Truyen3h.Co

Lili

29

authoriya



Fajir tidak memahami kenapa Lili mengajaknya mampir ke salah satu pusat perbelanjaan sebelum langkahnya ikut berhenti di salah satu konter roti besar yang terdapat di dalam salah satu Mall yang mereka kunjungi sekarang. Cowok itu mengangkat alis tinggi-tinggi saat Lili menyodorkan nampan kepadanya, namun tanpa kalimat apapun ia tetap mengekor di belakang Lili.

"Gue nggak suka coklat." Ujar Fajir saat Lili menaruh dua potong rotiberukuran sedang yang dibalut coklat tebal.

Lili mengangkat alis. "Tolong ya masnya jangan GR gitu napa, ini bukan buat lo kali." Cetusnya sambil terkikik pelan.

"Buat siapa?"

"Yasnu lah! Dia suka coklat banget." jawab Lili santai, lalu kembali melangkah melihat-lihat deretan roti-roti yang berjajar rapi di etalase.

"Lo itu pacar gue atau pacar Nu sih?"

"Pacar Fajir lah!"

"Terus kenapa yang dipikirin tu anak aja?"

"Karena dia udah bantuin kita," Lili tersenyum sambil mengangkat bahu. Cewek itu kemudian mengambil potongan roti dengan krim keju di atasnya, memindahkannya ke nampan yang di bawa Fajir. "Ini buat tante."

Raut wajah Fajir langsung berubah dan Lili bisa melihatnya. Cewek itu tersenyum kecil sambil mengusap lengan Fajir, lantas menambahkan. "Om Dharma suka apa?"

"Udah ah, yuk."

"Fajir..."

Fajir berdecak, lantas membuang muka. "Nggak tau."

"Yah, Fajir mah gitu..." Lili memerosotkan bahu dengan wajah cemberut. Matanya menatap ke arah etalase kembali, dan memutuskan mengambil roti coklat. Namun, kening Lili berkerut saat Fajir tiba-tiba mengambil alih capitan yang ia pegang, mengembalikan roti itu ke tempat semula dan menggantinya dengan roti srikaya.

"Udah kan? Yuk." Ajak cowok itu, melewatinya berjalan menuju kasir.

Lili menahan senyum dan mengikuti.

Lima menit berikutnya Fajir sudah menunggu di dalam mobil. Tadi, Lili pamit padanya karena tiba-tiba ingin ke toilet dan karena cewek itu bersikeras sendiri saja, akhirnya Fajir memutuskan menunggu di dalam mobil.

Pintu mobil terbuka membuat Fajir menolehkan kepala dari permainan di HP-nya sebentar sebelum kembali fokus pada HP ditangannya. "Udah?" tanyanya.

"Mm, udah." Katanya sambil menyampirkan paperbag ke sisi dekat pintu mobil dan memasang sabuk pengaman.

"Bentar ya Li, nanggung."

"Nanggung mulu." Lili mendumel.

"Ya elo gue ajak main nggak mau."

"Nggak asik tau mabar sama lo," gerutu Lili. "gue cuma disuruh diem doang ngendog di ujung."

"Ya kan gue ntar yang bunuh semuanya. Ntar lo kebunuh, Li."

Lili manyun. "Terus gue diem doang gitu nungguin lo knock dan gue idupin lagi. Lo kira gue tim medis?"

Fajir tertawa lebar. "Iya, iya, ntar kita mabar lagi ya?"

"Beneran?" kedua mata Lili nampak berbinar-binar.

Fajir mengangguk, menyimpan HP-nya, lalu memasang sabuk pengaman. Kepalanya meneleng menatap Lili dengan seksama. "Iya. Tapi, jangan lebih dari 50 meter berdirinya."

"Ih ngeselin!"

Cowok itu kembali tertawa lebar seraya menjiwil pelan hidung Lili. Satu hal yang dilakukan mungkin tanpa kesadaran penuh, namun efeknya mampu membuat wajah Lili seketika memanas dengan degup jantung semakin kencang. Beruntung hari semakin malam dan cahaya di mobil yang remang-remang mampu menutupi wajah Lili yang mungkin kini sudah semerah tomat itu.

Lili berdeham, membenarkan posisinya dan menatap ke depan saat mobil sudah bergabung dengan pengendara lain di jalan raya. Lima belas menit tanpa macet, mobil yang dikendarai Fajir sudah sampai di depan rumah berpagar hitam. Lili melepas sabuk pengamannya, dan menoleh. Menemukan mata berbingkai alis tebal itu sedang menatapnya. "Makasih ya, udah mau nemenin."

Fajir mengangguk. "Ini yang pertama dan terakhir kita berurusan sama tu cewek ya? Nggak usah deket-deket sama dia lah, Li. Dia aja nggak suka sama kita."

"Iya," jawabnya pelan. Matanya melirik ke jok belakang di mana sekotak roti yang tadi mereka beli berada. Lalu, pandangannya beralih pada cowok di balik stir kembali dan berkata, "jangan lupa kasihin. Dan bilang itu dari lo untuk keluarga lo."

"Mereka bukan keluarga gue." Ada nada mendengus saat Fajir mengatakan kalimat itu.

Lili mengesah. "Gue nggak tau apa yang lo rasain. Tapi, gue yakin pasti berat dan bikin sesak." Cewek itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Fajir dengan sedikit meremasnya pelan. Lalu melanjutkan, "Satu hal yang perlu lo tau kalo gue akan di sini, sama lo, dan siap mendengarkan apapun yang ingin lo ceritain. Oke?"

Fajir masih terdiam. Kedua matanya mengunci manik mata coklat milik cewek yang berstatus sebagai kekasihnya itu dalam-dalam, dibalasnya genggaman tangan yang terasa menghangatkan itu perlahan.

"Fajir kecil yang tangguh udah menjalani hidupnya dengan benar, berhasil membentuk Fajir yang sekarang—yang ada di samping gue. Tapi hati yang terluka dulu, nyatanya masih sama. Gue nggak akan minta elo untuk memaafkan kalo hati lo belum bisa memaafkan, tapi gimana kalo lo coba mulai mau mendengarkan dari sisi bunda-nya Nu dan bokap lo? kalo saat penjelasan mereka masih belum bisa lo terima, adalah hak lo untuk tetap membenci 'kan? Gue cuma mau supaya hati lo membaik. Bekasnya mungkin akan tetap ada, tetapi seenggaknya udah nggak kerasa sakit lagi." tuntas Lili.

Cewek itu benar-benar mengambil seluruh keberuntungannya untuk yang satu ini. Ia jelas sudah terlalu dalam ikut campur urusan orang lain—yang sangat menentang prinsip yang telah ia pegang teguh selama ini—tetapi Fajir telah membantunya keluar dari 'rasa sakit' dan ia ingin memberikan perlakuan yang sama kepada cowok itu. Untuk cowok itu.

Namun, melihat Fajir yang tak mengeluarkan kata sepatahpun, Lili jadi takut kalau cowok itu berpikiran macam-macam dan menganggapnya menyebalkan karena terlalu ikut campur.

Baru saja Lili hendak mengeluarkan kalimat lagi, suara Fajir terdengar gamang. "Gue takut kalo ternyata apa yang gue simpulkan selama ini salah, Li..."

Lili mengeratkan genggamannya. Menatap kepala yang saat ini menunduk di depannya dan menyadari kalau dia telah memahami apa yang dirasakan oleh cowok di depannya ini; entah sejak kapan...

"Gue sayang nyokap, dan gue ikut sakit saat bokap ninggalin nyokap demi perempuan itu. Tapi kayaknya belakangan ini pikiran gue mulai nggak sejalan, apalagi saat gue tetap bersikap sinis sementara perempuan itu dengan sabarnya terus senyum sama gue. Care sama gue, dan nggak pernah ngebentak gue sekalipun, Li."

"Bokap lo, gimana?" tanya Lili hati-hati.

"Gue jarang ketemu bokap selain di meja makan waktu sarapan. Dan kami sama-sama saling sapa seperlunya aja."

Lili mengusap punggung tangan Fajir pelan. "Kita mulai dari awal pelan-pelan ya, Jir? Gue tau ini berat, tapi mungkin saat lo udah bisa menerima dan mengikhlaskan, segalanya bisa terasa lebih baik dan indah."

"Gue nggak janji, tapi akan gue usahakan." Fajir mengangguk. "Sekarang lo masuk gih, udah malem. Ntar tetangga lo mikir macem-macem lagi karena lo nggak turun-turun dari dalem mobil."

"He'eh." Angguk Lili. Sebelum cewek itu membuka pintu, ia mengingat kalau ia memiliki satu hadiah untuk Fajir. Lili mengambil paperbag itu dan kembali menghadap ke arah Fajir. "Hadiah buat lo."

Fajir mengangkat kedua alisnya seraya mengambil paperbag itu dan mengeluarkan isinya.

Sebuah topi baseball merek kenamaan dengan warna hitam mendominasi.

"Ini pertama kalinya gue kasih sesuatu buat cowok, dan gue bingung mau kasih apa...," ucap Lili jujur. "Sarah bilang jangan kasih hadiah baju ntar putus."

Fajir menyeringai. "Jadi lo takut putus dari gue?"

"Emang lo mau putus dari gue?" tanyanya balik.

Cowok itu menggeleng cepat. "Nggak lah!"

Sambil menahan senyum agar tak tercetak lebar di wajah, Lili berdeham dan membuka pintu di sampingnya. Sebelum benar-benar turun, ia kembali bersuara dengan nada sedikit mengancam. "Dipake loh, jangan sampe enggak. Gue nabung mau beli itu tau!"

Fajir tersenyum seraya memakai topi itu. "Ganteng nggak gue?"

"Idih sok ganteng, nggak!" jawab Lili pura-pura tak acuh.

"Nggak papa deh nggak ganteng, yang penting lo sayang. Ya kan?"

Lili tersipu dan buru-buru menutup pintu. "Apaan sih, norak! Udah ah, balik gih sanaaa..."

Fajir terkekeh sambil mengacungkan ibu jarinya. "Balik ya?"

"Mm, hati-hati. Jangan ngebut."

"Siap!"

Sepeninggal Fajir, Lili melangkah memasuki rumahnya. Cewek itu baru meletakkan sepatunya pada rak ketika mama muncul dari pintu garasi dengan kemoceng di tangan. Wajahnya nampak kaget saat menemukan anak gadisnya sudah berada di rumah, dengan daster kebanggaannya, mama melangkah mendekat. "Fajir mano? Dak disuruh masok rumah?"

"La dalu, mam. Balek lah dio."

"Ai dem, mama la bikin pisang goreng banyak pulo." Mama mengesah sedikit kecewa. "Ya sudah, mandi dan salin gih, ntar turun lagi makan." Titah mama pada anak gadisnya.

Lili mengangguk, kemudian melangkah menuju tangga ke lantai atas—kamarnya.

***




Sementara beratus kilometer jauhnya, Fajir mematikan mesin mobil saat mobilnya telah terparkir di garasi. Cowok itu membuka topi yang sejak tadi ia pakai, dan memasukkannya kembali ke paperbag. Ia menyugar rambutnya sebelum mengambil kantong plastik di jok belakang kemudian turun.

Fajir berderap melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung berjalan menuju dapur. Cowok itu menemukan perempuan setengah baya dengan dasternya sedang melongok ke dalam kulkas seperti sedang mencari sesuatu. Langkah Fajir berhenti, genggamannya pada tali plastik dan paperbag-nya mengerat sebelum akhirnya memantapkan hati dan melangkah mendekat.

Disaat cowok itu kebingungan untuk menyapa kali pertama, perempuan setengah baya itu menutup pintu kulkas dengan dua telur dalam genggaman. "Fajir? Nak, kamu udah pulang?" sapa bunda.

Fajir berdeham pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cowok itu mengangguk dan menghampiri, "Buat papa, Yasnu, dan...," ia diam sebentar sebelum kembali bersuara pelan. Namun, tetap bisa didengar oleh perempuan setengah baya itu. "dan untuk bunda. Makasih udah pinjemin mobil."

Telur yang dipegang hampir saja terlepas kalau saja ia tidak segera sadar. Kedua mata bunda berkaca-kaca. Terharu. Ia mengangguk cepat. "Iya, mobil bunda juga mobil Fajir. Fajir bebas pakainya kapan saja."

Fajir tersenyum kecil, mengusap alisnya pelan sebelum berkata. "Yaudah, saya mau ke kamar dulu."

Dan meninggalkan perempuan yang kini meneteskan air mata haru ditempatnya berdiri.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co