08
Cewek itu paling cantik kalau lagi ngiket rambut. Rasanya ungkapan itu memang benar karena sekarang garpu yang dipegang Fajir terlepas dari tangannya sampai meringsek jatuh ke ubin lantai bersamaan dengan sepotong pempek yang tertusuk di garpu itu.
Fajir tidak pernah menganggap pada qoute bodoh yang sering dia baca di sosial media atau dari cuplikan film thailand yang pernah di tontonnya itu benar sampai hari ini. Melihat Lili mengikat rambutnya yang terurai membuat cewek itu semakin terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Dan Fajir sadar kalau suara berisik yang kini terdengar adalah berasal dari jantungnya yang kini berdetak tak karuan.
Daripada Lili menyangkanya yang bukan-bukan, Fajir segera menggeleng pelan menyadarkan diri sambil berdeham. Tangan kananya dengan cekatan menyambar gelas es kacang yang isinya tinggal setengah itu kemudian menyesapnya.
Ini beneran gila, batin Fajir. Bisa-bisanya dia terpesona—sampai menjatuhkan benda pula—dengan cewek yang sedang mengikat rambut. Dia yakin Ares dan Dipo akan mengolok-oloknya jika tahu soal ini.
Tengsin, tengsiiin...
Fajir melirik Lili yang kini sedang menatapnya bingung. "Yaampun, lo kenapa?"
Fajir mengacak rambut, "Nggak, kesemutan aja tangannya tadi. Sori ya bikin kaget." Ucap Fajir kemudian menunduk untuk mengambil garpunya yang terjatuh tadi dan meletakkannya di atas meja. Pempek pesanannya ini benar-benar enak, bahkan rasanya sama persis seperti yang di beli Mama Fajir dulu. Tetapi, dengan ritme jantung yang mendadak berisik dan hati yang nggak karuan begini, Fajir merasa sulit rasanya untuk menghabiskan sisanya.
"Ini bisa di take away?" tanya Fajir sambil menunjuk pempeknya di atas meja.
Lili mengangguk. "Lo mau balik?"
Kalau dia mengiakan, pasti Lili akan berpikir Fajir nggak nyaman disini bersama cewek itu—padahal yang jadi masalahnya adalah dirinya sendiri—jadi, Fajir lebih baik membuat kebohongan kecil hari ini.
"Gue lupa kalau Ares ngajakin tanding PES di rumahnya."
"Emang lo tau jalan ke rumahnya?"
Fajir terkekeh kecil. "Li, disini nggak seluas Jakarta. Lo nggak usah khawatir gitu sama gue, gue nggak akan nyasar kok."
Mendengar respons Fajir, Lili langsung memutar bola mata malas. "Aih, siapa yang khawatir ish," cewek itu berdiri dengan wajar sedikit memberengut karena diledek barusan. Lalu kembali menambahkan, "Tunggu, gue bungkus ini dulu kalo gitu." Imbuhnya sambil membawa nampan beserta beberapa potong pempek disana.
"Tambah sepuluh ya, Li." Ujar Fajir. Kepalang tanggung, sepertinya hari ini dia akan menyambangi rumah Ares beneran. Lagipula, ini masih terlalu siang untuk pulang ke rumahnya dan Fajir masih terlalu enggan meski untuk menyunggingkan senyum kepada ibu tiri dan Papa-nya.
Bukan karena kenapa-kenapa, cowok itu hanya belum sepenuhnya menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya kini. Karena dia sedikit takut, jika dia bersikap baik kepada perempuan yang menjadi istri Papa, mungkin Mama akan sedih dan terluka di surga sana.
Setelah menunggu tiga menit dan melihat tubuh Lili keluar dari balik sekat kayu yang menyambung ke dapur, Fajir bangkit. Dia meraih kunci motor dan memasukkannya ke dalam saku jaket. Langkahnya kemudian mendekat menuju kasir dimana cewek penyebab jantungnya berisik itu sudah berdiri disana.
"110 ribu." Ucap Lili sambil menarik struk kasir. kepalanya mendongak menatap cowok yang lebih tinggi darinya itu, menunggu. Tapi, keningnya langsung mengernyit bingung ketika Fajir menyodorkan dua lembar pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu, juga HP milik cowok itu.
"Lo ada kode promo?" tebaknya. Di 0004 memang sering mengadakan promo sosmed, jadi tokonya akan memberikan sejumlah diskon bagi siapa saja yang memfollow akun sosial media 0004. Tapi, masa iya Fajir tipe-tipe cowok penganut diskon?
Gelengan Fajir menjelaskan praduganya. Kemudian, Lili langsung merasakan deg-degan parah ketika alasan cowok itu mengudara. Menggunakan suara dalam dan terkesan santai, ditambah mata hitam Fajir yang seperti menguncinya.
"Ini gue bayar nggak pake promo-promo. Terus HP-nya tolong diambil dan masukkin nomor hp elo, ya."
Demi neptunus!
"Nomor gue? Buat apaan?" tanya Lili berusaha terlihat sesantai mungkin. Cewek itu mengambil dua lembar uang beserta HP milik Fajir. Mengambil kembalian dari dalam mesin kasir, namun dia belum mengutak-atik HP itu untuk memasukkan nomornya.
Lili bisa melihat satu alis Fajir terangkat memandangnya. Lalu menjawab, "Lo pikir cowok minta nomor hp cewek untuk apa?"
Untuk apa? Lili juga bingung. Dia sama sekali tidak pernah di mintai nomor HP sebelumnya. Dan hari ini, cowok yang menjadi pusat lukanya terdahulu tiba-tiba datang ke toko, mengajaknya untuk menemani cowok itu makan pempek, terus meminta nomor HP-nya pula! Bagaimana bisa Fajir mengacaukan kinerja otaknya hari ini dengan sangat lancar. Astaga!
"Lo nggak mau macem-macem kan?" selidik Lili, jemarinya mulai menekan tombol di atas HP tersebut hingga layarnya menyala. Sebelum dia menginputkan nomor HP-nya, rasanya Lili harus mengetahui alasan sebenarnya kenapa seorang Alfajir Sanjaya meminta nomornya.
Lili menatap lurus. Menunggu cowok itu membuka mulut.
"Gue nggak akan ngejual nomor lo kok. Tenang aja."
Aih, bukan jawaban itu yang dia inginkan! Lagipula, siapa juga yang mau membeli nomor HP cewek sepertinya. Kalau dia seorang selebgram atau artis terkenal sih mungkin saja... Lili menggerutu kesal dalam hati.
Melihat wajah Lili yang menggerut sebal, Fajir menghela napas, cowok itu menggacak rambutnya pelan dan berujar, "Mungkin aja gue nanti penasaran lo lagi apa atau dimana."
"Ha?"
Fajir berdecak. "Mau elo atau gue nih yang masukin nomor HP lo?"
Tahu kalau pertanyaan 'Ha?'-nya tidak akan menemukan jawaban. Lili akhirnya mengembuskan napas, lalu mulai menginputkan sederet nomor di HP itu. Setelahnya, cewek berkuncir satu itu mengulurkan kembali HP ke pemiliknya.
Fajir tersenyum puas. Disimpannya nomor itu dengan cepat, lalu memasukkan kembali HP-nya ke dalam saku jaket. "Lain kali gue mampir lagi kesini. Sampe ketemu besok lusa." Ucapnya sebelum melangkah pergi dari dalam toko.
Lili mengikuti punggung Fajir hingga menghilang dari balik pintu kaca, lalu mengembuskan napas keras-keras. "Siapa juga yang ngarepin lo mampir kesini lagi!" gumamnya sebal.
Baru juga dia berbalik, hendak pergi dari meja kasir. Tahu-tahu wajah penuh kejenakaan milik Fikar terlihat disana. Cowok yang sudah seperti kakak sendiri bagi Lili itu tersenyum menggoda.
"Gebetan baru ya?"
Lili menggeser tubuh Fikar ke samping sambil berbicara ketus, "Sotoy!"
"Ah, jadi bener gebetan baru. Kakak bilang ke Bos ya—"
"Kak Fikaaar!" gerutu Lili sambil melemparkan celemek ke arah Fikar, kedua tangan Fikar dengan sigap mengambil celemek itu dan tertawa keras.
"Pinter kau nyari yang ganteng. Adek aku bener lah kalo gini." Ucap Fikar disela-sela tawanya.
"Rese!"
***
Ares menyeringai lebar dengan dua mangkuk di tangan dia berjalan menuju sofa ruang tengah di rumahnya. Rumah besar Ares tampak lengang karena memang hanya terisi dia dan kakak perempuannya yang seorang dokter gigi. Dan sekarang, kakak perempuan Ares itu sedang berada di rumah sakit untuk dines.
Karena Ayah Ares yang merupakan seorang TNI angkatan darat dan bertugas di Lampung sejak dua tahun lalu, alhasil sebagai ibu persit ibunya Ares pun ikut menemani sang suami tinggal disana. Alhasil, rumah besar yang halaman depannya di penuhi oleh tanaman hias itu terasa 'kosong' .
Dengan celana katung dan kaos polo merah, Ares mengambil tempat pada single sofa tepat bersisian dengan sofa letter L yang diduduki oleh Fajir, temannya. Tadi, tiba-tiba cowok itu mengiriminya pesan menanyakan alamat rumah. Padahal kalau tidak salah ingat, semalam di group chat 'Sataan taubat' temannya itu gupek sekali menanyakan tempat makan pempek yang enak.
"Gue nggak tau elo lebih milih makan pempek sama gue ketimbang sama cewek cantik di 0004," ledek Ares. Cowok itu mengambil pempek keriting dan cuka memasukkannya ke dalam mangkuk kecil. Sambil menyandarkan punggung di sofa, cowok dengan wajah jahil itu kembali berbicara, "Apa dia lagi sabtuan sama gebetannya?"
Fajir mendesah, merentangkan kedua tangannya di kepala sofa dengan satu kaki terlipat naik di kaki satunya. "Lo nggak bilang tu toko punya keluarga Lili."
"Kan surprise..." Ares tertawa.
"Surprise kepala lo surprise!" Dengus Fajir.
"Kenapa sih ayank? Nggak ketemu sama Lili emang? Kok galak amat kayak cewek lagi PMS aja." Goda Ares. Cowok itu kembali mengambil pempek dan mencelupkannya pada kuah cuka sebelum melahapnya lagi. Ares bahkan tertawa tanpa suara karena godaannya tadi tepat sasaran, terbukti dengan wajah misuh Fajir sekarang.
Sebab dia yang terlalu peka, makanya Ares sampai memberi sebuah rekomendasi tempat makan pempek ter-hits se-Palembang. Tentu saja, ditambah plus-plusnya. Tetapi, melihat wajah misuh Fajir sekarang, Ares jadi berpikir apakah rencananya itu tidak berjalan lancar? Jangan-jangan Lili sedang ngedate dengan cowok yang berstatus sebagai sahabat cewek itu. Karena setahu Ares, tiap akhir pekan Lili pasti berada disana bersama sepupu cewek itu yang cantik bernama Renata. Bagaimana Ares bisa mengetahuinya? Karena beberapa kali Ares melihat Lili mengunggah cerita di instagram.
"Gue ketemu Lili. Puas?"
"Nah terus kenapa lo kayak macan gini coba? Dikacangin ya?" tebaknya.
"Tampang kayak gue mana mungkin dikacangin cewek, Res."
"Anjir, paham-paham." Ares ngakak lagi. "Terus, kenapa?" lontarnya lagi.
Fajir mendesah. Karena ia tidak mungkin mengatakan soal Lili yang tiba-tiba bertambah cantik saat sedang mengikat rambut—Fajir yakin bahwa Ares akan mengejeknya setengah mampus, alhasil cowok itu hanya menggeleng. "Nggak," jawabnya singkat, kemudian mengalihkan pembicaraan. "Telepon Dipo gih suruh kesini, anak mama banget hari libur ngendep di rumah."
"Udah tadi gue chat. Katanya nggak bisa, udah janjian mau grooming kucing."
"Anjir, doi pelihara kucing?"
Ares menggeleng. "Punya Ayuknya. Karena yuk Lina kerja di Jambi, alhasil tu anak yang kebagian ngurusin kucing kesayangan kakaknya itu. Dan kalo nggak mau doi diancem nggak di kirimin uang tambahan bulanan."
Fajir tertawa. tetapi, jika di lihat-lihat, Dipo memang lebih 'alim' dibandingkan Ares. Dan entah kenapa meskipun nakalnya sebelas-duabelas dengan Ares, cowok itu masih memikirkan nilai-nilai di setiap mata pelajaran. Makanya, Dipo bisa masuk lima besar.
***
SMA Sriwijaya di senin pagi selalu ramai dan heboh. Karena aturan yang memberlakukan pengurangan nilai bagi siapa saja yang terlambat datang di hari senin dan tidak ikut upacara bendera, alhasil ketika gerbang tinggal terbuka setengah, semua yang masih berjalan santai langsung berlarian masuk ke dalam.
Lili membenarkan rambutnya setelah memberikan helm yang dia kenakan kepada Nu. Hari ini, Nu datang agak sedikit terlambat dari biasanya karena katanya dia kesiangan bangun. Semalaman, Nu merampungkan komik series terbaru yang baru saja dia beli ketika ke toko buku bersama Renata hari sabtu kemarin dan dia sempat lupa kalau besoknya adalah hari senin.
"Yuk?" ajak Nu setelah menyantelkan dua helm di motornya.
Lili mengangguk, dan melangkah beriringan dengan Nu. Keduanya berjalan melewati aula sekolah yang terletak di dekat parkiran, menuju koridor bersamaan dengan beberapa Sriwijayans lainnya.
"Kata Tata lo jumat kemarin dianter Fajir balik?"
Lili mengangguk. "Iya, dia nawarin, terus—"
"Lo terima gitu aja?"
"Ha?" Lili menoleh, agak mendongak menatap cowok jangkung di sebelahnya yang kini sedang menatapnya juga. Kening Lili mengernyit heran. "Iya gue terima soalnya bus pada demo."
"Terus kenapa nggak nelpon gue coba?"
Lili mendesah. "Lo ninggalin gue."
"Gue nggak ninggalin elo, Li. Elo yang nggak bisa dihubungin kan?"
"Kok lo jadi marah sih?" gerutu Lili. Harusnya disini kan dia yang marah karena Nu meninggalkannya tanpa mengecek ke kelas terlebih dahulu—setidaknya jika ia di hubungi tidak bisa—karena jelas pasti Lili akan mengabari Nu kalau dia tak bisa pulang bersama cowok itu. Seperti biasanya.
Tetapi, Nu malah pulang berdua dengan Niken. Huh!
"Gue nggak marah," Nu mengacak rambutnya pelan, satu tangannya masuk ke dalam kantong celana seragam, lalu kepalanya menunduk sedikit untuk menatap sang sahabat. "Fajir nggak macem-macemin lo kan?"
"Lo pikir gue berandal sampe macem-macemin anak orang?" tiba-tiba suara tajam milik Fajir terdengar dari arah belakang.
Sontak membuat Lili dan Nu menoleh dan mendapati mata tajam Fajir yang tertuju pada Nu. Fajir menyalip langkah, kepalanya menoleh mengirimkan tatapan tajam untuk cowok yang berstatus sebagai saudara tirinya itu dengan jelas, menusuk. "Senakal-nakalnya gue, gue nggak akan pernah macemin cewek. Gue menghargai perempuan baik, dan elo pasti tau itu."
Fajir melemparkan pandang pada Lili selama dua detik sebelum memilih berlalu meninggalkan dua orang berlawanan jenis di belakangnya.
Yang kini, sedang sama-sama menatap punggung lebarnya dengan pandangan berbeda. Yang juga hanya masing-masing dari keduanya saja yang tahu apapun yang kini berkecamuk dalam benak masing-masing.
***
"Li, hari ini ada pemilihan pentas bahasa." Seru Niken riang ketika Lili berjalan menuju mejanya.
Lili melepas ransel dan meletakkannya di kursi sebelum dia mengempaskan tubuhnya pula di kursi yang sama. "Udah mau pentas bahasa? Terus kali ini apa?" tanyanya.
Sudah menjadi budaya rutin di Sriwijaya selalu mengadakan pagelaran pentas bahasa yang akan di ramaikan oleh anak-anak kelas sebelas. Tiap tahun, acara yang diadakan berbeda-beda namun masih dalam satu konteks yaitu tentang bahasa. Pentas bahasa itu pula merupakan lomba antar kelas—dari anak IPA maupun anak IPS, yang nantinya akan ada perwakilan dari kelas-kelas tersebut yang tampil sebagai perwakilan kelas mereka. Menurut Miss. Chatrine—guru bahasa inggris kelas sebelas (biasa di panggil miss Keket) yang juga pencetus acara ini—dia selalu mengadakan acara rutin seperti ini untuk melatih kreativitas dan skill para Sriwijayans. Selain itu, mengenai kekompakan dari masing-masing kelas itu sendiri.
"Kali ini drama bahasa inggris denger-denger dari anak kelas lain yang lebih dulu diumumin sama miss. Keket," Info Niken dengan antusias. "Jadi, ntar perwakilan kelas di minta untuk ngambil kertas yang udah di gulung-gulung kecil gitu, nah disana ada judul-judul drama yang nantinya bakal kita pentasin. Nggak sabar banget nggak sih, Li?"
Lili meringis. Jika Niken akan selalu antusias mengenai hal yang berbau tampil di muka publik seperti ini, Lili malah sebaliknya. Cewek itu lebih memilih menghabiskan diri menjadi orang di balik layar daripada harus menjadi lakon dan di tatap banyak orang. Menjadi pusat perhatian adalah satu-satunya hal yang ia letakkan di halaman paling belakang jurnal hidupnya. Karena dari pengalaman terdahulu, rasanya menyakitkan tiap kali di ejek dan ditertawakan.
Dan tentu saja, Lili nggak mau mengulanginya lagi.
"Ng..." Lili meringis.
Bersamaan dengan Lili yang mengeluarkan buku pelajaran Bahasa Inggris dari dalam ransel, suara nyaring milik Ares terdengar memanggilnya. Lalu, cowok berwajah jenaka itu menyambangi meja Lili dengan se-plastik es teh sisri di genggaman. Kebiasaan sekali pagi-pagi sudah setor duit ke kantin sekolah. Cowok itu kemudian mengambil duduk pada ujung meja di depan meja Lili dengan kaki dia letakkan di kursi. "Gimana kemarin?"
"Apaan?" Lili menatap bingung.
"Sobat gue yang paling ganteng itu kan abis ngapelin elo. Gue ada kok buktinya, pempek 0004. Asique nggak?"
Lili sibuk mengumpat dalam hati, kenapa pula si Ares ini malah 'nyanyi' pagi-pagi. Bener-bener kayak cewek aja demenannya ngegosip ih!
"Lo mending diem aja nggak usah ikut-ikutan ngegosip."
"Loh, siapa yang ngegosip? Gue kan cuma asking to you." Jawab Ares enteng.
Lili menggeleng pelan. Lalu, membuka buku di atas meja alih-alih meladeni Ares yang kumat sintingnya pagi ini. Lili menangkup pipi diatas telapak tangan dengan siku yang menangku diatas meja. Berpura-pura membaca buku itu sebelum cewek di sampingnya—Niken—menyenggol lengan Lili dan bertanya,
"Apaan Li?" pertanyaan itu memang ditunjukkan kepada Lili, namun mata Niken menatap Lili dan Ares bergantian. Seolah-olah akan lebih baik lagi kalau Ares juga ikut menjawabnya.
Makanya, tanpa menunggu lebih lama lagi seringaian diwajah Ares semakin melebar. Dengan gaya bak seorang informan handal, cowok yang habis menyesap es teh sisri itu menjelaskan secara rinci, "Kemarin Lili diapelin Fajir."
"Enggak diapelin, Res. Kalo mau ngarang tu di pelajaran bahasa indonesia, bukan di tempat gosip." Lili mencebik, menatap Ares dengan kesal. Namun, yang ditatap malah semakin tersenyum lebar dan kembali membubuhkan pandangan pada teman semeja Lili.
"Dak cayo kan kau? Samo be. Si Fajir itu sebenernya mau nanya alamat toko keluarga Lili, tapi pura-pura aja pengin beli pempek. Tu buktinya dia bawa banyak banget ke rumah gue—"
"Dah, dah," tahu-tahu Fajir sudah muncul disana, cowok itu segera merangkul Ares dan menariknya hingga turun dari meja. Fajir mengencangkan rangkulan di leher temannya itu hingga membuat Ares miring, lalu menambahkan. "Gue takut lo di rekrut jadi admin akun gosip kalo lama-lama disini, Res. Tenggorokan lo licin bener."
"Bihun rebus Jir yang licin mah." Ares menyeringai. Memakan satu bongkahan es batu sebelum melempar plastik es teh sisri-nya yang telah tandas ke dalam tempat sampah di depan kelas mereka. "
"Bacot," Dengus Fajir.
Ares tertawa.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Fajir sempat bertemu pandang dengan mata bundar Lili, ia lalu menyunggingkan senyum kecil dan kembali menarik Ares menjauh dari meja itu bersamaan dengan kedatangan Miss. Chatrine dengan wangi parfum yang pasti akan tercium meskipun nanti sang guru cantik itu sudah pergi dari kelas.
Miss Chatrine memberikan senyum dan menyapa. "Good morning, class."
"Morning, Miss!"
"So, how about your weekend?"
"B aja, miss. Boboan lama di bilang tidur terus. Mau makan dibilang makan terus. Gak mandi dibilang ansos. Mau main dibilang main terus. Pegang hape dibilang hapean terus. Mau belajar dibilang tumben belajar. Hidup seribet itu, miss." Suara Ares terdengar menjawab.
Membuat suasana kelas langsung berisik seketika.
"Itu mah elo aja, Res." Ujar Dipo.
Ares mendengus. "Iya, elo kan jadi budak kucing tiap weekend."
Dipo tertawa. Mengatai sahabatnya 'sialan lo!' tanpa suara. Sedangkan Fajir hanya tertawa sambil geleng-geleng, cowok itu bersandar santai di bangkunya menikmati kerecehan kelas barunya itu.
Tapi, kedua matanya langsung menajam dan melemparkan tatapan kesal ketika Ares mulai membawa-bawa namanya.
"Fajir beda miss, abis ngapelin gebetan di 0004 kemarin. Uhuuy!"
Guru berwajah oriental itu langsung melirik ke satu meja di pojok yang berbeda, guru muda itu tahu siapa gadis yang dimaksud oleh salah satu anak didiknya itu. Ia memandangi murid-muridnya itu bergantian dengan senyum menggoda. Karena Miss. Chatrine yang masih muda dan bisa bergaul dengan anak muridnya membuat beberapa Sriwijayans yang diajar olehnya mudah akrab dan tak jarang melempar candaan sebelum masuk ke sesi serius mereka.
"Jadi, gimana kalau Fajir dan Lili jadi kandidat perwakilan kelas?" tiba-tiba Miss. Chatrine melempar pertanyaan itu.
Sontak, Lili membeliakkan mata. "Tapi, Miss..."
"Siapa yang setuju? Atau ada kandidat lain yang mau mencalonkan diri juga?"
"Miss, saya nggak bisa akting," Fajir yang sejak tadi hanya diam saja itu langsung bersuara. "Dari pada bikin malu kelas, mending cari yang lain aja."
"But you're fluent in english. And also Lili."
Yang diangguki dan disetujui oleh anak-anak XI S1.
"Iya, bro. Lagian meskipun berat mengakui, wajah lo satu persen lebih ganteng lah dari gue." Ujar Ares sambil menghadap Fajir. Kemudian bersuara pelan. "Dan, siapa tau ada adegan sikat-sikatan, cair lo Jir ntar."
"Mulut, mulut." Fajir mendengus. Kemudian menolehkan kepala menatap cewek yang berada di ujung berbeda yang kini sedang mengerutkan dahi dalam-dalam.
"Otak lo bener-bener kacau, Res." Dipo menggeleng pasrah ketika mengetahui temannya itu sudah tidak bisa terselamatkan lagi kekacauannya.
Lili mendesah, lalu menatap teman semejanya, "Ken, katanya lo pengin ikut juga? nyalon gih jadi kandidat. Lo pasti lebih keren deh..." suaranya sedikit memohon saat mengatakan itu. Ini benar-benar mimpi buruk kalau sampai dia yang menjadi perwakilan kelas, bersama Fajir pula—cowok yang baru menjadi Sriwijayans tapi sudah menyita hampir seluruh mata cewek-cewek di Sriwijaya. Dan tentu aja pasti akan banyak orang yang membully-nya...
Niken tersenyum kecil, "Gue yakin lo bisa, Li. Lagian dibanding gue, elo lebih cantik dan jago bahasa inggris."
"Yaaah, mampus deh gue. Gue mana pernah tampil beginian, Ken..." desahnya frustasi.
"Lo pasti bisa. Semangat!" Niken mengepalkan kesepuluh jemarinya sambil mengangkat keatas dan menggoyangkannya pelan sebagai bentuk memberikan semangat pada teman semeja-nya itu.
Lili menghela napas pasrah. Kembali ia membawa pandangannya bertemu dengan guru berwajah oriental itu, dan memberi sebuah anggukan kecil.
Setidaknya, dia harus juga mencoba keluar dari zona nyaman untuk mengetahui kalau dunia sudah berubah atau masih sama.
***
Yang ngeselin itu bukan gebetan ngilang pas lagi asik-asik chat, tapi kelaperan di jam segini :(
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co