Truyen3h.Co

Lili

01

authoriya




Lili tahu jika usahanya kali ini mungkin akan berbuah kesia-siaan. Kedua matanya menatap nanar pada pintu gerbang yang mulai bergerak menutup lewat gerakan slow motion oleh satpam sekolahnya itu dengan tak rela. Dia kembali melirik arloji coklat yang melingkari tangan kanannya sekilas, lalu segera mengambil ancang-ancang untuk mempercepat langkahnya. Tekadnya sudah bulat untuk tidak akan membiarkan satu coretan merusak cita-citanya menjadi salah satu Sriwijayans—sebutan khusus anak-anak SMA Sriwijaya—yang berhasil  mencetak rekor tanpa telat selama tiga tahun. Ya meskipun ini baru berjalan satu tahun lewat tiga bulan, tapi Lili tetap bersemangat.

            "Pak, tungguin saya! jangan ditutup dulu gerbangnya!" teriak Lili ketika jarak antara gerbang sekolah dan dirinya tinggal lima langkah lagi. Napasnya tersenggal, kedua tangan Lili berada menangkup lutut dan mengeluarkan suara terengah yang memprihatinkan.

Pak Hamid, satpam sekolah yang sudah satu tahun lewat tiga bulan menjadi tempat Lili menuntut ilmu itu memandangnya dengan tersenyum kecil, lalu membiarkan Lili untuk masuk ke dalam sekolah melewati pintu gerbang yang hanya tersisa sedikit lagi sebelum tertutup itu.

Tak bisa menyembunyikan napas leganya, Lili membawa punggung tangannya mengelap dahi dengan men-tap-tap-nya pelan. Menarik napas sekali lagi, kemudian kembali melangkah menuju koridor kelasnya.

Seharusnya, hari ini juga seperti biasa dia berangkat bersama Nu ke sekolah. Namun, semalam Nu tiba-tiba mengiriminya sebuah pesan singkat daring dan mengatakan kalau cowok itu tidak bisa menjemputnya karena adik tiri Nu yang tiba kemarin sore dari Jakarta—yang Nu bilang akan tinggal bersama keluarganya di Palembang—mulai bergabung menjadi Sriwijayans juga hari ini.

Sepanjang Lili mengenal Nu, rasanya hanya sekali Nu bercerita mengenai adik sambung cowok itu kepadanya, karena itu Lili sama sekali tidak tahu menahu siapa dan bagaimana rupa saudara Nu itu. Selain karena Lili tidak ingin terlalu terlihat mencampuri urusan keluarga orang, Lili juga tidak ingin jika Nu menganggapnya menyebalkan. Tidak akan pernah dia membiarkan hal itu terjadi.

            "Li!"

Seruan dari kejauhan jarak di depan Lili membuat cewek itu menatap ke sumbernya. Pandangan Lili lurus ke depan, yang kini meraup fokus pada cowok berkacamata yang keluar dari arena koridor loker di samping tangga menuju lantai dua gedung sedang melambaikan tangan kearahnya dengan sebuah buku menggulung dalam genggaman. Senyuman lebar Lili langsung terbit, tanpa menunggu lama lagi cewek itu langsung berlari menghampiri Nu yang masih berdiri di tempatnya.

            "Kok belum ke kelas?" tanya Nu, kemudian menggeser kepala ke kiri untuk menatap ke belakang Lili, lantas mengernyit. "Lo terlambat?"

Melihat ringisan Lili sebagai jawaban, Nu menggelengkan kepala pelan. Kebiasaan lama cewek itu pasti terulang lagi, Nu sangat yakin akan praduganya. Cowok itu membenarkan letak kacamatanya sebentar, kemudian mengajak Lili untuk naik ke lantai dua.

            "Gue salah naik bus tadi."

            "Udah nebak." Jawab Nu santai. Matanya melirik ke samping bawah dan tersenyum kecil ketika melihat wajah cemberut Lili.

Nu merasa jika Lili benar-benar moodbooster-nya sekarang, setelah sepagian ini darah yang mendidih hampir meletus karena adik sambungnya yang pindah ke SMA Sriwijaya membuatnya snewen—alih-alih meneruskan studi-nya sebagai murid Jakarta. Nu tidak mampu menolak, karena ayah yang baik kepadanya dan selalu memberikan apapun kebutuhan Nu bahkan tanpa dia minta sebelumnya. Nu bahkan merasa kalau dia memiliki seorang ayah lagi setelah kepergian sang ayah sejak dia masih berumur lima tahun. Namun, sudah lima tahun terlewati, dan jarak antara Nu dan adik tirinya—yang kebetulan seumuran itu—tidak kunjung mendapat titik terangnya juga. Nu sudah sekuat tenaga mencoba berteman, tetapi berakhir dengan dirinya yang diabaikan.

            "Ng, Nu?"

Nu menoleh sedikit agak menunduk memerhatikan Lili dengan pandangan bertanya. Kedua tangan Nu sibuk memainkan buku yang diambilnya dari dalam loker tadi untuk pelajaran pertama; Kimia.

            "Omong-omong, saudara lo kok nggak keliatan? Udah ke kelas?" tanya Lili hati-hati. Kepala Lili menoleh ke segala sudut mencari sosok asing yang siapa tahu adalah saudara Nu. Namun, Lili tidak menemukan siapapun di sana.

            "Lagi di Kesiswaan," jawab Nu sambil membalas tatapan Lili sesaat, sebelum cowok itu membawa pandangannya kembali ke depan. Keduanya kini berjalan menaiki anak tangga satu persatu. "Kayaknya Fajir masuk di kelas yang sama kayak elo deh, Li."

Tubuh Lili tersentak, langkahnya berhenti dan dia menatap kaku pada Nu yang kini sudah melangkah pada undakan tangga selanjutnya. Meninggalkannya.

Seolah menyadari bahwa Lili tertinggal dibawahnya, Nu langsung menoleh kaget, "Li, kenapa?"

            "Siapa...?"

Nu mengernyitkan dahi. "Siapa apanya?"

            "Nama adek tiri lo."

            "Fajir?" Nu memberikan sebuah jawaban yang malah terdengar seperti sebuah pertanyaan lain. Ditatapnya Lili dengan pandangan bingung, dan Nu melangkah menuruni tangga mengikis jarak untuk menyejajarkan posisi dengan temannya itu dengan air muka bingungnya karena Nu sama sekali tidak bisa menebak wajah pucat pasi di depannya kini.

Embusan angin yang turut membisiki Lili untuk segera tersadar. Lili menggeleng tak kentara bersama kedua matanya mengerjap dua kali. Dalam hati, Lili terus merepal bahwa itu hanyalah persamaan nama. Bahwa nama itu bukan hanya di miliki oleh seseorang dari masalalu-nya saja. Dan ironisnya, Lili bahkan masih bereaksi sama tiap kali apapun dari masa lalu diungkit.

Lili tak bisa melupakan. Karena, suara tawa ejekan, bullyan, makian, bahkan bau amis dari telur yang dipecahkan di kepalanya dulu masih seperti nyanyian elegi di pikiran Lili. Sebuah nyanyian kesedihan, yang sepertinya akan tertanam di otaknya untuk selama-lamanya.

Kembali,  Lili menggeleng. Sambil mengencangi ikat rambutnya ketika sampai di depan pintu kelasnya, langkah Nu dan Lili berhenti. Kedua tangan Li memegangi ujung tali ranselnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. "Ya udah gue masuk dulu."

Nu mengangguk. Dia melambaikan tangan sembari kepada Lili sesaat, lalu berbalik melangkah melewati jembatan penghubung menuju gedung IPA. Dimana lokasi kelasnya berada.

Di SMA Sriwijaya, gedung sekolah dipisahkan per-jurusan dan per-angkatan yang dihubungkan dengan jembatan layang antara jurusan IPA dan IPS-nya. Sistem ini ditujukan agar tidak terjadi kesenjangan sosial karena merasa di kucilkan atau di anak emaskan. Juga, lantai yang digunakan sebagai tempat belajar mengajar hanya pada lantai dua saja—karena pada lantai satu hanya berupa dinding tebal yang mengitari loker untuk anak kelas sebelas IPA dan IPS, bukan untuk yang lainnya. Memang sedikit unik, tetapi semua orang di Kota Pempek ini bahkan tahu, kalau siapa saja akan rela menyikut untuk mendapatkan bangku dan kunci loker di SMA tersohor dengan segudang prestasi membanggakan yang ditoreh Sriwijayans ini.

Lili meletakkan tasnya dibelakang kursinya dan mengeluarkan buku pelajaran pertama. Plus, tisu wajah dan segera mengelap wajahnya yang masih pagi sudah berkeringat seperti ini. Lili benar-benar berjanji sepenuh hati, bahwa dia tidak akan salah menaiki bus lagi. Karena telat sangat membuat ion di tubuhnya mengurang, bahkan Lili merasa tadi degup jantungnya benar-benar tak karuan karena memikirkan praduga-praduga aneh yang sempat menggelayutinya. Cewek itu kemudian menghempaskan kepalanya di atas buku tebal di atas meja, dan menoleh menatap teman sebangkunya yang nampak berkonsentrasi penuh dengan buku di atas mejanya.

            "Lo ngapain?" Lili mengeluarkan pertanyaannya untuk teman sebangkunya, Niken.

Cewek berambut lurus sebahu dengan bandana biru di kepalanya itu menoleh dan menyunggingkan senyuman lebar. "Eh!" Niken segera menutup bukunya, memusatkan pandangan pada Lili seraya berujar, "Gue kira lo telat. Tadi gue mau chat elo, Li. Tapi, langsung keinget kalo nggak ada kuota."

            "Gue hampir telat sih, tapi untung Pak Hamid belum selesai nutup gerbangnya jadi bisa masuk."

Niken tersenyum. "Syukur deh."

            "Lo ngapain? Emang kita ada PR ya?" tanya Lili, seingatnya hari ini adalah hari bebas tugas karena semalam dia bahkan memusatkan perhatiannya penuh pada rubik yang baru dibelinya minggu lalu.

            Jika hari ini ada PR dan Lili melupakannya—apalagi kalau itu di Mata Pelajaran Bu Yun—bisa dijamin bahwa dia akan kena siraman rohani di tengah lapangan. Karena guru Ekonominya itu bahkan tidak memandang gender dalam hukum-menghukum murid yang tidak mengerjakan tugas darinya.

Oh gawat!

            "Nggak kok, gue lagi ngerjain soal aja iseng karena nggak ada kerjaan tadi."

Phew...

            Lili langsung mengucap syukur serta mengembuskan napas leganya keras-keras. Rasa capek karena berlari tadi bahkan masih dirasakan oleh cewek itu, dan nggak lucu sama sekali jika Lili harus memutar otak mengerjakan tugas di Buku Besar yang banyaknya pasti seperti sedang berusaha mengajak berantem itu.

            Melihat wajah nelangsa dan memprihatinkan Lili membuat Niken mau tak mau tertawa renyah. "Lo kenapa sampe kayak gini bentukannya? Emang nggak bareng Nu?"

            Lili menggeleng, "Nggak, soalnya Nu berangkat sama adiknya."

            "Adik?"

            Lili mengangguk. Dikeluarkannya HP dari dalam kantong rok-nya dan membawa benda elektronik itu masuk ke dalam kolong meja.

            Niken memang teman baiknya di SMA Sriwijaya selain Nu, dan Niken juga mengenal Nu, tetapi bukan hak Lili untuk menceritakan kronologis bagaimana Nu tiba-tiba memiliki adik—yang seumuran pula.

            Dan oleh sebab itu, Lili hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Kening Niken masih mengernyit bingung karena jelas tanda tanya di kepalanya masih belum terjawab. Ketika sebuah pertanyaan hendak dilempar Niken untuk Lili kembali, namun tertelan saat suara langkah kaki terdengar. Mendadak, obrolan keduanya lantas terhenti dan anak-anak yang berada di luar kelas langsung berlari masuk ketika melihat Bu Yun—guru ekonomi—melangkah masuk dengan tumpukan buku di tangan.

            "Ares, Dipo, kau bedua ni dak jingok ku masok? Kelakar bae kalian!"

Suara Bu Yun mampu membuat duo biang ribut di kelas XI S1 langsung memberi kartu kuning pertamanya pagi ini kepada dua cowok jangkung yang keberadaannya selalu membuat sebagian besar Sriwijayans kaum adam ikut terbawa arus. Bukan ke arus yang lebih baik, tetapi justru sebaliknya.

Ares dan Dipo bagai dua sekutu yang saling bahu-membahu untuk membuat guru-guru di SMA Sriwijaya naik darah. Keduanya memang terkenal biang ribut sejak kelas sepuluh—padahal saat itu jelas penjuruan belum berlaku. Dan, ketika minat dan bakat disatukan, pada pemilihan jurusan di kelas sebelas kemarin akhirnya dengan penuh pertimbangan si plontos dan si rambut gondrong itu disatukan. Menurut Waka Kesiswaan yang di-aminkan oleh kepala sekolah, adalah alternatif yang dirasa pas memasukkan kedua cowok itu ke dalam satu ruangan dengan alasan agar lebih mudah di pantau. Juga, dengan penempatan Bu Yun sebagai wali kelas S1, yang akan terus berlanjut hingga kelulusan.

"Dipo, kembali ke tempatmu!" titah Bu Yun sambil menggeleng-geleng kepala. Perempuan tambun dengan jilbab 'anti badai'—menurut Sriwijayans—itu menarik napas. Tempramennya selalu diuji setiap kali masuk ke kelas ini. Dan jelas saja, si penguji adalah orang yang itu-itu saja. Dan jika tak salah menebak, kemungkinan besar wajah baru penghuni kelas XI S1 itu akan masuk ke daftar baru menjadi penguji kesabaran Bu Yun di kelas ini. Padahal jelas, Bu Yun sempat berdebat panjang dengan menolak keras tambahan murid baru di kelasnya. Namun guru tambun itu hanya bisa pasrah karena kuota kelas saingannya sudah melebihi limit. Mata dibalik lensa plus itu menyipit, "Kenapa rambutmu belum di cukur? Ibu tidak suka melihat laki-laki memakai bando seperti itu."

"Wah, kalau saya cukur rambut saya nggak bisa pamer dong Bu," jawab Dipo dengan kalem.

"Apa?"

"Karena cuman Sriwijayans yang pintar yang bisa tenang berambut gondrong keliaran di sekolah gini. Bangga saya, Bu." Tukasnya dengan nada bangga.

Membuat Bu Yun lagi-lagi hanya bungkam menahan kesal. Jika bukan karena peraturan aneh di Sriwijaya ini, rasanya Bu Yun akan langsung turun tangan menggunting rambut Dipo sampai tumbang seperti milik Ares. Di Sriwijaya, ada peraturan unik yang membiarkan anak-anak dengan nilai tinggi dan memiliki peringkat lima besar di kelas dapat memiliki akses rambut gondrong di sekolah—khusus murid cowok—dan tentu saja, kesempatan itu dimanfaatkan Dipo dengan sebijak-bijaknya.

Karenanya, tidak ada guru yang menegur Dipo walaupun rambutnya jelas hampir menyentuh bahu. Sedangkan, berbeda dengan Dipo, Ares yang memang selalu bergaya rambut berpotongan polisi itu tidak pernah berambisi untuk masuk ke lima besar seperti Dipo. Jika ditanya, Ares dengan lantang menjawab, "Kalau gue gondrong kayak Dipo, ntar guru-guru ngasih julukan upin-ipin untuk kita berdua. Makanya gue lebih suka plontos begini!"

Jantung Lili terpompa cepat ketika melihat ada sepatu di balik daun pintu yang terbuka di kelasnya. Seketika, ucapan Nu tentang adiknya yang akan sekelas dengan Lili langsung mendapat pembenaran. Dan entah kenapa, mendengar nama cowok di masalalu Lili itu disebut Nu, mau tak mau membuat Lili berprasangka buruk.

Padahal jelas, jika yang memiliki nama itu bukan hanya seorang. Dan jelas, murid transferan dari Jakarta bukan cuma sekali ini. Bahkan, Lili pun dulu pernah menjadi murid transferan dari Jakarta ke Palembang.

Tapi masalahnya, nama dan lokasi awal anak baru ini yang sama dengan si...

"Kalian akan memiliki teman baru." Bu Yun memulai omongannya, tubuhnya miring seraya berkata kepada siapapun dia yang masih menunggu diluar, "Ayo, kau masuk dan perkenalkan diri."

Seperti efek slow motion dalam sebuah film drama, suasana kelas mendadak semakin hening. Lili menggigit bibir bawahnya mengikuti segala perubahan yang tercipta. Dan Lili mendapati napasnya semakin tercekat ketika melihat siapa yang sejak tadi berdiri di balik daun pintu yang terbuka itu.

Yang kini, memunculkan cowok dengan seragam Sriwijayans, potongan rambut yang terlihat pas, wajah yang sama seperti yang dikenal Lili dulu. Semua yang sama, yang tanpa sadar membuat kedua tangan Lili mengepal diatas paha. Pandangannya tertuju pada cowok bertubuh tinggi yang kini sudah berdiri di depan membelakangi papan tulis—dengan satu tali tas ransel yang menggantung di bahu kanannya—sedang menatap ke depan dengan pandangan dingin dan tajam, dan mulai memperkenalkan diri dengan nama yang sama seperti cowok yang selalu menghantui Lili sejak dulu...

"Alfajir sanjaya. Panggil aja Fajir. Dari Jakarta."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co