15
Sungchan berjalan lemas tanpa semangat ke dalam kelasnya, sedetik kemudian dia tersenyum lebar ketika melihat sang Musim dinginnya yang masih sibuk membaca buku di meja belakang.
Dengan semangat lelaki itu menghampiri Winter, duduk di bangku sebelah gadis itu.
"Jauh jauh." Ujar Winter.
"Ck. Iya iyaa.." Jawabnya pasrah, menjaga jarak. Sungchan menidurkan kepalanya di meja, memperhatikan gadis disampingnya dengan penuh arti.
"Musim dingin, kamu ga capek lari dari tadi?,"
"Ha?,"
"Gak capek dari tadi lari-larian di pikiran aku?,"
"Pergi lo."
"Galak."
"Lo ngapain sih liatin gw kaya gitu," gusarnya merasa risih.
"Emang salah ya? liat indahnya masa depan Sungchan, yang ada di depan mata."
"Chan!."
"Maaf maaf kanjeng ratu,"
Sungchan menegakkan kepalanya. "Musim dingin,"
"Hm?,"
"Kamu ga nyaman ya?,"
"Maksudnya?,"
"Kalau aku selalu kejar-kejar kaya gini, kamu risih ga?,"
"Gatau."
"Ih jawab dong,"
"Harus banget di jawab?,"
"Wajib hukumnya di kamus Sungchan!."
"Gw ny--,"
"Winter!. Mana Winter!," ujar seorang gadis yang baru saja memasuki kelasnya.
"Apasih teriak-teriak kaya jagoan." Sarkah Guanlin kepada gadis di depannya Shasha.
"Gw ga panggil lo," jawab Shasha menatap Guanlin tajam.
"Santai bro,"
Shasha menghampiri meja Winter, "Winter. Lo budek apa gimana sih?, di panggilin ga respon dari tadi."
"Lo yang apaan?!. Tiba-tiba dateng teriak gitu, gak di ajarin institut apa sama orang tua?."
"Atitude Chan," koreksi Guanlin.
"Nah!. Tu pokoknya,"
"Oh jadi ini penjaga lo sekarang nter?, ups mungkin babu kali ya?," ujar Shasha menatap lamat Sungchan dari atas ke bawah.
"Apa lo bilang?!." Winter menahan tangan Sungchan, menyuruh nya untuk tetap sabar dan tak termakam emosi karena omongan Shasha.
"Lo ada urusan nya sama gw Sha, jadi gausah bawa-bawa Sungchan. "
"Cih. Belagu lo, mentang-mentang sekarang ada malaikat penjaga nya hahaha. Sekarang ikut gw, ada yang mau gw omongin," ujarnya dengan senyum licik.
Kini Sungchan yang menahan tangan Winter, lelaki itu menggeleng kepalanya, untuk melarang Winter. "Cuma ngomong sebentar." UjarWinter melepas tangan Sungchan.
"Kalau ada apa-apa, panggil aku," ujar Sungchan, dan gadia itu hanya mengangguk.
Winter mengikuti jalan Shasha dan kedua temannya itu, langkahnya terlihat menuju ke gudang belakang sekolah, yang sangat jarang ada siswa yang pergi kesana.
Shasha duduk di salah satu bangku kayu dekat jendela.
"Cepet lo mau ngomong apa?," ucap Winter dengan perasaan tidak enak.
"Jina, kasih tau dia." Ujar Shasha memetikkan jarinya kepada salah satu teman.
Jina dengan segera melempar sebuah amplop di depan kaki Winter. Dengan segera gadis itu mengembilnya perlahan, melihat isi amplop tersebut.
Kakinya mulai lemas, pandanganya pun semakin buram menahan air mata yang akan jatuh.
"Sha!."
"Ingat kan yang gw bilang?, Gw! Gak! Akan! Buat hidup lo tenang!." Ujarnya tegas di depan wajah Winter.
"Lo kenapa jadi kaya gini si Sha?, Sha kita itu sahabat."
"Ini semua salah lo!. Semua yang terjadi sama gw karena lo Winter. Dan jangan sebut gw sebagai sahabat lo lagi, gw muak sama mulut lo yang cuma manis di depan tapi nusuk dari belakang!."
"Sha..., gw minta maaf, please jangan kaya gini."
"Gak akan gw terima maaf lo!. "
"Sekarang gw udah tau kelemahan lo, dan akan gw manfaatin itu, lo gamau kan isi dalam amplop itu ke sebar di satu sekolah?,"
"Sha, jangan..., biarin gw hidup tenang kali ini aja, bahkan lo gatau Sha betapa sulitnya gw untuk mengulang semuanya dari awal,"
Shasha berjalan mengambil amplop itu dari tangan Winter "GW GA PERDULI!."
"Akhhh-- Sha!," rintihnya saat gadis licik itu menjambak belakang rambutnya keras. " mau lo apa sih?!,"
Brukkk
Winter terjatuh saat Shasha mendorong tubuhnya hingga terhentak sebuah kursi kayu. "Turutin semua kata-kata gw!. Atau gw akan sebarin semuanya ke satu sekolah!."
"Sha!, ini b-bukan lo,"
"Shasha yang dulu udah mati!, bersama dengan kepergian kak Na. Jadi jangan harap lagi gw bisa jadi kaya dulu lagi,"
"Semuanya hancur setelah lo ngerusak semua kebahagiaan gw Winter!."
"Hidup lo tuh cuma benalu yang selalu nyusahin semua orang!,"
Plakkk
"Sha...,"
"Winter!."
"Kamu kenapa?!." Yang ditanya hanya menggeleng menundukan kepalanya.
"Jawab aku!."
"A-aku gapapa kak,"
"Sejak kapan kamu jadi pembohong kaya gini?."
"Winter g-gapapa, "
"im okay," ucapnya tersenyum paksa.
"Tapi mata kamu bilang sebaliknya." Lelaki itu mendekat, mendekap Winter dalam pelukannya.
Winter menangis dalam pelukan Jeno, bolehkah dia pinjam sejenak dekapan Jeno?. Lagipula dia sudah menganggap lelaki itu seperti saudara kandungnya.
"Kamu kenapa?."
"Winter jawab aku!."
"K-kak....," dengan cepat lelaki itu melepas dekapannya, memegang bahu Winter, dan menatap wajah gadis itu.
Mata nya menuju ke jari-jari tangan Winter yang terlihat memerah, begitu juga dengan pipi bagian kanan gadis itu.
"Siapa yang lakuin semua ini Winter?," tanyanya pelan.
"Kasih tau siapa yang lakuin?. Biar aku kasih pelajaran mereka."
"J-jangan kak, aku gapapa."
"Kamu bohong!." Jeno melepas tanganya dari bahu Winter dan mengacak rambutnya gusar "kalau kamu kaya gini terus, kamu malah buat aku ga bisa nepatin janji ke Navan untuk jaga kamu."
Winter menjauhkan dirinya selangkah dari lelaki itu. "Kalau gitu, kakak ga perlu tepatin janji yang kalian buat, biar kakak ga repot jagain Winter."
"Aku bisa jaga diri aku sendiri kak."
"B-bukan gitu maksud aku,"
"Maaf kak, karena udah ngerepotin selama ini. "
Gadis itu mengangkat kepalanya menatap lelaki di depannya "Ternyata benar ya kata Shasha kalau hidup aku itu sama kaya benalu, yang selalu nyusahin semua orang."
"Jauhin aku kak. Aku ga perlu di jagain lagi kaya anak kecil," ucapnya meninggalkan Jeno.
Baru selangkah gadis itu berjalan, Jeno langsung menahan tangan gadis itu "cerita sama aku kalau kamu lagi ada masalah," ucap lelaki itu.
"Gak kak makasih, aku bisa selesaiin masalah aku sendiri."
Di sisi lain jauh dekat pohon di lapangan ada seorang gadis yang memperhatikan mereka berdua dari jauh, gadis yang hanya bisa melihat kedua orang itu tanpa mendengar ucapan yang di perbincangkan.
Karina hari ini dengan senyum lebarnya, bersemangat melangkah keluar dari ruang rapat, menanti sang pujaan hatinya selama tiga tahun.
Tiga tahun bukan lah waktu yang cepat, apalagi untuk menyimpan rasa seorang diri, banyak sekali rasa sakit yang Karina rasakan selama tiga tahun itu.
Salah satunya dulu saat Jeno sempat mempunyai seorang kekasih bernama Siyeona, hal itu membuat hatinya cukup potek dan patah semangat untuk menyukai lelaki itu.
Namun siapa yang tahu?, ternyata hubungan Jeno dan Siyeona hanya berjalan sesaat, dan kini malah Karina yang mendapatkan kesempatan untuk maju selangkah mendekati Jeno.
"Ih cie cie Karina di ajak pulbar sama doi," goda Ningning.
"Calon pacar kali ya," tambah Giselle.
"Apaansih kalian, kali aja Kak Jeno cuma kerasukan pas ngajak gw pulbar, gaada niat lain."
"Bisa-bisanya orang ganteng macam Jeno dirasukin, apa setan nya tidak insecure pas masuk ke dalam tubuh Jeno?," tanya Giselle.
"Ngadi ngadi lo selle, eh btw Winter kemana sih?,"
"Oh iya, dia gaada dari jam istirahat kedua,"
"Paling pulang duluan kali ya,"
"Kayanya sih gitu."
"Eh gw duluan ya, takutnya kak Jeno udah tungguin," ujar Karina panik.
"Caelah, gamau pangeran nya menunggu lama. Yaudah sana," Ningning.
"Good luck ya Rin, semoga besok langsung jadian," ujar Giselle membuat karina menggeleng kepala.
Karina berlari cepat menuju parkiran, untungnya dia hafal dengan tempat parkiran motor yang Jeno gunakan.
Kakinya berhenti ketika melihat parkiran itu terlihat kosong, motor Jeno pun tak terlihat. "Kak Jeno mana?," gumamnya.
"Gw tunggu aja deh, mungkin dia lagi ada kerjaan, eh tapi tadi dia juga ga keliatan pas rapat," Karina bingung harus apa untuk sekarang, dia berusaha memberikan pesan teks kepada Jeno, namun naas ternyata Jeno tidak online saat ini.
Kak Jeno❤
Kak|
Kak Jeno dimana?,|
Jadi pulang bareng kak?,|
"Jangan bilang dia lupa?,"
"Ah gamungkin, gw tungguin aja deh."
Karina memilih duduk di salah bangku dekat parkiran, sembari melihat ke beberapa siswa yang mulai pulang ke rumahnya.
Sudah sekitar setengah jam Karina menunggu, namuan tak ada tanda sedikit pun dari Jeno, bahkan pesan nya tadi juga belum di balas.
"Kak Jeno mana sih?,"
Ting!
Gadis itu tersenyum mendengar nontifikasi yang baru saja muncul dari layar ponselnya. Dengan cepat dia membuka notif tersebut.
Senyum gadis itu memudar seketika.
0812*******
Send a picture*
|yakin masih mau
nungguin?
Ting!
Kak Jeno❤
|Karina maaf banget
Gw lupa, kalau kita pulbar hari ini.
|gw tadi harus anterin temen
|lo masih di sekolah?
|lo udah pulang belum?
|kalau belum gw
kesana sekarang ya?
Gadis itu tersenyum, namun tidak dengan matanya yang malah mengalirkan rintik hujan.
"Udah telat kak....,"
G ush gw udh plg|
Kesel ga sih kalian sm nih wp?, kok gw jdi kesel sendiri ya.
Hey ada yang baru nih wkwwkwk
Perkumpulan kaum shipper mari merapat!!!!.
berawal dari ide seorang Haechan yang mengajak temanya bermain dare or dare.
"yang dapet nomor undian sama harus jadian selama dua bulan,"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co