14
"Lili nggak masuk, udah langsung selingkuh aja lo Jir." Celetuk Ares dengan cengiran lebarnya ketika mendapati Fajir dan Niken yang masuk ke dalam kelas berdua.
"Tau nih, dasar cowok ganteng tipe nggak setia!" Angga menimpali. Dari bangkunya, ia kemudian menatap Niken. "Ken, jangan mau sama Fajir ya? Cewek cantik itu milik semua orang. oke?"
"Apaan si oncom goreng. Lo kira Niken barang apa?" Ares mencentang kepala Angga dari bangkunya.
Niken yang sejak tadi di goda-goda itu hanya tersenyum saja. Cewek itu kemudian jalan menuju bangkunya dan duduk disana. Sikap santai yang sudah terlatih sejak dulu, membuat Niken tidak perlu repot-repot menutupi kegelisahan yang kini bersarang di benaknya. Tanpa kentara, Niken kemudian mengalihkan pandangannya pada cctv yang berada di pojok atas ruang kelas, lantas mendengus.
Benar-benar sial karena Niken melupakan hal yang terpenting satu ini. Jelas sekali Fajir sudah memegang kartu AS dan siap membuat hidupnya di sekolah hancur jika sampai hal itu terbongkar. Tetapi, mengaku kepada guru BP juga bukanlah jawaban dari masalah ini karena jelas akan ada sanksi yang setimpal dengan perbuatan yang ia lakukan. Sekarang ia seperti berada diujung tebing yang menjorok ke jurang. Serba salah.
Niken mendesah lagi-lagi. Baru juga ia hendak mengambil bukunya, seseorang keburu mengambil tempat di kursi Lili yang kosong. Cewek itu menoleh dan mendapati Sarah sudah duduk di sana, cewek dengan aksesoris biru itu nyengir. "Gue duduk sini ya. Nggak keliatan mau nyalin tulisan dari papan tulis kalau di belakang."
"Mm," Niken mengangguk tersenyum.
Jam pelajaran terakhir adalah milik Bu Endang, satu-satunya guru sejarah yang mendapat mandat memegang seluruh kelas sebelas IPA dan IPS. Bu Endang merupakan satu-satunya guru di Sriwijaya yang berasal dari Jawa tengah. Beliau pindah ke kota Palembang karena mendapatkan suami orang asli sini, tetapi herannya kultur khas di sana rupanya sama sekali tidak terkikis meskipun sudah hampir lima tahun Bu Endang menetap di sini, terbukti dari cara bicara—meskipun bukan menggunakan bahasa jawa, namun sisi lemah lembut khas wanita solo berbicara tak pernah absen—dan bagaimana guru berumur 30 tahunan itu menghias kepalanya dengan konde. Dan cara mengajarnya yang lebih kepada memenuhi buku catatan anak muridnya—karena menurut Bu Endang itu adalah salah satu hal efektif agar anak muridnya menangkap dari pada yang mereka catat—dan cara menjelaskan guru wanita itu yang sering dijuluki anak-anak cowok sebagai lullaby.
"Err, Ken? gue kok nggak percaya ya kalo Lili yang ngambil dompet Jelita," Sarah memiringkan kepala menatap Niken yang sedang berkutat dengan buku Sejarahnya.
Niken berhenti membaca, walaupun fokus cewek itu belum juga pindah dari buku di depannya. Ia bersikap santai, lalu menoleh pelan. "Gue juga nggak yakin dia yang ngambil. Kayak nggak mungkin Lili kan baik."
Sarah mengangguk setuju, semakin mengutarakan hasil analisanya. "Apa ada yang nggak suka ya sama dia? Terus sengaja gitu bikin dia bersalah?"
"Tapi bukti riil udah kelihatan," Niken mengedikkan bahu. "Lagipula, kita nggak bisa nilai orang baik cuma dari tampang dan prilaku yang dia tunjukkin ke kita kan?"
"Iya sih..." Sarah mendesah. "Yasnu kok nggak bertindak sih? Ngomong doang sahabat, bukannya bantuin malah diem be!" tiba-tiba Sarah merasa kesal.
Cewek itu benar-benar mengidolakan persahabatan Lili dan Nu, menurut Sarah keduanya terlihat serasi dan terkadang dia malah yang kelimpungan selalu ingin menjodohkan dua orang itu. Tetapi, sekarang Sarah jadi kesal sendiri karena Nu malah tak nampak mengambil tindakan sedikitpun, padahal biasanya cowok itu selalu pasang badan kalau Lili melakukan hal ceroboh seperti lupa membawa buku cetak atau seragam olah raga. Atau, kalau Lili tiba-tiba pingsan ketika upacara berlangsung.
Niken mulai mengiring opini tanpa kentara. "Atau mungkin Nu udah tau yang sebenarnya makanya dia nggak ngebelain?"
"Tapi gue tetep nggak percaya." Kata Sarah kekeuh. Cewek itu sudah sekelas dengan Lili sejak kelas sepuluh, dan itu bukan waktu yang sebentar untuk menilai apakah seseorang itu baik, atau nakal, atau sombong menurutnya.
Sarah mengerutkan dahi, kemudian menghadap ke depan ketika Bu Endang telah datang.
"Inspiratif banget ya Bu Endang." Cewek itu geleng-geleng kepala.
Niken tersenyum kecil dan mengangguk setuju. "Tapi, tu anak-anak kayak nggak ngotak. Nggak berhenti ribut padahal udah ada guru di depan kelas."
"Kalo gue jadi Bu Endang, udah gue kasih nilai jelek tu cowok-cowok. Biar aja rambut kebanggaan Dipo di gundulin karena rankingnya nurun!"
"Jahaaaat lo!"
"Hahaha!" tawa Sarah meledak ketika membayangkan Dipo dengan rambut seperti Ares. "Beneran jadi upin-ipin mereka berdua."
***
"Jangan lupa tengat waktu lo. Dua hari." Bisik Fajir ketika cowok itu melewati Niken yang berjalan di koridor.
Sontak saja hal itu membuat anak-anak yang berada di sana langsung ribut seperti cacing kepanasan dengan segala prasangka-prasangka yang berakhir menjadi sebuah ledekan penuh kericuhan. Apalagi, kalau ledekan itu di pelopori oleh duo upin-ipin—sudah saja pasti semakin menjadi.
"Bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar selalu ditelinga..." Ares mengutip suatu lirik lagu dengan nada sumbangnya. "Dipo, lanjut yihaaa!"
"Untuk apa kau berikan aku benang yang kusut, sementara diriku harus membuat kain-kain yang halus..." sambung Dipo dengan penuh semangat.
Semua yang ada disana mendadak diam. Pandangan Ares mengerjap, menatap tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Tak lama kemudian cowok itu langsung memberikan satu kosetan pada kepala Dipo dengan kesal. "Dah ah, lo belajar aja sana."
"Gue kira orang pinter nggak bisa goblok. Ternyata manusia emang normal ya." Angga menyahuti.
Mengusap pelan kepalanya yang terkena amukan Ares, Dipo menggerutu. "Apasih? Gue salah apa emangnya, nyet?"
"Lo salah lirik anjir!" dengus Ares. "Kenapa juga Lara bisa suka sama lo. Mending sama gue, pinter nyanyi."
"Setan, mau nikung lo?!" Dipo menyipitkan mata.
"Mana mau Lara sama lo, Res," tiba-tiba suara sinis perempuan terdengar. Ares mengangkat alis ketika melihat Gilda, Sarah, Niken, Jelita dan beberapa anak cewek lainnya berjalan melewati mereka. Kemudian cewek berkacamata yang selalu sinis itu kembali menyuarakan kelanjutan dari kalimatnya sebelum mereka benar-benar melangkah menjauh. "Otak gesrek dipelihara, tuyul noh dipelihara biar kaya."
"Bendahara kelas makin gemes aja tiap marah-marah." Ucap Ares pelan. Bibirnya membentuk senyuman lebar sambil menatap salah satu punggung dari gerombolan cewek-cewek yang berjalan semakin menjauh itu.
"Kalo naksir itu diperhatiin, bukan diusilin." Komentar Fajir. Kedua tangannya masuk ke saku celana, menatap temannya yang kini menyengir bodoh menatap satu cewek yang suka dibuat Ares kesal itu.
"Gue nggak naksir."
"Nyangkal aja terus," Dengus Fajir. Cowok itu menatap jam pada tangan kirinya sebentar, kemudian mengundurkan diri. "Duluan ya."
"Kemano? udah kayak anak mami sih Jir masih siang pulang. Kambing aja balik kandang pas matahari terbenam." Dipo melemparkan ejekan yang pernah diberikan Fajir untuknya tempo lalu karena tidak bisa ikut berkumpul di akhir pekan. Dan sekarang, rasanya dia senang sekali bisa melempar balik ledekan itu ke depan wajah temannya.
Fajir berdecak. "Nggak balik. Mau ke 0004."
"Si anjir, mau ngapel ya lo!?" serbu Ares. "Ajak-ajak kali sobat misqueen lo ini, ye nggak Dip?"
"Sori, gue nggak jomblo. Mau nganter balik Lara."
Ares mendengus. "Ojol aja dibayar. Lo mauan aja sih, Dip, jadi ojek gratis. Ckckck!"
"Liat aja, gue ketawain kalo sampe jadi bucinnya si bendaraha." balas Dipo dengan kesal. mulut Ares ini memang sebelas-duabelas sama jalan tol. Lancar benar.
"Ckck, ribut sana kalian, gue duluan ya!" Fajir berjalan mundur sambil berdadah-dadah ria. Cowok itu kemudian berbalik badan pada langkah ke empatnya, lalu berjalan dengan cool menuruni tangga. Hingga langkahnya sampai di undakan tangga paling bawah, tiba-tiba terdengar suara berlari dari arah belakangnya bahkan sampai berisik.
"Jir, kami ikut!" Ares berseru.
"Lara mau hangout sama genks sosialitanya," sambung Dipo memberikan informasi. Cowok gondrong itu nampak kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Kata mama, nggak boleh berduaan antara cewek sama cowok. Nanti ada setan," Ares memotong sebelum Fajir sempat mengeluarkan ultimatum penolakan. Cowok itu tertawamelihat ekspresi senewen Fajir, kemudian merangkul bahu kedua temannya itu dengan kencang mengajak mereka untuk melanjutkan langkah. "Kuy, kuy."
"Jangan ngaco kalo ngomong." Fajir menyinyalir sembari memakai helm-nya.
Sedangkan cowok yang ditatap malah mengangguk-angguk menjengkelkan. "Asyiiap."
"Ada kakek sama nyokapnya disana."
"Asyiiap." Jawab Ares lagi.
"Kalo lo sampe ngomong ngalur-ngidul, gue—"
Sebelum Fajir menyelesaikan kalimatnya, Ares kembali memotong dengan kata yang sama. "Asyiiap."
Membuat Fajir mendengus geram. Cowok itu mengarahkan pandangan pada Dipo yang seperti sudah siap ingin menghantam Ares dengan helm-nya karena terus-terusan mengatakan kata-kata sejuta umat yang di pelopori oleh seorang influencer—tapi entah kenapa cowok gondrong itu tidak menyukai satu kata itu karena menurut Dipo mendengar itu benar-benar bikin kepala pusing.
"Ampun, sultan. Asyia—"
"Sparing aja yuk, Res?" Dipo menggerutu jengkel.
Yang diajak malah nyengir, Ares mengangkat kedua tangannya dengan gaya menyerah. "Yah ngegas kan kamuh. Upin bercanda, Ipin."
Sementara Fajir benar-benar tak habis pikir kenapa ia bisa berteman dengan Upin-Ipin versi Sriwijayans ini. Lalu, ia memilih untuk menaiki motornya dan mulai menyalakan mesin motor itu. Membuat kedua temannya yang masih dalam keadaan—Dipo ingin menghantam saking kesalnya, sedangkan Ares terus dalam hobi membuat orang naik pitam—itu langsung memburam. Keduanya memakai helm dan naik ke motor mereka masing-masing. Bertiga, mereka kemudian menjalankan motornya keluar gerbang sekolah menyusuri padatnya jalan raya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co