15
Lili mengerutkan dahi, memandang bingung kepada cowok yang sedang menangkup kedua pipinya di telapak tangan cowok itu. matanya menatap lurus ke bola mata cokelat milik cowok berpotongan rambut polisi itu dengan bingung. Tadi, Fikar memanggilnya turun dari atas ruko karena kata cowok itu Lili memiliki teman yang datang ke toko mereka. Jumlahnya ada tiga orang, dan satu di antaranya adalah pacar Lili yang pernah datang ke toko juga.
Kepalanya langsung di penuhi wajah Fajir—bukannya kepedean, tetapi sejak Fajir 'berkunjung' di 0004 para pegawai (apalagi Fikar) santer menggoda Lili sampai cewek itu berada dalam fase tidak peduli dan mengabaikan godaan-godaan itu. Belum lagi terkadang Opa ikut-ikutan menimbrung dengan mengatakan kalau pria baya itu menyukai teman Lili satu itu karena terlihat sopan dan baik.
Kembali, ia mengudarakan pertanyaannya. "Res, apaan sih..." gumamnya dengan wajah bersemu merah seraya melepaskan tangkupan tangan Ares di kedua pipinya.
"Pipi lo kurusan. Nggak cubitable lagi." kata Ares dengan sekali lalu mencubit pipi cewek di depannya.
"Nggak kok. Biasa aja tuh," Jawab Lili cemberut sembari mengusap pipinya yang di cubit. Lili lalu berdeham gugup ketika matanya menangkap tatapan tajam Fajir yang sedang mengarah kepadanya. Berusaha mengabaikan, Lili langsung menyuruh ketiga teman sekelasnya itu untuk mengambil tempat. "Duduk dulu, bentar ya."
Selepas Lili yang menghilang ke balik pintu kayu di dapur, Fajir langsung melemparkan kunci motornya ke arah Ares yang langsung di tangkap dengan sigap oleh cowok itu dengan seringaian lebarnya.
"Kenapa? Nggak suka?" tanya Ares kepada Fajir sembari menaik-turunkan kedua alisnya. Plus, mukanya yang nggak selo dan terkesan ngajak ribut.
Fajir mendengus, mengambil kunci motornya dari tangan Ares kemudian membuang muka. "Nggak."
"Kalo dipikir-pikir, cantikan Lili sih daripada Gilda. Body jug—auch!" Ares mengaduh kesakitan saat satu kosetan dan injakan tendangan pada satu betisnya ia rasakan. Matanya menatap tajam pada dua temannya yang akan bertanggung jawab kalau ia sampai cidera. Sambil mengusap kepala dan betisnya bergantian, Ares menggerutu. "Gue kan cuma just kidding, hei kalian. Anjir sakeeet!"
"Jangan body shamming." Dipo bersuara, tak peduli dengan apa yang terjadi pada teman sejawatnya itu. Cowok itu benar-benar paling anti dengan yang namanya mengatai fisik—walaupun ia tak munafik jika dia menyukai cewek seperti Gigi Hadid atau Miranda Kerr—tetapi bagi Dipo, semua cewek itu sama saja.
Dulu, Dipo memiliki seorang adik sepupu yang sangat ia sayangi, namanya Ela. Gadis itu satu tahun dibawahnya. Dipo sangat populer di SMP-nya dulu, dan sama seperti siswa pada umumnya, Dipo si biang kerok dan suka adu kekuatan membuatnya semakin terkenal di kalangan cewek-cewek, makanya tak heran jika Dipo banyak sekali modusin cewek di sekolah mereka. Hingga suatu hari, Poppy—pacar Dipo—tanpa sengaja dipergoki Dipo sedang menyuruh Ela mengantri buku di koperasi. Dipo yang marah karena adik sepupunya diperlakukan seperti itu langsung memutuskan hubungannya dengan Poppy. Merasa tak terima, Poppy akhirnya melakukan penindasan dan memberikan berbagai macam julukan kepada Ela dengan harapan Dipo akan kembali bersamanya. Namun, karena Dipo semakin jauh dari jangkauan, bersama teman sekelompoknya, Poppy melakukan tindak kekerasan kepada Ela. Membully gadis itu habis-habisan, mengatai fisik Ela yang gemuk dan pendek—hingga julukan-julukan sadis itu menjadi panggilan Ela sehari-hari di sekolah. Akhirnya, karena merasa hidup tak adil—meskipun Dipo selalu membelanya—Ela akhirnya mengakhiri hidupnya. Sejak saat itu tidak ada lagi Dipo yang terlalu berandal seperti dulu, cowok itu juga menjadi rajin belajar karena mengingat adik sepupunya itu dulu selalu mengomelinya karena malas belajar. Dan yang paling penting, cowok itu jadi lebih menghargai perempuan.
"Bercanda, Dip. Elah."
"Jangan gitu lagi, lo nggak tau apa yang bakal terjadi kalau kita body shamming gitu, Res," Dipo akhirnya mendesah pelan, tangannya terkepal setiap mengingat sepupu kesayangannya itu harus pergi dari sisinya untuk selamanya. "Gue cuma nggak mau kejadian Ela keulang lagi." imbuhnya.
Ares langsung diam. Dia jelas tahu cerita adik sepupu Dipo itu ketika tanpa sengaja melihat foto gadis itu di dalam dompet temannya dan kemudian Ares bertanya.
"Sori, Dip, Jir..." Ares mendesah menyesal. Bukan hanya dari suara, namun lewat mimik wajah pun terlihat. Mau tak mau membuat Dipo dan Fajir yang tadinya setengah jengkel jadi geli sendiri melihatnya. Karena sepanjang mengenal Ares, cowok itu bahkan tidak pernah sekalipun menyesali perbuatannya—termasuk sering membuat guru-guru senewen.
"Anjir, nggak cocok banget lo pasang tampang kayak gitu!" Kedua teman Ares itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Orang lagi serius juga!" kata Ares jengkel.
"Ahya, lo juga jangan pernah bandingin fisik gitu, apalagi di depan Lili. Paham?" Fajir memperingati disela-sela tawanya.
"Kenapa emang?"
Namun, belum juga Fajir menjawab, Lili sudah nongol dengan nampan di tangannya. cewek itu tersenyum kecil menatap ketiga teman laki-lakinya seraya melangkah mendekat.
"Pokoknya jangan." Tukas Fajir pelan.
"Duh Li, jadi enak gini dapet beginian." Dipo mencairkan suasana. Cowok gondrong itu langsung menyambar pempek yang disuguhkan Lili, padahal tuan rumahnya jelas belum menawarkan makanan itu pada para tamunya.
"Malu sih, Dip," Ares menggeleng-geleng, namun tangan kanannya juga terulur menggapai es kacang merah 0004 yang terkenal sangat lezat itu. Ia menyendokkan es kacang itu dan membiarkan cairan dingin itu jatuh melewati tenggorokannya, lalu mendesah nikmat. "Es kacang emang sebaik-baiknya kombinasi pada cuaca Palembang yang nggak pernah mendung ini."
Lili tertawa mendengar manifestasi Ares barusan.
"Nggak sia-sia gue bawa lo kesini ya." Ucap Fajir pada Ares.
Ares yang paham maksud pembicaraan Fajir langsung mengangkat kerah seragamnya dengan gaya sombong. "Iyalah, gue kan penerusnya raditya dika."
"Iya, tapi lo versi missqueen-nya ya." Timpal Dipo.
"Sialan," Ares mendengus. Cowok itu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja, mengarahkan pandangannya ke sekeliling sebelum kembali bersuara. "Li, sepupu lo yang cantik itu mana?"
"Tata?"
"Emang ada yang lain?" tanya Ares antusias.
"Nggak ada sih," Lili meringis, "Tata sekolah lah. Gimana sih?"
"Ye. Gue juga sekolah Li, maksudnya dia nggak kesini?"
Cewek itu menggeleng. "Dia kesini kalo weekend. Kalo mau ketemu dia lo harus kesini weekend, Res."
Tersenyum lebar, Ares kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki sambil menyantap pempek kulit. "Salamin ya, Li."
"Gilda-nya terus mau di kemanain?"
Ledekan Lili membuat Ares seketika tersedak. Cowok itu mengambil air putih dan dengan cepat meminumnya. "Apaan, gue nggak suka sama emak kos. Cerewet gitu!" kilahnya cepat.
Namun, Lili menolak untuk percaya. Pasalnya, sebagai pengamat kelas Lili pernah sesekali memergoki Ares sedang menatap bendahara kelas XI S1 itu dengan tatapan dalam. Dan, cowok itu juga anehnya langsung menurut tiap kali Gilda menyuruhnya untuk diam atau mengelap kaca kelas mereka pada moment bersih-bersih. Padahal biasanya orang sampai malas sendiri saking jengkelnya karena cowok itu yang lebih memilih adu mulut daripada mengerjakan pekerjaan yang menurutnya adalah pekerjaan cewek. Alias, piket kelas.
"Lho, memang gue bilang apa? gue aja nggak nuduh elo suka sama Gilda kok." Saut Lili enteng. Cewek itu terkikik kecil. "Suka juga nggak pa-pa kok. Pinter, anak olimpiade lagi. Lo pasti bisa kembali ke jalan yang lurus."
"Nah, Jir, cewek lo nih udah berani ngecengin gue."
Dibilang begitu, Lili langsung salah tingkah. "Apaan ih Ares! Nggak lucu!"
"Ih Lili, ih. Siapa juga yang lagi ngelucu?" Ares menyeringai. Lalu, kembali bersuara. "Tadi cowok lo ini selingkuh, Li. Masa dia bisik-bisikan mesra sama Niken." Imbuhnya sambil menyantap sajian di atas meja.
Lili terdiam. Kepalanya otomatis menoleh, menatap Fajir yang langsung kelabakan.
"Nggak, Li. Gue nggak selingkuh, sumpah! Gue tadi cuma ngomongin hal penting aja, nggak lebih. Beneran." Ucapnya satu napas.
Mendengar itu, kedua upin-ipin itu seketika tersedak. "Anjir, lo jadian sama Lili!?" tanya Dipo sungguh-sungguh. Cowok itu bahkan tak sempat mengambil minum untuk menghilangkan tersedaknya saking penasaran.
"Wakwaw... gila si ini gonjang-ganjing dunia Sriwijayans." Ares takjub tak percaya. Pandangannya membagi, menatap Fajir dan Lili bergantian. "Iya? Gil—"
"Gue nggak pacaran sama Fajir," Lili langsung memberikan klarifikasi. Cewek itu menatap Fajir dengan wajah bersemu merah. "Kenapa juga lo pake ngomong gitu sih. Udah tau si upin-ipin ini bala-bala akun gosip." Gerutunya.
Fajir menggaruk tengkuknya salah tingkah. Dia tadi benar-benar kelepasan dan tidak memikirkan terlebih dahulu atas apa yang ia katakan. Tapi sejujurnya, dia hanya tidak ingin kalau Lili salah paham. Cowok itu kemudian berdeham, berpura-pura santai di tempatnya dengan mengambil gelas es miliknya dan menyesap isinya. Padahal, sengaja ia lakukan supaya kerongkongannya yang mendadak sendat dapat lancar kembali. Kepalang tanggung, akhirnya ia meluncurkan godaannya.
Ditatapnya Lili dengan sorot mata menggoda yang khas. "Gue emang nggak mau lo salah paham kok. Kita kan soon to be."
"Wagelaseeh..." sorak duo upin-ipin itu senang. Dipo lalu meneruskan. "Li, udah kalo di tembak terima aja. Usaha keras tu dia modusin elo dari awal masuk."
Tak perlu jawaban, pipi merona Lili bahkan menambah tawa Ares dan Dipo semakin mengencang.
Kemudian keempat orang itu larut dalam euforia kesenangan yang diciptakan—dengan sesekali menggoda Lili hingga cewek itu merengut kesal. Namun jauh di dalam hati, Lili berterima kasih karena ketiga cowok ini mau berkunjung, membuatnya tertawa di saat hatinya masih meronta dalam kesedihan akibat tuduhan salah orang itu.
Ditempatnya berdiri, Mama menyunggingkan senyuman kecil melihat anak gadisnya yang kini sedang tertawa di sana. Dia lalu menoleh, menatap cowok berpenampilan edge yang kini sedang sibuk pada nota di hadapannya. Mama bertanya, "Itu yang pernah kesini juga kan?"
Fikar mendongak, mengikuti arah pandang Mama kemudian mengangguk. "Iya, bu bos. Senang deh bisa liat Lili ketawa, dari kemarin keruh mulu mukanya kayak lagi mikirin cicilan."
Mama tersenyum. Kembali mata tuanya menatap ke arah satu meja di ujung ruangan yang sedang di duduki anak-anak itu.
Fajir... satu nama yang pernah didengar mama ketika anak gadisnya itu menyatakan ketidaknyamanannya ketika satu sekolah kembali dengan lelaki muda itu.
Fajir... satu nama yang wanita setengah baya itu tahu sambil lalu, bahwa lelaki muda itu merupakan saudara tiri dari Nu, sahabat anak gadisnya.
Fajir... satu nama yang akhirnya bisa dilihat oleh mama secara langsung mengenai rupa lelaki muda itu. Dan, melalui mata tuanya juga mama bisa menilai bahwa si pemilik nama itu adalah merupakan orang baik. Karena, tidak akan ada orang baik yang menatap anak gadisnya dengan sorot mata dan gestur lembut seperti sekarang...
***
Selasa sore, telepon di rumah tiba-tiba berdering. Mama yang baru melintas dengan setoples kerupung berhenti, ia meletakkan toples itu pada meja kecil. Mengelap tangannya pada daster biru dongkernya sebelum mengangkat gagang telepon itu.
"Hallo, kediaman Pak Sandi." Mama menyapa formal.
"Saya Bu Yun, wali kelas XI S1, bu."
Mama membenarkan posisi duduknya. "Ya, ada apa bu?"
"Begini maaf sebelumnya, bu. Tentang pencurian dompet yang terjadi tempo lalu, anak yang bersangkutan sudah mengaku, dan setelah dilakukan pengecekan pada cctv, kami benar-benar memohon maaf atas kesalahan dari pihak sekolah."
"Jadi maksud ibu anak saya salah tuduh!?" mama berseru marah. "Saya sudah mengatakan soal pengecekan bukti terlebih dahulu sebelum menuduh. Coba bayangkan nama baik anak saya, bu!" oceh mama. Wanita setengah baya itu benar-benar kesal atas tuduhan yang menimpah anak gadisnya hingga membuat anak gadisnya itu sedih. Jadi jelas saja mama merasa tak terima.
"Iya, saya paham, bu. Karena itu saya atas nama sekolah memohon maaf. Dan besok Lili bisa mulai bersekolah kembali."
"Terus nama baik anak saya gimana, bu? Saya tidak bisa terima kalau seperti ini caranya." mama menuntut kepastian.
"Dengan tulus dan segenap hati saya memohon maaf. Saya pastikan tidak ada anak-anak yang memandang rendah kepada Liliana."
Mama akhirnya mendesah. Lalu bergumam, "Baiklah. Nanti saya bicarakan dengan anak saya."
"Baik, bu. Kalau begitu selamat sore."
"Selamat sore." Mama menutup telepon itu.
***
To be continued🌹
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co