Bab satu
BAB SATU
WANITA itu terbangun dengan mendapati dokter dan beberapa perawat yang mengelilingi, mereka tersenyum ramah ketika menyadari kalau pasiennya sudah sadar.
Tunggu—bukankah aku harusnya sudah berada di dalam tanah dan mendapati kakak dan suamiku sedang tersenyum senang di pemakamanku? Kenapa aku malah ada di rumah sakit dan—
"Nona Suzy, akhirnya anda bangun juga!"
Kening Suzy mengernyit. Ditatapnya sang dokter dengan pandangan bingung, kemudian beralih menatap selang infus yang menusuk salah satu tangan, lalu bergerak lahap mengitari sekeliling. Kepalanya mendadak kembali pusing. Sepanjang ingatan terakhirnya, dia jelas sudah mati sia-sia karena tertabrak saat hendak menyebrang jalan. Lalu, kenapa dia ada di sini dengan kondisi yang—bisa dibilang—lumayan sehat? Kakinya tidak ada lecet sedikitpun, tangan kecil itu bergerak memegangi kepalanya dan tidak menemukan perban yang menempel di sana. Keadaan ini jelas sangat membingungkan baginya. Sepasang mata itu kemudian kembali mengitari ruangan dan menemukan kalender yang menggantung di dekat tempatnya terbaring. 12 Desember 2020. Bukankah ini 2022? Kenapa bisa...
"Sayangku!"
Belum juga dia berhasil, sebuah suara terdengar memanggil. Suzy tahu itu milik siapa.
Mataku kemudian menatap seseorang yang melangkah mendekat dengan wajah paniknya ke arahku, dia mendesah lega lalu membawaku ke dalam pelukan. "Kau tidak apa-apa? Aku langsung terbang kembali saat tahu adik kesayanganku masuk rumah sakit. Bagaimana bisa kau melewatkan makan pagi dan siang?"
Tidak salah lagi, Suzy yakin sekali kalau ini adalah kejadian tahun lalu yang pernah dialaminya. Jadi, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu? Masa di mana dia belum menjadi seorang istri? Dan sang kakek yang belum meninggal. Apakah ia sedang diberikan kesempatan kedua oleh semesta untuk membalaskan dendamnya kepada orang-orang Jahat itu? Kepada Kakak dan Ibu?
"Suzy?"
Suzy mengerjap, pandangannya bertemu dengan manik mata cokelat milik Bae Joo-Hyun yang sangat cantik. Kalau dulu Suzy sangat terpesona dengan sepasang manik mata milik sang kakak karena indah tapi juga mengintimidasi, namun sekarang Suzy jadi lebih sadar kalau ternyata tatapan itu bukan tatapan mengintimidasi biasa, tatapan itu adalah milik asli sang kakak. Bukan tatapan yang sekarang ditunjukan kepadanya ini—tatapan penuh kekhawatiran.
Dengan mengulas senyum artifisial, Suzy menjawab. "Aku tidak sempat mampir ke mini market tadi."
"Karena itulah aku menyuruhmu untuk makan di rumah. Apa aku perlu menyuruh salah satu koki untuk memasakan makanan untukmu?"
Dia jelas tahu kalau aku tidak suka makan masakan orang lain...
"Tidak perlu." Suzy mengulas senyumnya sekali lagi.
Joo-Hyun menatap Suzy lamat-lamat, kemudian menepuk sekali lagi sebelum ia bangkit. "Apa yang kau inginkan? Aku akan menyuruh asistenku untuk membawakannya untukmu."
"Tidak ada. Lagipula aku juga sudah boleh pulang."
"Baik, kalau begitu kau pulang bersamaku. Okay?" ucap Bae Joo-Hyun.
Suzy mengangguk.
"Suzy,"
Suzy menoleh kepada sang kakak. Dipaksanya segala macam pikiran yang saat ini hadir di kepala untuk menyingkir sebentar. Dia jelas tidak bisa berpikir matang sekarang, dia harus menyendiri di apartemennya agar bisa berpikir.
"Aku berencana mengakuisi SUEZ dengan BAE CORP. Bagaimana?"
Tepat. Ini adalah awal keserakahan sang kakak. Dahulu dia akan dengan cepat menuruti keinginan kakaknya karena dia amat sangat yakin dengan apa yang Bae Joo-Hyun katakan. Meskipun ia membenci karena sang ibu yang tidak pernah pro kepada dirinya, namun karena kakak adalah orang baik, dia akan selalu mengikuti apapun yang diinginkan sang kakak. Tapi, sekarang tentu saja tidak lagi.
Pendar amarah dimatanya coba ia tutup dan sembunyikan sebelum suaranya mengudara untuk merespons keinginan itu. "Kupikir itu bukan ide yang bagus, kak."
Suzy mengamati perbedaan raut wajah sang kakak diam-diam. Tapi, dia tetap menunggu bagaimana reaksi selanjutnya. Di ruangan ini hanya tinggal mereka berdua, jadi Bae Joo-Hyun jelas akan dengan mudah mengeluarkan tatapan mengintimidasi itu. Tatapan yang hanya ditunjukan kalau dia sedang tidak menyukai sesuatu hal karena tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Kenapa?" pertanyaan itu keluar dengan intonasi suara agak lebih tinggi dari sebelumnya.
"Entahlah," Suzy mengedikkan bahu. "SUEZ dan BAE CORP tidak memiliki visi yang sama. Perusahan itu bergerak dibidang yang berbeda, kak." Lanjutnya.
Kalau dipikir-pikir sekarang, bagaimana SUEZ akhirnya menuju kebangkrutan adalah karena usulan kakaknya ini. Dua perusahaan itu jelas berbeda, dan untuk meningkatkan biaya operasional sang kakak malah meminta adanya pemangkasan karyawan dan menyebabkan karyawan di PHK, digantinya komposisi bahan yang digunakan untuk membuat skincare SUEZ diganti dengan bahan-bahan berkualitas rendah. Sama seperti produk makanan BAE CORP.
BAE CORP adalah perusahaan milik keluarga Bae yang di dirikan oleh Ayah Suzy—Bae Jiwo. Sempat terjadinya krisis moneter dan menyebabkan beberapa keluarga mati kelaparan, hati Bae Jiwo tergerak untuk menyediakan makanan instan dengan harga relatif murah namun masih bisa mendapatkan untung. Bahkan, dulu, saat masih dalam pengawasan Bae Jiwo, BAE CORP perkembangannya lebih pesat lagi. Namun, setelah Bae Jiwo meninggal dan Perusahaan diambil alih oleh anak pertama mereka, segalanya mulai berubah. Banyak karyawan yang mengeluh, namun evaluasi tidak pernah didengarkan.
Berbeda dengan SUEZ adalah perusahaan induk milik Bae Kyung Hee—Nenek Suzy. Perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan itu didirikan ketika Suzy—cucu kedua Bae Kyung Hee berumur tiga tahun. Neneknya sering bercerita kalau nama SUEZ itu terinspirasi dari nama Suzy, karena cucunya itulah Bae Kyung Hee memiliki ide membuat brand kecantikan dengan didukung seratus persen oleh sang suami—kakek Suzy—akhirnya SUEZ berdiri. Meskipun tidak mengingat, namun Bae Kyung Hee selalu menceritakan dengan mata berbinar tiap alasan SUEZ didirikan. Neneknya bilang kalau dulu Suzy suka sekali memakai make up dan segala hal di wajahnya. Namun karena kulit Suzy masih kecil dan sensitif, akhirnya muncul kemerahan dan sempat dilarikan ke dokter. Tapi, namanya juga anak kecil, Suzy kecil tetap mengulang hal itu. Akhirnya sang nenek turun tangan dan meminta salah satu tim farmasi andalan untuk meracik makeup product yang kids friendly. Dan akhirnya SUEZ ada sampai hari ini. SUEZ yang diperuntukkan untuk Suzy. Hanya untuk cucunya yang itu.
Bae Joo-Hyun jelas iri setengah mati karena yang menjadi cucu kesayangan adalah sang adik, bukan dirinya. Dan yang mendapatkan SUEZ adalah Suzy, bukan dirinya. Ia selalu merasa kalau nenek dan kakeknya pilih kasih padanya, padahal dia adalah kakak. Dia adalah cucu pertama dua orang tua tersebut. Karena itu, sebisa mungkin—dengan menggunakan segala cara, dia harus bisa merebut SUEZ dari Suzy. Tapi... jawaban Suzy barusan jelas diluar prediksinya.
Kemana Suzy yang penurut?
"Kupikir kau masih belum sembuh, Suz. Kita bicarakan ini lagi nanti. Okay?" Bae Joo-Hyun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Suzy.
Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi sebenarnya. Aku sudah tegas dengan jawabanku yang satu ini... batin Suzy.
***
Tahun 2021 adalah pernikahanya dengan Daniel akibat perjodohan yang dilakukan Bae Joo-Hyun, keributan besar dengan keluarga Daniel karena Suzy sampai keguguran dan berakibat dilarangnya Suzy untuk melakukan aktivitas sebagai wanita karir. Pertengahan tahun 2021 Suzy mengalami depresi hebat dan KDRT tiap kali Daniel kalah bermain judi online. Tahun 2022 adalah tahun dimana keterpurukan datang. Perusahaan SUEZ yang diambil alih sang kakak menjadi bangkrut, Daniel si paling problematik yang ternyata memiliki banyak hutang, dia juga berselingkuh dengan kakaknya sendiri. Suzy menegang tiap membayangkan masa-masa sulit. Kejadian itu seperti mimpi, namun tiap kali dia menatap punggungnya yang terdapat bekas luka bakar akibat Daniel dulu, Suzy langsung yakin kalau ini bukan mimpi. Dia mungkin ada di sini sekarang untuk memperbaiki semuanya. Dia diberikan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan mendapatkan waktu lebih lama mengurus neneknya.
Nenek... tubuh Suzy langsung bangkit seketika, diambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas lalu segera mengontak nomor asisten sang nenek.
Tak butuh waktu lama untuk panggilan itu dijawab.
"Halo, Joh? Nenek dimana?" tanya Suzy tanpa babibu.
"Ibu Kyung-Hee sedang ada acara makan bersama."
Suzy melengos. "Kapan selesai?"
"Mungkin 30 menit sampai 1 jam lagi, nona. Ada hal yang ingin dibicarakan?"
"Tidak, aku tiba-tiba merindukan nenekku. Kalau aku ke sana, apakah tidak masalah?"
"Kau ingin kutanyakan langsung dengan Bu Kyung-Hee? Karena setelah ini mereka akan pindah lokasi untuk bermain golf. Bu Kyung-Hee berencana untuk mengajak anda, namun karena anda baru saja keluar dari rumah sakit makanya rencana itu tidak jadi."
"Katakan pada nenek aku akan ikut!"
"Ya?"
"Tolong kirimkan alamatnya, aku akan kesana."
"Baiklah akan aku sampaikan."
Suzy tersenyum senang. Jika dulu dia lebih memilih menjadi wanita yang sibuk dengan pekerjaannya hingga enggan menghabiskan waktu menemani sang nenek pergi bersama rekan-rekan bisnisnya—Suzy tahu kalau acara itu dibuat sebagai ajang perjodohan—namun sekarang dia akan menurut. Dia ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama neneknya, walaupun neneknya jelas bangga dengan pencapaian SUEZ sekarang, namun kebersamaan mereka jelas akan membuat sang nenek lebih bahagia. Well, semakin bertambah umur ada hal-hal sepele yang ternyata kehadirannya semakin dirindukan. Untuk duduk bersama di satu meja makan saja rasanya sudah sangat sulit, ternyata menjadi dewasa memang tidak semenyenangkan itu...
***
VOTE AND KOMEN:*
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co