Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

13

nanayyyg_

Pagi ini tak seperti pagi biasanya karena Sungchan dan Winter berangkat ke sekolah bersama, masih dengan sepeda milik Daehwi.

"Musim dingin."

"Hmm?,"

"Hari ini aku futsal kamu harus nonton ya!."

"Males,"

"Jahat banget, tontonin kek biar semangat."

"Apa hubunganya,"

"Ya berhubungan lah, kalau kamu yang tonton aku langsung semangat 45."

"Gamau panas."

"Coklat Chunky bar 2," ujar Sungchan.

Winter tersenyum bahagia "Deal."

"Dasar licik," dengus Sungchan.

"Kan lo yang nawarin, bukan gw yang minta."

"Iya-iya cewe selalu benar."

Sungchan memakirkan sepeda Daehwi, merantainya terlebih dahulu, dan berjalan bersama Winter menuju kelas.

"Winter," panggil seseorang. "Mau ngomong berdua bisa ga?,"

"Owh iya kak," Winter menoleh ke Sungchan "sana ke kelas duluan."

Sungchan menerawang Jeno dari atas sampai bawah, ternyata Jeno ganteng juga, menurut lelaki itu.

"Musim dingin, jaga mata jaga hati jaga telinga" ujar lelaki itu pergi menjauh.

"Ck. Ga waras!,"

"Iya kenapa kak?,"

"Mau ke tempat Na bareng aku ga?,"

"Hari ini?,"

"Iya abis pulang sekolah."

"Okay, aku udah lama juga gak ketempat kak Na."

"Oke, jadi nanti langsung aja ya, aku tunggu di parkiran."

"Iya kak. tapi, bukannya kak Jeno hari ini ada tanding futsal?, emang ga capek langsung ke tempat Kak Na?."

"Enggak kok tenang,"

"Owh oke kak."

"Yaudah sana masuk kelas, itu cowok kamu matanya udah mau keluar melotot terus dari tadi," ujar Jeno menunjuk Sungchan yang tengah mengintip dari jendela kelas.

"Eh?, Aku ga punya cowok."

"Oh bukan ternyata, yaudah sana ke kelas. Semangat belajarnya,"

"Iya makasih kak, semangat juga." Jeno melangkahkan kakinya menjauh dari kelas tersebut.

"Ups, caper berulah lagi," ujar Shasha yang melintas di depannya.

Winter mengatur nafasnya, dia gamau berurusan dengan mahkluk yang satu ini.

Shasha menarik tas Winter "Tuli lo ya?, di ajak ngomong diem doang."

"Mau lo apasih Sha?!." Kesal Winter.

"Lo keluar dari sekolah ini!."

"Lo gila Sha!."

Sontak Shasha yang merasa kesal langsung mendorong tubuh Winter hingga terseungkur ke lantai.

"Pilih keluar sendiri? Atau perlu gw buat keluar secara paksa?," tanya Shasha.

"Niat gw disini cuma sekolah. Gaada yang lain. Jadi tolong biarin hidup gw tenang kali ini aja,"

"Gak akan." Shasha mendekatkan tubuhnya ke Winter. "Gw gasuka liat lo bahagia." Ujar gadis licik itu sebelum melangkahkan kakinya pergi sembari menginjak jari tangan kanan Winter keras.

"Awww!!,"

"Ups maaf, galiat!."

Winter berusaha bangkit dan merapihkan seragam nya. Dia memperhatikan sekeliling berharap tak ada yang melihat kejadian tadi.

Winter mendengus kesal, pasalnya ini masih pagi hari, kenapa sudah terasa sangat sial baginya.

"Winter?," gadis itu menoleh "ngapain masih di luar?, masuk ke dalam kelas kamu cepet." Ujar pak Kun.

"I-iya pak, maaf,"

Winter berlari masuk ke kelasnya, berjalan ke belakang kelas tepat tempat duduknya berada.

Gadis itu menenggelamkan kepalanya di meja, palanya terasa sedikit pusing, ia tak tau bagaimana cara menghindari Shasha dan teman-temannya.

"Are u okay?,"

"I'm okay," jawabnya tersenyum ke Sungchan.

"Ga sakit kok," ujar Winter saat Sungchan menaruh telapak tanganya di dahi Winter.

"Pusing?,"

"Sedikit,"

"Tiduran aja di Uks,"

Winter menggeleng kepalanya. "Nanti ketinggalan pelajaran."

"Nanti bisa liat catatan aku,"

"Gamau."

"Ck. Keras kepala." Decak Sungchan.

"Lo lebih ya..,"

"Iya cewe selalu benar,"

Gadis itu berjalan menuju lapangan bersama teman-temannya yang lain. Tentu saja untuk menonton pertandingan futsal hari ini.

Pertandingan futsal ini di adakan dalam rangka hari ulang tahun sekolah, jadi semua jam pelajaran di hapuskan, dan di ganti dengan kegiatan lomba.

Jangan pikirkan Winter ikut lomba apa, karena jawabannya tentu saja tidak sama sekali. Winter tak ikut di semua cabang lomba, padahal banyak sekali temannya yang menyuruh Winter untuk ikut.

Tapi kalian tahu, kalau gadis itu sangat keras kepala. Sekalinya bilang tidak maka tidak.

Winter memilih deretan bangku paling belakang, menjauh dari keramaian. Mata gadis itu tertuju kepada seorang lelaki yang baru saja datang di tengah lapangan.

"Sungchan semangatttt," ah bukan, itu bukan suara Winter, melainkan suara Daehwi.

"Mie ayam bu ayu menunggu, kalau lo menang gw traktir!!" ujar Daehwi yang kedua kalinya.

Mata Sungchan berkelana mencari gadis yang ada di pikirannya saat ini. Lelaki itu tersenyum manis ketika melihat Winter yang berada di barisan paling belakang tempat duduk.

"Semangat," ujar Winter tanpa suara.

Sungchan tersenyum lepas, "siap bu negara!,"

"Asoyy Winter dan Sungchan mulai memberikan kode-kodean," ujar Giselle di samping Winter.

"Apaansih. Engga kok!."

"Bohong dosa Winter," ujar Ningning membuka kuacinya.

"Siapa yang bilang dosa dapet pahala?!," sewot Winter.

"Gila gila gila, itu Jeno ganteng banget Rin!." Ujar Giselle.

"Iya woy, jantung gw belum siap liat dia kaya gini," jawab Karina.

"Jeno buat gw ajalah," ujar Giselle sontak membuat Karina menatapnya tajam.

"Mau mati cepet lo!." Ancam Karina menatap Giselle.

Pertandingan dimulai dengan dua tim dari kelas 11 dan juga kelas 12. Bagian bangku depan terlihat sangat ramai, banyak yang berteriak menyemangati, banyak juga yang sibuk untuk fotoin para pemain nya.

Persaingan terlihat sangat sengit, apalagi di setiap kelas terdapat pemain terhenbat. Di kelas 12 ada Jeno dan di kelas 11 ada Sungchan sebagai pemain yang paling di andalkan.

Permain futsal telah berlangsung setengah jalan, posisi point masih di pimpin kelas 12 dengan angka 1-0.

Peluit berbunyi keras menandakan permainan futsal ditunda sejenak untuk istirahat.

Winter perlahan menghampiri Sungchan. "Nih," ujarnya memberikan sebotol minum. "Di paksa Ningning, suruh ngasih ke lo."

Sungchan senyum lebar, "makasih masa depan,"

"Hmm,"

"Lo bilang kalau gw yang nonton lo akan semangat 45, tapi mana tuh skor nya aja masih dipimpin kelas 12," ujar Winter.

"Ini jodoh siapa sih gemes banget." Sungchan mencubit pipi Winter.

"Ish jangan cubit-cubit!." Winter menghempaskan tangan Sungchan.

Sungchan mengambil tangan Winter kembali.

"Mau ngapain sih?,"

"Bentar, aku isi energi dulu biar semangat," ujarnya memejamkan mata.

"Aneh!." Ujar Winter menggeleng. "Udah selesai?," tanya Winter saat Sungchan melepas tanganya.

"Selesai apa?,"

"Isi energinya."

"Udah dong, cepetkan penuhnya."

"Aneh banget sih, emang beneran bisa semangat kalau pegang tangan gw?, ahhh gw tau, pasti lo modus lagi kan," tebak Winter, Sungchan langsung panik.

"Ihh enggak kok!. Beneran isi energi, tapi gapapalah modus dikit," tawanya.

"Ngeselin!."

"Love you too," jawab lelaki itu tersenyum.

"Gila!."

"Iya aku sayang kamu, kok,"

Winter berancang-ancang membuka sepatu di kaki kirinya.

"Eh-eh iya maaf,"

"Udah sana, udah mulai lagi tuh,"

"Iya, eh tapi kalau aku menang kamu harus kasih hadiah ya,"

"gamau!."

"Ayo dong, biar semangat nih,"

"Ck. Iya iya , mau apa?."

"Turutin lima permintaan aku,"

"Lima kebanyakan, dua aja."

"Yaudah, Deal!!!." Semangat nya ternsenyum, kemudian mengusak-usak rambut Winter.

"Sungchannnn!, rambut gw berantakan!."

Pertandingan tadi dimenangkan kelas sebelas, berkat Sungchan yang memasukan bola kedalam gawang pada menit-menit terakhir.

Ternyata tak sia-sia dia mengisi energi sebelum bermain tadi.

Semua siswa membereskan tas nya untuk bersiap pulang, beberapa juga ada yang masih harus melakukan jadwal piket terlebih dahulu.

"Musim dingin,"

"Hmm?,"

"Pulang bareng yuk, minjem sepeda Daehwi,"ujar Sungchan.

"Gabisa, gw ada urusan,"

"Urusan apa?, sama siapa?, kemana?,"

"Rahasia." Winter meninggalkan Sungchan.

Gadis itu dengan segera pergi ke parkiran, sesuai dengan rencana nya tadi, kalau dia pergi bersama Jeno ke tempat Kak Na.

"Kak," panggil Winter, kepada Jeno yang terlihat diam berdiri di depan motor ninja bewarna hitam. "Langsung kan kak?,"

"Iya langsung aja," Jeno memberikan satu helm kepada Winter. "Oh iya kamu udah makan siang belum?, kalau belum kita beli dulu,"

"Udah kok kak,"

"Okay," lelaki itu memperhatikan Winter yang tengah kesulitan memakai helm. "Sini aku bantu,"

"Makasih," gadis itu langsung menaiki tempat duduk tepat di belakang Jeno. 

"Pegangan aku mau ngebut." Ujar lelaki itu lalu motornya  langung melaju kencang meninggalkan sekolah.

Meanwhile....

"Aduh ada dua orang yang patah hati nih kayanya," ujar Daehwi melihat ke arah Karina dan Sungchan.

"BISA DIEM GAK LO!." Ujar Karina dan Sungchan kompak.



Sungchan sm Karina pas liat mulut julid Daehwi.





"Maaf mulut Daehwi khilaf kawan,"

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co