Truyen3h.Co

Hello mellow

Tigapuluh

authoriya

Hari ke-22 di bulan Juli.

Ruang kuningan di lantai 2 tampak ramai. Beberapa menunggu waktu untuk menjalani tahapan kemoterapi, dan beberapa lagi sudah selesai melakukan tahapan kemoterapi. Bau khas dari rumah sakit pun turut mendominasi ketika Unggah menapaki kakinya pada lantai paling atas ke lantai 2.

Baju kemeja berwarna navy melekat tanpa dikancingkan di tubuhnya, sedangkan ia memakai kaos oblong bewarna hitam sebagai dalamannya. Dibalut dengan sepatu kets hitam senada dengan celana levis yang ia kenakan, tungkai panjangnya melangkah menuju ruang kuningan no. 6 yang berada di koridor paling ujung.

Lagi-lagi, cowok berpostur tinggi itu memilih membolos sekolah demi menemani seseorang tersayangnya menjalani kemoterapi. Padahal ia sendiri tahu, bahwa amunisi bolos sekolahnya tinggal satu kali lagi untuk kata 'Izin' , dua kali lagi untuk kata 'Sakit'. Sementara, untuk izin tanpa keterangan, diusahakan Unggah supaya tetap terjaga. Selain karena menjaga supaya Mama-nya tidak mengomel, nggak etis juga rasanya tidak naik kelas hanya karena sering bolos sekolah.

"Lo nggak sekolah lagi?" suara tanya mengudara tepat ketika Unggah menutup pintu di belakangnya. Membawa setangkai mawah merah di tangan, Unggah melangkah mendekat kepada si empu-nya suara. Tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan.

"Kan gue bilang, nggak usah kesini kalau waktu sekolah," Hani merengut sebal, namun tangannya masih mau terulur untuk mengambil tangkai mawar yang diberikan Unggah buatnya. Lalu, mencium pelan pada kelopak mawar ditangannya. "Lo nggak boleh ngutamain cewek pesakitan yang nyaris botak daripada sekolah lo." Hani mendesah.

"Gue nggak bolos kok." kata Unggah. Cowok itu mengambil duduk di ujung brankar, dengan gaya tarikan Unggah membawa Hani masuk dalam rengkuhannya. Ia menyandarkan kepala pada pundak mungil Hani sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh cewek itu. Matanya terpejam seraya makin mengeratkan rengkuhannya. "Tadi kirim surat cinta buat Ibu mertua di sekolah."

Sudut bibir Hani tertarik kecil. Ia tahu sekali siapa yang dimaksud Unggah sebagai 'Ibu mertua' di sekolah itu; Bu indri.

Masih ingat dalam ingatan, perihal pertama kali ia mengenal Unggah. Juga, pertama kali cowok itu meminjam buku PKN-nya di hari kedua Unggah belajar mata pelajaran yang di ampu oleh Bu Indri--yang juga selaku wali kelas Hani.

Adalah benar, bahwa waktu cepat berlalu, namun kenangan akan senantiasa tertinggal.

Hani membawa tangannya membalas pelukan, mengambil energi sebanyak-banyaknya dari cowok yang menjabat sebagai kekasihnya itu. Karena, mungkin saja quote menye itu benar, bahwa cinta bisa menguatkan siapapun yang merasakannya. "Kalau gue nanti nggak ad--"

"La la la la, nggak denger, nggak denger..." Unggah menguraikan pelukan, membawa kedua tangannya menutupi kedua telinga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedikitpun, cowok itu tak pernah mau mendengar perandaian yang hendak dibicarakan oleh Hani. Sama sekali. Karena bagi Unggah, selama masih ada Tuhan, dilarang keras berandai-andai tentang hal yang buruk barang sedetikpun.

***

Hari ke-25 di bulan Juli.

Balik sekolah gue langsung ksn.
Ada ulangan, jd gak bisa nemenin lo hari ini. Gue sayang lo, tau kan?

Begitu pesan yang diterima Hani ketika ia selesai mengganti pakaiannya. Sejak Unggah yang selalu mengunjunginya, selang infus tidak dibutuhkan lagi, pasalnya makanan dan beberapa obatan yang dimasukkan kedalam mulut itu berhasil masuk tanpa di muntahkan seperti yang sudah-sudah.

Mengambil kantong plastik hitam yang menggantung di besi brankar pada kamar inapnya, Hani kemudian memasukkan rambut dalam genggamannya pada kantong plastik tersebut untuk bercampur dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk di dalam plastik tersebut. Hani tersenyum getir, lalu menghela napas panjang. "Nggak pa-pa, Han. Rambut bisa numbuh lagi. Nggak pa-pa. Lo bahkan udah pernah ngerasain botak, dulu." gumam Hani menyemangati diri sendiri.

Efek samping kemoterapi sudah terasa, selain mual yang berkepanjangan dan terkadang mengalami pusing kepala, efek yang kasat mata seperti halnya rambut rontok mulai muncul ke permukaan. Berapa helai rambut yang terbuang tiap harinya, yang kini menyisakan tipis sebagai mahkota kepalanya. Dari dulu hingga sekarang, Hani begitu menyayangi rambutnya yang lurus panjang itu. Rambut yang sering membuat iri Lala karena masuk dalam tagline 'Cuma pakai shampoo, kok.' itu.

Yang kini, rontok semua karena pengobatan yang sedang dia jalani. Hani menduga, dalam beberapa hari kedepan dirinya sudah benar-benar kehilangan rambut-rambut itu sepenuhnya.

"Yuk, dek? Bunda udah di atas." suara Meta mengudara, satu tangannya memegang handle pintu, mengajak sang adik untuk keluar dari ruangan.

***

Hari ke-29 di bulan Juli.

Kemoterapi ke delapan.

Bau obatan, tegangan listrik, dokter dan perawat nampak sudah familiar di mata Hani. Bahkan, karena saking seringnya bertemu mereka. Hani tak segan mengobrol untuk melepas ketegangan. Ntah kenapa sesering apapun ia melakukan rutinitas baru ini, Hani tetap saja merasakan rasanya gugup berlebihan.

Rambut yang kian menipis tiap harinya itu, sudah ia tutupi dengan kain bermotif pemberian Bunda karena Hani meminta sewaktu Bunda pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian ganti. Tangannya terulur ke atas, menarik kain bermotif yang ia gunakan untuk menutup kepalanya ke bawah, meletakkannya di atas paha dengan jemari yang masih memegang erat ujung kain tersebut. Pandangannya kosong, menatap tembok di depannya seksama. Pada ruangan yang sama dengan tempat menunggu sesi kemo-nya di mulai. Pikirannya melayang-layang secara acak; dari mulai sekolah, rumah, teman-teman, Bahkan, Hani sekarang merindukan mata pelajaran paling horor beserta guru pengajar yang tak kalah horornya itu.

Tapi, Hani harus menelan harapannya bulat-bulat karena kondisi yang tidak memungkinkan baginya untuk pergi bersekolah. Dan, mungkin saja tidak akan pernah lagi memungkinkan hal itu terjadi.

Saat pikirannya masih sibuk berkelana jauh, pintu ruangan itu diketuk dua kali sebelum akhirnya setengah terbuka. Menampilkan dua sosok perempuan cantik sama usia; Bunda dan Tante Gigi!

"Hallo cantik," sapa Tante Gigi ramah. Perempuan dengan rambut tertata rapih kebelakang itu menghampiri Hani kemudian memeluknya. Ia mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala Hani, "Tante punya sesuatu buat kamu." perempuan setengah baya itu mengukir senyum. Tangan kanannya meraih paperbag yang semula ia letakkan di brankar, lalu memberikannya pada Hani.

"Apa ini, te?" Hani menerima paperbag itu, mengintip isinya. Senyumnya mengembang, lalu kembali menatap Tante Gigi. "Ini untuk Hani?"

Tante Gigi mengangguk. "Iya. Unggah tadi nitip, niatnya mau kasih langsung ke kamu, tapi hari ini latihan futsal dan pulang malam."

Hani mengangguk. "Iya, dia udah bilang sama Hani juga kok, Te." tangannya bergerak mengambil sebuah buku dari dalam paperbag itu. Sebuah buku dengan halaman muka dengan warna di dominasi warna Amber dengan tulisan hitam tebal tercetak disana. Hani membacanya; Punya Hani.

Senyuman tercetak di bibirnya, perlahan Hani mulai membuka.

Tulisan pertama pada halaman pertama adalah tulisan yang sangat dikenali olehnya; Lala.

Sebuah gambar dua bintang laut dan spons yang saling berpegangan tangan. Dan dibawahnya bertuliskan : Gue Patrick lo, dan elo adalah Spongebob gue.

Hani lantas membalik halaman kedua.

Dari: mas Bams.

Mengunakan tulisan khas ceker ayam terukir disana. "Dasar bloon."

Hani terkekeh membacanya, Bambang ini benar-benar ngaco karena selalu memperkenalkan diri dengan nama 'Bams' bukannya nama asli tu cowok. Matanya memindai kebawah, melihat gambaran perempuan dengan kertas bergambar dolar ditangannya. Sama seperti milik Lala, catatan dibawah gambar menyusul : Bundahara, balik dong. Kange--nggak jadi, Unggah udah melototin gue. Hehe. Cepet sembuh ya honey-nya mas bams.

"Kelakuan, kelakuan. Udah punya KTP masih aja kek bocah." gumam Hani sambil geleng-geleng. Tangannya kembali membalik ke halaman selanjutnya.

Milik Dwiki. Dengan gambar perempuan dengan kain di bahu, sedangkan tangannya nampak sedang mengelap kaca menggunakan kemoceng. Catatan menyusul di bawahnya : Han, gue kangen denger omelan lo karena Bambang menyentuh kaca kramat lo nih. Balik gih?

Membuka lembaran selanjutnya, milik Bayu, kemudian Bima, kemudian beberapa anak dari Ekskul Seni, teman sekelasnya, bahkan ada dari Bu Indri! Wah, Unggah benar-benar sesuatu.

Tidak ada gambaran disana, hanya ada tulisan satu baris 'Hafalan UUD kau nunggak, Ibu tunggu ya.' dengan pembubuhan tanda tangan di pojok bawah. Sudah seperti surat perjanjian, pikirnya.

Lalu, di halaman menuju halaman paling akhir adalah sebuah gambar dengan skets dirinya. Tidak hanya satu, karena ketika Hani membalik kertas itu dia menemukan gambar lain yang diyakini adalah dirinya. Yang kesatu, adalah gambaran Hani yang sedang memakai selempang nampak diatas panggung. Itu adalah momen dimana dia sedang memberikan MOS di sekolah! Woah...

Yang kedua, adalah gambaran dirinya yang sedang berjalan dengan sosok laki-laki di tengah lapangan. Tak hilang takjubnya, Hani kembali membalik lembaran halaman itu. Yang ketiga, adalah gambaran... tunggu! Ini kan... kedua mata Hani membeliak, "Dia tau ini gue yang nulis?! Mampus!" kepalanya mendongak, langsung bertemu dengan mimik wajah Bunda dan Tante Gigi yang sedang menatap kearahnya.

"Kenapa, dek?" tanya Bunda panik. Kedua perempuan cantik itu kini sedang duduk di kursi sofa sembari mengobrol santai.

"E-eh, nggak Bun! Hehe." Hani meringis, kemudian membawa kepalanya kembali menunduk menatap Buku dalam pangkuannya.

Jemari lentiknya membalik ke halaman selanjutnya dan menemukan gambaran lain yang masih dirinya. Kali ini adalah gambaran dirinya yang sedang di atas motor, lalu gambaran lainnya sedang di dalam mobil, lalu gambaran dirinya yang sedang memandang kearah lain--Hani tidak mengingat kapan kejadian pada gambar ini berlangsung. Dan yang terakhir... adalah gambaran dirinya bersama Unggah sedang duduk di gazeboo dengan hiasan beberapa bunga, kupu-kupu, kotak makanan. Yang menjadi fokusnya adalah dimana kedua pasangan dalam gambar sketsa itu adalah sedang saling berpelukan.

Tentu saja Hani sangat mengingat hal itu. Sangat amat jelas, malah. Segera dia mengusap sudut matanya ketika merasa ada cairan bening yang hendak merembes keluar. Begitu mendesak dan tidak pandang waktu. Benar-benar mellow, karena itu Hani segera mendengakkan kepala untuk mengahalu agar airmata itu tak jadi keluar.

Hingga akhirnya, Hani terpaksa menutup Buku bersampul Amber itu karena perawat yang sudah memanggilnya untuk bersiap karena kemoterapi-nya akan segera di mulai.

***

Hari ke-3 di bulan Agustus.

Mahkota itu benar-benar menghilang dan kini ditutupi Hani dengan kerudung, tubuh itu semakin mengurus, kulit itu semakin memucat, dan bibir itu pecah-pecah. Seharusnya, dengan umurnya yang sekarang, Hani lebih bisa bersikap dewasa, lebih bisa memandang kehidupan dengan perspektif berbeda. Tapi nyatanya, Hani masihlah bocah labil yang baru menginjak usia ke 17 hari ini. Tepatnya, pada tanggal 3 Agustus.

Ini hari minggu dan tidak ada jadwal apapun. Ayah, Bunda sedang di bawah mencari makan siang, sementara Kak Meta baru saja pamit karena pulang ke rumah mengerjakan deadline tugas besar-nya. Dia melirik melalui ekor mata, menatap kotak cake yang tidak bisa di makannya. Menurut Hani, salah sekali keluarganya membawa cake seenak itu karena nyatanya dia sama sekali tidak bisa mencicipinya barang sedikitpun. Padahal, kelihatan dari display nya sudah membuat Hani mengeluarkan air liur. Ugh.

Tangannya meraih novel dengan sampul merah di atas meja. Lalu membuka halaman terakhir yang dia baca. Tapi, baru juga dia membaca pada kalimat pertama, suara pintu ruangan bergeser dan...

"Kejutan! Selamat Ulang Tahun, Hani!" teriakan penuh keriangan itu membuat Hani tersenyum.

Beberapa tim sukses itu masuk, memberikan pelukan dan selamat kepada Hani. Tidak ada kue ulang tahun, sebagai gantinya adalah tumpukan novel yang disusun di atas nampan serupa cake, plus lilin-lilin kecil menancap pada benda serupa styrofoam berwarna hitam.

Ketika Unggah sudah berada di depannya, senyuman Hani makin melebar, kemudian ia merepalkan tangan untuk memanjat doa sebelum sedikit menunduk untuk meniup lilin-lilin itu.

"Happy birthday,"

"Thank you."

"Uluulu, ebeb tambah cantik deh pakai kerudung gitu..." satu suara menginterupsi.

Tentu saja, gurauan Bambang itu langsung mendapat delikan tajam dari si jangkung keturunan Arab yang amat disukai Hani itu.

"Gue nggak modus, astagfirullah. Jan marah ya striker andalannya Kartini, pweease?" Bambang membawa kedua tangannya bertautan di depan dada, menatap Unggah dengan pandangan sok manja ala-ala.

"Najis lo!" tau-tau kepalanya kena toyor oleh Dwiki.

"Sialan lo ya, nyet."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co