Truyen3h.Co

Lili

23

authoriya




"Lo yang ditembak, kenapa gue yang baper coba?"

"Gue juga heran soal itu, Ta." Lili memutar bola mata. Membuka kopernya dan memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang. Sementara, Renata mengekor di belakangnya.

Renata menyandarkan tubuhnya pada dinding tepat di sebelah keranjang sambil bersedekap. "Jadi kemarin itu makanya Fajir senyum-senyum nggak jelas karena jadian sama elo?" tanya cewek itu lagi. Renata ingat bagaimana tampang Fajir cengar-cengir sepanjang perjalanan pulang dari Dufan. "Gue kira dia kesurupan jin Dufan!"

"Ta, lo ada-ada aja deh. Mano ado!" Lili menggeleng keheranan.

Cewek itu meletakkan meletakkan kopernya di sebelah tempat keranjang dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan sebelum mengambil minum bersamaan dengan HP-nya yang berbunyi.

Sebuah pesan dari Fajir yang menanyakan keberadaannya saat ini. Lili mengetikkan jawaban dengan satu tangan sementara satunya lagi memegang gelas yang berisi air mineral, dan menegak isinya.

"Kau ni bener-bener sudah besak yo? Sudah biso pacaran, sayang-sayangan, bentar lagi kawin-kawinan. Cak mano aku malam minggu kalo kau dak jomblo lagi, Li?"

Lili tersedak, dengan cepat ia meletakkan gelasnya ke atas meja keramik dan menatap jengkel sepupunya yang kini malah menunjukkan cengiran lebar.

"Apo?" tanya Renata tanpa dosa.

"Aku malam minggu masih samo kau lah, siapo lagi temenku, Ta."

"Samo Fajir. Kau ini polos nian, pusing aku." ucap Renata sambil memijit kening seolah-olah ia benar-benar dibuat pusing oleh jawaban maha polos Lili.

Tentu saja Renata paham kalau sepupu terdekatnya ini belum pernah pacaran. Dan mengingat pengalaman masa lalu pahit yang pernah dirasakan Lili, Renata benar-benar sedikit takut kalau Fajir hanya main-main saja. Walaupun di dalam hati kecil Renata sungguh percaya kalau cowok itu adalah cowok baik-baik. Terlihat dan nampak seperti cowok baik-baik. Namun ia tidak bisa memercayai prasangkanya sendiri karena terakhir kali ia memberikan penilaian seperti itu, ia berakhir di selingkuhi. Dengan temannya sendiri pula, apa nggak dobel sakitnya?

"Ta, Fajir ngajakin gue berangkat bareng lagi hari senin besok. Aih, gimana nih?" Lili mengerutkan kening. Seolah pertanyaannya tadi adalah pertanyaan paling susah dijawab. Tapi ini Fajir, cowok itu bahkan sudah pernah mengantar-jemputnya beberapa kali, bahkan Fajir pun pernah main ke rumahnya atau ke toko. Lantas, kenapa sekarang ia jadi bingung sendiri saat diajak Fajir—atau lebih spesifiknya, kekasihnya—untuk berangkat bersama? Bukannya itu suatu yang wajar dilakukan pasangan remaja pada umumnya?

"Ya terus?" Renata memutar bola mata. "Iyo-in be. Masa ditolak, nggak lucu banget kalian berdua putus baru pacaran sehari doang. Terus masalahnya cuma karena nggak berangkat ke sekolah bareng pula. Ew." Lanjutnya dengan asal.

Keduanya kini sudah kembali berada di dalam markas kebesaran—kamar Lili—karena mama dan opa yang sedang berada di toko dan mereka masih terlalu lelah untuk merusuhi toko, makanya mereka memutuskan untuk 'jaga rumah' saja. Renata meraih rubik di atas nakas dan mulai menggeletak nyaman di atas ranjang, mulai berusaha memainkan permainan kesukaan sahabatnya itu. Permainan yang membosankan, menurut Renata, karena cewek itu tidak sekalipun bisa memecahkan kasusnya. Bahkan untuk ukuran rubik yang paling basic sekalipun.

"Gue nggak mau anak-anak Sriwijaya pada gosip ntar."

"Gosipin lo jadian sama Fajir?"

Lili duduk di kursi di depan meja riasnya dengan bertumpu dagu, sementara pandangannya menatap ke arah kaca yang menghadap ke ranjang, lalu mengangguk mengiakan.

"Kan itu bukan gosip. Lagian kenapa emangnya? Kalo gue sih seneng punya pacar ganteng kayak gitu, pasti bakal sombong gue di depan cewek-cewek lain."

Karena itulah masalahnya... keluh Lili dalam hati. Kalau saja Fajir tidak setampan itu dan tidak menjadi cowok yang populer di kalangan cewek-cewek maka Lili tidak akan mengambil pusing soal ini.

Nyatanya melihat bagaimana ekspresi Lili sekarang, Renata langsung paham apa yang kini sedang dipikirkan oleh sepupunya itu. Siklus yang sama. Rasa yang sama. Karena itu, ia mengesah pelan, memandangi Lili sungguh-sungguh lewat cermin rias. "Lo pasti lagi insecure lagi kan?" sebuah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban karena Renata kembali meneruskan tanpa menunggu sepupunya itu menjawab. Kembali ditatapnya bola mata coklat yang sama dengan miliknya itu dalam-dalam. "Musuh terbesar kita itu diri kita sendiri. Diri kita yang ngebuat kita ngerasa insecure, dan yang harus lo lakuin adalah menerabas diri lo sendiri. Seperti yang pernah gue bilang kalo bisa aja orang lain itu nggak peduli dan nggak ambil pusing. Gue tau dunia ini banyak orang jahat, tapi nggak menutup kemungkinan kalo orang baik juga ada. Tetapi balik lagi, kalo lo tetap terbelenggu sama pemikiran-pemikiran yang dibentuk oleh diri lo, maka lo nggak akan bisa nemuin orang baik itu." Renata mengembuskan napas pelan, lalu berdecak. "Woah, Marry Riana KW Premium grade A++ ini mah gue kayaknya." Gumamnya pada diri sendiri.

Meleburkan keheningan dan keseriusan yang sempat tercipta. Lili tak bisa menahan diri untuk tertawa, kali ini cewek itu sudah membalik tubuhnya membelakangi meja rias. "Nggak salah nilai Bahasa indonesia lo paling tinggi di kelas ya, Ta."

"Nggak sia-sia gue subscribe channel youtube-nya Marry Riana, Mbak Najwa dan Ria SW ternyata," Ucapnya masih dalam nada kegaguman yang diperuntukkan untuk dirinya sendiri.

"He-eh," Lili mengangguk geli. "Thanks ya, Ta."

Renata mengangguk sambil tersenyum. "Pikirin yang kata gue tadi. Gue nggak mau temenan dan sodaraan sama lo lagi kalo lo masih insecure-insecuran gitu. Bodo amat-in aja pokoknya mah."

***

"Dipo, ada yang baru nih!"

"Apa?"

"Empat bungkus permen loli milkita sama dengan satu gelas susu."

"Salah iklan, bego. Pantesan lo nggak pernah gondrong rambut! Ckck."

Ares cengegesan. "Ya maap. Ulang lagi ya?"

Dipo mengangguk.

Sementara beberapa murid di kelas itu—mayoritas cowok-cowok— sibuk mengikuti pertunjukan pagi yang akan segera tayang di kursinya masing-masing. Mereka masih tidak memiliki petunjuk apapun akan kode biru yang diberikan Ares dan Dipo ketika Lili memasuki kelas dan di susul oleh Fajir di belakangnya.

"Dipo, ada yang baru nih!"

"Apa?!"

"Dip, jangan spanning dong ah, masih pagi nih." Respon Angga yang duduk di barisan paling belakang, turut menyerukan suasana.

"Tau nih. Serius dong, katanya masuk lima besar? jangan-jangan hoax lagi nih."

"Anjay." Dipo ngakak di bangkunya. Kedua matanya bersinggungan dengan Fajir yang baru datang dan meletakkan tas di kolong meja dengan kedua alis terangkat. Dia jadi semakin semangat menyebarkan berita baru yang masih hot ini pada seisi kelas, karena itu setelah menyeringai lebar pada Fajir, Dipo segera memberikan kode kepada Ares supaya cowok itu melanjutkan rencana mereka.

"Dip, minta PJ kali, siomay goreng juga nggak papa!"

"Lah emang Dipo pacar baru?"

"Lo putus dari cewek lo?"

"Kapan?"

"Siapa pacar baru Dipo?"

"PJ juga dong!"

Kedua cowok itu menyeringai puas. Melanjutkan sesi yang tadi, Ares berdeham pelan dan menambahkan. "Gue belum selesai kali."

Fajir sudah memasang radar siaga, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan alis terangkat. Sepertinya cowok itu paham eksekusi apa yang nantinya akan terjadi, namun belum sempat ia menghentikan mulut-mulut lebar Ares dan Dipo, kedua cowok itu lebih dulu mengeksekusi opera pagi mereka.

"Maksud gue tadi itu minta Dipo untuk ngebujuk Fajir supaya kasih PJ. Dia kan baru jadian. Uhuy!"

"Mulut-mulut. Kayak cewek aja deh." Fajir geleng-geleng.

"Siapa, sama siapa?" satu pertanyaan yang menyerukan banyak pertanyaan di kepala anak-anak seisi kelas.

Namun, karena opera pagi ini sudah disudahi. Dipo dan Ares sama-sama mengedikkan bahu dengan wajah misterius yang menyebalkan. "Tanya sendiri sama orangnya!" tandas kedua upin-ipin itu.

***

Beruntung karena kedua biang kerok itu tidak mengatakan apa-apa soal siapa cewek yang menjadi kekasih baru Fajir itu. Lili jelas tahu kalau Ares dan Dipo pasti sudah tahu, namun keduanya sepakat untuk menyudahi opera pagi yang ngeselin banget itu dengan akhir yang kentang alias kena tanggung. Bikin penasaran karena anak-anak kelas harus mikir lagi dan mencari petunjuk demi menuntaskan tebak-tebakan pagi ini.

Tetapi, rasanya Lili menyesal ikut makan di kantin dengan teman-teman ceweknya karena—entah dari mana tapi gosip Fajir yang memiliki pacar baru itu sudah sampai ke telinga para Sriwijayans. Benar-benar cepat!

Dan kini, meja panjang kantin yang berisi kumpulan cewek-cewek kelas Lili dan kelas lain itu sedang ribut, melakukan diskusi terbuka akan kandidat-kandidat yang tepat di sandingkan dengan Fajir.

"Kayaknya dari luar sekolah deh, gais." Sarah menyimpulkan.

"Coba, Gil, lo tanya sama Ares deh. Tu anak sialan banget bagi-bagi gosip nanggung begini. Mana nggak ada kisi-kisi pula." Ujar Jelita.

Gilda yang tidak ikut masuk ke dalam diskusi terbuka dan memilih untuk menyantap soto ayamnya itu langsung melotot jengkel saat nama Ares disebut-sebut. "Ogah!"

"Yah, kan dia deketnya cuma sama lo Gil..."

"Deket apaan!" Gilda langsung protes. Cewek berkaca mata itu jelas tak terima kalau dia digosipkan dekat dengan si biang onar kelas yang terus saja membuatnya naik darah itu. "Kalian tanya aja sendiri. Atau nggak Lili tuh, masa sih lo nggak tau? Lo kan deket sama mereka bertiga. Apalagi sama Fajir."

Sarah mengangguk semangat. "Iya, iya, bener. Bahkan gue kira elo yang jadian sama Fajir,"

"Tapi sejak pentas bahasa kemarin banyak kapal berlayar, gais," ujar Jelita sambil menaik-turunkan kedua alisnya menatap Niken yang duduk berhadapan dengan Lili. "bau-baunya berlayar beneran kayaknya. Ya, Ken?"

Niken mendongak dari HP yang sejak tadi dipandanginya. Dan merespons dengan wajah bingung menatap teman-temannya satu-satu.

"Tuhkan, Fajir diujung sana lagi pegang HP juga. Wah, jangan-jangan lo ya yang jadian sama Fajir?!" celetuk Vio yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Cewek itu menunjuk ke arah jam sembilan, tempat di mana mayoritas anak cowok di kelas XI S1 bercokol.

Bersamaan dengan itu HP di saku seragam Lili bergetar, segera cewek itu membukanya. Pesan dari Fajir.

Lili tersenyum kecil, melirik ke arah jam sembilan dan mendapati cowok itu tengah tersenyum kecil ke arahnya. Namun, prasangka lain yang hadir di meja itu adalah Fajir sedang tersenyum kepada Niken. Sontak suara riuh ala gerombolan cewek terdengar memenuhi.

"TUHKAN!"

"GILA, JADI LO JADIAN SAMA FAJIR?"

"PJ, PJ, PJ!"

"HOT GUY SAMA COOL GIRL JADINYA DISPENSER INI SIH!"

"CINDERELLA COMES ALIVE!"

"BARBIE SAMA KEN JADIAN NJIR!"

Semua yang ada di meja itu langsung ribut seketika. Semuanya kecuali Lili. Untuk pertama kalinya dalam diri Lili terdapat ketidaksukaan, ia kemudian mengarahkan pandangan kepada satu-satunya cewek yang kini menjadi pusat perhatian itu. Dan keningnya mengerut dalam saat sama sekali tak mendapati penolakan atau penyangkalan Niken terhadap apa yang sedang digosipkan pada cewek itu, sebagai gantinya Niken malah menyunggingkan senyuman kecil tanpa sepatah katapun keluar.

Fajir itu jadiannya sama gue tau, bukan Niken! Dan kenapa juga Niken malah kayak mengiakan gitu sih ekspresinya?

Kalimat itu hanya terlempar menggema di dinding-dinding hati Lili, tanpa pernah terucap...

***



thanks for reading!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co