Bab dua
BAB DUA
KEBOSANAN nampak sekali menghiasi wajah Myungsoo sekarang. Kalau bukan karena kakek Lin yang cerewet—yang selalu mengingatinya setiap jam (benar-benar setiap jam)—Myungsoo tidak akan mau datang ke sini. Akan ada game baru yang bakal dirilis oleh perusahaannya, karena itu Myungsoo merasa kalau dia lebih sibuk daripada biasanya belakangan ini. Dan tentu saja, pria itu sudah bicara pada sang kakek, tapi, bukan Kim Lin kalau tidak egois. Pria baya itu jelas tidak mau tahu dan tidak mau dengar soal itu, karena niat awal Kim Lin adalah ingin mengenalkan Myungsoo pada cucu teman lama Kim Lin.
"Jadi, cucumu bisa datang?" tanya Lin dengan antusias. Sebelumnya wajah Lin sangat keruh karena tahu kalau Bae Kyung-Hee datang seorang diri. Padahal dia sudah memaksa Myungsoo dengan susah payah agar ikut menemaninya ke sini. Tapi, rencananya jadi gagal total. Namun sekarang, lihatlah, orang-orang bisa saja mengira kalau Lin habis mendapatkan lotre saking bahagia yang tak ditutup-tutupinya.
Kyung-Hee mengangguk tersenyum, tangannya mengambil gelas Yuja Cha miliknya kemudian menyesapnya. Rasa hangat dan rasa campuran buah Yuja, limau, beradu jadi satu.
"Ini yang sering ikut denganmu dulu itu kan?"
Kyung-Hee mengangguk sekali lagi. "Ya. Cucuku yang paling cantik dan kompeten."
Kim Lin ikut mengangguk-angguk sambil mengenang. "Dulu, aku hampir mengira kalau cucumu hanya satu, Kyung-Hee-ya."
"Joo-Hyun sama sekali tidak tertarik ikut neneknya karena menurutnya aku sangat cerewet. Dia lebih menyukai menghabiskan waktu makan sashimi, naik pesawat, dan kegiatan menghabiskan uang lainnya. Dia sama persis seperti ibunya." Kyung-Hee mengerutu kesal. Dia jelas sangat amat tidak menyukai menantunya itu.
Kim Lin tertawa. "Aku lebih tidak menyangka karena menantumu bertahan sampai hari ini."
"Itu karena anakku berhasil membawanya sampai di titik ini. Kalau dia tidak dengan anakku, mungkin dia hanya pegawai klub malam." respons Kyung-Hee dengan malas. "Meskipun begitu aku tetap akan berterima kasih dengannya karena melahirkan Suzy. Karena cucuku itu aku jadi bersemangat dan tidak bosan di kehidupan renta ini."
Kim Lin lagi-lagi tertawa. "Kira-kira, cucumu akan menyukai cucuku tidak ya?"
"Kakek." Myungsoo menegur setengah kesal.
"Apa?" Kim Lin menengok dengan wajah polos yang dibuat-buatnya. "Apa salahnya bertanya. Aku sudah tua, entah sampai kapan aku akan hidup. Keinginanku sekarang hanya melihat cucuku menikah." Lanjut Kim Lin.
Myungsoo mendesah.
Melihat interaksi kedua laki-laki beda usia itu saling beradu argumen, Kyung-Hee terkekeh sambil geleng-geleng. Merasakan pundaknya disentuh, Kyung-Hee menoleh dan mendapati asisten pribadinya sudah berada dalam satu jarak sentuh. Ditatapnya sang aspri dengan pandangan bertanya. Laki-laki dengan setelan baju rapih itu melangkah satu kali, lalu bicara. "Joo-Hyun menelepon."
"Ada apa?"
"Dia ingin ikut bermain golf katanya."
Kyung-Hee menaikkan alis. Tentu saja, Joo-Hyun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia jelas tahu siapa CEO dari perusahaan gaming terkemuka di sini, dan cucunya yang sangat amat mirip dengan menantunya itu pasti sudah merencanakan sesuatu. Segaris tipis terukir diwajah Kyung-Hee. "Katakan pada Joo-Hyun kalau dia terlambat. Posisi kosongnya sudah terisi."
"Joo-Hyun pasti akan mengamuk."
"Astaga, emosinya benar-benar setipis tisu seperti ibunya." Gumam Kyung-Hee tak habis pikir. Dia kemudian menatap jam di ponselnya, lalu menepuk meja pelan, membuat perhatian Kim Lin beralih. "Nah, ayo kita pindah tempat. Cucuku mungkin sudah sampai di bawah sekarang." Ujar Kyung-Hee memberitahu.
Kim Lin mengangguk dengan semangat. Wajahnya sumringah bukan main. Didorongnya kursi yang ia duduki sedikit kebelakang, kemudian berdiri sambil merapihkan baju. "Kau harus mengalah dengan wanita, oke?" Kim Lin mengingatkan.
Myungsoo yang juga ikut berdiri di sebelah sang kakek, lantas menaikkan satu alisnya bingung. "Mengalah apa?"
"Nanti saat main golf."
"Wah, kau tidak perlu mengalah," Kyung-Hee menginterupsi. "Suzy benar-benar pintar bermain golf. Akan sangat menyenangkan baginya kalau memiliki teman main yang seimbang. Dia kadang suka menggerutu karena permainanku jelek." Kekehnya.
"Nah." Myungsoo menatap sang kakek dengan senyum puas yang mengembang. Baginya, mengalah pada orang lain benar-benar hal yang tak dia suka. Dia terlahir ambisius dan sempurna, baginya berusaha semaksimal mungkin adalah hal yang utama.
Sang kakek langsung menggerutu ditempatnya. "Tetap saja, simpan sikap egoismu. Kau harus berhasil menjadi kekasih Suzy."
"Kakek."
"Lin, cucuku satu ini benar-benar sulit didekati. Mungkin karena dia terbiasa ikut denganku daripada pergi berteman dengan banyak orang. Jika Myungsoo berhasil menjadi temannya, kupikir itu sudah satu langkah baik. Aku tidak ingin memaksa Suzy." Ujar Kyung-Hee.
"Oh, tentu saja, Hee-yaa, aku juga tidak suka memaksa cucuku. Aku sangat mengerti anak muda jaman sekarang." Balas Kim Lin dengan senyum.
Pernyataan barusan membuat Myungsoo hampir tersedak dengan ludahnya sendiri saat mendengarnya.
Ya... jelas sekali kalau kakeknya adalah kakek yang tidak suka memaksa cucunya...
***
Bunyi "Klik!" suara pintu mobil berhasil dikunci otomatis dalam sekali tekan terdengar, Suzy lantas memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas putih besar miliknya. Pakaian kasual dengan atasan kaos polo dibalut dengan rok flare midi membuat wanita dengan garis mata seperti bulan sabit itu terlihat nampak cantik. Meskipun wajahnya masih menandakan bahwa ia baru saja sembuh dari sakit, namun semangatnya jelas masih terlihat. Dia sangat antusias hari ini.
Seorang pegawai menyapa ketika Suzy memasuki area. Dia balas tersenyum, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengontak nomor asisten sang nenek. Namun, satu pesan buru-buru masuk sebelum Suzy berhasil menelepon si asisten. Sebuah pesan dari Joo-Hyun.
Suzy mengernyitkan dahi membuat kedua alisnya menyatu.
Joo-Hyun: Kau dimana?
Suzy: Di luar.
Joo-Hyun: Dimana? Aku akan menyusulmu.
Suzy: aku sedang bermain golf. Nanti kuhubungi lagi.
Tanpa menunggu balasan sang kakak, Suzy langsung mencari nomor panggilan terakhir dan mendialnya. Tak butuh waktu lama sampai panggilan itu diangkat.
"Oh, kalian dimana?"
***
"Kyung-Hee banyak cerita tentangmu." Ucap ramah seorang pria baya yang Suzy ketahui bernama Kim Lin. Mereka sedang istirahat sejenak dari permainan golf yang—well, menurut Suzy lumayan menyenangkan karena dia menemukan lawan yang imbang.
Suzy hampir tak percaya bahwa pria di sebelah Kim Lin itu lumayan juga dalam permainannya tadi. Permainannya keren, terlihat natural dan tidak terkesan sok jago. Begitu juga Myungsoo yang berpikir kalau cucu dari teman kakeknya itu benar-benar terlihat sangat... luar biasa.
Pada dasarnya mungkin siapapun bisa bermain golf. Namun, tidak banyak yang sepertinya bisa menyatu pada permainan tersebut. Dan Myungsoo baru kali ini melihat bagaimana seorang wanita dapat dengan indahnya memukul bola. Dia hanya terlihat cantik sekaligus seksi dalam waktu bersamaan. Tak dibuat-buat.
Myungsoo menatap seseorang yang kini sedang tersenyum—namun sekaligus terlihat tidak berminat dengan suasana yang terjadi saat ini. Persis sama sepertinya. Tapi, jelas bahwa fakta kalau wanita itu datang ke sini tanpa paksaan.
"Nenekku juga sering bercerita kalau dia mempunyai sahabat laki-laki yang baik dan bisa diandalkan." Ucap Suzy dengan mengulas senyum.
Kim Lin tersenyum lebar. "Aku memang bisa diandalkan. Dan itu menurun pas kepada cucuku, Myungsoo." Ucapnya seraya menepuk pundak Myungsoo dengan perasaan bangga, seolah menunjukan kalau yang ia ucapkan adalah sebuah bentuk prestasi yang membanggakan. "jadi, Suzy, kau bisa mengandalkan Myungsoo kapanpun. Apalagi Myungsoo sangat setia."
"Kakek." Myungsoo menegur mencoba untuk tidak terpancing. Astaga, lagi-lagi Kim Lin "menjual"-nya.
"Apa? Aku kan mengatakan hal yang sebenarnya." Kim Lin mengerutkan dahi.
Suzy tersenyum. "Omong-omong, aku sangat menyukai bermain game Hinata School." Ia menginfokan kepada Myungsoo.
Hal itu sontak membuat Myungsoo tak menyangka, Suzy seperti bukan tipe wanita yang menghabiskan waktu untuk bermain game—tentu saja, meskipun jelas setiap orang mempunyai me time-nya tersendiri, namun Myungsoo lebih yakin kalau itu adalah berbelanja (melihat bagaimana penampilan Suzy yang trendi).
"Kau harus tahu Suzy lebih memilih memainkan game itu dibandingkan pergi berkencan." Satu info yang bersifat pribadi keluar dari mulut Kyung-Hee.
"Wah, kalau kau dengan Myungsoo, kau bisa meminta dibuatkan game apapun, nak." Kakek Lin berkata dengan semangat yang menggebu.
Suzy mengamati Myungsoo. Dia jelas butuh seseorang untuk dijadikan tempat berlindung, seseorang yang mempunyai kuasa yang tinggi yang bisa melindunginya dan SUEZ, juga nenek. Dan yang terpenting, Myungsoo adalah kandidat terkuat yang ingin diinginkan oleh ibunya untuk dijadikan jodoh sang kakak. Suzy bahkan sempat berpikir kalau kakaknya juga menyukai Myungsoo saat itu, makanya saat tahu ternyata dia dan suaminya—atau sekarang tak bisa disebut suami lagi—melakukan affairs, Suzy benar-benar terkejut.
"Aku tidak yakin kalau Myungsoo mau mengabulkan itu." Suzy terkekeh.
"Tentu saja Myungsoo mau, iyakan, nak?"
"Kakek, membuat game tidak semudah itu." Myungsoo menjelaskan.
"Siapa juga yang bilang mudah." Kim Lin menggerutu. Kemudian matanya menatap Kyung-Hee, lalu bicara. "Hee-yaa, bukankah kau tadi ingin berdiskusi?"
"Diskusi apa?"
"Yang tadi," kata Kim Lin. "ayo, kita pindah ke sana." Tunjuknya kemudian.
Kyung-Hee mengerutkan dahi, namun dia jelas memahami maksud dan tujuan Kim Lin barusan. Karena dia teman yang baik, akhirnya ia memilih untuk menuruti permainan. Bangkit berdiri, Kyung-Hee lantas ikut melangkah di belakang Kim Lin.
Suzy dan Myungsoo menatap kepergian kedua orang itu dengan pandangan dan pikiran yang sama. Sesaat keheningan mendominasi, well, karena sejak tadi pun yang sangat aktif bicara adalah Kim Lin. Bukannya kedua orang ini.
Tapi, ini merupakan momen yang baik. Suzy jelas tak mau menunda-nunda, dia harus dengan cepat melakukan pembalasan—atau setidaknya, menyelamatkan yang bisa diselamatkan.
"Kau punya pacar?"
Pertanyaan yang tidak masuk akal dan tidak bisa diprediksi sebelumnya. Pupil mata Myungsoo membesar, ditatapnya Suzy dengan pandangan aneh yang sarat akan keheranan. Namun, dia tetap mengikuti arah permainan.
Dua tangan yang terlipat di depan dada itu mengurai, menggunakan tangan kanannya, ia mengambil minuman dalam gelasnya dan membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya. "Aku tidak tertarik. Lagipula, perempuan-perempuan itu berubah menjadi cerewet dan menyebalkan, mengganggu pekerjaan saja."
Suzy memandang lurus. "Aku punya penawaran."
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita berpacaran?"
Raut wajah Myungsoo yang seperti ingin tertawa namun sekaligus bingung itu terekam jelas dalam pandangan Suzy. Wanita itu benar-benar malu, dia tidak pernah berkata begini, namun ini adalah keperluan yang sangat mendesak. Karena itu, disingkirkannya terlebih dahulu perasaan malu itu sementara.
Myungsoo tahu kalau diam-diam kakeknya menatap ke arah sini dengan pandangan super penasaran. Jika bisa, mungkin Kim Lin akan mengerahkan kemampuannya dalam membaca bibir dan ekspresi agar dia bisa mengetahui obrolan apa yang sekarang sedang terjadi.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik."
"Anggap saja kita sedang bermain game. Bagaimana?" Suzy tetap mencoba.
"Bermain game?"
"Ya. Seperti game The Sims."
"Tujuannya?" Myungsoo mengangkat alis.
"Pernikahan."
"Apa?" kali ini Myungsoo benar-benar tak bisa untuk tidak tertawa. Dia akan mengoreksi pendapatnya mengenai Suzy tadi. Wanita itu sepertinya sudah gila.
"Kau mungkin berpikir aku gila. Tapi, aku serius. Kita bisa melakukan pernikahan palsu. Sebagai imbalan, aku akan memberitahumu jenis game seperti apa yang diminati satu sampai dua tahun kedepan." Suzy memberikan sebuah penawaran telak, penawaran yang jelas tidak dapat ditolak begitu saja.
Tentu saja Suzy sudah tahu. Dalam dua tahun perusahaan pesaing Myungsoo akan menjalankan game baru yang membuat semua orang di dunia mencobanya. Permainan game yang akan merubah dunia, membuat jalan raya—hingga gang kecil di padati oleh orang-orang yang bermain game sejenis AR Adventure & online RPG. Jadi jelas, kalau perusahaan Myungsoo bisa membuat game sejenis itu lebih dulu, bisa dipastikan market berubah, dan masa depan berubah.
Myungsoo menatap penuh antisipasi. "Game seperti apa?"
"Akan kujawab jika kau menerima tawaranku."
"Bagaimana aku bisa memercayai ucapanmu?" Myungsoo melempar pertanyaan.
Suzy tersenyum, mengedikkan bahu. "Anggap saja aku seperti salah satu pegawai yang paling kau percaya. Aku tidak akan menyesatkanmu, aku bisa jamin itu."
***
Vote & comment👁,👁
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co