bickering.
———
law sedang mengepel ruang keluarga ketika kid membuka pintu depan.
langsung paham, pemilik surai merah eksentrik itu meletakkan sandalnya di rak sepatu luar sebelum berjingkat-jingkat dari ruang tamu menuju ruang keluarga.
ia dengan hati-hati melewati law yang berjalan mundur, lalu menghempaskan dirinya ke sofa sambil menghela napas lega.
kid memejamkan mata dan mengangkat kakinya untuk bertumpu pada meja kaca di depan sofa sampai,
"kaki."
teguran itu membuat manik merahnya kembali terbuka dan ia menemukan lelaki bersurai kelam itu berdiri dengan kain pel di dekatnya.
oh.
tanpa banyak bicara, kid memindahkan kakinya ke atas sofa dan membiarkan teman serumahnya itu mengepel celah antara sofa dan meja kaca.
ia kemudian meraih bagian bawah kausnya dan menariknya melewati kepalanya. tubuhnya terasa sangat lengket setelah seharian bekerja.
di saat yang sama, law—yang sedikit menunduk—tanpa sengaja melihat noda putih kering di bagian atas jeansnya.
noda yang terlalu familiar itu membuat law berdecak pelan.
"lu beneran suka ngocok di bengkel, ya?"
kid mengangkat alisnya, lalu mengikuti arah tatapan lelaki bersurai kelam itu.
sudut bibirnya terangkat begitu ia menemukan sesuatu yang dimaksud.
"ada customer yang nawarin sepong di toilet belakang. katanya gak biasa nelen, jadi ada yang netes ke celana."
jawaban tak terduga itu membuat law mengerutkan keningnya dengan jijik. "jorok, anjing. kayak gak ada tempat lain aja."
kid tertawa terbahak-bahak. "justru lebih menantang di tempat umum kayak gitu. pintu gak dikunci, kalo karyawan gua dateng tinggal digilir."
hal itu jelas bertentangan dengan prinsip law.
alih-alih berhubungan seks di sembarang tempat, ia selalu memastikan dirinya dan partner seksnya berada di tempat yang nyaman dan bersih.
ia tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti ia harus melakukannya di—
"besok sorean aja, ya. senin bengkel rame," celetuk kid tiba-tiba.
hah?
kalimat itu membuat law menaikkan alisnya bingung.
"besok ngentotnya sorean aja, ya. senin bengkel rame," ulang si kepala merah, mengoreksi kalimatnya.
mendengar itu, alis law menukik marah dan hasratnya untuk memukul kid dengan kain pel meroket.
ia benar-benar tidak ingin membahasnya di luar tanggal enam, tapi kid selalu menemukan cara untuk menyelipkan topik itu ke dalam percakapan mereka—hanya untuk menggodanya.
ia bahkan tidak yakin kid bisa tutup mulut dan tidak menyebarkan rahasianya seenaknya.
pada titik ini, law hanya bisa bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
tepat ketika pemilik surai kelam itu mengangkat kain pelnya, kid buru-buru bangkit dari sofa dengan kaus di bahunya. ia diam-diam meremas pantat law sekilas sebelum berlari secepat kilat menuju kamarnya. "see you tomorrow, traffy!"
"BRENGSEK!"
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co