20
Maaf ini part gak penting:( bisa di skip kalo bosen. Thx for being my viewer! :')
----
"Jam penerbangannya nggak salah kan?"
Lili dan Renata menggeleng bersamaan.
Mama mengambil tas ransel milik Lili dan membantu cewek itu memakainya sambil berkata. "Hotel bener udah di pesen?"
"Udah, Mam."
Mama mengangguk. "Sampe sana udah malem, langsung pesen taksi online ke hotel. Nggak usah kelayapan dulu, ngerti?"
Lili dan Renata saling pandang, lalu mengangguk. "Iya."
Ketiganya lantas berjalan ke teras rumah. Diluar, Opa sudah masuk ke dalam mobil hitam dengan kaca bagian kemudi yang terbuka setengah. Pria baya itu menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Yuk, nanti telat check in. Kalian tau bae jam sore dak kalah macet dengan jam pagi."
Setelah sekali lagi berpamitan dengan Mama (mencium tangan, dan cipika-cipiki) Lili dan Renata kemudian berjalan ke mobil yang sudah terparkir di luar pagar rumah. Keduanya melambaikan tangan kepada Mama yang disambut dengan lambaian serupa ketika mobil berjalan pergi.
Lili menutup kaca mobilnya dan mengempaskan punggung pada jok. Cewek itu mengeluarkan HP miliknya dari dalam saku ransel bagian depan ketika merasakan benda elektronik itu bergetar disana. Sebuah pesan dari nomor kontak yang sama dengan yang beberapa hari ini menjadi teman chatnya.
"Coba sini liat!" kata Renata tahu-tahu sudah mengambil alih HP Lili. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai nampak mengibas mengenai layar HP ketika tahu si empunya hendak merebut HP itu lagi. Cengiran lebar dengan gingsul di sebelah kanan terlihat di wajah cantik Renata saat cewek itu berhasil mematahkan setiap jalan sepupunya untuk meraih HP yang ia pegang. Dengan penuh rasa penasaran, Renata membawa pandangannya ke layar. "Udah gede Lili udah bisa chatingan sama cowok. Gitu dong!"serunya riang.
"Tata!" Lili membeliakkan mata, melirik ke depan dengan takut-takut. Dan, ketakutannya bermuara ketika Opa—melalui rar mirror—menatapnya dengan kedua alis terangkat. Lili buru-buru mengilah. "Tata, jangan gosiplah. Masih pagi juga!"
"Abis lo ini minta di ghibahin banget tau nggak?" Renata tertawa. Tubuhnya condong ke depan memperlihatkan layar HP Lili yang kini layarnya dipenuhi dengan foto Fajir—yang diambilnya dari photo profile Whatsapp cowok itu—kepada Opa. "Gimana menurut Opa?"
"Nak Fajir?"
"Opa tauuuuu?!" teriak Renata histeris. Cewek itu memasang tatapan girang menatap ke arah Lili yang kini misuh-misuh di tempatnya, dan kembali menatap Opa dari samping. "Kok Opa bisa tau sih? Terus gimana menurut Opa?"
"Dia pernah main ke 0004," jawab Opa kalem. "Anaknya baik dan santun. Ganteng juga, mirip Opa waktu muda." Lanjutnya.
Renata terkikik geli sambil menyikut Lili dan berbisik. "Lampu ijo, lampu ijo!"
Lili memutar bola mata, ketika sepupunya lengah ia segera merebut kembali HP-nya dan menggenggamnya erat. Kemudian, menggeser tubuh Renata sedikit ke samping agar dirinya bisa berbicara dengan sang kakek yang kini ikut-ikutan menggodanya seperti yang sepupunya lakukan itu. Lili cemberut, "Aku dak pacaran samo dio."
"Siapo yang bilang kau pacaran?" tukas Opa sambil menahan senyum.
Wajah Lili semakin menekuk. Kemudian memalingkan pandangan ke arah Renata yang sedang membenarkan rambutnya. "Dasar lamtur!"
"Enak aja," Saut Renata sedikit spaning, tetapi kemudian tersenyum lebar dan melanjutkan. "Gue bala CIA tau!" katanya seraya memeletkan lidah.
Baru juga Lili hendak membalas, bunyi HP milik Renata terdengar mengalun bersamaan dengan mobil yang berhenti bergerak karena lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Renata mengambil HP-nya dari dalam saku jaket jeans dan menunjukkan layarnya pada Lili.
Lili mengangguk setelah membaca id caller-nya. Tentu saja, Yasnu. Tidak lain dan tidak bukan.
Cowok itu bahkan tidak perlu mengontak Lili—sejak dulu sampai sekarang—jika mereka hendak melakukan trip atau sekedar kumpul bareng di 0004. Dia dekat dengan Nu, tetapi memang ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara mereka. Lain kasus jika Nu dengan Renata, tentu saja. Tetapi Lili tak mau ambil pusing apalagi sampai baper-baper, toh mereka bertiga bersahabat dan Renata adalah sepupunya. Mungkin karena itu juga Nu tidak mengontaknya karena tahu kalau ia dan Renata setiap weekend pasti bersama.
"Hula?" respon Renata setelah menggeser ikon hijau pada layar.
"Jangan kelamaan dandan kali neng. Capek nunggu."
"Lo pikir muka kayak gue perlu dandan ya?" jawab Renata dengan percaya diri.
Disebrang sana, Nu tertawa renyah. Jenis tawa yang bahkan bisa di dengar Lili dari tempatnya membuatnya mau tak mau ikut tersenyum kecil.
"Tuh kan memang cuma elo doang nih yang ketawanya nular ke Lili." Tukas Renata sambil menatap penuh arti ke Lili.
Lili langsung merubah ekspresinya. Cewek itu kembali ke posisi semula—menyandar ke jok—dan ingat kalau dia belum merespons pesan dari Fajir, maka dengan buru-buru ia membuka HP-nya kembali.
Renata menggeleng menahan senyum, lalu kembali bersuara. "Bentar lagi sampe. Agak macet nih jam balek kantor."
Segera setelah mendengar jawaban dari Nu cewek itu menjauhkan HP-nya dari telinga dan menatap Lili sesaat. Lalu kembali mengarahkan pandangan pada rar mirror untuk mengajukan pertanyaan pada sang kakek. "Menurut Opa, Lili cocokan sama Nu atau Fajir?"
"Tata, lo ngapasih? Ngaco deh!" mendengar pertanyaan aneh Renata kepada Opa membuat Lili sontak mendongakkan kepala, cewek itu menatap sebal pada sepupunya yang malah memasang wajah inosen dan tak peduli akan tatapannya.
"Bukannya Nu sukanya sama Tata?"
"Ha?" Renata mengernyitkan dahi bingung. "Nggak lah. We're just a friend."
"Dan lo pikir gue sama Nu bukan a friend, gitu?" Lili menyela.
"Tatapan lo ke Yasnu bukan tatapan seorang temen, tau?" ungkap Renata dengan nada senang. "tapi gue lebih suka lo sama Fajir."
"Opa sependapat."
"Nah!" Renata menjentikkan jari. Tetapi kemudian keningnya mengerut menatap Lili. "Eh tapi kalo lo suka sama Nu ya ngg—"
"Nggak. Gue nggak suka. Apaansih, Ta."
"Iya, Opa juga nggak ngelarang kalian punya teman dekat, asal kalian paham batasan dan menjadikan sekolah sebagai prioritas pertama. Paham?" cetus Opa.
"Aku nggak punya temen dekat seperti yang Opa maksud. Kalo Tata sih banyak."
"Udah di eleminasi semua. Payah, mukanya nggak satu jalan sama otaknya."
Lili tersenyum kecil. Ia tahu tipe cowok kesukaan Renata adalah cowok yang menarik dan terutama memiliki otak. Maksudnya disini adalah gerombolan cowok-cowok pintar. Bagi Renata cowok populer itu bonus, dan cowok tengil plus punya otak encer itu cuma ada di novel fiksi alias tidak akan ada di Bumi.
"Tata juga jangan terlalu banyak punya gebetan. Kasian cowok-cowok itu kalo harus di php-in."
"Prinsipku adalah, mendingan PHP-in daripada di PHP-in. Lagian, aku kan selektif, Opa. Emang Opa mau punya calon cucu menantu yang nggak punya otak?"
"Makanya kalo Tata nyari yang pinter, jangan masuk ke kluster ganteng. Nggak sefrekuensi," Dengan suara yang teduh, Opa mulai memberikan nasihat. "nanti kalo yang ganteng udah mulai timbul rasa sama Tata dan sakit hati gimana?"
"Ya kan bisa jadi temen aja."
Opa mengulas senyum, ia melirik melalui rar mirror sekilas sebelum kembali menempatkan fokusnya ke jalan raya. Pria baya itu mengambil lajur kanan sebelum putar arah. Dan kembali memberi nasihat, "Sama seperti cewek, cowok-cowok juga punya hati dan perasaan. Meskipun kami lebih sering menggunakan logika.Tetapi jika melibatkan perasaan, kami sama menggunakan hati. Jadi, kalau nggak mau dipatahin, jangan matahin ya? Ini nasihat untuk kalian berdua."
Kedua cewek itu sama-sama mengangguk. Ini adalah kali pertama mereka membahas pembahasan diluar konteks pembahasan biasa—soal sekolah dan apapun selain hubungan asmara—karenanya keduanya jelas sama-sama bingung harus memberi tanggapan apa. Namun demikian, apa yang dikatakan oleh Opa akan mereka ingat dan tanamkan dengan jelas. Untuk Renata, jelas perkataan Opa memiliki dampak besar dalam perspektifnya, sedangkan Lili meskipun tidak yakin karena ia sama sekali tidak (atau merasa tidak) pernah menyakiti hati cowok manapun. Tentu saja, kisah cintanya hanya sebatas mengidolakan Feliks Zemdegs dan itu tidak termasuk perasaan dua arah. Yang mana, Feliks Zemdegs tidak akan pernah tahu kalau Lili hidup di bumi. Sementara, kisah cintanya—yang masih sama satu arah—kepada Nu bahkan sudah kandas sebelum ia sempat menyatakan. Cowok itu jelas tidak menyukainya, dan bukan salah cowok itu juga karena tidak menyukainya. Perihal perasaan tak bisa dipaksa, tak bisa dicegah, dan tak bisa diprediksi.
Dan hal yang paling penting menyangkut nasihat Opa barusan adalah; tidak ada cowok yang menyukainya. Jadi kemungkinan untuk menyakiti perasaan laki-laki seperti yang dibicarakan Opa adalah nol. Tidak mungkin. Tidak akan terjadi.
Lili menarik napas dan mengembuskannya pelan, terlalu meminta rasanya jika menginginkan kehidupan seperti teman-teman sebaya-nya yang menghabiskan waktu untuk bergaul dan mencari pacar. Untuk Lili, memiliki Renata, Nu, dan beberapa teman yang baik di dalam kehidupan SMA-nya adalah hal yang spesial. Dia tidak akan meminta lebih dari itu; karena baginya itu sudah cukup.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co