14
Happy reading:)
Sore ini angin terasa berhembus lembut di kulit kedua remaja itu. Mereka berdua berjalan bersama menuju ke sebuah tumpukan tanah dengan sebuah papan nama di atasnya.
Navan Jaevandra
"Hai Kak Na," panggil gadis senyum itu kepada pusara di depannya.
"Halo Na, udah lama gw ga kesini, maaf gw baru dateng sekarang."
"Lo baik-baik aja kan di sana Na?, lo udah bahagia kan?,"
"Kak Na, Winter kangen sama kakak," gumamnya.
"Kak Na, kangen sama aku juga gak?," rintih gadis itu menahan tangisnya sekuat mungkin. "Kak Na, pasti senang ya disana?, karena Kakak udah ga merasa kesakitan lagi...,"
Jeno sontak menoleh ke gadis di sampingnya, terlihat sekali mata gadis itu terlihat menahan tangisnya.
"Kak Na, setelah sekian lama akhirnya Winter berani lagi kak, berani untuk kembali ke dunia Winter yang sebelumnya, walaupun belum sesempurna dulu.
"Semua nya masih tampak aneh dan sulit di jalani tanpa adanya kak Na, sulit kak. sulit untuk menjadi Winter yang dulu, dan ga semudah yang terbayangkan."
Jeno menaruh tangan kanan nya di pundak gadis dan menepuk pelan. Dia mengerti betapa berat rintangan hidup yang gadis itu jalani.
"Kak Na, dulu kakak janji mau jadi bola salju Winter kan?, tapi kak, sekarang kakak gaada lagi di setiap Winter tiba. Janji kak Na hanya sekedar ucapan,"
"Siapa yang akan jadi bola salju untuk Winter kak?,"
"Winter," gumam Jeno.
"Kak Na ga tepatin janji...," tangisnya semakin deras.
"Semua yang ada di dunia itu bersifat sementara Winter. Ga ada yang kekal, begitu juga dengan hidup Navan. Mungkin ini cara terbaik Tuhan untuk Navan dan kamu."
"Emang gaada cara lain kak selain kata perpisahan?,"
"Navan selalu ada sama kamu, dimanapun kamu berada, dia ga akan ninggalin kamu. sesuai dengan janjinya,"
" karena setau aku dia lelaki yang selalu nepatin semua janjinya. "
"Dulu Navan pernah bilang ke aku, kalau dia ingin pergi, dia minta aku untuk jagain kamu. Aku pikir dia bercanda ternyata seminggu kemudian..." ucapan nya terputus, lelaki kekar itu tetap menangis jika mengingat sahabatnya.
"Dia pergi tanpa pamit,"
"Kak...,"
"Aku udah tau semuanya dari Navan tentang kamu, bang Jeff juga sempat cerita. Aku yakin banget semuanya benar-benar berat untuk kamu, tapi Winter...,"
"Pilihan kamu yang sekarang ini udah tepat. Kamu berada di jalan yang benar untuk berani melawan semua ketakutan kamu." Jeno mengambil satu tangan Winter.
"Aku akan jagain kamu sesuai dengan permintaan Navan. Aku akan jagain kamu sebisa aku."
"Ingat, kalau rencana Tuhan itu lebih indah dari yang kita bayangkan, jadi kita hanya bisa menunggu waktu berjalan sendiri untuk memperlihatkan keindahan itu."
"Akan selalu ada kata selamat dalam setiap kata selamat tinggal,"
Sungchan sore ini berada di depan teras rumahnya, menikmati angin sore sembari di temani secangkir kopi buatan sang Mama.
Mengingat-ingat betapa berubahnya hidup dia setelah menemukan Winter, ah tak banyak yang berubah, namun sekarang ini dia menjadi lelaki yang lebih dewasa dan banyak mengeluarkan kata-kata manis.
Sungchan merenung, apa bisa suatu saat nanti dia menjadi orang yang tepat untuk Winter?.
"Bang Jeff," panggil Sungchan.
"Eh chan, ngapain lo disitu,"
"Sini bang ikut duduk, gw lagi merenungkan masa depan."
"Gaya lo, merenungkan masa depan, masa sekarang aja banyak masalah." Jeffery menghampiri Sungchan dan duduk di bangku samping lelaki itu.
"Mikirin Winter lagi?," tanya Jeffry.
"Siapalagi kalau buka dia bang?,"
"Cimoy,"
"Amit amit jabang bayi!."
Jeffery meminum kopi milik Sungchan "Kenapa lagi sih lo?,"
"Gw ada saingan sekarang bang,"
"Ha?,"
"Kayanya ada yang suka sama Musim dingin,"
"Siapa?,"
"Jeno, ketua osis."
Jeffery mengangguk "Oh Jeno...,"
"Kenal bang?,"
"Kenal dong. Cocok juga sih kalau di liat-liat Winter sama Jeno. Jeno ganteng, pinter, badannya bagus, baik , ramahn pinter main bola Jeno jug---,"
"Bang pulang aja lo sana!." Kesal Sungchan membuat Jeffery tertawa.
"Emang lo sesuka itu ya sama adek gw?,"
"Kalau gw ga sesuka itu, gw ga akan kejar dia sampai saat ini bang." Jawab Sungchan percaya diri.
"Winter udah cerita ke lo belum?," pertanyaan Jeffery membuat Sungchan menggeleng pasrah.
"Kayanya emang gw gabisa jadi orang yang buat dia nyaman deh bang," Jeffery terbingung heran, karena yang benar saja?, kemana lelaki ceria dan penuh semangat seperti bianya, kenapa sekarang berubah menjadi lelaki yang penuh kepasrahan.
"Cemen lo ah. Padahal baru segitu, kalau gitu mah gw restuin Jeno aja jadi adek ipar gw."
"Bang!. Lo mah gitu, orang lagi pasrah gini di semangatin kek,"
"Akan ada saatnya untuk Winter benar-benar percaya sama lo, dan berani buka rahasianya."
"Kapan bang?,"
"Sabar. Tapi asal lo tau, Jeno ada satu langkah di depan lo,"
"Maksudnya?,"
"Dia tau rahasia Winter. Tapi bukan dari Winter langsung sih, dia tau dari Navan."
"Ini siapa lagi sih Navan?!, heran banyak banget saingan gw."
"Nanti lo juga tau," Jeffery tersenyum meninggalkan Sungchan.
"Bang kasih spoiler dikit kek, gw penasaran serius."
"Lu kata hidup adek gw kaya film bisokop. Ada spoilernya segala,"
"Please bang, demi calon adek ipar lo nih."
"Hmm apa ya, Jeno dan Navan itu sahabatan, sebelum Navan pergi, dia sempat nitipin Winter ke Jeno."
"Emang Navan kemana?,"
"Navan siapa nya Musim dingin?."
"Navan udah pergi jauh untuk selamanya, untuk siapanya Winter, gw gak bisa jawab."
" Tunggu Winter aja yang kasih tau,"
"Gw balik dulu kebelet boker." Jeffery berlari menuju rumahnya.
"Gini nih kalau pas kecil kebanyakan minum asi, gedenya berubah jadi asu" Gumam Sungchan menggeleng kepalanya.
"He! Gw denger ya bangsat!." Teriak Jeffery.
"Maaf abang ipar ku sayang,"
Baru saja lelaki itu ingin memasuki rumahnya, namun langkah nya terhenti ketika melihat sebuah motor berhenti tepat di depan rumah sang gadis masa depannya.
"Makasih ya Kak Jeno,"
"Iya sama-sama, sampe kamar langsung bersih-bersih ya,"
"Iya kak,"
"Musim dingin!." Sungchan berlari menghampiri kedua manusia itu.
"Apa?," jawab Winter.
"Dari mana?,"
"Rahasia." Mata Sungchan membesar mendengar jawaban Winter.
"Udah masuk ke dalam sana, istirahat." Ujar Jeno tersenyum manis.
"Gak usah senyum senyum bang!." Kesal Sungchan menatap Jeno.
"He. Apaansih Chan."
"Masuk ke dalam sana, aku mau ngomong sama bang Jeno."
"Ngomong apasih?,"
"Rahasia." Mata Winter yang kini malah membesar.
"Chan, gausah deh. Kak Jeno pulang aja, gausah dengerin dia,"
"Gapapa kok, dia kan cuma mau ngomong sebentar, kamu masuk aja duluan." Winter mengangguk pasrah.
"Yaudah kak, Winter masuk duluan ya," Winter menoleh ke Sungchan "jangan ngomong aneh-aneh lo." Ancam Winter.
"Gak sayang,"
"Ga waras!." Winter meninggalkan kedua lelaki itu, dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kenapa?," tanya Jeno.
"Kita main secara sehat bang."
"Maksudnya?,"
"Gw gamau main kasar, dan berantem untuk dapetin Musim dingin."
"Ha?,"
"Ternyata lo ganteng-ganteng lola juga ya bang," untung Jeno masih sabar saat dengar ucapan Sungchan.
"Gw tau lo suka kan sama Musim dingin?,"
"Gw g----"
"Gw paham kok, keliatan dari mata lo." Jeno terdiam heran. "Gw akan berjuang sebisa mungkin untuk dapetin musim dingin."
"Dia bukan barang Chan,"
"M-maksudnya gw mau milikinn dia sebagai teman hidup gw bang. Gw seserius itu untuk bisa jadiin Musim dingin masa depan gw."
"Lo masih muda, udah cepet banget mikirim masa depan."
"Loh bang, justru harus dipikirin dari sekarang, biar bisa di persiapkan."
Jeno terkekeh dan tersenyum, "terserah lo deh, gw percaya lo serius dengan omongan lo. Tapi lo salah paham tentang gw dan Winter." Jeno mengenakan helm nya dan menyalaka motornya.
"Maksudnya?,"
"Ga selalu yang terlihat itu yang sebenarnya." Gumam Jeno langsung melajukan motornya cepat.
"Konspirasi apa lagi dalam hidup gw ini miskah?!." Gumam Sungchan yang masih terdiam diri kebingungan.
Ting!
0895********
|Karina?
Iy, siapa?|
|save ya Jeno 12 Ipa1
Owh iya kak|
Dapet dari mana|
no ini kak?
|harus banget
Gw kasih tau nih?
Gajuga sih, |
Maaf kak kepo an|
Read
Anda menyimpan nama kontak ini dengan "Kak Jeno❤"
"Mimpi apa gw semalem?, bisa di Chat kak Jeno." Ucapnya kegirangan melompat ke atas kasur.
Kak Jeno❤
|osis kan?
Iya kak kenapa?|
|besok ada rapat,
abis pulang sekolah
Makasih kak infonya|
"Oh ngomongin rapat doang,"
|Besok pulang
bareng gw bisa?
"WOY APANIH! MATI MATI MATI, EH GW GA NAFAS NJIR!." Teriaknya
"Ekhem. Ayo Karina kalem dikit, kamu pasti bisa," gumamnya seorang diri.
ga ngerepotin kak?|
|gak kok
|bisa gak?
Iya bisa kak|
|okay
"Aduh typing orang ganteng,"
"Balas apa ya?, kalau gw read doang nanti di kira sombong, tapi kalau gw bales lagi nanti dikira caper. Serba salah jadi cewe,"
"Mending gw read aja,"
Oke kak sampai |
Ketemu besok!
|😊sip!
"Mama!!!!! Karina sesek nafas mahhhh!!," teriaknya.
Cklek
"Kamu kenapa sih dek?, teriak-teriak dari tadi."
"Sesek nafas mah." Ujarnya mengatur nafas.
"Eh asma kamu kambuh?!," Mama segera mengambil Inhaler obat Asma yang ada di meja belajar Karina. "Nih nih pake obatnya,"
"Ih bukan karena asma mah."
"Karena apa dong?,"
"Gara-gara Kak Jeno chat Karina tadi huwaaaaa akhirnya setelah tiga tahun prnantian, Kak Jeno bisa Chat Karina, ngajak pulang bareng," tangisnya terharu.
"Kamu kenapa sih dek?, kayanya kudu di ruqiah sama ustad Taeil."
"Ih mah, Rina gak kerasukan!,"
Cr ig : @lluviasora
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co