Truyen3h.Co

Lili

12

authoriya



Ternyata ramalan zodiak yang dikirimkan oleh Renata itu benar. Lili berbaring seharian dengan wajah menelungkup pada bantal di ranjangnya. Tubuhnya berguncang dengan sesekali jika isak tangis tak dapat dibendungnya.

Pasca insiden tadi siang di sekolah—yang membuat Mama datang ikut rapat di kantor kepsek, akhirnya dengan penuh pertimbangan nilai dan sepak terjang Lili sebagai murid baik-baik itu mampu menolong cewek itu dari ancaman Drop out. Sebagai gantinya, Lili mendapatkan skorsing selama satu minggu penuh. Walaupun Mama dan Renata (yang langsung datang ketika menerima informasi itu dari Mama Lili) mengatakan kalau kedua perempuan itu percaya seratus persen bahwa Lili tidak mengambil dompet itu, namun nyatanya itu belum bisa menyulutkan kesedihan Lili atas tuduhan yang dia terima.

Seperti yang terlihat, Lili bahkan terus-menerus mengurung diri di dalam kamar dengan seragam Sriwijayans yang masih melekat di tubuhnya. Cewek itu bahkan tidak merubah posisinya sejak awal.

Mama yang sejak tadi pengintip dari celah pintu yang dibiarkan terbuka sedikit itu mengesah. Ia percaya bahwa Lili tidak bersalah. Setelah puluhan purmana terlewat, baru kali ini Mama melihat anaknya itu menangis sesegukan. Namun, ia tidak bisa banyak membantu karena bukti yang salah alamat itu tidak bisa dielakkan.

"Biar Tata aja yang bicara sama Lili, bicik." Renata mengelus pundak Mama pelan sambil tersenyum menenangkan. Kemudian, dilangkahkannya kaki masuk ke dalam kamar.

Mama mengintip sebentar, sebelum akhirnya pergi dari tempatnya semula.

"Nu tadi chat gue. Katanya dia mau kesini, lo di teleponin nggak diangkat-angkat. Mau dibawain apa?" seloroh Renata sambil membawa tubuhnya duduk diujung ranjang. Cewek itu menoel-noel punggung Lili, mengabaikan isak tangis yang di dengarnya. "Oi, mau apo kau? Atau mau dibawain adek tiri-nyo Nu bae, hm?"

"Ta..."

Berhasil! Renata tersenyum ketika Lili menjauhkan tubuhnya dari bantal yang kini sarungnya rembes karena air matanya itu. Wajah lecek Lili langsung terlihat, membuat Renata menggeleng pelan. "Gue, bicik, opa dan Nu tuh percaya sama elo, Li. Udahan dong nangisnya, ya?"

Lili mendesah. "Gue beneran nggak ngambil dompet itu dan gue nggak tau kenapa tu dompet bisa tetiba ada di tas gue..."

"Iya, gue tau," Ucap Renata kemudian memeluk Lili erat. Tangannya bergerak menepuk punggung Lili perlahan-lahan, sambil menggumam, "Gue akan bantuin Nu buat cari tahu lewat rekaman cctv yang ada di koridor. Tenang ya, Li. Semua akan terbongkar kok."

"Makasih ya, Ta."

Renata mengangguk, menguraikan pelukannya. Tangan berkutek coklat itu bergerak menghapus sisa air mata di pipi Lili, lantas tersenyum. "Jadi?" kembali ia mengajukan pertanyaan.

"Jadi?" Lili membeo.

"Mau dibawain sodara tirinya Nu atau—hahaha!" Renata langsung terkekeh ketika Lili mendorongnya pelan sampai punggungnya terhempas ke ranjang. Cewek itu mengambil HP-nya dan memotret wajah sepupunya yang terlihat kesal namun sedikit nelangsa itu. "Gue bakal kirim ini ke cowok lo lewat Nu."

"Ih, gue nggak ada cowok. Jangan ngarang!" gerutu Lili. Kedua mata sembapnya menyipit. "Kebanyakan follow akun gosip sih." imbuhnya jengkel.

"Gue nggak percaya. Tadi aja gue ngeliat dia nangkring lama di atas motor di depan pagar rumah ini kok," Jawab Renata dengan santai. "Dan elo masih bilang kalau kalian nggak pacaran? Mana ada teman sekelas yang repot-repot diem di atas motor di depan rumah, mana panas lagi cuacanya."

Kedua mata Lili kontan membeliak. Cewek itu seketika melupakan hal yang membuatnya bersedih sejenak. Tubuhnya condong dengan jemari menggenggam erat bantal. "Ngapain Fajir kesini!?"

Renata mengedikkan bahu. Tangannya kemudian mengambil HP Lili yang berbunyi di nakas, dan satu senyuman lebar terukir di wajahnya saat melihat id caller si penelpon. "Kayaknya cowok ganteng emang ditakdirkan untuk panjang umur ya?" ucapnya sambil menunjukkan layar HP Lili ke sang empunya.

Lili menahan napas. Kepalanya menggeleng, mengisyaratkan agar Renata membuang jauh-jauh apapun yang sedang cewek itu pikirkan. "Jangan diangkat."

"Ups, tangan gue kepleset," kikik Renata pelan , kemudian membawa HP Lili ke telinga kanan. "Ya, hallo?"

Lili menggerutu. Dasar Renata jahil!

"Siniin HP gue," pinta Lili tanpa suara, yang langsung mendapat gelengan pelan dari Renata.

Sepupu Lili yang super hits itu tersenyum lebar, mendengarkan dengan khidmat kepada cowok yang menelepon itu.

"Lili ada nih lagi melotot, tapi karena matanya sembap abis nangis bombay jadi nggak serem... lo tadi kenapa nggak ngetuk pintu? Eh tunggu!" Renata berseru, menatap Lili dengan menaik-turunkan alisnya kemudian kembali bersuara, "Mending elo kasih penjelasan langsung aja deh sama cewek lo. Dia penasaran banget kenapa elo malah diem aja diluar pagar." Tukasnya. Lalu menjauhkan HP itu dari telinga dan menyodorkannya kepada si empunya, "Nih. Thank me later!" bisiknya kemudian berlari keluar kamar sambil tertawa puas.

Lili menatap jengkel kepada tubuh yang menghilang dibalik daun pintu kamar itu sebelum menarik napas pelan dan mengembuskannya tak kalah pelan. Dibawanya HP itu ketelinga kanan, lalu suaranya mengudara. "Ng, ini gue."

Tak ada respons diujung sambungan membuat kening Lili mengernyit. Cewek itu menjauhkan HP-nya, mengira kalau sambungan telepon itu telah terputus, namun ketika melihat log durasi yang masih terus berjalan, ia kembali mendekatkan HP ditelinga. Tak lama berselang, suara serak dan sedikit dalam milik Fajir terdengar. Santai, namun efeknya membuat letupan tak wajar pada jantung Lili.

"Gue percaya sama elo," kata Fajir pelan.

Meskipun hanya sepenggal kalimat singkat, namun nyatanya berhasil membawa Lili kepada level jauh diatas posisinya tadi. Hatinya sedikit melega, jauh sebelum ia mendengar kalimat itu. Mungkinkah ini efek daripada perasaan dipercayai oleh orang diluar lingkarannya, ataukah karena yang bicara ini adalah Fajir?

Sesungguhnya itu masih menjadi misteri.

Namun, dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya—dan juga jantung yang semakin berpaju lebih cepat dari sebelumnya—Lili berdeham tak kentara. "Makasih ya karena udah percaya sama gue."

Fajir mengangguk ditempatnya. Cowok itu sedang pada satu kursi merapat ke jendela disebuah coffee house terkenal yang letaknya di dalam salah satu mall di Palembang. Tatapan tajam Fajir menuju ke arah luar jendela kafe, kepada sekelompok keluarga cemara dengan dua mbak yang sedang mendorong troller bayi nampak berjalan memasuki salah satu restoran Jepang.

"Kata Tata elo tadi dari sini?" satu pertanyaan kembali muncul untuk membunuh kediaman. Kemudian, Lili meruntuki dirinya sendiri karena bertanya seperti itu.

"Iya,"

Lili menggigit bibir bawahnya, "Kok nggak masuk?" ih ngapain coba gue nanya gitu!? Menggeleng pelan, ia kembali menambahkan. "Maksud gue—"

"Dipo nelepon ngajak ngumpul di starbuck." Sela Fajir.

"Oh..." Lili ber-oh panjang, lebih karena ia bingung harus mengatakan apalagi.

"Mau gue temenin?"

Kening Lili mengernyit bingung ketika mendengar pertanyaan Fajir barusan. Sesaat ia mengira kalau Fajir sedang berbicara dengan Dipo atau Ares atau siapapun yang sedang bersama cowok itu. Namun, ketika tak ada lagi suara terdengar barulah Lili yakin kalau pertanyaan itu ditunjukkan Fajir untuknya.

"Temenin apa?" tanyanya masih dengan kebingungan.

"Nggak masuk sekolah."

Wajah Lili langsung memerah mendengarnya, satu senyuman kecil terbit mengiringi suara Lili, "Lo bisa kena poin dari pak Terada kalo ngebolos."

Lili bisa mendengar gerutuan Fajir diujung sana, sontak saja cewek itu terkekeh pelan. "Lo bisa ke 0004 kalo mau."

"Lo disana?"

"Mm," Lili mengangguk. "Kayaknya gue lebih baik bantuin Opa dan Mama daripada suntuk di rumah sepanjang hari."

"Oke."

"Oke?" Lili membeo.

Sebuah suara samar dari ujung sambungan membuat Lili tahu kalau teman-teman cowok itu telah ada disana. Jantungnya langsung berdegup cepat ketika mendengar suara goda-godaan yang diketahui Lili bersumber dari Ares—cowok plontos itu mempertanyaan siapa yang sedang ditelepon cowok itu—kemudian, terdengar suara Dipo, Angga, dan beberapa anak yang menyahuti juga.

Lili hanya mendengar gerutuan samar dari si pemilik telepon, sebelum suara beratnya kembali terdengar. "Nanti gue telepon lagi ya."

"Iya."

Kemudian sambungan telepon itu terputus.

Lili termenung, menatap layar HP-nya yang kini menampilkan wallpaper pemandangan langit dengan kesadaran yang perlahan muncul.

"Kenapa juga gue jawab iya?!" keluhnya lebih kepada diri sendiri sambil menarik-tarik rambutnya frustasi. Respons yang ia katakan ditelepon tadi adalah murni tanpa kesadaran alias keluar begitu saja dari mulut tanpa otaknya mencerna lebih dulu.

Namun, kegiatan meruntuki diri itu terhenti ketika suara Renata dari bawah terdengar nyaring meneriakkan namanya. Maka, dengan melempar kasar HP-nya ke atas ranjang, Lili segera mengambil ikat rambutnya dan mengikat asal. Mengganti pakaian, kemudian cewek itu bergegas keluar kamar dengan langkah lakang putang.

***


Jam delapan lewat lima belas esok harinya selesai mencuci motor—dia menolak keras kepada mang Jarwo yang menawarkan bantuan untuk mencuci motornya. Sejak dulu ia memiliki motor ini, Fajir memang selalu merawat motornya sendiri—kecuali jika si motor sakit dan harus di bawa ke dukun alias tukang bengkel. Karena itu, setelah mengelap menggunakan kanebo, Fajir segera menghidupkan mesin motornya untuk ia tinggal masuk ke dalam.

Fajir membawa ember berisi air sabun dan membawa gulungan selang yang tadi dipakainya ke satu tempat bersemen di antara rumput jepang taman rumahnya, dan meletakkan selang beserta ember yang ia pakai disana. Kepalanya menoleh, menatap Mang Jarwo yang sedang memberi makan ikan mas koi di dalam kolam buatan depan rumah, lalu bersuara. "Mang, tolong matiin motor saya ya entar kalau mesinnya udah panas."

"Siap Mas!" Ucap Mang Jarwo sambil menunjukkan sikap hormat.

Fajir mengerutkan dahi namun ia tak merespons. Cowok itu berbalik dan masuk ke dalam rumah bertepatan dengan Nu yang hendak keluar. Keduanya saling pandang, namun tanpa merasa perlu melakukan interaksi basa-basi, cowok-cowok itu langsung berjalan saling meninggalkan. Mang Jarwo yang sempat melihat cuplikan adegan seperti dalam sinetron-sinetron yang sering di tonton Encum—ART di rumah ini juga—langsung terpukau. Menurut Mang Jarwo, kedua anak majikannya itu memiliki permasalahan yang cukup pelik, tetapi satu hal yang lelaki keturunan jawa itu pahami, pastilah anak dari Bapak Majikannya itu yang lebih dulu mengibarkan bendera perang. Karena jelas, pembuat onar tidak mungkin berada di kubu Yasnu yang memang sudah baik dan tidak memiliki cacat apapun di mata Mang Jarwo, Encum ataupun pembantu tetangga di komplek tinggal mereka.

Begitulah, memang mata selalu lebih bisa menyimpulkan apapun yang ia lihat. Padahal, belum tentu apa yang ia lihat benar-benar seperti apa yang terjadi. Karena sejatinya, hati tidak pernah bicara seberapa kesakitan mampu merubah pribadi seseorang.

"Mas Nu mau kemana?" sapa Mang Jarwo ketika melihat anak majikannya yang lain sedang mengeluarkan sepeda dari dalam garasi. Berpakaian kaos polo dengan celana katung, Nu terlihat segar pagi ini.

"Ke konter depan bentar." Jawabnya sambil menaiki sepeda gunung berwarna biru metaliknya.

"Kan pake wifi, ngapain beli kuota?"

"Emang kalo ke konter mesti beli kuota ya?" Nu menaikan sebelah alisnya sambil tertawa.

Membuat Mang Jarwa garuk kepala. Lelaki setengah baya yang memiliki sikap keingintahuan yang begitu kental itu kembali menyuarakan tebakannya. "Oh, mau beli pulsa buat nelepon mbak Tata ya?"

Nu tersenyum. "Saya ke depan dulu ya, Mang. Jangan lupa motornya di matiin kalo mesinnya udah panas. Nak kena sembur samo yang punyo nanti."

Sepertinya lelaki setengah baya itu hampir saja melupakan permintaan tolong dari Fajir, karena dengan langkah lakang putang Mang Jarwo langsung berlari menuju motor sport Fajir dan mematikan mesinnya.

Nu menggeleng pelan melihat itu, kemudian mulai menggoeskan sepedanya keluar pagar.

***


Fajir melepas helm full face-nya sambil menatap tulisan besar yang menempel pada dinding gedung besar di depannya. Sebuah tulisan berupa nama perusahaan teknologi yang bergerak di bidang keamanan terkemuka. Dan menurut pak Terada saat kemarin Fajir memberanikan mental untuk bertanya kepada guru galak itu, beliau memberitahu jika yang memegang cctv di bagian koridor sekolah bukanlah pihak sekolah, namun perusahaan jasa keamanan itu sendiri. SMA Sriwijaya bersama dengan SMA-SMA Elit lainnya telah melakukan afiliasi dengan perusahaan cctv dalam memantau di sektor keamanan.

Dan, guru dengan mata sipit nan tajam itu mengatakan bahwa gedung pencakar langit yang ada di depan cowok itu kini adalah tempatnya. Fajir membawa motornya masuk ke dalam, lalu memarkirkannya. Cowok itu menyugar rambutnya asal, sebelum melangkah menuju pos satpam.

"Maaf, pak." Tegur Fajir kepada lelaki dengan seragam sekuriti hitam berbadan tambun yang tengah mendengarkan lagu dangdut yang dibawakan oleh penyanyi dangdut ibukota.

Si satpam yang hampir terlelap di pos jaganya itu langsung bangun, memindahkan topi yang menutupi wajahnya. Lalu menatap anak muda yang menegurnya tadi. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Kalo mau melihat cctv sekolah, ke lantai berapa ya Pak?"

"Sekolah mana?"

"SMA Sriwijaya." Fajir menyebutkan nama sekolahnya.

Si satpam nampak menilai anak muda di depannya dengan menyisir pandangan dari atas ke bawah. "Untuk keperluan apa?"

"Teman saya kehilangan dompet di kelas. Jadi saya diutus oleh Pak Terada sebagai perwakilan kelas untuk memastikan." Bohongnya dengan lugas.

Mendengar nama Terada yang disebutkan, si satpam buru-buru menambahkan, "Hari ini libur. Kau bisa balek lagi hari senin."

Kenapa nggak dari tadi bilangnya! Fajir mendengus kesal. Dengan tetap menjaga tampang 'anak baik-baik'-nya, cowok tinggi itu melepaskan satu senyuman pengertian sebelum akhirnya pamit dan mengucapkan terima kasih kepada si satpam. Yang langsung diangguki oleh pria berbadan tambun di dalam pos satpam itu.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co