Truyen3h.Co

Lili

11

authoriya



Entah ini hanya perasaan saja, atau memang perputaran waktu menjadi terlalu cepat belakangan ini. Rasanya baru juga kemarin Lili merasakan akhir pekannya begitu out of the box karena kedatangan cowok yang sama dengan cowok yang menelponnya dua hari yang lalu itu—dan cowok yang sama dengan cowok yang selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke meja Lili tiap kali cowok itu hendak keluar kelas.

Bikin deg-deg-an aja!

Hari kamis adalah hari yang paling nggak ditunggu-tunggu oleh Lili karena dihari inilah XI S1 kedapatan olahraga. Yang bikin malesnya lagi, jika kebanyakan pelajaran olahraga di sekolah lain itu jamnya di pagi hari, tetapi berbeda dengan SMA Sriwijaya yang lebih memilih meletakkan jadwal pelajaran itu sehabis istirahat kedua dimana matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinar di atas sana. Si matahari itu bahkan nggak mikirin para manusia yang bakal gosong karena sinar UV kepanasan di Bumi. Pokoknya mah yang penting sinarin aja, gitu mungkin kalau saja matahari bisa punya pikiran.

"Ih gue ngiri deh sama lo, Li!" Niken mendesah, cewek itu sudah memakai pakaian olahraga lengkap sambil menaruh pakaian seragamnya ke kolong meja. Matanya pendar menatap teman sebangkunya yang masih berpakaian seragam lengkap. Plus, rubik ditangan.

Berbahagialah bagi kalian kaum berjenis kelamin cewek di SMA Sriwijaya ini, karena ada pembebasan pelajaran olahraga—jika sesi belajar di outdoor bukan di dalam kelas—jika mereka sedang datang bulan. Kebijakan yang diberikan pihak Sriwijaya bukanlah tanpa alasan karena dua tahun lalu ada seorang siswi yang sampai pingsan dikarenakan sakit perut pada red day hari pertamanya. Kemudian, orangtua murid itu sampai datang dan menuntut guru olahraga yang saat itu tidak mengizinkan anaknya untuk izin dan berbaring di UKS alih-alih ikut lari jarak pendek. Pada akhirnya, sejak insiden itu kepala sekolah Sriwijaya membuat kebijakan baru yang disetujui bersama guru-guru supaya memberikan dispensasi bagi siswi perempuan yang sedang datang bulan.

"Tau nih, Lili ama Sarah hoki banget. Masa dapet-nya barengan gitu." Gumam Vio, teman sebangku Sarah yang duduk di belakang bangku Lili dan Niken.

Lili dan Sarah saling ber-high five ria, kemudian sama-sama membawa benda kesayangan mereka untuk ikut keluar kelas menuju Pak Terada untuk meminta izin sekaligus untuk absen.

"Yuk ah cuus, kudu ke kantor dulu nih soalnya." Ajak Sarah, lalu mengamit lengan Lili untuk mengajak teman-temannya itu berjalan keluar. Diikuti oleh keempat murid cewek—termasuk Lili dan Sarah—yang juga meninggalkan kelas, Niken yang paling terakhir keluar menutup pintu kelas mereka dengan santai kemudian berlari kecil menyusul teman-temannya yang sudah berjalan di depan koridor S2, lalu mereka sama-sama berjalan bersisian hingga melewati XI S3 dan S4, hingga mencapai tangga.

Lili menghentikan langkah ketika ia melupakan sesuatu. Tangannya memukul dahi pelan karena melupakan hal yang begitu penting di jaman milenial seperti ini, "Tunggu," langkahnya berhenti. Ketiga teman cewek lainnya itu sontak berhenti juga, dan menatap Lili bingung. Lili kembali mencetuskan, "HP gue kayaknya masih di laci meja deh, soalnya nggak ada nih di kantong seragam..." katanya sambil menepuk-nepuk saku seragamnya.

"Yaudah yuk gue temenin ambil?" Niken menawarkan diri, cewek dengan seragam olahraga itu hendak melangkah menemani, namun Lili langsung menggeleng.

"Nggak usah, kalian duluan aja, lagian Vio sama Niken kan ikut olahraga, tau aja bapak berlengkung mata tajam itu gimana kan..."

"Ya udah, kami nunggu di bawah ya kalo gitu? Jan lama-lama okey?"

"He'eh, lari pake roket gue ntar, tenang aja." Celetuk Lili asal.

"Ke kelas IPA yang ada kalo elo pake roket, Li. Ngapelin gebetan. Uhuuy!" Sarah memainkan kedua alisnya naik-turun.

Lili berdecak, namun tak urung tersenyum kecil. "Dah ah, gue ambil HP dulu ya!" ucapnya, kemudian berlari ke arah kelas yang paling ujung.

Dengan satu tangan yang bebas tidak memegang apa-apa, Lili segera membuka pintu kelas dan melangkah ke mejanya. Tubuhnya sedikit menunduk, melihat laci meja kemudian mendesah lega saat menemukan benda elektronik yang ia cari. Segera diraihnya HP itu dan memasukkannya ke dalam saku seragam. Kemudian dengan langkah sedikit buru-buru, Lili segera berjalan keluar dan menutup pintu kelas itu. Cewek itu berjalan cepat dengan rubik yang ia dapat di laci mejanya tempo lalu, saat sampai di ujung tangga teratas langkah Lili berhenti. Pandangannya tertuju pada anak tangga terbawah, segerombol anak-anak cowok kelas XI S1 nampak saling bercokol sambil melempar guyonan receh yang terkadang malah seperti dark joke. Membuang napas sekali, ia lalu melangkah menuruni undakan tangga itu satu persatu.

"Oits, kalo sama yang ini pilih mana?"

Oke, siapa lagi kalau bukan si tengil Ares. Cowok itu entah kenapa selalu saja memulai huru-hara dan nggak bisa diam barang sedetik, seperti sekarang Ares merentangkan kedua tangannya menghalangi Lili untuk turun dari sana. Pokoknya, ada aja tingkahnya untuk menggoda mayoritas kaum perempuan—ya walaupun Ares juga melakukan sistem tebang pilih sih. Namun jelas, Lili pasti selalu jadi bahan godaan cowok itu, bahkan saat awal-awal masuk beberapa anak sempat mengira kalau Ares menyukai Lili, namun karena cewek itu memiliki laki-laki lain disisinya—lebih ganteng kemana-mana pula—alhasil, Ares hanya bisa berada di status dekat tapi nggak jadian. Tetapi, setelah tahu memang tabiat cowok itu yang bobrok begini, segala gosip dan prasangka yang dialamatkan ke Ares langsung hilang. Belakangan malah beredar kabar jika Ares menyukai Dipo ketimbang cewek cantik saking dekatnya persahabatan mereka. Namun dari segala persepsi itu, hanya Dipo yang mengetahui siapa cewek yang disukai sahabatnya itu...

Dan sepertinya rahasia itu sudah diketahui oleh anggota baru mereka—Fajir—karena tanpa segaja saat Fajir hendak mengambil alih HP Ares ketika Lili menelepon, Fajir melihat wallpaper pada chat room whatsapp Ares. Yang membuat Fajir tersenyum meledek ketika mengembalikan HP itu kepada si pemiliknya.

"Jir, Niken ato Lili?"

"Res, apaan sih...," Lili mengeluh, "Minggir deh."

"Pake nanya, botak," Dipo menyeletuk, "Kunci jawabannya bahkan udah terpampang nyata gitu." Imbuhnya.

Dipo memang nggak percaya bagaimana sahabatnya satu ini bisa bertahan di 10 besar dengan otak yang kadang nggak banget itu, bahkan dengan PC pentium 2 aja kadang lebih bagusan tu PC ketimbang Ares.

"Aku sih Lili." Suara Angga terdengar menjawab santai. Cowok yang sedang bersandar di dinding menghadap ke beberapa teman-temannya yang duduk dibangku panjang terbuat dari semen di pinggiran koridor.

"Ya udah gue Niken aja deh, nggak suka pertikaian gue anaknya." Saut seorang Bimo, cowok tambun berbadan tinggi dan kulit agak gelap.

"Ginilah oncom dikasih nyawa," Ares geleng-geleng kepala. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sambil menatap teman-temannya satu persatu, "Fren, denger ya fren, gue ni tanya Fajir bukan kaleng-kalengnya."

"Ashiiaap..."

"Tulen gue nggak kaleng-kaleng, boi."

Ares berdecak. "Jadi, Bapak Fajir apa anda ingin menambahkan?" cowok itu menoleh ke arah Fajir, kali ini kamera HP sudah standby merekam, sungguh gayanya benar-benar seperti pembawa berita amatiran.

Fajir berdeham, ia melirik ke arah Lili yang menekuk wajahnya karena tiap kali usaha cewek itu untuk menyingkirkan tangan Ares, dan tiap kali itu juga tangan itu bergeming tak bergerak disana. Malah, sebagai gantinya Ares memberikan seringaian super tengilnya.

"Res..." Lili mengesah.

"Passwordnya?"

"Njir, lo kira lagi kuis di acara dangdut?" Dipo dan yang lainnya langsung tertawa lebar.

Lili berdecak. Dialihkannya kedua mata untuk menatap Fajir yang kini juga sedang menatapnya itu. Dengan jantung yang tiba-tiba berdegup tak Lili mengerti penyebabnya, cewek itu kemudian memberikan tatapan memohon pada Fajir.

Membuat cowok tinggi itu langsung berdiri seketika. Fajir berdeham sekali, lalu melangkah merangkul Ares kencang membuat cowok berpotongan rambut semi-gundul itu langsung mengaduh, berjalan terseok mengikuti langkah santai Fajir. "Ngoceh mulu, lama-lama direkrut jadi pembawa acara gosip lo."

"Gue taruhan sama peringkat gue, kalo temen gue itu naksir sama elo kayaknya." Dipo menyipitkan mata sambil menunjuk-nunjuk Lili. Cowok yang memakai bando plastik hitam untuk menghalangi rambut gondrongnya menutupi wajah itu menyeringai, berjalan mundur di depan Lili, sebelum berbalik arah menyusul teman-temannya yang sudah berjalan agak jauh di depan sana.

Sementara Lili mengerutkan kening kebingungan. Di depan sana, di antara segerombolan anak-anak tengil dengan group chat 'Sataan taubat' ada seseorang yang sedang tersenyum kecil ketika tadi melihat rubik pemberiannya sedang dipegang oleh si penerima hadiah itu.

***

"Agak lamo kau ya, beneran pake roket mampir ke kelas sesegebetan dulu ya?" selidik Sarah ketika Lili baru saja duduk di bangku panjang tepat di sebelah cewek yang selalu mengenakan aksesoris biru itu.

Keduanya kini sedang duduk di bawah pohon rindang yang menghadap ke lapangan, sementara pandangan mereka terarah pada teman sekelas mereka dan anak kelas A3 yang juga mendapatkan jadwal olahraga di jam yang sama—hanya saja berbeda guru mata pelajaran—mereka sedang melakukan pemanasan sebelum lari jarak pendek yang akan mereka tempuh. Lili otomatis langsung mengingat hari dimana ia datang terlambat dan berakhir mengelilingi gedung SMA Sriwijaya bersama Fajir. Jalur lari khusus Sriwijayans, kecuali jika jarak tempuhnya adalah jarak panjang, maka medan yang akan dihadapi yaitu diluar area sekolah. Tapi biasanya jalur itu digunakan hanya ketika pengambilan nilai olahraga praktik saat ujian semesteran berlangsung saja.

"Ketemu Ares di tangga bawah, terus dihadang-hadang gitu biasalah." Jawab Lili, cewek itu meletakkan rubiknya sebentar dan mengambil ikat rambut yang ia jadikan gelang lalu mengikat rambutnya menjadi satu sambil memerhatikan teman-teman sekelas mereka yang masih melakukan pemanasan di depan sana. Kembali ia mengambil rubiknya dan memokuskan pandangannya pada benda warna-warni itu.

"Li, gue mau nanya nih ya. Si Nu nggak pernah nembak lo gitu?"

"Ha?" Lili terkekeh geli. "Nggak lah."

Sarah ikut tertawa, cewek itu membawa kedua tangannya menyangga tubuhnya dengan menempatkan disisi kiri dan kanan dengan kedua telapak tangan mencium keramik putih yang mereka duduki, lalu mengemukakan pemikirannya. "Kan kayak di novel dan webtoon gitu, nggak ada pertemanan murni antara cewek dan cowok."

"Ini buktinya gue ada?" Lili mengangkat alis. Berusaha terlihat biasa-biasa saja mengenai pembahasan mereka sekarang ini. "Nu naksir sepupu gue kok."

"Serius?!" kedua mata Sarah membeliak, cewek itu menegakkan posisinya, lalu kembali merepet mengirimkan pertanyaan beruntun ala reporter kepada Lili, "Cantik nggak? Gimana anaknya? Wah gila sih ini parah, gue penasaran cewek yang ditaksir cowok kayak Nu itu sebadai apaan. Liat dong Li fotonya?"

"Sarah, kalau kamu sehat-sehat saja lebih baik ikut stretching dan lari nanti!" ujar pak Terada yang kini sedang menatap kearah kedua cewek itu.

Sarah langsung ciut seketika. Lalu menekan perutnya pelan sambil mengaduh, "Maaf pak, tadi saya abis ngeluh ke Lili soalnya perut saya melilit banget..."

"Ya sudah, kalian berdua ke UKS saja kalau begitu." Perintah pak Terada yang langsung diangguki semangat oleh satu di antara dua cewek yang sedang duduk disana. Tanpa menunggu pak Terada berubah pikiran lagi, Sarah langsung menarik Lili untuk ke UKS. Ia sempat mengira kalau pak Terada akan memaki alih-alih memberi jackpot seperti ini.

"Pokoknya elo kudu kasih liat gue tampang cewek yang disukain sama Nu kayak apa!" bisik Sarah kepada Lili.

***

"Ih, cak mano ini! Dompet gue nggak ada!" Jelita, teman sebangku Gilda yang duduknya di meja paling depan tepat di depan guru itu berteriak histeris dengan terus menggeledah isi tasnya.

"Beneran ilang?" Gilda yang sejak tadi membantu mencari ke laci meja keduanya dan ke dalam ranselnya siapa tahu terselip disana, namun melengos pasrah ketika tidak menemukan juga.

Jelita mengangguk, wajahnya pucat pasi. "Itu ada uang untuk bayar buku di koperasi, gue lupa tadi mau bayarinnya... gimana dong?" suaranya gemetar hampir menangis.

Seluruh penghuni kelas XI S1 yang mendengarnya sebagian mulai ribut-ribut dan membantu mencari, sementara sebagiannya lagi memilih apatis akan hal itu. Tak lama kemudian, Pak Terada masuk dengan santai, membuat suasana kelas yang bising mendadak hening. Langkah panjang pak Terada membawa pria keturunan jepang itu cepat sampai di mejanya, keningnya mengerut ketika melihat satu anak didiknya menangis sambil menenggelamkan wajah pada kedua tangan yang terlipat di atas meja. Sementara Gilda sibuk menenangkan teman semejanya.

"Jelita, ada apa?" tanya pak Terada heran. Karena tadi beliau meminta agar anak-anak muridnya tidak langsung 'kabur' keluar kelas walaupun pelajaran telah selesai—beliau ingin memberikan tugas karena minggu depan beliau tidak bisa menghadiri kelas seperti biasa.

Tetapi, tentu saja pak Terada mendadak bingung ketika melihat siswi Sriwijaya di kelas yang ia masuki sedang menangis. Setelah mendengar penjelasan dari Gilda, akhirnya dengan tegas guru yang terkenal tidak memandang gender untuk menghukum Sriwijayans itu langsung menginteruksikan supaya penghuni kelas XI S1 mengeluarkan semua barang di dalam tas, laci meja dan meletakkannya di atas meja masing-masing.

"Lho, itu bukannya dompet Jelita? Kok bisa di tas elo, Li?"

Petanyaan Niken sontak membuat seluruh mata di kelas itu langsung menoleh ke arah meja mereka. Kedua mata Lili membeliak dengan degup kencang, kepalanya menoleh kaku menatap Niken sambil menggeleng bingung,

"Gue juga nggak tau kenapa ada di tas gue..." lirih Lili dengan suara hampir menangis.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co