Truyen3h.Co

Hello mellow

Enambelas

authoriya

PANDANGAN Unggah lurus, tertuju kepada cewek yang sedang memejamkan mata di ranjang UKS. Tangannya membenarkan kain yang merosot hingga menutupi sampai ke leher.

Unggah mengerutkan kening tanpa sadar saat melihat wajah Hani yang begitu pucat sekarang. Padahal tadi pagi cewek itu nampak segar dan baik-baik saja, makanya Unggah sedikit tidak percaya kala mendengar bahwa yang pingsan saat upacara bendera tadi adalah Hani. Tetapi, ketika ia membuktikan sendiri datang kesini dan mendapati Hani yang terbaring di ranjang UKS, Unggah akhirnya memercayai perkataan Bambang di kantin tadi.

Ruang UKS itu sepi, hanya suara jarum jam berjalan yang terdengar memenuh  ruangan itu. Tadi ada satu anak PMR yang menjaga, namun anak PMR itu pamit pergi karena temannya mengabarkan kalau di kelas cewek itu akan ada kuis mendadak. Sehingga anak PMR itu akhirnya meminta tolong kepada Unggah untuk menjaga Hani sampai petugas UKS kembali.

Unggah menarik kursi bundar beroda tiga yang berada tak jauh darinya, lalu duduk di sana. Sedangkan kedua tangannya berada disisi ranjang saling terjalin bertautan. Lalu melirik jam di dinding. Lima menit telah berlalu dan sepertinya belum ada tanda-tanda bahwa Petugas UKS akan datang. Sedangkan di kelas, mungkin saat ini Bu Tuti lagi asyik membicarakannya karena ia  tadi pamit ke toilet sebentar, tetapi sampai sekarang tidak juga kembali ke kelasnya.

Kedua mata Unggah kembali mengamati meja kecil di samping ranjang, ada beberapa brosur sekolah nampak berjejer rapi di dalam Acrylic stand brosur. Unggah mengambil satu, lalu membuka. Kedua mata tajam Unggah langsung memerhatikan gambar-gambar yang ada dalam brosur itu tanpa berniat membacanya. Brosur itu terbagi menjadi tiga bagian dengan satu bagian di tengah yang tidak menyatu dengan dua lainnya. Unggah mengambil bagian itu, memerhatikan gambar-gambar kecil berupa macam-macam ekskul di SMA Kartini dengan malas. Tepat pada saat Unggah membalikkan kertas brosur itu, terdengar suara erangan kecil dari sisi ranjang. Unggah langsung menaruh brosur yang ia pegang kembali ke tempat semula, kemudian membawa pandangannya mengarah pada cewek pucat yang kini sudah membuka mata.

"Unggah?" Suara serak Hani terdengar lemah. Dia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk, namun sepertinya energi miliknya belum kembali pulih karena Hani langsung kembali jantuh terlentang. Kedua mata Hani menyipit dengan kening mengerut sambil memegangi kening pelan.

"Pusing?" Unggah tiba-tiba berdiri dan mendekat. Tangannya terulur memegangi puncak kepala Hani dengan lembut.

Sepertinya Unggah tidak menyadari bahwa tindakannya barusan membuat jantung Hani berdebar kencang. Kedua pipi Hani memanas menghasilkan semburat kecil di wajahnya yang sedikit pucat.

"Ng... sekelebat aja kok. Mungkin karena gue maksa buat duduk tadi." Jawabnya kikuk.

Unggah memerhatikan wajah Hani selama beberapa detik. Ia nyaris tak menyadari pada apa yang sedang dilakukannya kini kalau bukan suara lemah dari Hani yang memanggilnya kembali terdengar mengalun di telinga. Unggah mengerjap, berdeham pelan, dan melepaskan tangannya dari puncak kepala Hani.

"Lo mau minum teh anget atau makan?"

"Ha?"

"Gue beliin ya?" Unggah bertanya. Kedua matanya menatap Hani lekat-lekat.

Hani balas menatapnya. Sejenak keduanya hanya saling bertatapan sampai suara bel berakhirnya pelajaran berbunyi nyaring.

"Umm, bisa anterin gue ke kelas aja? Ntar gue beli aja air mineralnya buat minum obat." Ucap Hani dengan senyuman lemah.

"Nggak nunggu petugas UKS datang dulu?" Unggah bertanya.

Hani menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Keningnya mengernyit, "Nggak usah deh, lagian ntar ada kuis Sejarah dan gue baru baca-baca dikit semalam."

Unggah memerhatikan wajah itu selama dua detik sebelum akhirnya dia mengangguk, "Oke." Jawabnya sambil menghela Hani untuk berdiri.

Keduanya berjalan keluar ruang UKS pada saat jam istirahat datang sehingga banyak siswa dan siswi yang berkeliaran di sekitar karena memang letak ruang UKS yang bersisian dengan kelas sepuluh—dengan gedung terpisah. Hani berjalan dua langkah di depan Unggah, sementara cowok itu memilih sedikit di belakang dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Pandangan Unggah fokus pada punggung cewek itu, tadi, Unggah menawarkan diri untuk membantu Hani berjalan, namun cewek itu menolaknya. Tapi, dilihat dari belakang, tubuh kurus Hani nampaknya tidak seimbang dan...

"Lo nggak apa-apa?" Unggah dengan sigap memegang bahu Hani supaya cewek itu tidak terjatuh.

"N-nggak kok." Hani meringis pelan.

Unggah kemudian mengajak Hani kembali berjalan, kali ini cowok itu memilih membantu Hani dengan berjalan di sampingnya—tangan Unggah masih berada di bahu Hani. Dengan kikuk, Hani membawa kembali pandangannya ke depan, sedikit merasa canggung ketika melihat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka sekarang. Hani sebenarnya senang-senang saja, apalagi Unggah membantunya sampai membuat mereka berdua bisa berdempetan seperti ini, namun beberapa pasang mata milik adik kelasnya yang kebetulan berada di koridor itulah yang membuatnya sedikit risih. Hani melirik Unggah melalui ekor matanya, cowok itu nampaknya tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan-tatapan teman seangkatannya, terlihat dari cara Unggah yang tak peduli dan tetap membantunya berjalan. Hani tersenyum kecil, kepalanya menatap ke depan, dan sontak kedua kakinya tiba-tiba berhenti melangkah.

"Kenapa?" Unggah bertanya saat merasakan cewek di sebelahnya berhenti. Pandangannya lurus dan menaikkan alis ketika melihat kedua mata Hani mengarah ke depan. Unggah mengikuti arah mata itu.

Rini.

Cewek itu sedang menatap kepada mereka berdua, lalu pandangannya beralih ke arah tangan Unggah yang setengah merangkul Hani. Ada kecanggungan yang kental di sana yang juga di rasakan oleh Hani. Sebagai seseorang yang pernah putus cinta, Hani tahu bagaimana rasanya berpapasan dengan mantan tanpa sengaja. Walaupun banyak yang mengatakan jika menjadi mantan kekasih tidak perlu saling bermusuhan, faktanya, hanya sedikit orang yang bisa berdamai dengan orang di masa lalu. Selebihnya, lebih memilih gengsi dan berpura-pura menjadi dua orang asing.

"Hai," Hani menyapa Rini sesaat.

Rini tersenyum, "Kak Hani sakit?"

"Mm, agak pusing aja tadi."

Rini mengangguk-anggukkan kepala tanpa melirik ke arah Unggah sama sekali. Sedangkan, Hani memilih tetap mempertahankan senyumannya—yang mungkin kini lebih terlihat seperti seseorang yang ingin membunuh—. Dia tidak menyukai situasi ini. Bagaimana kalau tiba-tiba Unggah balikan dengan Rini karena tatap-tatapan lama di sini ya?

Bagaimana kalau... Hani menggeleng kecil. Unggah tidak akan pernah balikan dengan Rini karena cowok itu sendiri yang pernah memberitahunya bahwa dia tidak akan membaca buku yang sama. Ya. Tidak akan.

Mungkin karena merasakan kecanggungan itu semakin kental di sana, Rini akhirnya kembali bersuara, "Oh, cepat sembuh kak. Mari..." ucap Rini dan melangkah pergi.

"Lo masih nggak mau jalan?"

"Ha?" Hani menoleh dan mendongak. Jarak di antara keduanya hanya sekitar satu jengkal setengah, jarak yang langsung membuat semburat merah di pipi Hani kembali muncul. Hani berdeham pelan, memalingkan pandangan. "Oh, iya."

***

"Jadi...," Lala menyodorkan air mineral yang baru ia beli dari koperasi ke atas meja dengan kedua mata menatap sahabatnya secara menyelidik. "Kok bisa dianterin si dedek gumush? Pantesan gue samperin ke UKS udah ngilang aja, tahunya..."

"Gue juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba ada di UKS. Mau nanya lupa, keburu kesenangan ngelihatnya." Jawab Hani.

Cewek itu kemudian membuka botol bening serupa tempat obat dan mengambil sebutir kapsul dari dalamnya. Hani meletakkan kapsul itu ke dalam mulut, lalu tangannya membuka tutup air mineral dan menegaknya bersamaan dengan kapsul di mulutnya.

Lala tersenyum kecil. Tangannya mengambil air mineral yang tadi di minum Hani dan menutup botol itu. "Akan selalu ada pelangi setelah hujan turun."

Hani mengangguk setuju, "Kayaknya dia memang pelangi yang di kirimkan Tuhan dalam hidup gue yang penuh dengan badai halilintar." Hani tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.

"Jadi, gue bukan termasuk pelangi nih?" Lala cemberut.

"Kalau lo adalah payung gue, sama kayak keluarga gue."

"Of course! Because you're my patric and i'm your spongebob. So lets be friends forever." Lala mengambil kutipan pada salah satu film kartun kesukaannya.

"Jangan mau, Han. Masa temenannya cuma sama Lala doang." Tahu-tahu Bambang sudah berada di bangku depan mereka. Dengan bajunya yang sedikit basah, sama dengan rambut dan dahinya. Kalau bisa menebak, pasti Bambang habis bermain futsal.

"Sahabat gue emang cuma satu. Tapi selamanya."

Benar saja, bersamaan dengan Hani menjawab omongan Bambang, Dwiki tiba-tiba masuk dengan kondisi yang sama dengan Bambang. Bermandikan keringat. Dwiki menyeringai ketika pandangannya bertemu dengan manik mata milik Lala, lalu cowok itu mengambil tempat di seberang kursi Lala. Tangannya meraih salah satu buku milik si pemilik kursi itu, dan mengipaskannya kuat-kuat ke arah tubuhnya sendiri. "Bagi minum, La?"

Lala mendengus, "Jorok banget deh, baru hari senin baju osis udah kotor aja!" cerocosnya sambil mengambil air mineral miliknya dari dalam laci meja dan memberikannya kepada si ketua kelas.

"Di paksa main futsal, Yang, sama si Bambang." Jawab Dwiki, lalu menegak air mineral ditangannya.

"Emang Bambang mah selalu aja salah," Bambang mendengus, pandangannya beralih ke botol obat transparan yang berada di atas meja, "Obat apa nih?" Tanyanya sambil memutar-mutar botol yang dipegangnya.

Hani dengan cepat mengambil kembali obat-obat itu dan memasukkannya ke dalam kantung tas bagian depan. "Kepo deh!"

"Nah, udah sembuh ya, sementang habis dianterin Unggah ke kelas."

"Kok tahu?"

"Unggah yang bilang." Bambang mengedikkan bahu, tangannya merogoh ponsel dari dalam saku celana saat terasa bergetar, dan beberapa detik berikutnya jempol Bambang sudah menari-nari di layar ponsel itu.

"Kenapa Unggah cerita-cerita sama lo?"

"Bukan cerita, Han. Tapi tadi kami ngelihat elo sama Unggah. Terus kepo deh ni bocah," Dwiki meralat dengan nada menjelaskan. Cowok itu berdiri, lalu menepuk bahu Bambang, "Kuy lah."

"Kemana?"

"Cari cewek lagi. Cewek gue yang ini rada bawel, kayak emak kosan!" Jawab Dwiki sambil menyeringai ke arah Lala.

Lala mendesis, tangannya mengepal kesal ketika menatap dua punggung yang kini berjalan menjauh itu.

***

Unggah duduk di atas motornya bersama dengan Bayu dan Bima yang juga duduk di atas motor mereka masing-masing. Ketiganya masih berada di area parkir sekolah walaupun bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.

Parkiran motor yang penuh itu sebagian mulai melenggang. Tapi bisa di lihat kalau motor milik Bambang dan Dwiki masih terparkir bersebelahan di tempat biasa.

Ketiga cowok itu sudah menunggu lama, dan dua batang hidung yang ditunggu mereka tidak kunjung kelihatan. Untung saja area parkir itu dipasang penutup sehingga terlindung dari sinar matahari, kalau tidak mungkin sekarang mereka akan berubah menjadi ikan asin.

Bima mengeluarkan ponselnya ketika merasakan benda itu bergetar dalam saku celana, jemarinya bergerak menekan angka sebagai kode pada layar dan membuka pesan yang di terimanya barusan. Selang beberapa detik, Bima mendengus lalu memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku.

"Batal gais." Ucap Bima.

"Kenapa?"

"Ada bimbel mereka."

"Bambang sama Dwiki ikut Bimbel sekolah?"

Bima mengedikkan bahu, "Bukan. Eh, nggak tahu ding."

"Terus apa?"

Bima menggerutu, lalu melirik bayu dengan tajam, "Gimana gue bisa tahu, kan kita sama-sama ada disini, Bay."

Bayu nyengir. Kemudian memakai helmnya, "Jadi? Ke rumah lo aja yuk, main PES." Usulnya.

"Boleh." Bima menyetujui. Cowok itu lantas memakai helmnya juga, lalu menyadari kalau sejak tadi satu temannya tak bersuara. Bima menoleh, "Ung? Woy?"

"Hm? Apa?" Unggah menatap kedua temannya bergantian. Sepertinya dia sudah melewatkan banyak pembicaraan karena sejak tadi pikirannya sudah melayang-layang ke jauh sana. "Mereka udah datang?"

"Lo kenapa deh?"

"Gue nggak apa-apa," Jawab Unggah. Lalu menatap sekeliling, "Mana si Bambang dan Dwiki?"

Bayu menyipitkan mata, "Batal. Kelas mereka ada bimbel dadakan. Jadi, kita main PES aja dirumah Bima, gimana?"

Unggah terdiam beberapa detik, "Kalian aja, gimana? Gue mau—"

"Nungguin Hani sampe kelar?" tembak Bayu. Ketika tidak juga mendapatkan respons dari sahabatnya itu, satu seringaian muncul di wajah Bayu, "Lo beneran suka ya?"

"Nggak,"

"Nah, ini nih!" Bima menggoyangkan jari telunjuknya sambil geleng-geleng, "Bilang nggak, nggak, tahu-tahu tadi ngilang selama jam pelajaran buat jengukin doi di UKS."

Unggah terdiam. Sebenarnya, dia juga tidak mengerti kenapa dia tadi ke UKS dan dia lebih tidak mengerti kenapa sekarang dia mau menunggu cewek itu sampai pulang.

"Yaudah, hari ini balik ke rumah masing-masing aja deh," Bayu memutuskan. Cowok itu menghidupkan motornya, "Ya, meskipun nyokap gue pasti heran kenapa jam segini anaknya udah balik ke rumah." Bayu terkekeh.

Bima mengikuti menghidupkan mesin motornya, "Yaudah, gue ama Bayu duluan ya, Ung? Gutlak!"

Deru motor milik Bayu dan Bima mulai terdengar keras, hingga dua motor beserta deruannya itu menghilang dalam tingkungan menuju gerbang sekolah mereka. Unggah meletakkan kembali helmnya di atas motor dan turun dari sana, membawa tungkainya melangkah ke area gedung sekolah dengan tas menggantung pada satu pundak Unggah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co