02
"Nggak, dia nggak akan ngenalin gue! Iya, nggak akan!" Lili terus menggumamkan kalimat yang sama sejak dia memasuki kawasan tempat wudhu di dalam musola sekolah. Langkahnya mondar-mandir tak tenang dengan kedua tangan yang saling meremas satu sama lain dan sesekali menggigit bibir bawahnya. Khas Lili kalau cewek itu sedang merasa tertekan.
Kedatangan Fajir di sekolahnya sebagai murid baru benar-benar seperti malapetaka buat Lili. Karena menurutnya, Fajir adalah sebuah elegi yang siap menyanyikan lagu kesedihan sepanjang pijakan dalam hidupnya, dan Lili sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Sejujurnya.
Ketakutan Lili semakin menjadi saat tanpa sengaja tatapan mereka bersibobrok saat cowok itu hendak keluar kelas bersama Ares dan Dipo-yang sepertinya kedua cowok itu telah menemukan personil mereka yang hilang, karena secara kebetulan kursi di sebelah Dipo yang dibiarkan kosong selama tiga bulan itu diisi oleh Fajir, dan cowok berambut gondrong itu membiarkannya, padahal semua penghuni kelas juga tahu jika Dipo tidak pernah membiarkan siapapun duduk disana, bahkan Ares sekalipun.
"Kenapa, Li?" suara merdu Niken mengembalikan Lili ke dunia nyata. Lili menoleh, menatap Niken yang kini sedang memautkan diri di depan cermin sambil merapihkan bandana birunya.
Tadi, seusai suara lengkingan bel yang berhenti, Niken mengajak Lili supaya menemaninya ke toilet yang berada di dalam musola karena hanya disini yang memiliki kaca dan lebih terasa bersih di bandingkan toilet umum di lantai bawah dekat lapangan basket. Dan Lili, tentu saja langsung mengiyakan ajakan Niken karena dia butuh tempat berpikir jernih.
Lili menggeleng pelan, cewek itu berjalan menuju wastafel dan membasuh ke sepuluh jemarinya disana, kepalanya lurus ke depan menatap Niken melalui cermin panjang di depan mereka. "Nggak. Gue cuma lagi mikir kapan mau ke toko buku nyari rubik baru." bohongnya.
Ya kali, mana sempat Lili mikirin rubik jika dalam situasi begini, yang ada otaknya tambah pusing dan bebal. Tetapi, Niken pun tidak boleh tahu kalau dia mengenal Fajir. Bukan hanya Niken, tetapi semua teman-temannya di Sriwijaya. Dan terutama, Fajir tidak boleh ngeh kalau dia adalah Lili yang sama dengan Lili yang dulu menjadi bulan-bulanan cowok itu dan teman-temannya semasa SMP.
Lili sama sekali tidak ingin kejadian masalalu-nya terulang kembali sampai membuat kehidupan tentram di SMA-nya terampas lagi. Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi. Selain karena dirinya sudah tidak menimbun lemak lagi, perubahan wajahnya yang-jika boleh sedikit besar kepala-sedikit lebih cantik pun jelas tidak akan membuatnya dikenali oleh Fajir. Meskipun jelas persamaan nama tidak dapat diabaikan.
Lagipula, kenapa juga Fajir harus mengingat cewek jelek sepertinya? Yang bahkan, kejadian itu sudah hampir tiga tahun berlalu.
"Jadi, dia adiknya Nu?" kembali suara Niken menyita lamunannya.
Lili tersenyum kecil dan mengangguk. Cewek itu sedikit mengibaskan tangannya untuk menghilangkan sisa air yang masih menempel di sela-sela jemari dan telapak tangannya, menatap pantulan dirinya pada cermin sekali lagi. Kemudian bersama Niken, keduanya berjalan menuju bagian dalam musola untuk berjalan keluar.
"Gue baru tau kalo Nu punya adik yang seumuran sama dia..." gumam Niken, kepalanya sedikit miring dengan gaya berpikir. Lalu, menoleh menatap temannya, "Lo tau?"
Keduanya kemudian duduk di keramik luar musola-bagian teratas tangga di teras musola-untuk memakai kaos kaki hitam dan sepatu pantofel hitam. Lili mengibas pelan kaos kakinya yang menggumpal, lalu memakainya.
"Tau," Lili mengangguk. "Tapi, nggak tau banget-banget. Cowok itu anak dari bokapnya Nu."
Satu fakta lain yang jujur hampir membuat Lili jantungan, sebetulnya.
Niken mengangguk paham. Santer kabar yang berhembus pelan, memang Nu memiliki ayah tiri yang super kaya dan baik hati. Bahkan, ketika pengambilan raport dulu, pria setengah baya itu yang datang mengambil raport alih-alih Ibu Nu. Dan tidak hanya itu, Ayah tiri Nu itu adalah termasuk donatur tetap di SMA Sriwijaya.
Mimik wajah Niken sedikit berubah walau sepersekian detik sebelum kembali ke mimik semula. Cewek itu berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan membantu Lili berdiri, kemudian keduanya berjalan bersisian melewati pinggiran lapangan futsal yang sudah dipenuhi murid cowok yang masih memakai pakaian olah raga-sementara beberapa orang lagi memakai seragam OSIS Sriwijaya nampak ikut meramaikan permainan futsal dadakan itu.
"Kalau dilihat-lihat, Fajir emang mirip banget sih sama Om Dharma,"
Lili otomatis mengikuti arah pandang Niken dan mendapati si pusat luka-nya sudah berbaur di lapangan itu. Senyuman lebar yang khas, dan bagaimana satu lesung pipi cowok tinggi itu terbentuk ketika dia tersenyum, hal itu semakin membuat dada Lili menyeri. Dia butuh obat, dan jelas satu-satunya obat adalah dengan tidak bertemu Fajir; si pusat luka.
Melihat bagaimana cowok itu tertawa seperti ini membuat Lili merasa kalau hidup tak adil. Bagaimana bisa, seseorang yang telah menghancurkan masa SMP-nya, bisa menikmati dan menjalani hidup dengan sangat baik sampai sekarang?
Kembali, Lili menggeleng. Dia tidak boleh menyimpan dendam, karena jelas ayah akan sedih di surga sana jika melihat putri kesayangannya seperti itu. Dan pula, ibu jelas tak kalah sedih dengan ayah. Dengan paksa, Lili mencoba menyikapi kalimat Niken dengan nada biasa saja. "Kan memang anaknya, Ken."
Niken terkikik. "Iya juga sih..."
Tanpa sengaja pandangan Lili kembali terarah ke lapangan futsal, dan seketika cewek itu memalingkan kepala ketika mendapati untuk kali kedua pandangannya dan Fajir kembali bertemu!
***
Nu menunduk dengan punggung menyandar pada tembok kelas bertuliskan XI S1 pada papan yang menggantung di kosen pintu, matanya fokus menatap ujung sepatu yang dia mainkan sesekali menepuk-tepuk ubin lantai. Dia tahu jika Lili tidak pernah sarapan pagi, dan Nu tidak menemukan Lili di kantin sekolah tadi, karenanya dia berinisiatif membelikan sebungkus roti sandwich keju dan air mineral-yang kini sedang di tentengnya dalam plastik putih menggunakan tangan kanan.
"Nu?" sapaan ramah dari Niken membuat Nu mendongak.
Pandangannya langsung bertemu dengan dua cewek yang di kenali Nu. Kedua cewek itu adalah sama-sama teman Nu, tetapi jelas level Lili lebih tinggi dibandingkan cewek berbandana biru yang sedang tersenyum hangat itu. Nu mengenal Niken karena dia dan Niken berada dalam ekskul yang sama-dan ternyata, Niken merupakan teman sebangku Lili di kelas sebelas ini.
"Lo ngapain di depan kelas gue?" Tanya Lili bingung. Pintu kelasnya yang tertutup jelas saja memberi tanda bahwa tidak ada siapapun di dalam sana. Pertanyaan yang belum terjawab itu semakin bertambah ketika Nu menyodorkan plastik putih kepadanya. Walaupun masih bingung, tak urung Lili menerima. "Roti?" kepala Lili mendongak, kembali membubuhkan pandang tanya pada cowok berkacamata itu.
"Gue nggak ngeliat lo di kantin. Dan elo nggak ada di dalam kelas juga," kata Nu, menggunakan tatapan dalam yang mempu membuyarkan semua niat Lili. Dia tidak boleh menyukai Nu, karena persahabatan mereka akan terancam. Dan Lili, tidak ingin mengambil peruntungan sedikitpun. Karena itu, menata hati agar tidak nelangsa semakin dalam adalah pilihan yang paling bijak. "Udah tau ada maag dan nggak bisa sarapan pagi, masih aja nggak mikirin kesehatan." Imbuh Nu.
Lili meringis. "Makasih ya, Nu."
"Sori, tadi gue yang ngajak Lili ke toilet kirain bakal bentar, taunya lumayan lama. Gue nggak tau kalau Lili bahkan nggak sarapan..." Niken menatap Nu dan Lili bergantian, lalu kedua tangannya menggenggam satu tangan Lili yang kosong. Pandangannya penuh rasa bersalah yang ditunjukkan kepada Lili dengan suara lemah, "Maaf ya, Li."
Lili menatap Nu kesal. "Tuhkan Niken jadi salah paham," Dan beralih menatap teman sebangkunya itu. "Nggak papa lagi, Ken. Nu aja lebay, lagian gue tadi pagi minum minuman sereal kok."
"Nah kan, malah bilangin lebay. Dasar keras kepala," Nu menggeleng sambil berdecak pelan. Satu tangannya yang tadi masuk ke dalam saku celana mengurai, tubuhnya menyerong berganti menatap Niken. "Ken, lo udah catet beberapa tema yang mau kita ambil untuk lomba itu kan? Besok dibawa ya."
"Iya, udah kok, Nu. Besok pas kumpulan gue bawa."
Nu mengangguk. "Sip," kemudian menatap Lili dan Niken bergantian. "Ya udah, gue ke kelas dulu deh."
Kedua cewek itu sama-sama mengangguk.
Tubuh Nu baru berputar dan belum juga melangkah pergi, ketika dia mengingat sesuatu. "Lo ntar balik sama gue."
"Terus, saudara lo gimana?"
"Dia bawa motor kok. Lagian, dia udah tau lah jalan pulang."
Lili menganggukan kepala. Dia berusaha bersikap senetral mungkin supaya Nu tidak menyadari kalau ada keganjilan. Karena demi Tuhan, Lili sama sekali tidak ingin Nu tahu jika tokoh yang selama ini berada dalam cerita Lili itu adalah adik tirinya sendiri.
Karena itu, Lili segera mengibaskan tangannya mendorong Nu untuk segera beranjak dari tempat dengan dalih bel masuk telah berbunyi dan cowok itu ada post test mata pelajaran Fisika hari ini seingat Lili. Tapi, jika saja mau ditelusuri lebih dalam lagi, apakah ada seorang teman yang sampai hapal jadwal pelajaran dan kapan kegiatan kuis teman lainnya yang notabanenya bahkan tidak satu kelas dan berbeda jurusan dengan kita?
Untung saja, Nu tidak menyadari keganjilan-keganjilan itu.
"Lo sampe hafal jadwal post test-nya Nu,"
Uhuk! Lili langsung tersedak rotinya kala mendengar kalimat Niken barusan. Tangannya berusaha memukul pelan bagian tengah dadanya refleks agar tersedaknya hilang. Ini benar-benar tak diduga, bagaimana teman sebangkunya ini bisa sadar akan hal kecil begini coba! Astaga!
Berusaha tenang, Lili kembali menggigit rotinya setelah insiden tersedaknya hilang, "Nu bilang tadi malem. Jadi gue inget aja gitu." Kilah Lili.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Nu mengatakan bahwa dia akan ada post test adalah pada minggu kemarin. Bahkan, tadi malam dia sama sekali tidak bertukar pesan dengan Nu-kecuali soal Nu tidak bisa menjemputnya sekolah pagi ini.
Niken tersenyum kecil kedua tangannya terlipat di atas meja dengan tubuh menyerong menatap Lili. "Gue iri deh, rasanya pasti asik punya sahabat se-charming Nu, ya?"
"Gimana bisa cewek dengan fans terbanyak seantero Sriwijaya ngiri sama gue coba?" Lili mengangkat alis heran. Apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah kebenaran yang pasti akan dibetulkan oleh siapa saja yang mendengar. Tidak bisa dipungkiri, bahwa siapapun pasti akan menoleh dua kali jika menatap Niken.
Cewek itu memiliki postur tubuh yang pas, parasnya yang cantik dan yang paling penting adalah Niken baik hati dan selalu ramah kepada semua orang. Terkadang, Lili merasa beruntung karena cewek seperti Niken mengajaknya untuk duduk bareng saat pembagian kelas tempo lalu, dan mau berteman dengan orang sepertinya.
Niken hanya tersenyum kecil. "Gue nggak gitu..."
"Hai, Niken," Sapa Ares tiba-tiba. Bak hantu yang sering muncul mendadak di sebuah serial horor, cowok berkepala plontos itu tiba-tiba sudah berada di depan meja mereka dengan peluh membasahi keseluruhan wajah Ares. Cengiran lebar turut mengiringi sapaan berikutnya, "Hai, Lili. Kalian berdua tambah cantik dan manis aja sejak sebelum istirahat tadi..."
"Cantikan Lili lah, jauh..." ujar Niken. Kemudian dia menyodorkan sebungkus tisu kepada Ares yang langsung disambut antusias dengan cowok itu, "Nih, tisu."
"Niken juga inosen-inosen cantik," balas Ares. Segera, Ares menarik tisu itu sekali dua dan mengelap peluh pada wajahnya, juga tangannya.
Cowok itu membuat bola-bola pada bekas tisu dan mengepalnya dalam genggaman. Tak lupa, Ares mengucapkan terima kasih-suatu hal langka-kepada Niken karena telah memberinya tisu. Mata sipit Ares bergerak, menemukan kedua sekutunya yang sedang berjalan masuk dengan botol minuman dingin di tangan masing-masing. Ares memberi kode dengan melambaikan tangan, dan langsung sigap ketika Fajir melemparkan sebotol minuman dingin kepadanya dari jarak enam langkah ditempat Ares duduk. Setelah menegak hampir setengahnya, suara Ares kembali mengudara,
"Jir, coba elo yang tanya langsung doi SMP-nya dimana." Ujarnya sambil menggerakkan bola mata menuju meja dua cewek itu.
Langkah Fajir berhenti tempat ketika dia hendak duduk di bangkunya, dengan perlahan cowok itu menolehkan kepala. Matanya langsung menatap ke arah satu cewek yang sejak tadi berusaha untuk menghindari tatapannya. Fajir yakin jika dia adalah Lili yang dikenalnya, karena mata dan tatapan itu masih sama seperti apa yang tertanam dalam ingatan Fajir.
Dengan menggantung rasa penasarannya, Fajir membalikkan badan dan melangkah ke deretan bangku paling ujung nomor tiga, cowok itu berjalan santai degan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, plus baju seragam yang kini sudah jauh dari kesan rapih.
Fajir melirik Niken yang menyunggingkan senyum ramah padanya dan tidak berniat membalasnya. Karena kini, jelas fokusnya hanya untuk seseorang yang menunduk kikuk sambil melakukan arsir acak pada buku notebook andalannya yang berisi segala catatan penting mengenai sekolah. Satu tangan Fajir mengatup pada meja tepat di depan Lili, tubuhnya sedikit menunduk, lalu tanpa diduga cowok itu merebut pulpen yang dipegang Lili hingga membuat cewek itu mendongak.
Inilah yang diinginkan Fajir. Karena siapa saja yang menjadi lawan bicaranya, harus sepenuhnya memberikan perhatian dan fokus kepadanya.
"Elo Lili yang sama dengan temen SMP gue di Jakarta bukan?"
Dengan wajah memucat Lili dan napas tertahannya, Fajir sudah bisa menarik kesimpulan. Bahwa jawaban verbal tidak butuh diterangkan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co