30
another part ga penting tapi penting. Ga ada romantis2an apalagi joke recehnya, bole di skip (:
*
Matahari sudah lama tergelincir masuk kembali ke dalam peraduannya, dan kini digantikan oleh sinar rembulan dan bintang di atas sana saat Fajir keluar dari kamar mandi dengan handuk yang bertengger di pundaknya. Cowok itu mengusap rambutnya pelan menggunakan handuk, sebelum menaruh handuk itu di rak handuk yang berada di balkon.
Angin malam langsung menerpa wajah Fajir saat cowok itu berjalan keluar balkon, setelah menggantung handuknya, ia membiarkan dirinya terjebak di balkon sedikit lebih lama. Cowok itu bersedekap, memandang ke dalam rumah di depannya yang gordennya belum di tutup—dan kini sedang menampilkan pemandangan yang membuat rindu; nampak seperti keluarga kecil yang sedang duduk di depan meja sofa di depan TV dengan Ronald (anak kelas satu SD) nampak sedang mengerjakan PR dengan ayahnya yang telaten mengajarinya. Sedangnya Ibu dari anak itu beberapa kali terlihat mondar-mandir membawa gelas dan piring, lalu ikut berkumpul di sana.
Fajir tersenyum kecil ketika sekelebat kenangan dari masalalu-nya meringsek hadir. Matanya sayu dan perasaan kangen akan masalalu tiba-tiba muncul, hal yang sudah lama berhasil ia lupakan itu mendadak kembali lagi. Tidak ada yang lebih indah dari harapan anak-anak adalah melihat keluarga mereka baik-baik saja, namun pelajaran terbesar dalam hidup ini adalah kita tidak bisa menyesuaikan kehidupan dengan takdir yang sudah di gariskan Tuhan pada hambanya. Mendadak Fajir memejamkan mata, dan tiba-tiba wajah haru bunda Eva muncul dalam benak cowok itu. Ia selalu memandang marah dan kesal pada perempuan setengah baya itu, ia juga tak pernah benar-benar memerhatikan tatapan perempuan setengah baya itu kepadanya. Tetapi hari ini... dan juga tatapan itu... apakah selama ini Fajir terlalu egois untuk tidak mendengarkan penjelasan mereka?
Fajir menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik sebelum ia mengembuskan napas perlahan. Cowok itu kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar bersamaan dengan pintu kamarnya yang diketuk tiga kali sebelum suara decitan pintu yang terbuka terdengar.
"Dipanggil bunda dan papa untuk makan malam." Nu menginformasikan. Seperti sudah menjadi kegiatan rutinnya untuk memanggil saudara sambungnya ini tiap makan malam tiba—kecuali jika Fajir tengah berada di ruang TV—dan entah kenapa hari ini perasaannya berbeda. Sejak kejadian 'pembalasan dendam' itu Nu merasa kalau Fajir tidak seperti Fajir yang dulu. Cowok itu merasakan perubahan dari sikap defensif Fajir meskipun hanya sedikit. Dan, melihat bagaimana bunda terus tersenyum dengan matanya yang sedikit sembap, plus sekotak roti di atas meja, sepertinya ada kejadian yang telah ia lewatkan. Kejadian baik, tentu saja.
Fajir mengangguk sambil mengusap alis pelan.
"Gimana tadi? berhasil ketemu Niken?" tanyanya. Masih berdiri di depan pintu.
"Ya. Ketemu."
"Kenapa dia nggak masuk?" tanya Nu. "Kelompok ilmiah gue masih butuh dia, biar gimanapun gue jadi ngerasa nggak enak, kami bentar lagi bakal ikut olimpiade. Dan karena kejadian itu semua orang jadi memandang Niken sebelah mata." Nu mengembuskan napasnya. "Dia baik-baik aja kan?"
"Niken sakit. Lo tau itu." ucap Fajir sambil mendengus. "Tapi kalo yang lo maksud adalah fisiknya, ya dia baik-baik aja."
Nu tidak menjawab dan hanya mengangguk. Cowok itu memasukkan kedua tangannya pada kantong celana katung yang ia kenakan, lantas bicara. "Ayo turun kalo gitu."
"Duluan, gue mau nelpon Lili bentar."
Nu kembali menganggukan kepala. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi.
Fajir berbohong soal ingin menghubungi Lili. Ia sebenarnya hanya memerlukan waktu untuk memantapkan dirinya. Memasang kaca yang berbeda dan mulai mempertimbangkan nasihan Lili padanya tadi, yang mana mungkin itu hal yang terbaik. Kadang kita tidak pernah tahu bahwa Tuhan mengetuk hati umat-Nya dengan berbagai cara. Dan mungkin inilah cara yang dilakukan yang maha kuasa padanya.
Cowok itu akhirnya berdiri, lalu melangkah keluar kamar. Tak membutuhkan waktu lama untuknya tiba di ruang dapur, langkahnya melambat saat menemukan tiga orang lainnya sedang melontar candaan. Fajir berdeham pelan, lalu mengambil tempat di sebelah Nu—diseberang papanya—sedangkan bunda Eva sedang menadahkan telor goreng yang baru matang ke atas piring.
"Yang dadar untuk Fajir, dia nggak suka telor mata sapi." Kata bunda seraya meletakkan piring berisi telor goreng itu di sebelah beberapa lauk-pauk lainnya yang sudah ada di atas meja. Berjejer rapi dan siap disantap.
Fajir berdeham, dalam hati ia bingung bagaimana bunda Eva mengetahui kalau dirinya tidak suka telor mata sapi. Cowok itu mengambil piringnya yang diisikan nasi oleh bunda Eva dan menggumamkan terima kasih.
"Gimana pacar kamu, Fajir? Kapan diajak ke rumah?" ujar papa santai, yang malah Fajir langsung tersedak air minumnya ketika mendengar suara pertama papanya. Cowok itu menepuk pelan dadanya, sementara sang papa nampak tidak terpengaruh dan tetap memberikan pertanyaan lanjutannya. "Papa memang sudah kenal sama Lili, tapi kan beda kalo statusnya udah jadi pacar kamu."
Fajir otomatis melirik tajam ke arah Nu. Seolah paham kalau dirinya sedang tertuduh, Nu buru-buru mengklarifikasi. "Bukan gue yang bilang ke papa."
"Terus tau dari siapa?" dengus Fajir.
"Papa kan follow instagram kamu. Tapi, tidak di followback." Ucap papa santai.
Astaga!
Fajir mengusap satu alisnya pelan. "Pa, udah tua ngapain juga main instagram?"
"Lho, emang ada batasan umur main media sosial? Facebook aja papa punya, untuk komunikasi dengan teman-teman lama."
"Hati-hati aja, Pa. Jangan semuanya dibagi ke media sosial." Akhirnya Fajir memilih untuk memberikan nasihat. Orangtua di jaman sekarang terkadang tidak bisa memfilter apa yang perlu dan tidak perlu di bagikan ke media sosial, kadang malah mendetail membagikan informasi pribadi kepada orang asing. Tidak sedikit juga yang sering termakan berita bohong.
"Iya, jangan semua foto kegiatan sehari-hari di unggah ke facebook atau instagram." Tambah Nu.
"Ini untuk bunda juga." ucap Fajir.
Semua yang ada di meja makan itu langsung menoleh menatap Fajir dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Menyadari tatapan itu, Fajir langsung pura-pura tidak melihat dan menyendokan nasi di piringnya.
Bunda yang pertama kali tersadar dan langsung memberikan senyuman sahajanya. "Iya, bunda akan ingat itu."
Dan kemudian suasana di meja makan berubah menjadi hangat, meleburkan keheningan dan kekakuan yang pernah tercipta sebelumnya.
Hingga acara makan malam itu selesai dan Fajir sudah kembali ke kamarnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk sebelum wajah papa muncul di sana. "Boleh papa masuk?"
Fajir mengangguk.
Senyuman papa nampak lepas. Senyuman yang dulu selalu dilihat Fajir, senyuman untuknya. Papa berjalan menuju balkon dan mengambil tempat di salah satu dari dua kursi santai di sana. Fajir mengikuti.
Cowok itu masih belum percaya bahwa ia akan duduk bersebelahan dengan papanya setelah sekian lama. Duduk santai, bukan karena sedang makan malam atau sarapan pagi. Duduk yang benar-benar hanya ada mereka berdua saja.
Papa menyulut rokok, kemudian menawarkannya pada Fajir yang langsung disambut gelengan dari cowok itu. "Saya nggak merokok." Jawabnya.
Papa mengangguk. "Papa senang dengar kalau kamu nggak merokok."
"Sejak kapan papa ngerokok? Dulu, enggak." Tanya Fajir
Pandangan papa terarah ke langit-langit yang dipenuhi bintang dan bulan sambil mengembuskan asap rokoknya ke atas. Pria itu memberikan jeda sebelum menjawab pertanyaan sang anak. "Sudah lama, hanya saja menjadi perokok aktifnya waktu papa meninggalkan kalian berdua."
Tubuh Fajir langsung menegang refleks. Rahangnya mengetat dengan tatapan lurus menatap lurus ke depan tanpa fokus apapun di sana. Fajir bisa mendengar helaan napas sang papa sebelum suara pria setengah baya itu kembali mengudara. "Kakek dan Nenekmu—orangtua mamamu, yang selalu ikut campur. Sebelum bisnis properti papa melesat seperti sekarang, merekalah yang selalu mendikte kami. Memberikan uang belanja bulanan, makanan, pangan, dan lain-lain karena menurut mereka papa nggak bisa menghidupi kalian. Papa tau kalau niat mereka baik ingin anak dan cucunya hidup tidak kekurangan, tapi hal itu justru melukai harga diri papa sebagai laki-laki...," papa menjeda kalimatnya dengan menghisap batangan kanker dan mengembuskan asapnya. Lalu melanjutkan, "sebagai laki-laki yang sudah memiliki keluarga, kami diwajibkan untuk bertanggung jawab penuh. Dan orangtua mamamu nggak pernah mengizinkan papa mengemban tanggung jawab itu sepenuhnya. Mungkin kamu nggak tahu, tapi hubungan papa dan mamamu emang sudah nggak sempurna sejak saat itu. Papa selalu mengira kalau papa nggak pantas untuk mamamu yang terlahir dari keluarga berada. Sejak saat itu papa banting tulang untuk bisa sampai ke posisi yang sekarang."
"Terus saat papa udah sampai di posisi yang sekarang, papa malah ninggalin Saya dan mama? Demi wanita itu?"
"Papa nggak pernah membenarkan perselingkuhan. Tapi, orang yang mamamu baca pesannya itu bukan wanita yang sama dengan yang tinggal di sini. Bukan Eva." Ucap papa membuat Fajir membeliakkan mata.
"Bukan beliau?"
Papa menggeleng. "Waktu itu papa memang salah karena mencari kesenangan lain. Papa menyesal meninggalkan kamu dan mamamu waktu itu, tapi papa cukup egois dan tidak mau kembali, saat papa tau kalau mamamu nggak bisa diselamatkan, papa menyesal—"
"Tapi, papa nggak datang ke pemakaman." Potong Fajir.
"Papa datang."
"Saya nggak lihat."
"Papa sembunyi di balik pohon karena papa cukup pengecut untuk bertemu kalian." Papa mematikan puntung rokoknya di lantai, kemudian melemparkan puntung rokok itu keluar balkon. "Setelah menata kembali hidup, papa ketemu dengan Eva, seorang single parent yang punya sifat kuat seperti mamamu. Mantan suami Eva—ayah Yasnu—adalah seorang pemabuk dan suka melakukan KDRT."
Fajir terdiam, otaknya sibuk mencerna fakta-fakta baru yang baru ia ketahui ini.
"Maaf karena papa nggak bisa jadi panutan yang baik untuk Fajir," papa mengambil kedua tangan Fajir, lalu menangkupnya. "Papa hanya bisa berdoa supaya Fajir menjadi anak yang sukses dan bahagia. Papa tau kalau Fajir lebih baik daripada papa, dan nggak akan menjadi laki-laki brengsek seperti papa."
"Kenapa papa baru cerita ke saya?"
"Karena baru ini momen yang tepat untuk papa bisa jujur ke kamu." Ujar papa. Karena Fajir yang diam tak merespons apapun, akhirnya papa kembali menambahkan. "Terima kasih karena sudah mau tinggal disini sama papa. Dan karena sikap baikmu ke Eva—ibu sambungmu, hari ini."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co