05
Ada tiga klastering dalam pembagian kelompok guru versi Sriwijayans di SMA Sriwijaya ini. Pertama, jajaran guru killer. Kedua, jajaran guru favorit—biasanya karena si guru asik dalam pembawaannya mengajar, atau karena tidak sering memberikan tugas atau kuis. Ketiga, jajaran guru menyebalkan—untuk yang satu ini biasanya deretan guru yang selalu datang ke kelas ketika bel belum berbunyi.
Walaupun normalnya guru-guru di Sriwijaya datang tepat waktu atau setidaknya jika ngaret hanya beberapa menit untuk kegiatan belajar-mengajar. Tapi jelas, tidak pernah lebih dari sepuluh menit—kecuali kalau si guru memang tidak bisa mengajar hari itu, itu juga pasti ada guru piket yang memanggil ketua kelas dari kelas yang ajar si guru untuk datang ke kantor. Dan sekarang, Lili tidak bisa menahan perasaan leganya ketika menyambangi XI S1—bersama Fajir—dan menemukan suara kegaduhan dari dalam ruang kelasnya.
"Oi Jir, telat? Tumben? Kok barengan ama Lili? Berangkat bareng ya? Cieee..."
Satu suara sumbang nan menjengkelkan milik Ares si cowok tengil yang pikirannya hanya 'ciee...cie...' saja itu mampu membuat semua penghuni kelas yang tadinya asyik dengan kesibukan mereka masing-masing langsung menatap ke arah Lili dan Fajir. Kemudian sapaan 'ciee...' keluar serempak dari mulut murid-murid itu. Tanpa terkecuali.
Mendelik kesal sesaat kepada Ares yang cengar-cengir duduk di kursi guru, Lili segera kabur ke mejanya.
"Jangan isengin dia, Res." Ucap Fajir.
"Gue nggak ngisengin. Gue nanya serius tau!" jawab cowok berpotongan rambut ala polisi itu. disandarkan Ares tubuhnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan di atas bahu kursi, kedua matanya menatap menyeringai pada Fajir yang masih menatap lurus ke arah meja Lili dengan satu tangan memegangi tali ransel hitamnya yang menggantung pada satu bahu. "Lo naksir ya sama ceweknya Nu?"
Fajir menoleh. "Siapa?"
"Liliana Zahrantiara."
Fajir tersenyum miring sambil mendengus, "Dia bukan pacarnya kali." Kemudian cowok itu berjalan menuju mejanya. Keningnya berkerut ketika tidak menemukan Dipo disana. Otomatis, kepalanya langsung menoleh dengan pandangan bertanya pada Ares yang tengah melangkah mendekat.
"Kesiangan bangun, abis begadang katanya."
"Jadi nggak masuk?"
Ares mengangkat bahu, mengempaskan tubuh pada kursinya. "Istirahat kedua ntar dia masuk. Lagi minta surat dokter katanya."
Fajir mengangguk paham. Bukan hal baru bagi cowok itu mendengar hal seperti ini karena jelas saat di Jakarta dulu Fajir bahkan beberapa kali melakukan hal itu saat dirinya 'terpaksa' terlambat masuk karena alasan pribadi. Maksudnya, habis menonton pertandingan bola yang memaksanya untuk tidur jam lima pagi misalnya. Tanpa bertanya lagi, Fajir langsung menaruh tasnya di kolong meja, ia mengeluarkan HP-nya dari dalam tas dan mendapati satu pesan dari bank yang menginformasikan bahwa uang bulanan telah di transfer. Tanpa merasa perlu menggubrisnya, cowok itu langsung meletakkan HP-nya di atas meja dan bertanya,
"Kemana guru kita?"
"Pak Midar?"
Fajir mengernyit. "Mungkin?"
"Nggak tau tuh, padahal doi rajin banget masuk kelas lima belas menit sebelum bel masuk. Terkejud abang terheran-heran..." jawab Ares sambil menyanyikan kalimat terakhirnya yang dia kutip dari lirik lagu yang viral beberapa waktu ini.
Fajir mengangguk lagi. Kembali, pandangannya mengarah ke bangku cewek berkuncir satu yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya itu dengan menerawang. Lili jelas masih membencinya karena cewek itu mengira dia yang telah memprovokasi anak-anak di sekolah mereka dulu karena surat cinta salah alamat itu. Tanpa sadar Fajir mendesah.
"Ngapo be?" tanya Ares ketika mendengar desahan seperti frustasi dari teman barunya. Dengan posisi Ares yang duduk menghadap kebelakang dengan kedua tangan menjulur ke meja Fajir, cowok itu mengikuti arah pandang sahabatnya. Lalu, menyeringai, "Naksir lo ya sama Lili?"
"Nggak," Fajir langsung membuang muka. "Ngaco lo."
"Udah punya satpam dia, Jir. Mending elo naksir sama Niken aja. Gemes kan inosen gitu? Ya meskipun pinteran Lili sih, cantik juga."
Sungguh saran yang nggak berfaedah sekali. Karenanya, Fajir langsung menggeleng mencela, cowok itu mengambil rubik dari dalam tasnya, lalu memainkannya. Tak lama, Fajir berujar, "Tu cowok bukan pacarnya Lili. Jangan ngegosip ah Res, kayak emak-emak kompleks aja lo."
"Masa? Kok lo bisa tau? Wah, lo tadi pedekatean ya sama dia pas telat?" Ares bertanya dengan nada atraktif dan menambahkan, "Emang beda anak alumni Jakarta ini ya, gercep!"
"Cowok yang lo maksud itu sodara tiri gue." Tukas Fajir dengan nada malas.
Sejujurnya Fajir sama sekali malas membahas soal hubungan yang terjadi antara dia dan sodara tirinya itu, bahkan Fajir malas mengakui kalau Nu merupakan sodara tirinya. Rasanya masih berat, dan akan selalu berat. Karena ia tak akan pernah melupakan kejadian di masa silam itu, apalagi memaafkan dua dari tiga orang yang terlibat dalam drama; yang akhirnya menghancurkan seorang lainnya.
Sebuah awan hitam yang tak kunjung turun hujan, juga tak kunjung pergi ke tempat lain. Disana, selamanya.
Ares memasang ekspresi terkejutnya. Kepalanya maju ke depan menatap Fajir lurus-lurus. "Lo serius?"
"Nggak penting juga gue boong soal itu kayaknya." Dengusnya.
"Aku bener dak percayo! Wow!" tanpa sadar Ares mengeluarkan baso Palembangnya. Menurut Ares, ini adalah fakta langka—walaupun dia tahu jika guru-guru mereka pasti tahu soal ini—tapi Ares yakin kalau hanya segelintir anak yang tahu soal ini. dan melihat bagaimana cara Fajir memergunakan kata ganti dalam penyebutan nama Nu, pikiran cerdas Ares langsung mengambil kesimpulan bahwa hubungan antara kedua saudara tiri itu tidaklah baik.
***
"Nu telat jemput lo nya, kok sampe telat?" tanya Niken sambil menyodorkan tisu ketika Lili berhasil mendudukkan bokongnya di kursi, ia kemudian melepas tas ranselnya dan menaruh tas itu di belakang punggung.
"Makasih," Ucap Lili ketika berhasil menarik dua lembar tisu wajah dan saat itu juga ia langsung mengelap bagian bawah mata dan bawah hidungnya yang berkeringat. Hal yang selalu terjadi dan mungkin menjadi ciri khas Lili sepertinya untuk kasus berkeringat di dua daerah tersebut. Setelah selesai berkutat dengan peluhnya, Lili segera meremas bekas tisu itu dalam genggaman, lalu menatap Niken yang menunggu jawaban dari pertanyaannya. Lili menggeleng, "Enggak. Tapi, gue yang bikin telat."
"Kok bisa? Lo mainin rubik sampe kemaleman lagi?"
Lili meringis. Bukan itu penyebabnya terlambat bangun, tetapi karena anak baru di sekolah mereka itulah, dan sekarang Lili harus bertambah pusing karena Fajir tiba-tiba berkata aneh ketika mereka dihukum karena telat tadi. Namun, Lili nggak bisa menjelaskan hal itu pada Niken. Alhasil, dia malah mengangguk membenarkan tebakan teman semejanya itu.
"Terus Nu gimana? Marah?"
Lili menggeleng. "Nggak kok."
Senyuman Lili terbit setelahnya, dia benar-benar nggak salah telah menaruh hati kepada cowok baik seperti Nu. Cowok itu tidak akan menyakitinya, dan tidak akan pernah marah padanya. Walaupun sebuah fakta yang berhasil meremas hati Lili tiap saat ketika tahu bahwa cowok itu tidak lebih menganggapnya dari seorang sahabat...
Raut wajah Niken sedikit berubah sebelum cewek itu kembali tersenyum lega. "Lo beruntung punya sahabat kayak Nu ya, Li."
"Dia kan temen lo juga."
"Tapi, porsinya beda kan?" Niken tersenyum kecut. Kemudian ingatannya melayang pada kejadian yang belum lama terjadi. Niken mengerutkan kening, "Fajir juga jemput elo tadi?"
"Nggak lah, ngaco!" seru Lili cepat. Pertanyaan Niken benar-benar mengarang bebas rasanya, dan bagaimana bisa teman semejanya ini memikirkan hal yang sama sekali nggak mungkin terjadi itu coba?
Benar-benar...
"I guess. Soalnya tadi dia telat juga dan masuk bareng lo." Niken mengangkat bahu.
"Dia telat, tapi nggak bareng gue sama Nu. Mungkin dia kesiangan bangun." Jawab Lili tanpa minat. Ini namanya perusak mood, padahal jelas tadi Lili masih dalam keadaan baik—kecuali ketika sesi hukuman tadi—dan sekarang lagi-lagi dia menjadi kesal. Dengan sedikit bergedik, akhirnya Lili kemudian membuka aplikasi diamond rush pada HP-nya.
Karena Lili sadar, sebuah permintaan maaf dan berusaha melupakan tidak akan bisa menyembuhkan lukanya. Dan jelas, Fajir bahkan tidak melakukan satu dari kedua opsi itu.
Apa katanya tadi? Bukan dia yang menyebarkan tentang surat itu? heh! Lili mendengus geli. Cewek itu bertanya-tanya apakah mungkin, surat itu terbang dari dalam tas ransel Fajir yang terseleting rapat?
Setidaknya jika ingin membuat pembenaran, Fajir harus memakai logikanya.
***
"Nu, lo tau kalo Lili sama Fajir satu sekolah lho dulu SMP nya!" Niken menginformasi dengan nada riang. Cewek iu tersenyum ramah ketika mendongakkan kepala dari laptop yang dia tekuni di sekret KIR sejak sepuluh menit yang lalu.
Tadi, Pak Agus yang merupakan penanggungjawab ekskul KIR menyuruh Nu dan Niken, juga beberapa siswa lainnya untuk berkumpul di sekret ketika jam sekolah berakhir untuk membahas beberapa hal mengenai perlombaan 'Karya Ilmiah Remaja' yang akan mereka ikuti di tingkat nasional dua bulan lagi. Pak Agus sengaja membagi dua kelompok dari beberapa anggota ekskul KIR di Sriwijaya untuk menggarap sebuah penelitian yang diwujudkan dalam bentuk makalah. Setelah selesai—Pak Agus memberikan waktu empat minggu untuk penggarapannya—makalah itu akan dikirim untuk mengikuti lomba. Ini adalah perlombaan yang menjadi ambisi Sriwijayans yang ikut ekskul ini untuk meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Siapa tahu ini akan berguna ketika mereka masuk ke perguruan tinggi nantinya. Dan yang pasti mulai hari ini anak-anak ekskul KIR akan sibuk setengah mati.
Nu menoleh pada Niken, satu tangannya berhenti diudara ketika ia hendak membalik kertas yang sedang dibacanya. "Iya, tau."
"Berarti lo udah tau Lili dari dulu ya?"
Nu sedikit bingung kenapa Niken tiba-tiba mengangkat topik ini, namun dia tetap menjawab. "Gue kenal Lili waktu dia pindah kesini. Sepupunya itu temen gue. Jadi bukan karena Fajir."
Niken ber-ohh ria. Dengan senyuman yang masih melekat dia kembali menekuni laptop yang layarnya sedang berada di Ms. Word dan kembali mengetikkan sebuah konsep guna pembuatan karya ilmiah disana. "Lili pasti cantik banget ya dari dulu, Nu? Lo nggak pernah naksir gitu sama dia?"
Nu tersenyum kecil. "Lili itu sahabat gue. Dan akan selalu begitu."
Kali ini Niken yang tersenyum mendengar jawaban cowok itu.
Di tempat lain, namun masih dalam wilayah yang sama Lili sedang menahan kesal karena piket sendiri. Satu fakta lagi tentang SMA Sriwijaya yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Disini, Sriwijayans ditetapkan untuk melaksanakan piket kelas pada jam pulang sekolah, bukan di pagi harinya. Ya walaupun nggak jarang paginya juga bersih-bersih sedikit jika tiba-tiba ada sampah nyasar di teras kelas. Tetapi, normalnya mereka akan melakukan piket pada jam pulang sekolah. Dulu wali kelas Lili di kelas sepuluh menyampaikan kalau prosedur itu digunakan agar suasana pagi lebih kondusif, karena biasanya beberapa anak memanfaatkan tugas piket untuk berlama-lama diluar padahal jam mengajar sudah dimulai.
Adalah kesialan terbesarnya sepanjang kelas sebelas karena kedapatan satu piket dengan anak-anak cowok. Bayangin, empat orang yang dibagi perhari untuk piket kelas dan Lili menjadi satu-satunya cewek yang piket di hari jumat. Dan dua cowok itu cuma mengangkat bangku ke atas meja dan bilang, "Gue udah piket ya Li." Kemudian langsung lari mengibrit. Sialnya, hari ini Ipul nggak masuk karena sakit padahal cuma Ipul yang waras di antara yang lainnya karena dia benar-benar mau membantu membersihkan kaca sementara Lili menyapu lantai kelas.
Kepala Lili menoleh ketika mendengar suara berlari dan berhenti tepat di depan pintu kelas. Kedua tangan Lili memegang gagang sapu sambil mengernyit saat mendapati dua orang tempat kekesalannya tadi bermuara sudah berdiri di depan pintu dengan tangan berada di kosennya, napas mereka tersengal tetapi senyuman tak lepas dari wajah keduanya.
"Gue bilang juga apa, Fajir tu naksir sama ni cewek!" tukas Ares. Kepalanya lantas menoleh menatap Lili dan menyunggingkan senyum, "Sini, biar gue aja."
Ares melangkah mendekat sambil merebut gagang sapu dari tangan Lili yang masih terdiam belum memahami situasi. "Lo balik aja, biar gue sama Dipo yang ngelanjutin sisanya."
"Ha?"
"Lo ditungguin sama Fajir di parkiran. Balik bareng dia kan?" kali ini suara Dipo, cowok berbandana hitam itu melangkah dan duduk di meja guru sambil menyilangkan kedua kakinya, ditatapnya Lili dengan kedua alis naik-turun.
"Gue nggak bareng dia!" serunya cepat. Merasa kalau suaranya tidak wajar, Lili menetralisirnya dan berdeham pelan sebelum menambahkan, "Gue sama Nu baliknya."
Ares dan Dipo saling tatap untuk beberapa detik, kemudian tawa keduanya menyembur bersamaan. "Cinta sepihak, Dip!"
"Ngakak!"
Ini maksudnya gimana ya? Cinta sepihak apa? apa dua tuyul ini tahu kalau dia menyukai Nu? Lili mulai berprasangka.
"Tapi tadi gue liat Yasnu jalan ke parkiran sama Niken. Wah, lo ditikung nih Li?" ledek Ares. "Gue sih kalo jadi Yasnu bingung mau sama siapa, jadi kupacari saja dua-duanya..." Ares menyanyikan kalimat terakhirnya dengan kepala bergoyang-goyang.
"Apaan sih kalian!" Lili mendengus.
Pikirannya masih terbayang-bayang soal omongan Ares barusan. Rasanya, nggak mungkin kalau Nu lupa kalau dia hari ini piket kelas, iya sih memang Lili tadi lupa mengabari Nu kalau dia akan menunggu cowok itu kumpulan ekskulnya sementara dia piket kelas, tapi kan ada Niken yang pasti akan memberitahu Nu? Lagipula, Nu pasti akan menghubunginya terlebih dahulu sebelum pulang kan, sama seperti yang selalu cowok itu lakukan.
Segera, Lili berjalan menuju mejanya untuk mengambil HP dari dalam laci meja. Keningnya langsung mengernyit ketika melihat sebuah kotak berukuran sedang bertengger rapi di sebelah HP-nya. Lili mengambil keduanya, matanya terfokus pada kotak hitam dengan gambar leaf, dan sebuah stiker note terlampir diatas kotak itu. Lili membacanya.
To: Lili
Hanya dua kata, tidak kurang dan tidak lebih. Masih dengan kening yang mengernyit, Lili membukan kotak tersebut dan kedua matanya nyaris copot ketika melihat sesuatu yang sedang diinginkannya berada di dalam kotak itu.
Rubik!
Siapa yang ngasih ini? batin Lili.
"Paan tuh? Makanan ya? Bagi dong!" seloroh Ares ketika tanpa sengaja melihat kotak hitam ditangan Lili.
"Dasar murahan lo. Malu gue jadi temen lo lama-lama, Res."
"Ngiri aja lo." Ares menjulurkan lidah, lalu kembali menatap cewek berkuncir satu itu. "Beng-beng ya Li? Bagi dong gue, sebagai upah karena gue bantuin elo piket nih."
"Iya, gue juga deh mau kalo beng-beng mah." Dipo mengikuti.
Lili menatap tak percaya, jelas sekali padahal kalau jadwal yang di pasang di depan kelas itu menyebutkan jika dua sejoli yang suka bikin senewen guru di Sriwijaya itu hari ini piket.
"Elo berdua emang piket hari ini, Res, Dip." Tahu-tahu suara agak serak milik Fajir terdengar mengudara, membuat ketiganya langsung menoleh dan mendapati cowok tinggi berlesung pipi itu sedang berdiri menyandar pada kosen pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Kepalanya miring dengan sebelah alis terangkat menatap satu-satunya cewek di dalam ruangan itu. "Yuk balik, biarin Ares sama Dipo yang nyelesaiin sisanya."
Ni orang kenapa deh? Siapa juga yang mau balik bareng dia orang gue bareng Nu juga! umpat Lili yang tentu saja hanya terpantul dalam dinding-dinding hatinya saja.
Lili segera memasukkan hadiah itu ke dalam tas-nya. Dan mengecek HP-nya.
Tiga panggilan dari Nu, dan dua pesan dari nomor yang sama.
Lo udh balik ya?
Gue telp ga diangkat.
Tunggu dulu, jadi Lili ditinggalkan? Jadi, Nu nggak tahu kalau Lili sedang piket kelas dan menunggunya?
Lili mengembuskan napas ke atas, bibirnya cemberut dan tanpa sadar menatap cowok dengan wajah super tengilnya di depan pintu kelas. Meraih ransel dan memakainya, Lili lantas berujar pamit kepada Ares dan Dipo, lalu melangkah melewati Fajir tanpa menoleh apalagi pamit kepada cowok itu. Entah kenapa Lili tidak bisa mengontrol emosinya jika di dekat Fajir.
Cewek itu masih mendengar ledekan Dipo dan Ares untuk Fajir, tetapi ia langsung mempercepat langkahnya ketika mendengar suara langkah kaki yang sedikit berdari seperti sedang mengejarnya. Tanpa menolehpun, Lili sudah yakin dengan dugaannya itu.
"Hei, tunggu." Fajir mencengkram pergelangan tangan Lili dan membuat cewek itu menoleh sampai menatapnya. Napasnya sedikit terengah sebentar karena kinerja jantungnya tiba-tiba meningkat. Fajir menundukkan kepala untuk menyelami mata secoklat susu milik Lili. "Elo pulang bareng gue. Dan gue nggak mau ditolak."
"Nggak, gue—"
"Cowok lo udah balik sama temen sebangku lo. Jadi, lo nggak punya pilihan lain lagi."
Lili melepaskan cengkraman jemari Fajir, lalu mendelik, "Kata siapa? Gue naik bus kok."
"Lo nggak baca berita?" tanya Fajir dengan suara mengejek.
"Apaan?"
"Sopir bus lagi demo." Jawab cowok itu. kedua tangannya menyilang di depan dada dengan pandangan masih tertuju pada satu objek.
"Bohong lo!" sembur Lili kesal. Dia masih kesal soal Nu yang meninggalkannya tiba-tiba, dan sekarang Fajir dengan sok akrab menawarinya tumpangan. Lalu, pakai acara membohonginya pula!
Lili kembali melangkah meninggalkan cowok itu di belakang.
"Buat apa juga gue bohong soal ini? nggak guna kan?" jawab Fajir sambil mengangkat bahu, lipatan tangannya terurai dan ia membawa kedua tangannya masuk ke dalam saku celana seragam, kemudian mengikuti Lili yang melangkah di depannya. Ketika Langkah dari kaki mungil itu berhenti, Fajir otomatis menghentikan langkahnya juga, kedua tangannya masih berada di saku celana dan tersenyum miring.
"Kalaupun gitu, gue bisa naik ojek online kok. Lagian—"
Lagi-lagi, kalimat Lili yang belum selesai itu dipotong oleh Fajir. "Lo pikir ada tukang ojek online yang mau ngangkut penumpang disaat sopir bus lagi demo?"
"Emangnya nggak ada?" Lili balik bertanya.
Fajir terkekeh pelan, "Ada sih. Itu kalo tukang ojeknya punya nyawa sembilan tapi."
"Ye, lo pikir kucing?" dengus Lili.
Cowok itu lagi-lagi terkekeh, kemudian melangkah hingga menyisakan sekitar dua langkah lagi dari tempat Lili berdiri. "Lo mau balik bareng gue, atau mau jalan kaki sampe rumah lo? Itu opsional." Ucapnya pada Lili. Dikeluarkannya satu tangan dari dalam saku celana kemudian bergerak mengacak rambutnya sendiri, "Kalo gue ke—"
"Gue bareng lo."
Dan Fajir tidak bisa untuk tidak menahan senyuman puasnya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co