Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

11

nanayyyg_

Double up nih

Jam menunjukan pukul 5:15 , dan lelaki berbadan tinggi itu sudah rapih dengan pakaian olahraga nya.

Sudah kewajiban baginya untuk berolahraga setiap hari minggu. Kebalikan dengan sang abang yang lebih memilih melanjutkan tidurnya dibandingkan olahraga.

Lelaki itu memasang sepatunya, kemudian memulai langkahnya untuk keluar dari rumah.

"Eh Chan. Mama nitip bubur depan kompel yah," uhar sang Mama dari depan pintu.

"Oke kanjeng mami,"

Langkah lelaki itu terhenti di rumah bewarna pink. Mengingat kemarin dia mengajak Jeffery untuk ikut serta jogging di pagi ini.

Tok tok tok

"Bang Jeffry... main yokkk," teriaknya dari depan pintu.

Cklek

"Halo om," Sungchan tersenyum manis melihat calon mertuanya membuka pintu.

"Ini yang namanya Sungchan ya?,"

"Iya om, Rajasungga Chana Abrian, calon menantu masa depan om."

"Eh?,"

Jeffery yang baru datang langsung tertawa "Sungchan, lo tuh kenapa berani banget sih, tapi antara berani sama gatau malu jauh beda."

"Bagus dong, biar semua tau kalau Sungchan tuh masa depanya musim dingin."

"Kamu suka sama anak om?," tanya Baekhyun heran.

Sungchan terdiam sebentar, pura-pura berfikir. "Bangettt om!. Kayanya emang dia jodoh saya deh,"

"Kepedean lo." Celetuk Jeffry.

"Kamu suka sama anak om alasan nya apa?,"

"Emang cinta ke seseorang harus pake alasan ya om?,"

Baekhyun tersenyum, "Ga juga sih. Tapi om harap kamu bisa mencintai Winter dari kekuranganya terlebih dahulu,"

"Jadi..., om restuin Sungchan ga? Untuk deketin musim dingin."

"Om ga akan ngelarang, om harap kamu bisa jadi orang yang bisa jagain Winter, entah sebagai sahabatnya atau sebagai yang lain."

"Siap om!. Itu pasti!."

"Ayah, nih kopi---, ngapain lo disini?."

"Mau liat cerahnya masa dep---,"

"Ayah jangan dengerin dia. Dia ga waras!."

Baekhyun cuma ketawa ngeliat dua remaja di depannya. "Dek, kamu ikut jogging gih."

"Gamau yah."

"Ih sana, Ayah bosen liat kamu di rumah terus."

"Jadi Ayah ga suka aku ada di rumah?,"

"Eh bukan gitu, maksud ayah tuh, kamu harus rajin-rajin beraktivitas di luar,"

"Tapi yah...,"

"Sekarang kan ada Sungchan, papa percaya dia bisa jagain kamu kok." Sungchan yang merasa terpuji langsung tersenyum bangga.

"Mumpung udara nya masih seger nih, cepet ikut sana."

Winter mendengus nafasnya, "iya, bentar."

"Dek awas aja lo kalau pake baju maling lagi pas keluar." Winter berdecak kesal, kali ini rasanya ia ingin memberikan Jeffery kepada pemenang giveaway mingguan.

Winter kembali setelah beberapa menit menggunakan sepatunya, dengan langkah berat gadis itu menghampiri Sungchan yang masih tersenyum lebar menunggunya.

"Udah siap?," yang ditanya mengangguk.

"Tapi jangan jauh-jauh."

"Iyaa Musim dingin," jawab Sungchan lembut.

Mereka bertiga memulai langkahnya bersamaan. Winter berjalan di antara Sungchan dan juga Jeffery, beruntungnya gadis itu tak mengenakan pakaian maling nya saat ini, jadi Jeffery tidak malu saat berjalan disampingnya.

"Aduh, bentar-bentar." Jeffery memberhentikan langkahnya.

"Kenapa lu bang?." Tanya Sungchan heran.

"G-gw kebelet boker, kalian jogging berdua aja ya,"

Sontak Winter membuka matanya lebar. "Kok gitu!."

Jeffery memegangi perutnya. "Aduh dek, panggilan alam udah gabisa di tunda," Jeffery menatap Sungchan berusaha memberi kode dengan matanya. "Udah sana jogging berdua. Jagain adek gw lo Chan."

Sungchan mengangguk paham dengan kode tersebut. "Okee bang!. Boker aja dengan tenang sana. Musim dingin pasti gw jagain kok." Ujarnya semangat.

"Adek ikut abang pulang."

"Yang ada nanti lo di usir ayah, lo ga liat?, tadi ayah udah nyuruh lo untuk banyakin beraktivitas diluar. Udah gw balik ya."

Winter mendengus kesal, bagaimana bisa keluarganya malah menyuruh dia untuk keluar dari rumah, hanya karena terlalu sering di dalam kamar.

Sungchan mengetuk bahu Winter dengan jari telunjuknya "Jalan yuk,"

"Jangan sentuh-sentuh!."

"Ck, iya galak banget sih." Sungchan tersenyum di depan Winter. "Tapi aku suka."

Mata Winter terbelalak. "Ga waras!. Jauh-jauh dari gw."

"Gamau hehe," Winter berlari pelan meninggalkan lelaki aneh itu.

"Musim dingin musim dingin," Winter masih punya hati dan tak jahat, sekesal apapun dia saat ini, dia masih tetap melambatkan larinya, agar menyamakan langkahnya dengan Sungchan.

Sungchan tersenyum melihat Winter, ah rasanya sudah gila, bibirnya mungkin sekarang terasa kering karena terlalu sering tersenyum. "Mau nanya dong,"

"Hmm?,"

"Apa bener kalau orang batak nikah sama orang bogor, anaknya berubah jadi batagor?," Winter tertawa mendengar pertanyaan bodoh Sungchan.

"Emang bisa kaya gitu?," tanya Winter.

"Gatau, makanya aku nanya, kali aja kamu tau." Winter menggeleng pala untuk kesekian kalinya karena tingkah lelaki itu.

"Sim sim, makanan kesukaan kamu apa?,"

"Hmmm, coklat,"

"Kalau minuman?,"

"Susu coklat."

"Ukuran sepatu nomor berapa?,"

"39,"

"Warna kesukaan kamu apa?"

"Nanya itu semua buat apa?."

"Buat lebih mengenal dalam calon masa depan," jawabnya cengengesan.

"Sekarang aku nanya, kamu harus jawab cepat ya," Winter merasa bingung sendiri, namun dia tetap menuruti kata lelaki itu.

"Suka baca komik ga?,"

"Suka."

"Suka film action ga?."

"Suka."

"Suka mint choco?,"

"Suka."

"Suka jelly?,"

"Suka."

"Suka aku ga?,"

"Suka---eh! Enggak!." Sungchan tertawa saat melihat wajah kesal gadis itu.

"Oh ternyata musim dingin suka sama Sungchan nih..., " godanya.

"ENGGAK!." Ujarnya kemudian berlari dengan cepat.

"Eh-eh jangan di tinggal dong."

"Eh gapapa deh kamu lari aja. Biar aku yang kejar. "

"Gak jelas lo!."

"Mama aku bilang kalau mimpi itu harus di kejar, jadi sekarang aku harus kejar kamu."

"Diem ga lo!."

"Iya iya diem nih." Sungchan terkekeh dan menutup mulutnya.

"Capek?," tanya Sungchan.

"Lumayan."

"Mau sarapan bubur ga?, tadi Mama juga nitip bubur depan situ."

Winter mengangguk, "boleh,"

Mereka berjalan pelan ke depan tukang bubur di dekat taman komplek.

"Bang bubur dua, dibungkus satu."

"Ga pake kacang," ujar Winter.

"Oke mba cantik," jawab pedagang tersebut membuat Sungchan sedikit kesal.

"Bang inget istri dirumah," sindir Sungchan.

"Bang bubur 2 porsi," ujar seseorang yang baru datang.

Mata Winter terbuka lebar "Loh bang Jeff?, katanya tadi mau bok--"

"Adek ku sayang, tolong diem dulu. Nanti gw jelasin," Jeffery menoleh ke gadis disampingnya "ayo Rose duduk aja,"

"Eh iya makasih Jeff. Halo Winter..., kakak udah jarang banget liat kamu,"

"Hai kak, iya aku jarang keluar."

"Loh ini Sungchan kan? Yang baru pindah," tanya Rose.

Winter menoleh ke Sungchan "Iya kak, kakak kok bisa sama bang Jeff?,"

"Ah tadi ketemu pas di tikungan jalan."

"Kalian udah lama disini?," tanya Jeffery.

"Baru dateng bang."

"Ini mba cantik mas ganteng buburnya,"

"Makasih pak,"

Dengan sigap Sungchan membantu pedagang tersebut menaruh setiap mangkuk nya di meja. "Nih buat musim dingin,"

"Makasih."

"Sama sama sayang," Winter menatap tajam Sungchan.

"Nih sendoknya," Sungchan memberikan cepat sendok kepada Winter.

"Pake kecap ga?," Winter menggeleng.

"Mau pake sambel ga?," Winter mengangguk. Kemudian Sungchan dengan sigap menuangkan sambal tersebut.

"Udah. Jangan banyak-banyak!,"

Prakk

Tutup botol sambal tiba-tiba terbuka, dan membuat semua isinya jatuh di mangkuk bubur Winter.

"Sungchannnnn!!!."

"Hari minggu pukul 09:21 untuk pertama kalinya kamu musim dingin, nyebut nama aku," jawab Sungchan tak memperdulikan wajah marah Winter.


Ada yang mau kasih pesan untuk mba Winter ga?

Ada yang mau kasih pesan juga ga nih, ke mahkluk yang satu ini

Pusing sama perahu ini woy😣 gemes banget huhuuuuuu.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co