Truyen3h.Co

Lili

09

authoriya




Suasana kelas semakin kacau karena Miss. Chatrine yang mengumumkan kalau hari ini pelajarannya diliburkan—diganti dengan persiapan pemeran pentas bahasa yang akan menjadi perwakilan kelas. Ada beberapa improvisasi perihal naskah mentah drama bertajuk Cinderella itu karena Miss. Chatrine tadi menambahkan drama yang harus di mainkan berkisar di tahun milenial, bukannya beribu tahun yang lalu. Sehingga beberapa anak—yang kebanyakan siswi perempuan itu—mulai membentuk kerumunan dengan satu laptop milik Gilda di atas meja.

Lili sibuk menahan napas ketika mencium wangi parfum Fajir yang mengerogoti indera penciumannya, sedangkan cowok itu sedang duduk santai dengan satu kaki terlipat di atas paha kaki lainnya tepat di kursi yang di geser hingga dempet dengan kursi yang Lili duduki.

"Lili, say hi dong! Lempeng amat mukanya, jan grogi dong duduk di samping pangeran." Ares membawa HP-nya merekam ke arah Lili dengan cengiran lebar yang tak lepas dari wajahnya.

Sudah sejak lima menit yang lalu Ares melakukan tur 'vlog dadakan'-nya itu karena cowok itu ditunjuk sebagai seksi dokumentasi oleh Miss. Chatrine. Atau, lebih tepatnya ia yang menawarkan diri untuk itu. Tetapi yang ada sekarang Ares malah berlagak bak seorang vloger.

Lili mengukir senyum dipaksakan, "Eh jangan sembarangan dong, siapa juga yang grogi!" gerutunya.

"Lah, kau diam bae," ucap Ares santai masih dengan membawa fokus matanya kepada HP cowok itu. Kemudian Ares membawa HP-nya bergeser sedikit untuk merekam cowok yang sejak tadi duduk santai sambil bergendang-gendang pada meja di depannya. "Elo juga Jir, nggak usah mepet banget kali duduknya sama Lili. Cari kesempatan bener dih."

Fajir mengangkat alis, "Sempit, nyet. Ini duduk aja udah kayak naik KRL."

"Lo udah gue suruh geser ke samping gue, Jir. Tapi malah makin mepetin yang onoh." Timpal Dipo.

"Tau nih alumni anak Jakarta sukanya narik gas aja." Saut Ares. Kemudian dia tampak berbicara sendiri dengan HP yang ia pegang, "Jadi gaes, cinderella ini emang udah lama gitu di cari sama pangeran Fajir. Bahkan dia sampe jauh-jauh naik burung garuda ke Palembang demi menemukan pujaan hatinya ini. Maklumin ya gaes kalo pangerannya rada agresif manjah gimanah gituh. Ulalah~" imbuh cowok itu dengan memakai gaya bicara salah satu artis ibu kota.

Fajir menggeleng pelan, barulah dia menggeser sedikit tubuhnya dari samping Lili. "Sori, gue nggak tau kalo lo kesempitan."

Lili meringis kecil, "Err, oke."

Ditempat lain, Gilda, salah satu penghuni kelas XI S1 yang juga merupakan bendahara kelas itu ditunjuk sebagai narator dan ketua kelompok untuk kelas mereka. Alhasil, cewek berkacamata dengan rambut bob yang menanamkan nilai-nilai perfectionis dan ambisius dalam kehidupannya itu mulai menjadi bossy dan menunjukkan kewenangannya dengan menginteruksi semua orang yang terlibat dalam drama ini untuk duduk bersisian. Dari mulai pemeran Ella (Cinderella) sampai kepada pengawal-pengawal yang ditunjuk tadi.

"Res, lo bukan disuruh jadi youtuber sama miss. Keket. Daripada ngabisin memori HP dengan video nggak berguna gitu, mending lo moto-motoin aja deh." Gilda yang sejak tadi sibuk berkutat dengan beberapa teman untuk mengunduh pdf naskah mentah drama Cinderella di halaman pencarian, menoleh. Mata tajam di balik kacamata itu menatap Ares dengan jengkel.

Ares langsung diam. Cowok biang rusuh itu memang selalu langsung mendadak diam tiap kali Gilda mengomelinya. Tidak hanya Ares, bahkan seluruh siswa-siswa di XI S1 yang tidak tahan ocehan dan lebih memilih mingkem daripada harus berdebat dengan cewek yang sering ditunjuk untuk mengikuti olimpiade Ekonomi itu. Ares melirik Gilda yang telah kembali membawa fokusnya pada laptop sekilas, lalu mendesah napas lega dan kembali mengarahkan kamera HP-nya kearah dirinya dan berbisik, "Oke gaes udahan dulu ya. Si emak kos S1 udah berkoar, nggak tahan Aliando dengerinnya. Bye!"

"Ares tu kelakuan ada-ada aja ya. Selalu bisa bikin orang jengkel sama dia, tapi nggak bisa marah." Gumam Rani sambil menggeleng pelan.

"Apaan Gilda tu makan ati mulu bawaannya."

"Yee, dia mah emang PMS tiap hari!" sela seorang siswa cowok yang juga duduk disana. "Cewek tu kayak Niken. Cantik, baik, lemah lembut, makanya dia yang jadi pemeran ibu peri. Ya, Ken, ya?" ucap cowok itu menghadap ke Niken yang duduk di sebelah Lili. Opi, memang terkenal sudah menyukai Niken sejak kelas 10 tahun kemarin, tetapi cowok itu tidak pernah menyatakan cinta pada Niken karena masih sedikit ragu. Niken baik, tapi baiknya ke semua orang.

Niken tersenyum kecil, "Gue nggak segitunya kali Pi," kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Lili sambil merangkul lengannya, "Lili tuh yang lebih cantik, lebih baik dan lemah lembut kok... iyakan semua?"

Kembali Lili meringis, "Ken, lo apasih, nggak sebanding kali elo sama gue—"

"Lo emang cantik."

Kalimat Lili terputus oleh suara serak berat Fajir. Lili menahan napas, seketika bibirnya tertutup rapat dan memandang beberapa teman-teman mereka yang kini mulai bersiul-siul. Ia bahkan tidak tahu jika obrolan mereka terdengar sampai ke tempat duduk paling ujung.

"Ajegile, panutanku sekali kamu mas Fajir." Angga bersiul-siul.

Yang diamini oleh Opi dan beberapa siswa cowok lainnya.

"Gas terooos..."

"Uhuy, si gondrong yang udah punya pacar aja kalah sepikannya. Oiya lupa, Dipo kan LKLK TKT PCR." Seru Ares dari tempatnya duduk dengan girang, yang langsung mendapat pukulan menggunakan buku cetak di bahu oleh Gilda. Ares mengaduh menatap kesal cewek berpotongan rambut bob itu namun tidak mengumpat.

"Woi, gue nggak takut sama Lara ya!" Gerutu Dipo.

"Masa? Masa sih? Tapi buktinya semua cewek di kontak HP elo kasih nama cowok semua." Ares membeberkan satu fakta yang langsung membuat beberapa cewek yang memiliki nomor HP Dipo dengan cepat menghubungi cowok gondrong itu untuk mengetahui di simpan menggunakan nama apa mereka pada kontak Dipo.

Dipo mendengus jengkel ketika HP-nya bergetar selang semenit dengan nama penelepon yang berbeda-beda; Jarwo, Wendi, Panji, Tobi, Nico.

"Fajir!" seru Lili ketika Fajir merebut HP-nya yang ia letakkan di saku kemeja sekolah dengan gerakan impulsif. Persis seperti pencopet ulung.

"Gue mau tau nama lo di kontaknya Dipo apaan." Fajir mengerutkan kening ketika melihat layar pada HP Lili yang menampilkan pola sandi, namun ia segera berhasil membuka kunci layarnya tanpa membutuhkan waktu yang lama. Fajir tersenyum kecil ketika Lili masih menggunakan pola yang serupa dengan pola yang dipakainya sejak SMP dulu.

Lili membeliak menatap tak percaya pada Fajir yang kini mengintip HP cowok yang duduk di sebelah cowok itu.

Kok dia bisa tau kata sandi gue sih?!

Lili.

"Wih, normal boi namanya?" Fajir tersenyum miring.

"Iyalah, Sarah kan tau Lili pacarnya Yasnu. Jadi dia nggak mungkin cemburu." Gerutu Dipo.

"Gue bukan pacarnya Nu!" tukas Lili setengah sewot—walaupun sebenarnya cewek itu senang sekali jika ada yang menyangka begitu.

"Iya, iya, elo kan calon pacarnya temen gue." Dipo menyeringai.

"Coba gue mau liat nama gue diganti juga nggak..." gumam Niken dengan tersenyum. Kemudian ia merogoh HP-nya dan mulai mengontak Dipo.

Dipo menunjukkan layar HP-nya pada Niken.

"Kok Bejo sih!"

"Sori Ken, Sarah nggak suka sama elo sih," Dipo menggaruk belakang kepalanya, "Waktu itu kita ke ruang guru bareng, dia ngeliat. Biasalah orang ganteng mah sering di cemburuin. Hehehe."

Meninggalkan Dipo yang sibuk bernarsis ria, Fajir memberikan kembali HP yang ia pegang kepada pemiliknya. "Gue hampir mau beliin kuota karena elo nggak read dan bales chat gue." Ucapnya santai.

Lili mengerutu dalam hati, menerima HP yang disodorkan oleh Fajir dan melihat ada pop-up pesan whatsapp baru dari Renata yang dalam sesi curhat sejak semalam—belum berakhir hingga sekarang.

Lili berdeham, "Lo cuma chat 'tes',"

Fajir mengangkat alis, dan seketika tawanya pecah. Cowok itu merubah posisi duduknya agak menyilang menatap Lili dengan satu lengan ia letakkan pada kepala kursi yang ia duduki. "Emang lo tau itu chat dari gue?"

"Tau lah."

"Terus kenapa nggak di bales?"

"Emang mau gue bales apaan coba chat kayak gitu? Bales satu, dua, tiga gitu?" Lili memutar bola mata malas.

Fajir mengangguk-angguk. "Kalo gitu nanti malem gue chat lebih variatif deh. Jadi elo, harus bales. Paham?"

"Nggak janji. Gue nggak mau elo ngelakuin hal yang sama kayak dulu, Jir. Tolonglah jangan ganggu gue kayak dulu."

"Gue nggak pernah ada niatan untuk ganggu elo, Li. Nggak pernah sedikitpun, dari dulu sampe sekarang."

Lili menarik napas dan mengembuskannya pelan. Pandangannya tertuju pada cowok yang kini sedang memberikan tatapan menyeringai dengan Lili yang langsung bibir mencebik, lalu ia memilih untuk mengabaikan omongan bernada mandat itu.

Tanpa ada yang menyadari ada telinga yang sejak tadi terpasang siaga mendengar percakapan keduanya...

***

sori pendek, pen buat cliffhanger ala-ala akutu.

Ditunggu next chap-nya~

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co