Truyen3h.Co

Lili

22

authoriya

Dufan!

Setelah masuk melalui petugas pemeriksa secara teratur, ke empat anak muda itu berjalan melewati pintu gerbang utama bergabung dengan pengunjung lainnya. Seolah memberi dukungannya, cuaca Jakarta siang ini di musim kemarau yang sudah berjalan beberapa minggu tak seberapa terik. Matahari yang biasanya bersinar terik di siang hari—membuat beberapa orang memutuskan untuk berdiam diri di dalam rumah atau gedung mereka daripada menantang matahari diluar yang pasti sinarnya bisa membuat dehidrasi dan kulit jadi hitam legam—kali ini nampak tenang dengan sinarnya yang terang, namun nuansa sejuk tetap terasa.

Lili dan Renata yang sama-sama antusias dan memegang kendali atas apa yang akan mereka naiki pertama, kedua, ketiga, dan nanti seterusnya. Sementara kedua cowok yang tetap cool dan memasang tembok pembatas—tak mengobrol sama sekali—itu pasrah digiring cewek-cewek itu menjajali wahana-wahana ekstrem, atau bahkan wahana cemen. Dari mulai kora-kora ke turangga rangga, halilintar ke baling-baling, tornado ke rango-rango, alap-alap ke poci-poci, hingga basah-basahan di ice age yang ngantre-nya nggak logis sampe akhirnya tur tanpa henti mereka berhenti di titik ujung pengistirahatan, sebuah tempat yang antrenya juga panjang namun masih masuk akal. Dari cara bangunan itu di bangun, Fajir sudah mengernyitkan dahi. Tanpa sengaja ia menatap wajah Nu yang sama sepertinya nampak kebingungan, namun lain hal-nya dengan kedua cewek yang berdiri di depan mereka yang nampak senang dan tak ada raut lelah sedikitpun. Benar-benar menikmati apapun yang mereka naiki—bahkan untuk ukuran cewek-cewek normal yang biasanya menjerit dan kepusingan setelah menaiki wahana se-ekstrem tornado, Fajir harus bertepuk tangan ketika tak melihat sedikitpun keluhan dari mereka berdua.

Karena antrean yang terus maju dan ketika ia bisa melihat ada perahu kecil yang keluar dari dalam bangunan, Fajir langsung mengeluarkan pertanyaan. "Ini wahana apaan deh?" cowok itu meraih lengan Lili hingga membuat cewek itu menoleh.

"Istana boneka."

"Terus ngapain kita di sini?" tanyanya dengan lugas.

"Iya, ngapain kita di sini?" kata Nu.

"Ya main. Ngeliat-ngeliat. Seinget gue di dalem sini nggak ada tempat untuk ngopi." Jawab Lili seraya mengangkat alis. Cewek itu merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan kedua cowok itu.

Fajir menatap ke arah Nu yang juga sama terkejutnya dan sama sedang menatapnya. Keduanya saling pandang, lalu dengan spontan mengeluarkan penolakan tegas bersamaan, "Nggak!" dan tepat saat itu, antrean mereka sampai pada batas paling depan dengan perahu yang sudah siap mengangkut beberapa orang di dalamnya.

"Udah deh kalian jangan kayak anak kecil." Ucap Renata sambil menaiki perahu sedang itu dan Lili menyusul di bangku belakang.

Lili menatap Fajir dan memberi isyarat agar cowok itu segera mengambil tempat di sampingnya—seperti biasa.

Fajir mengesah, memijat kepalanya pelan namun tak urung menaiki wahana itu juga. "Gue nggak pernah mimpi naik beginian." Keluhnya saat sudah duduk di sebelah Lili.

Lili tersenyum kecil. "Ini wahana favorit gue dan Tata tiap ke dufan," Ucapnya bersamaan dengan perahu yang mulai berjalan dibawa arus. "mungkin karena dulu pas masih kecil belum leluasa naik semua wahana yang ada di sini, jadi opa-oma selalu ngajak kita ke sini sekalian ngenalin budaya melalui boneka-boneka itu." tunjuk Lili pada deretan boneka yang mengenakan pakaian adat nusantara yang khas. Dulu, tiap kali liburan panjang sekolah kedua kakek dan nenek, serta keluarga Renata pasti akan berkunjung ke Jakarta untuk menginap di rumah Lili. Menurut oma, sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak seumuran kedua cucunya itu perlu diceritakan dan ditanamkan nilai-nilai budaya Indonesia yang beragam agar nantinya mereka tidak akan membuang atau melupakan kultur dari negara. Kata oma, dimanapun nanti keduanya berada, jiwa mereka harus tetap Indonesia. Bahkan dulu Renata pernah bercerita kalau dia menginginkan menjadi guru Sejarah atau Sosiologi, tetapi setelah berangsur besar cita-cita itu hanya sebatas masa lalu. "Kayaknya gue mau ganti cita-cita deh, rasanya berat jadi guru. Gue takut kena karma." Katanya waktu itu, karena ia habis melihat guru sejarahnya yang menangis menahan kesal pada murid cowok di kelas yang kelewatan.

"Gue kira lo nggak pernah ketemu sama Renata." Ucap Fajir jujur. Ia mengira kalau kedua saudara itu baru bertemu setelah mereka remaja, seperti saudara-saudara jauh pada umumnya. Atau setidaknya, pertemuan mereka sebatas pertemuan di hari raya idul fitri saja.

"Nggaklah. Ya walaupun kita nggak pernah kontakan lagi dan baru bener-bener ketemu saat udah gede, tapi karena Tata orangnya ramah—"

"Cerewet." Fajir merevisi ucapan Lili.

Cewek itu terkekeh kecil. "Dia supel, bukannya cerewet. Semua orang suka deket sama Tata karena dia gampang ngebaur, nggak kayak gue yang pendiem."

"Gue suka cewek pendiem."

Sementara Lili yang langsung bungkam, suara tersedak di bangku depan jelas terdengar. Renata menjauhkan botol air mineralnya dan memberikannya kepada Nu selagi dia berusaha memukul dadanya refleks. Setelah berkutat lama dengan tersedaknya, Renata langsung menoleh, menaikkan kacamata hitam ke atas kepala dan menatap Fajir dengan ekspresi jengkel.

"Cringe banget lo, anjir!"

Fajir hanya membalas ucapan itu dengan tatapan kedua alis terangkat. Sejujurnya dia juga tidak sempat menyadari ucapannya karena kalimat itu seperti keluar langsung dari mulutnya tanpa sempat otaknya mencerna.

"Li, lo mau tuker tempat sama gue?" Nu langsung bersuara, cowok itu menatap Lili yang terdiam seperti orang yang kehilangan jiwanya itu dengan pandangan prihatin, lalu pandangannya menatap ke arah sang adik tiri, menajam. "Lo nggak usah keluarin jurus-jurus lo itu ke Lili deh. Dia tu beda sama cewek-cewek kenalan lo."

Kedua alis Fajir semakin terangkat. Cowok itu melipat kedua tangan di depan dada dengan tatapan jumawa. "Lo kayak gini mau cari muka, atau emang peduli? Lo suka sama Lili?"

"Lo suka sama Lili?" tanya Renata. Jelas saja ini luput dari perhatiannya, ia benar-benar tak enak hati kalau Nu sebenarnya menyukai Lili dan ia terus-terusan menggoda Lili dengan Fajir yang notabane-nya adalah adik tiri Nu.

Pandangan Nu langsung mengarah menatap Renata dan menggeleng tegas. "Nggak, Ta. Sumpah!"

Mendengar ucapan Nu—bahkan sampai bersumpah segala—membuat Lili tertawa miris. Walau bahkan perasaan nelangsa yang harusnya ia rasakan itu tak ada, tetapi wajah dengan senyum dipaksakan itu berhasil terbaca oleh Fajir. Membuat cowok itu dilingkupi rasa bersalah karena memicu percakapan ini.

Fajir menarik napas panjang sebelum mengembuskannya pelan. "Sori." Ucapnya pelan kepada Lili.

Lili menoleh dan tersenyum kecil. "Bukan salah lo kok."

Bersamaan dengan perahu yang keluar dari dalam bangunan dan berhenti di tempat awal mereka menaikinya. Keempatnya berjalan keluar wahana tanpa sepatah kata yang biasa melingkupi.

***

Jam menunjukkan pukul 17.57 ketika mereka memutuskan untuk menaiki wahana terakhir yang letaknya tak jauh dari tempat kora-kora. Bianglala.

Dengan wajah kusut namun semangat yang masih belum surut itu mereka mengikuti antrean kecil. Hanya memakan waktu lima menit hingga mereka di persilakan untuk memasuki gondola.

"Silakan dua orang dulu ya kak." Ucap seorang petugas.

Lili dan Renata saling pandang, lalu mengangguk berbarengan. Namun, ternyata apa yang dipikirkan Lili dan Renata berbeda arah karena ketika Lili sudah masuk ke dalam, sepupunya itu malah mendorong Fajir untuk mengikuti Lili sambil tersenyum lebar. "Biar nggak dikira lesbian ama homo, Li!" kekehnya pelan.

Lili memutar bola mata. Ini sih namanya akal-akalannya Renata, sepanjang hari tadi dan memutar kejadian lalu-lalu mereka sering banget jalan berduaan. Nge-Mall atau sekedar nonton bioskop—saat Nu nggak bisa ikut—berdua saja. Dan baik-baik aja tuh. Lagipula jaman sekarang nggak ada yang namanya mikir belok—oke kalo cowok jalan berdua, atau pergi nonton berdua mungkin masih dapat gosip begitu, pikir Lili dalam hati.

Akhirnya ia menikmati juga suasana keseluruhan Dufan yang bisa ia lihat dari ketinggian. Ternyata di malam hari begini suasananya lebih terlihat cantik dengan lampu-lampu yang menyala.

"Lo pernah kesini?" tanya Lili memecahkan keheningan. Meskipun terasa aneh—apalagi saat ia ingat apa yang dikatakan Fajir tadi, namun sebisa mungkin cewek itu menepis pemikiran-pemikiran dan perasaan asing yang mulai melingkupinya.

Fajir menggeleng pelan. "Nggak. Sejak kecil gue tinggal di Palembang, terus pindah ke Jakarta ikut nenek setelah nyokap gue nggak ada,"

Meskipun dalam keadaan remang, Lili jelas bisa melihat sinar amarah dan kecewa di kedua mata Fajir. Terus terang, ia juga merasa kaget. Dia tidak tahu—dan tidak mencoba mencari tahu perihal konflik yang terjadi di antara kedua temannya itu. Cewek itu lebih memilih menunggu hingga pintu di depannya terbuka. Membuka diri. Dan membuka cerita. Karena bagi Lili setiap rumah memiliki ceritanya sendiri.

Cewek itu diam, entah kenapa dia tahu kalau kalimat Fajir masih memiliki kelanjutannya. Karena itu, alih-alih menginterupsi, ia menunggu hingga cowok di depannya kembali bersuara. Kembali bercerita. Cerita yang serupa pisau, yang siap merobek bekas luka ketika cerita itu kembali di ulik, tapi mungkin jika dibagi rasanya tidak akan semenyakitkan dahulu.

"Gue dulu bener-bener memuja bokap gue, Li. Gue kecil selalu mikir kalau bokap adalah superior, panutan, dengan segala kesibukannya beliau bisa pulang ke rumah tepat waktu untuk main sama anaknya. Sama gue," ada jeda sebentar sebelum Fajir kembali mengulas lukanya. "tapi belakangan gue nyesel pernah ngidolain dia. Bukan kanker yang ngebunuh nyokap gue, tapi bokap gue, Li."

Lubang luka itu semakin menganga, ada suara gemetar yang terasa ketika Fajir bercerita dan Lili entah kenapa bisa memahami sakitnya.

"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?"

"Karena bokap adalah orang yang buat nyokap semangat untuk kemo. Nyokap sangat mencintai bokap—beliau bahkan sampai resign dari pekerjaannya sebagai pramugari karena mau menikah sama bokap gue. Tapi ketika satu-satu semangat itu pergi, pikir lo bisa apa?"

"Pergi?" tanya Lili tak paham.

"Hari dimana nyokap mau kemo, di hari itu juga tanpa sengaja nyokap baca satu pesan romantis perempuan lain di HP-nya bokap gue," Fajir terkekeh sinis. "dan bukannya memperbaiki keadaan, bokap malah pergi ninggalin nyokap, ngebuat nyokap gue nggak mau sembuh. Nggak mau ngelakuin kemo. Dan perempuan yang dipilih bokap gue ketimbang nyokap adalah ibunya Yasnu. Nyokap tiri gue sekarang."

"Bukannya ada elo..." ucap Lili hati-hati, "maksud gue, seenggaknya ada lo, anaknya, semangatnya yang lain."

"Gue juga mikir gitu. Dan sampe sekarang gue masih nggak nemuin jawabannya." Fajir tersenyum ironis.

Lili memandang sedih, cerita ini jelas menguras emosi. Dan sejujurnya dia bingung harus merespons apa karena dia bahkan tidak pernah mengalami hal serupa, juga melalui perspektif lain pun belum didengarnya.

Dan akhirnya Lili mengulas senyum menguatkan sambil menepuk pelan punggung tangan Fajir yang berada di atas meja bundar di antara mereka. "Mulai sekarang lo bisa cerita apa aja sama gue, Jir. Ya walaupun gue nggak bisa kasih masukan apa-apa, tapi seenggaknya bisa ngurangin beban lo." Ucap Lili sungguh-sungguh.

Fajir menoleh, menatap dalam-dalam kepada manik mata coklat di depannya. Orang yang memiliki senyuman yang sama dengan mamanya, orang yang memiliki hati baik seperti mamanya. Dan dengan kesadaran penuh, Fajir langsung menarik Lili mendekat, lalu memeluknya erat.

"Lo tau, Li?"

Lili menggeleng. Dadanya bergemuruh akibat pelukan mereka saat ini, dan ia tidak yakin dengan suaranya sekarang apakah akan terdengar jelas atau malah mencicit. Karena itu, cewek itu memilih menggeleng sebagai bentuk jawaban.

"Bagi gue, ketemu sama lo lagi adalah hal terbaik yang Tuhan kasih untuk gue. Lo adalah sesuatu yang indah yang sering gue minta sama Tuhan tiap kali gue doa. Gue pengin bahagia lagi. Dan hanya perlu soal waktu dari satu doa gue yang akhirnya terkabul. Ketemu lo," pelukan itu semakin mengerat, namun tidak menyakitkan. "meskipun gue tau kalau lo pasti nggak suka ketemu sama gue karena kesalahpahaman di masa lalu kita."

Lili mengurai pelukan mereka untuk menatap manik mata Fajir, dan dengan cepat ia menggeleng menepis praduga Fajir barusan. "Gue seneng ketemu lo lagi. Terlepas dari masa lalu itu, sejujurnya lo adalah orang baik yang Tuhan kasih untuk gue. Lo selalu ada buat gue dan ngebelain gue."

Fajir menukas senyuman hangat, lalu meraih kesepuluh jemari Lili untuk ia genggam. "Kalo gue punya sepuluh, lo akan gue kasih sebelas, Li." Tatapan Fajir lurus mengunci manik mata Lili, "karena lo, di atas prioritas utama gue setelah nyokap yang udah nggak ada. Untuk sekarang, dan mudah-mudahan sampai nanti."

"Kenapa gue?" gumam Lili pelan. Ada perasaan hangat melingkupi hatinya kini. Cewek itu tak bisa melepaskan tatapan Fajir yang menguncinya. Tidak hanya soal pandangan, tetapi juga melibatkan perasaan.

"Karena lo satu-satunya orang yang pengin gue jaga, pengin gue lindungin. Jadi, apa gue boleh jadi orang terdekat lo yang bisa lo bagi segala rasa apapun yang lagi lo rasain? Bukan sebagai teman, gue pengin hubungan kita satu tingkat di atas teman. Boleh?"

"Lo apaan sih, Jir..." Lili menunduk malu. Cewek itu jelas grogi parah dan wajahnya bersemu merah. Selain kakinya yang kini terasa seperti jelly, detak jantungnya pun tak kalah histeris. Namun, cewek itu akhirnya mengangguk. "Iya, boleh..."

Pada sepenggal kalimat yang terucap, efek serotonin nyatanya sangat dominan. Membuat Fajir mau tak mau memeluk Lili sekali lagi. Untuk waktu yang lama. Dan membiarkan phenylethamine mulai mengambil alih tugas perdananya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co