Truyen3h.Co

Hello mellow

Tujuhbelas

authoriya

"HONEY, cowok lo di depan tuh! Padahal gue udah mau nawarin buat nganterin lo balik." Bambang mengambil tempat duduk di depan meja Hani dan Lala. Sambil menyisir rambutnya yang habis dibasahi sedikit air, Bambang menoleh ke meja belakang dengan senyuman lebar nan menyebalkan. "Nggak jadi, udah ada pangeran soalnya."

"Bambang, dari pada kamu mondar-mandir keluar atau gangguin Hani dan Lala, lebih baik kamu setoran 30 kosakata duluan sini ke Miss." Ucap Miss. Linda. Guru honor yang juga merangkap sebagai guru kelas tambahan bahasa Inggris di jam pulang sekolah untuk seluruh anak kelas sebelas di SMA Kartini yang memang diwajibkan untuk mengikuti kelas tambahan ini tanpa dipungut biaya.

"Ntar Miss, sepuluh lagi."

Miss. Linda menggelengkan kepala. Benar-benar sial sekali rasanya mendapat kelas anak IPS karena harus bertemu dengan Bambang yang sudah menjadi pembicaraan seantero kantor guru. Anak laki-laki kurus dan tengil itu memang selalu membuat siapa saja memijat kepala tiap kali berurusan dengannya. Untung saja, untuk mata pelajaran bahasa Inggris, muridnya yang satu ini lumayan juga. Miss. Linda tidak mengatakan apa-apa lagi karena salah satu muridnya maju untuk menyetor hafalan.

Hani melirik gurunya dari balik modul bahasa Inggris miliknya, dia sudah mengingat 30 kosakata yang ditugaskan Miss. Linda—tinggal setoran saja—tapi langsung buyar ketika Bambang membahas 'cowok lo' yang berarti kata itu merujuk kepada Unggah Lazuardi. Ya walaupun belum sekarang, tapi as soon as possible lah. Seperti pepatah bilang; Usaha keras tak akan mengkhianati. Maka Hani yakin kata 'cowok lo' yang selalu dilabeli oleh Bambang untuk menyebut Unggah adalah bentuk dari usaha keras itu; doa.

"Dimana?" Tanya Hani dengan buku modul masih menutupi sebagian wajahnya.

"Duduk di kursi bawah pohon dekat kelas 11 IPS 1 itu." Bambang menarik modul Hani, "Buruan gih lo setor ke Miss. Linda biar bisa balik duluan, sini gue pinjam modul lo."

"Dih, udah punya pake pinjam punya orang lagi," Hani menarik modulnya kembali, "Nggak ah, ntar aja baliknya biar dia tahu rasanya nunggu."

"Sok jual mahal banget ya lo," Bambang tak kuasa untuk tertawa, "Untung cantik."

"Bambang..." Miss. Linda kembali menegur.

"Iya Miss, nanti, katanya Dwiki dulu yang mau maju!"

"Aih, gue lagi konsen belajar lo main fitnah-fitnah aja, kebukti kan disini siapa yang nakal," Dwiki berkata dengan nada tidak percaya. Kemudian menoleh ke arah gurunya, "Bentar, miss. Dikit lagi."

"Nanti, nanti, nanti... Kebiasaan kalian ini," Miss. Linda mulai mengomel, sudah duduk lumayan lama, tapi yang setoran hafalan tidak sampai dari setengah murid di kelas ini. Akhirnya ia mengeluarkan ultimatum. "Lima menit lagi kalau tidak ada yang menghadap saya, Miss akan bilang sama Bu Indri kalau anak kelasnya tidak lulus kelas tambahan wajib kelas Bahasa."

"Yaaaah... jangan dong, Miss!" Jawab anak kelas 11 IPS 2 dengan kompak. Lalu, satu persatu anak murid itu mulai bergantian maju ke depan. Miss. Linda mengulum senyuman senang. Beginilah kalau mengajar siswa-siswinya, perlu diancam dan membawa-bawa nama walikelas mereka terlebih dulu.

***

"Merpati pagi lo tuh." Senggol Lala pada bahu Hani pelan. Menggunakan dagu, Lala menunjuk ke arah lapangan futsal.

Hani mengikuti, dan langsung menemukan Unggah yang sedang bermain futsal dengan beberapa anak kelas 11 dan 12 yang tak asing wajahnya. Melihat senyuman tertahan di wajah Hani lantas membuat Lala kembali berkomentar, "Bentar lagi ada yang mimisan kayaknya."

"Siapa yang mimisan?"

"Masa gue?" Lala menunjuk dirinya sendiri sambil memutar bola matanya, "Ya, lo lah! Ngeliatin Unggah aja sampe berliur gitu."

Hani berdecak. "Gue nggak sampe ngences ya!"

Kepala Hani kembali mengarah ke depan, dilihatnya Unggah dengan kancing kemeja osis yang sudah terbuka, menampilkan pakaian dalam berwarna hitam, Unggah nampak lebih tampan berkali-kali lipat kalau sedang main futsal begini. "Benar ya, La," mata Hani menerawang penuh kebahagiaan menatap Unggah. "ternyata kalau cowok lagi ngelakuin hobinya bakal terlihat lebih tampan beribu ribu kali lipat." Gumam Hani tepat disaat Unggah mencetak gol pada gawang. Sudut bibir Hani terangkat membentuk seulas senyuman manis di wajah.

Cowok yang sejak tadi jadi bahan omongan itu tiba-tiba menoleh. Kedua mata tajam Unggah langsung bertemu dengan manik mata cokelat milik Hani. Yang tidak di duga Hani adalah ketika Unggah tersenyum saat melihatnya, kemudian dilihatnya cowok itu menepuk bahu salah seorang cowok yang juga berada di dalam lapangan futsal itu sambil berbicara sebentar, dan tak lama Unggah berlari kecil menghampirinya.

"Biasa aja, jangan angong apalagi sampai keluar air liur." Lala berbisik kecil meledek Hani, dan ikut memerhatikan langkah Unggah yang semakin mendekat.

Tanpa sadar Hani mengangguk. Cewek itu berdeham pelan sebelum membawa beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Senyumannya yang keluar ia usahakan terlihat sesantai mungkin supaya tidak nampak seperti orang bodoh.

Kemeja osis yang tidak di kancingkan itu berkibar di terpa angin saat Unggah berlari ke arah Hani. Unggah menarik napasnya sedikit panjang ketika kedua tungkainya berhenti tepat dua langkah di depan Hani. Sambil mengacak rambutnya yang basah karena keringat, Unggah berkata, "Balik bareng gue ya?"

"Iya," Lala menjawab.

"Kok lo yang jawab sih? Unggah kan nanyain gue!" desis Hani sewot. Dahinya mengerut kesal ketika mendengar Lala menjawab pertanyaan yang diajukan Unggah untuknya.

"Abisnya lo sok kelamaan mikir, jadi gue wakilin aja." Lala memutar bola matanya, kemudian pandangannya beralih kepada Unggah, "Sobat gue ini emang suka sok jual mahal padahal mulutnya udah gatel pengen ngejawab 'iya'. Oke deh kalo gitu gue duluan ya!" Ucap Lala kepada dua orang itu dan langsung berlari menjauh meninggalkan Hani dan Unggah yang masih berdiri di pinggir lapangan.

Unggah tersenyum kecil, sebelum kembali menariknya ke dalam satu garis lurus. Kepalanya menoleh sebentar ke arah teman-temannya yang masih bermain di lapangan futsal, lalu kembali menoleh kepada cewek dengan rambut cepol asal di depannya. "Tunggu bentar ya, Han. Gue ambil tas dulu di sana." Kata Unggah sambil menunjuk jalan setapak berpaving lebih tinggi yang disisinya diisi dengan tanaman hijau. Ada beberapa tas yang ditaruh menumpuk di sana.

Hani mengangguk dengan senyuman tak pernah luput di wajah manisnya, kemudian Hani menggeser sedikit posisinya ke bawah pohon agar tubuhnya dilindungi oleh bayangan pohon rindang dari sinar matahari sore yang menyilaukan, menunggu Unggah mengambil tasnya.

***

Motor NMax itu sampai tepat di pintu pagar rumah Hani pada waktu yang sama dengan mobil Meta memasuki carport rumah. Hani melompat turun, melepaskan helm yang ia pakai dan hendak memberikan kepada Unggah.

"Mak—"

"Oh, jadi ini yang namanya Unggah?" sebuah suara memotong kalimat Hani. Membuat Unggah dan Hani lantas menoleh ke sumber suara.

Meta tersenyum menggoda ke arah sang adik dengan kedua tangan di penuhi kantong plastik berlabel nama toko makanan khas Bandung. Sedangkan di depan pintu rumah sudah tergeletak koper merah muda berukuran sedang yang penuh oleh stickers.

Unggah tersenyum sopan, "Hai, kak."

Meta mengangguk dengan senyuman. Diperhatikannya cowok yang duduk di atas motor itu dengan seksama. Berbeda dengan mantan teranyernya Hani yang terkesan nakal dan tengil, cowok di depannya ini lebih terlihat kalem, namun ada sedikit sisi nakal di wajahnya. Posturnya yang tinggi membuat Meta yakin kalau tipe ideal sang adiknya ini adalah cowok tinggi dan ganteng. Ya, walaupun kalau disandingkan, Aldi jauh dibawah Unggah.

"Masuk dulu, yuk? Gue baru pulang dari Bandung bawa sedikit jajanan nih." Meta menawarkan.

Lagi-lagi Unggah kembali tersenyum, dilihatnya jam pada pergelangan tangan kirinya, lalu kembali menoleh ke arah Meta. Sudah jam 5.30 sore, senja dilangit mulai terlihat mendominasi, dan biasanya akan terjadi kemacetan yang lumayan panjang dari sini ke daerah tempat tinggalnya.  Akhirnya ia menolak. "Sori kak, kayaknya lain kali aja deh soalnya udah sore."

Meta mengangguk, "Yaudah kalau gitu gue masuk duluan deh, berat ini." Meta menaikkan kantung plastik yang di pegangnya, "Dek, ntar masuk bawain ransel gue ya di jok depan."

Hani berdecak. Kebiasaan sang kakak kalau sudah mulai di rumah pasti selalu saja menyuruh ini dan itu. Pokoknya, tidak bisa sekali saja melihat adiknya menganggur. Hani kembali memberikan helm yang masih berada ditangannya kepada Unggah, "Makasih ya..."

Unggah mengangguk, kemudian melirik ke arah belakang Hani, "Ransel kakak lo berat nggak?"

"Kenapa emang?"

"Kali aja lo nggak kuat, lo kan lagi nggak enak badan."

Hani tersenyum lebar, "Jadi, lo lagi khawatir sama gue nih?"

"Emangnya salah?" Unggah balik bertanya. Satu alisnya terangkat.

"Nggak." Jawab Hani cepat. Semburat sinar warna jingga merefleksikan cahaya yang mengenai wajah Hani membuat cewek itu terlihat begitu memesona ditambah dengan senyuman diwajah manisnya, "Tasnya nggak berat kok. Paling isinya cuma skincare doang." Hani menjelaskan.

Unggah memandang Hani dengan tatapan terpana. Dia tidak mengerti bagaimana bisa penyatuan antara sinar jingga dan wajah cantik Hani akan membuat cewek itu seperti dewi aprodhite pada mitologi Yunani yang pernah dilihatnya pada buku. Sampai pada sepuluh detik terlewatkan, barulah Unggah menyadari kalau sejak tadi dia hanya diam saja, Unggah menggeleng pelan, mencoba menguasai dirinya kembali. "Oke, ntar malam gue chat."

"Ha?"

"Maksud gue—" Unggah mencari kata ganti yang tepat pada kalimatnya tadi. Dia sama sekali tidak sadar ketika mengucapkan hal itu dan ini benar-benar memalukan.

Hani tersenyum, "Gue tunggu chatnya."

Unggah berdeham sekali, lalu buru-buru menggantungkan helm yang di pakai Hani di motornya. Dia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta padahal dia sama sekali tidak. Sekali lagi dia bicara, ntah perkataan apa lagi yang akhirnya akan mempermalukan dirinya lagi. Karenanya, Unggah langsung menghidupkan mesin motornya, "Gue balik ya?"

Hani mengangguk. "Hati-hati ya, Ung."

Kemudian suara motor Unggah semakin menjauh, lalu menghilang di penghujung blok rumah Hani. Sementara Unggah yang lenyap dari pandangannya, Hani berjalan memasuki pagar dan menutupnya. Mengambil ransel kecil milik sang kakak kemudian kakinya melangkah masuk kedalam rumah.

Dan sore itu... Unggah akhirnya menyadari kalau hatinya telah di curi kembali oleh seorang yang berbeda.

***

Hari ini gue seneeeeeng banget! Walaupun ada tragedi pingsan pas upacara bendera, tapi gue seneng karena hal itu membuat cowok yang gue sukain jadi perhatian sama gue. Gue juga heran kenapa bisa tiba-tiba gitu, mungkin aja dia baru sadar kalau gue ini cantik dan mubadzir kalau mengabaikan cewek cantik wkwkwk. Bercanda!

Tapi... setelah sekian lama gue nggak pingsan, kenapa tadi pingsan lagi sih? Apa ini pertanda kalau lo akan dateng lagi?

-Hani-

Tepat saat Hani memosting tulisan pada blognya, suara ponselnya berbunyi yang menandakan bahwa ada satu pesan masuk pada aplikasi WhatsApp-nya. Hani mengambil gawainya di sebelah laptop dan membukanya. Dari Unggah.

Unggah: Ini gue chat. Jadi, jgn ditunggu lg.

Unggah: Jangan lupa minum obatnya, Han. :*

Jantung Hani tidak bisa lebih bereaksi  lebai lagi ketika melihat emoji yang terlampir pada kalimat terakhir di pesan itu. Rasanya ingin meledak dan tiba-tiba saja ia ingin melompat-lompat. Namun, notifikasi lain kembali menyusul setelahnya.

Unggah: Salah emoji-_-

Unggah: sori, Han.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co