06
"Siapo be yang tadi? dua minggu dak jingok-jingokan kau sudah ado wong be, Li." Sebuah pertanyaan yang sarat akan keingintahuan terdengar ditelinga saat Lili berhasil membuka daun pintu rumah.
Lili menutup satu bagian daun pintu yang dibukanya tadi menjadi rapat dengan yang lainnya seraya menatap sesosok cewek yang muncul dari balik gorden putih jendela disamping pintu. Dan, wajah sepupu yang paling disayangi Lili muncul disana dengan bandana kelinci berwarna merah muda. Renata yang sedang memegang gelas berisi jus jeruk itu kembali bertanya tanpa suara sambil menaik-turunkan kedua alisnya bersamaan.
"Kirain udah lupa jalan kesini, Ta." Lili berkata demikian alih-alih menjawab pertanyaan super kepo dari sepupunya itu.
Renata, cewek cantik keturunan Palembang asli merupakan sepupu Lili yang baru 'ditemukan' ketika ia menginjakkan kaki di tanah Sumatera selatan ini. Kepribadian Renata yang supel membuat cewek itu langsung bisa mengakrabkan diri dengan Lili. Dan, Renata juga yang merupakan pelopor dan manusia cukup berpengaruh dalam transisi Lili menjadi seperti sekarang. Lili sempat mengira pada saat awal pertemuan mereka, Renata akan mengejek dan menolak untuk bertegur sapa dengannya seperti anak-anak di sekolahnya dulu. Tetapi, anggapan itu langsung terpatahkan ketika Renata memberikan senyum dan menawarkan perkenalan. Memang, sejak dulu Renata suka menginap di rumah ini karena cewek itu yang juga merupakan anak tunggal dan kedua orang tua yang sibuk kantoran. Hanya saja, sejak mereka mulai SMA di tempat yang berbeda dan tidak satu sekolah lagi, kesibukan merampas sebagian waktu kebersamaan mereka. Melalui Renata jugalah Lili mengenal Nu. Yasnu. Cowok tinggi berwajah ramah itu benar-benar membuat Lili memujanya. Bersama Renata dan Nu, Lili mengenal sebuah pertemanan dan persaudaraan. Dan juga... cinta.
"Lebay kan, kan," Renata memutar bola matanya dan mengekor Lili yang naik ke lantai dua menuju kamar cewek itu. Sebelumnya, Renata berlari cepat menuju dapur untuk menaruh gelas yang sejak tadi dipegangnya. Renata tadi turun dari kamar Lili karena kehausan, namun ketika baru menuangkan jus jeruk-nya ke dalam gelas, telinganya mendengar deruan suara motor dan langsung yakin kalau itu adalah Lili dan juga Nu. Makanya, dengan masih memegang gelas tersebut, Renata langsung berlari terbirit mengintip ke jendela. Namun, wajah baru muncul disana, membuatnya tidak tahan untuk tidak bertanya langsung. Setahu Renata, sepupunya itu sedang tidak dekat dengan siapapun—dan ini dibenarkan oleh Nu tiap kali Renata menanyakan perihal Lili pada Nu melalui pesan singkat daring—jadi tentu saja di dalam kepala cewek itu kini bersarang pertanyaan-pertanyaan dadakan. "Jadi...?" Renata kembali melempar pertanyaan dengan nada bernyanyi.
"Temen sekelas." Jawab Lili sekenanya. Cewek itu berjalan meletakkan tasnya di atas meja belajar, kemudian menghempas tubuhnya di atas ranjang.
Renata mengikuti disebelah Lili. Kepalanya menoleh menghadap Lili yang sedang memerhatikan kesepuluh kukunya yang ia layangkan diatas kepala.
"Mon maap ya, tapi setahu gue elo sama sekali bukan tipe cewek yang mau dianter pulang dengan 'teman sekelas'."
Kegiatan memerhatikan kuku tangan itu terhenti, Lili mengempas kedua tangannya di ranjang dengan kepala menoleh membalas tatapan mengejek Renita—yang kini sedang memeletkan lidah kepadanya.
"Ye emang temen sekelas kok. Tanya aja sama Nu kalo nggak percaya." Respons Lili berusaha terlihat seperti sambil lalu.
"Ahya, kok nggak bareng Nu? Padahal gue udah bilang kalo gue ada disini, dan weekend kita bisa kumpul di basecamp kayak biasa."
Mengingat Nu membuat Lili kembali mendesah pelan. Kalau bukan kerena praduga Nu itu, maka Lili tidak akan duduk di boncengan motor Fajir tadi, dan juga dia tidak akan mengobrol dengan cowok itu. Ah satu lagi, Lili tidak akan keceplosan soal toko 0004 yang tadi mereka lewati pada saat Fajir hendak mengantar Lili pulang. Tanpa sadar Lili menggoyangkan kedua kakinya dan bergumam frustasi.
"Ngapo dio ni wong?" tanya Renata heran.
Lili tersadar, kemudian menggeleng kaku. "Nggak. Omong-omong, Opa bakal marah kalo denger kita jadiin toko kesayangannya itu sebagai basecamp."
Ketika Renata mendeklarasikan kalau toko 0004 adalah basecamp Nu, Renata dan dirinya sejak SMP dulu, cewek itu tidak main-main. Berbeda dengan Lili yang masih menahan rasa dan sedikit tidak enak hati, maka Renita adalah pribadi yang masa bodo—mungkin juga karena Renita sudah hidup dengan Opa dan almarhumah Oma mereka sejak kecil makanya sepupu Lili itu sama sekali tidak merasa tidak enak ketika tiap kali mereka ke 'basecamp' Renata selalu minta dibuatkan pempek dan teman-temannya kepada para pegawai disana.
"Opa terlalu sayang sama kita, Li." Ucapnya percaya diri. Cewek itu memandangi kuku tangannya yang dikutek warna coklat dengan sedikit mengikis memainkannya seraya melanjutkan, "Jadi, kemana si Nu?"
"Pulang duluan. Dia ada kumpulan KIR tadi sama Niken."
"Niken temen semeja elo?"
Lili mengangguk. "Nu nggak tau kalo gue piket dan balik sama Niken."
"Emang Niken nggak ngasih tau?" kening Renata mengerut dalam. Sungguh, itu adalah pertanyaan serupa yang tadi ditanyakan Lili di relung hatinya, namun berusaha dibuangnya jauh-jauh segala jawaban negatif yang muncul setelahnya. Karena Lili memilih percaya, bahwa mungkin saja teman semejanya itu tidak ingat.
"Ya mungkin aja Niken nggak inget gue piket."
Renata mengebrak ranjang hingga memantulkan suara, kedua matanya menyipit tak suka dan menyuarakan isi hatinya dengan menggebu, "Mustahil banget! gue aja sampe hafal jadwal piket temen-temen sekelas gue, Lili."
Gantian Lili yang mengangkat alis, "Masa?"
Tentu saja Lili nggak percaya. Cewek setipe Renata yang ikut ekskul kesenian dan punya teman-teman super baik dan sama tenarnya kayak dia, mana sempat mengingat nama-nama teman sekelasnya yang piket hari itu. Yah, kalau satu-dua orang sih mungkin aja.
"Eh itu bukan topik utamanya ya sekarang," Elak Renata. Cewek itu bangkit dari terlentangnya dan menyilang kedua kakinya, "Gue super super nggak suka sama temen lo yang satu itu. Padahal jelas banget gue nggak kenal sama dia. Cuma ya gitu, gue nggak suka."
"Ta, Niken tu baik. Dia nggak kayak yang lo pikirin. Beneran deh." Entah sudah berapa kali Lili mengatakan pada sepupunya ini kalau teman semeja-nya itu baik dan tidak seperti yang dipikirkan oleh Renata.
Melihat Renata yang menggeleng-gelengkan kepala sambil menepuk-tepuk kedua telinganya, mengeluarkan sebuah tanda kalau dia menolak jawaban yang diberikan Lili pada cewek itu, kontan membuat Lili mendesah panjang dan berujung mengangkat bahu pelan. Bersamaan dengan Lili merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, sebuah ketukan dari pintu kamar Lili terdengar. Lalu, wajah Mama menyembul dari baliknya.
"Nggak bosan dikamar terus?" ledek Mama.
"Tau nih, Bicik. Lili ngajakin rebahan mulu sambil curhat cowok baru," Renata terkikik sambil memeletkan lidah ketika melihat ekspresi kesal di wajah cantik Lili. Dengan gerakan sedikit mengayunkan kedua kakinya, Renata bangkit dari rebahannya. Sambil membenarkan ikat cepol asalnya yang sedikit mengendur, cewek berambut sedikit pirang itu bertanya pada perempuan setengah baya yang masih di tempat semula. "Bicik, Opa mana? Tata nggak lihat dari tadi."
"Nah itu," respons Mama seolah mengatakan tujuannya datang ke kamar ini. "Opa nunggu kalian di teras belakang, pengin ngobrol sambil makan kerupuk kemplang." Tukas Mama.
Kedua cewek itu mengangguk dan menjawab 'Iya' secara bersamaan. Kemudian saling pandang kembali ketika Mama telah menghilang dan pintu telah tertutup kembali. suara Renata lebih dulu merespons ucapan Mama tadi dengan nada bicara seolah bosan, "Dari dulu tuh Li, ngajakin makan kerupuk mulu. Kalo nggak makan pempek. Bosen gue."
"Namanya juga kita di daerah pelopor dua makanan itu, Ta."
Renata mendengus dan kembali mengempaskan tubuhnya ke ranjang dengan kedua tangan terentang. "Lamo-lamo aku urung jadi penyanyi. Sumbang duluan suara, Li."
Lili tertawa mengejek, "Sapo nak beli albummu, Ta. Yang ado saket kuping denger suara kau."
Yang langsung mendapat lemparan bantal kecil dari Renata. Namun, tak urung keduanya langsung tertawa bersama. Renata benar-benar sepupu yang merangkap menjadi teman dekat Lili, karena cewek itu ia jadi tahu bagaimana rasanya tertawa tanpa perlu bersuntuk memikirkan ejekan orang lain padanya. Pokoknya, Lili amat menyayangi sepupunya ini sama seperti dia menyayangi Opa dan Mama.
Kepalanya tiba-tiba membell sesuatu yang tadi sempat dia dapatkan, dengan cepat Lili melangkah menuju meja belajarnya dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan menunjukkannya kepada Renata, "Ta, lihat dong. Masa ada yang ngasih ini ke gue..."
Lili melangkah ke arah ranjang, kemudian duduk di ujung ranjang dengan satu kaki terlipat di atas ranjang sedangkan satunya lagi menggantung ke bawah hingga mengenai ubin lantai. Diberikannya kotak berisi rubik itu ke tangan Renata. Kedua matanya mengamati sang sepupu yang tengah membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya,
"Woaah, rubik?"
Lili mengangguk.
Renata membaca secarik kertas dengan tulisan tangan yang tidak bisa dibilang bagus itu, lalu kembali membubuhkan tatapan kepada Lili. "Dari?"
"Nggak tau." Lili mengedikkan bahu. Diembuskannya napas kuat-kuat, "Kira-kira siapa ya, Ta?"
"Cowok yang tadi nganterin lo kali."
Mendengar jawaban asal sepupunya itu kontan membuat Lili mendengus malas, "Plis deh, nggak mungkin banget tau!"
"Kenapa coba nggak mungkin?"
"Dia bakal jadi orang terakhir yang gue pikirin soal ngasih hadiah ini, Ta. Dia itu Fajir, cowok yang bikin kehidupan gue—"
"Tunggu, siapa?" kelima jemari Renata melayang diudara, keningnya mengernyit ketika mendengar satu nama tak asing baginya.
"Fajir?"
"Gue kayak pernah dengar nama itu, sebentar..." Coba diingat Renata pelan-pelan tentang bagaimana dia pernah mendengar nama itu. Nama yang menurutnya tak asing, namun ingatannya yang jelek mengalanginya, sehingga membuat Renata harus berusaha keras untuk mengingat kembali. Tak lama dari itu, Renata menjentikkan jari sambil menatap Lili dengan wajah tersenyum lebar selayaknya telah menemukan sebuah harta karun. "Aha! Dia sodara tirinya Nu bukan?"
"Lo tau?"
Kepala Renata mengangguk. "Gue inget dulu Nu pernah cerita soal sodara tirinya. Iya, ya, Li?"
Ada nyeri yang coba di redam Lili yang kini menusuk ulu hatinya, gadis batinnya tertawa miris ketika lagi-lagi sebuah fakta melayang-layang mengejeknya yang tak tahu malu karena menganggap kalau dia adalah yang spesial untuk Nu. Padahal, tidak. Dan tidak akan pernah menjadi.
Nu menganggapnya seorang sahabat perempuan. Sedangkan cowok itu menganggap Renata seorang perempuan yang dibiaskan dalam sebuah kata pertemanan.
Satu lagi fakta kenapa Lili tidak ingin mengutarakan perasaannya kepada Nu adalah ini. Bahwa, ketika hati sudah menjadi milik orang lain. Menyelinap masuk pun terasa payah dan hanya akan berakhir sia-sia.
Mengeluarkan senyumannya, Lili mengangguk. "Dan dia orang yang sama dengan penyebab kehidupan SMP gue di Jakarta ancur."
"Jadi dia orangnya?! Kok lo nggak cerita sama gue? Maksud gue, kenapa elo nggak bilang kalo adik tiri Nu orangnya." Suara Renata nampak kesal ketika menyadari kalau Lili menyimpan rahasia darinya. seharusnya, Lili terang-terangan saja mengatakan tentang hal itu agar ia bisa bilang pada Nu. Atau, dia bisa meminta nomo Fajir dari Nu untuk meneror cowok itu karena telah membuat sepupunya menderita.
"Gue baru tau Nu sodaraan sama dia bahkan belum sampe seminggu, Ta. Nu nggak ada pernah cerita masalah sodara tirinya ini ke gue, makanya gue juga kaget."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co