unggah sebelum berbalik.

Pandangan Unggah melirik pada pemberian Meta yang kini berada ditangannya. Menatap punggung Meta yang menjauh. Lalu, membuka isinya...

Sebuah Bunga mawar yang dikenal dengan nama Everlasting Rose. Unggah menguatkan rahang, tangannya mengambil secarik kertas yang menempel di kaca dan mulai membacanya...

Selesai.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co