Truyen3h.Co

Lili

19

authoriya



"Lo mau minum apa?" pertanyaan Renata mengalihkan sementara fokus Fajir yang sejak tadi terus menatap ke arah Lili.

Fajir menyugar rambut ke belakang sebelum kembali menautkan ke sepuluh jemarinya seraya bertengger di atas kedua paha. Ia lantas menjawab, "Apa aja, Yuk."

"Woaah, emang gue setua itu ya?" Renata menatap tak percaya, lalu beralih pandang kepada Lili meminta konfirmasi. "Masa gue di panggil 'Yuk', nggak sekalian aja tante."

Lili membungkam mulutnya mati-matian agar tak menyemburkan tawanya. Ia sangat tahu Renata pasti kesal setengah mati dipanggil seperti itu, oleh seseorang yang satu angkatan dengan mereka pula. Tadi saja, dia mengomel panjang perkara Gilda yang memanggilnya dengan sebutan 'Yuk' di telepon. Dan sekarang, Fajir malah melakukan hal yang sama seperti Gilda memanggil Renata.

Wajah Renata sudah kusut setengah mati dan ia menyesal menawarkan minuman kepada cowok ganteng di depannya ini. Membawa kedua tangannya melipat di depan dada, Renata mengempaskan punggungnya pada kepala sofa dengan kasar. "Nama gue Renata dan kita seumuran—atau gue lebih muda dari elo, omong-omong." Katanya ketus.

Menanggapi itu, Fajir hanya mengangguk paham. "Oke, akan gue inget," kepala cowok itu lantas kembali menoleh ke Lili dengan tangannya yang membuka tas ransel. "lo bener-bener ceroboh ya? Gimana coba kalo bukan gue yang nemuin?" ucapnya, menyodorkan HP cewek itu.

"Tuh kan, bukan cuma gue yang mikir kalo lo itu ceroboh, sisteeuur..." seru Renata.

Lili cemberut. "Iya, iya. Namanya juga gue di UKS, mana inget kalo HP-nya ketinggalan di laci meja."

"Lain kali kalo lo ngerasa sakit atau apa, ngomong sama gue. Biar gue yang handle."

"Ha?"

Sementara Lili bingung dengan ucapan Fajir barusan, Renata malah menaikkan kedua alisnya dengan pandangan setengah menahan senyum. Cewek itu menegakkan tubuhnya masih dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "That's my way to say i like you..."

"Apaan sih?" Lili mengernyitkan dahi.

"Apa?" kata Renata masih dengan menahan senyum. Cewek itu mengurai tangannya yang terlipat di depan dada seraya mengedikkan bahu. "gue cuma bergumam aja kok." katanya, menatap Fajir dengan pandangan 'gue-khatam-sama-yang-beginian'-nya. Lalu cewek itu berdiri. "Yaudah, gue ke dapur dulu deh ngambilin minum."

"Dasar aneh," Gumam Lili seraya menggelengkan kepalanya menatap sang sepupu.

Tanpa menyadari ada wajah yang kini berubah merah padam di depannya akibat tertangkap basah oleh orang lain perihal makna yang tersirat dari kalimat yang ia tunjukan kepada cewek yang ia sukai barusan.

***

Tembok pembatas tak kasat mata itu benar-benar ada. Entah bagaimana tetapi Lili dapat merasakan kehadiran tembok kokoh itu di antara kedua cowok yang duduk bersebelahan. Traumatis yang dialami Lili semasa SMP dulu adalah pemicu bagaimana dirinya bisa bersikap defensif dengan orang selain di lingkarannya. Dan, sayangnya Lili tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa silam hingga membuat dua orang yang harusnya saling mengasihi itu berbalik membentengi diri.

Dan sama seperti sikap Renata yang apatis, Lili memilih jalannya sendiri. Dia tidak akan bertanya apa-apa sampai salah satu dari kedua orang itu membahas kepadanya. Lili menarik napas sekali, membiarkan rasa penasaran mengembus keluar dari kepalanya. Karena untuk Lili, mencampuri urusan orang lain merupakan sebuah pelanggaran dalam norma-norma kehidupannya.

Cewek itu tersenyum kecil menyadari kekepoannya yang sudah diambang batas, lalu ketika ia mendongakan kepala, sebuah mata tajam dengan manik mata hitam kelamlah yang pertama mengunci pandangan Lili. Ia praktis memalingkan wajah canggung, dan lagi-lagi Renata menangkap pemandangan itu dengan senyuman lebar.

"Gue punya ide!" suara Renata terdengar. Membuat semua yang ada di sana menoleh menatap cewek dengan jepit mutiara kecil di rambutnya itu melanjutkan kalimatnya. Dengan senyuman lebarnya, Renata kembali mengudarakan suaranya. "gimana kalau weekend besok kita ke dufan?"

"Lo ngajakin ke dufan kayak ngajakin ke Opi Mall. Lo kira jarak Palembang-Jakarta deket?"

"Jauh, kalau lo jalan kaki," ia mengibaskan rambut elegan sebelum melanjutkan. "naik pesawat dong ah, jangan kayak orang susah gitu napa."

"Lo pikir Opa sama Mama bakal ngizinin?"

"Li, denger ya," Renata praktis membenarkan posisi duduknya. Cewek itu berbicara layaknya seorang ibu yang sedang menasihati anaknya yang tidak mengerti apa-apa. "sejak kapan sih Opa sama Tante ngelarang kita pergi-pergi kalo ada Nu. Apalagi sekarang ditambah satu bodyguard-nya."

"Jadi lo nganggep gue bodyguard selama ini?"

Renata nyengir. "Mon maap ya masnya... hehe."

Lili melengos. Baru saja dia hendak berbicara, kalimatnya keburu dipotong oleh suara serak milik Fajir.

"Lili masih ruam. Lo sodaranya bukan sih?"

"Tiga hari dari sekarang gue yakin ruamnya udah ilang dan Lili kembali cantik seperti sediakala," masih dengan sikap santainya, ia menambahkan dengan nada malas. "lagian kita udah mau UTS, refreshing sebelum bertarung nggak ada salahnya kan, gimana, gimana?" lanjutnya sambil menatap satu persatu anak.

"Gue setuju." Nu menjawab. Menyetujui ide Renata pertama kali.

Tentu saja cowok itu pasti akan menyetujui. Selain karena akan bersenang-senang dengan menaiki segala wahana di dunia fantasi nanti, bersama Renata menambah kesenangannya. Jangan sebut dia bucin, karena kata yang pas untuk menggambarkan ialah naksir.

Kini, tinggal menunggu Lili dan Fajir menyetujui maka Renata akan langsung memesan penerbangan mereka untuk weekend nanti melalui aplikasi tiket online. Maka, Renata memberikan pertanyaannya sekali lagi kepada kedua orang yang masih belum menegaskan jawaban mereka.

"Jadi?"

"Kalo Lili ikut, gue ikut."

Terdengar kekehan sinis yang keluar dari mulut Nu. "Gue penasaran apa motif lo deketin Lili?"

"Seenggaknya gue deketin cewek bukan untuk caper sama cewek lain." Balas Fajir tak kalah sinis. Cowok itu melemparkan rudalnya tepat mengenai target, membuat si target menjadi bungkam seribu bahasa.

Menyadari adanya ketidakberesan di teritorinya, Lili buru-buru mengalihkan suasana. "Oke deh," jawab Lili akhirnya.

Renata hampir bersorak riang saat Lili menambahkan. "Pokoknya tergantung Mama sama Opa ya, Ta? Kalo kita diizin—"

"Pasti diizinin." Potong Renata cepat.

***

Pucak pentas bahasa yang diadakan setiap tahun adalah hari ini. Seluruh penghuni Sriwijaya nampak sibuk dengan kelas mereka masing-masing. Hingar-bingar antusiasme yang menjadi tujuan diadakannya pentas bahasa seperti ini adalah tujuannya. Menurut miss. Chatrine yang diaminkan oleh civitas SMA Sriwijaya, bahwa untuk menumbuhkan rasa peka dan peduli terhadap satu sama lain di dalam diri Sriwijayans adalah dengan mengadakan acara seperti ini pada setiap tahun, yang dikhususkan untuk anak-anak kelas sebelas. Gadget terlalu mengambil alih belakangan ini sehingga menimbulkan sikap 'bodo amat' dan tidak peduli. Namun, dengan diadakan acara tahunan seperti ini, diharapkan bisa mengasah jiwa kepemimpinan dan kreatifitas. Selain itu kekompakan adalah hal utama.

Ibu guru cantik itu yakin, seluruh anak pada masing-masing kelas pasti terlibat—bukan hanya sebagai penonton, tetapi turut serta mendekor kelas atau mencari kostum yang sesuai dengan tema drama yang akan di lakoni.

Jauh di dalam kelas yang begitu berisik karena Ares si biak kerok sudah mulai beraksi, Fajir membawa konsentrasi penuh membaca ulang naskah dramanya. Cowok itu sudah di balut pakaian rapi dengan tuksedo khas pangeran, sementara ada mahkota yang bertengger menaungi kepalanya.

Suara benda yang diletakkan di atas meja di depannya membuat Fajir mendongak. Matanya mendapati satu cup cappucino hangat di depannya, sementara tangan seseorang kini duduk pada kursi di depan mejanya. Sedang menatap cowok itu dengan senyuman ramah yang khas.

Fajir mengangkat satu alis.

"Buat lo," ucap Niken. "seenggaknya cinderella dan pangeran harus terlihat serasi kan di atas panggung ntar?" tambahnya.

Ucapan Niken sontak membuat Fajir terkekeh sinis. Cowok itu menyilang kedua tangannya di depan dada seraya berbicara. "Lo pasti seneng banget ya dapet peran ini."

"Maksud lo?"

Fajir mengedikkan bahu dan berdiri. Baru saja ia hendak mengeluarkan suaranya lagi, HP cowok itu yang di letakkan di atas meja tadi bergetar.

Niken ikut melirik dan melihat sebuah pop up pesan dari nomor kontak bernama Lili di layar HP Fajir. Sebelum ia bisa mencuri baca isinya, cowok itu lebih dulu mengambil HP itu ke dalam genggamannya. Lalu bersuara,

"Lo tau pasti apa maksud gue kan? Gue yakin ini masuk ke dalam rencana lo."

Niken mengepalkan kedua tangannya di atas paha dengan kesal seraya menatap langkah Fajir menuju kerumunan teman sekelas mereka dan ikut mengobrol di sana.

Ia benar-benar tak habis pikir. Bahkan ketika ia sudah membuat teman semejanya itu sakit dan tidak masuk ke sekolah, mengambil alih peran utama yang semula di sambat oleh Lili, cewek itu tetap saja berada di atasnya. Dan, untuk mencuri perhatian satu pentolan sekolah yang kedatangannya langsung membuat histeris kaum hawa di SMA mereka pun terasa payah karena kesalahannya telah diketahui hingga membuat nilai minus tentangnya di mata cowok itu.

Niken berteriak geram dalam hatinya. Memperbaiki mimik wajahnya, ia menyunggingkan senyum, mengambil cup cappucino itu dan melangkah keluar kelas dengan ekspresi wajah Fajir yang tadi sempat ditangkapnya. Sebuah senyuman tulus tersungging ketika cowok itu menatap layar HP-nya.

***


selamat idul fitri semua :)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co