Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

18

nanayyyg_

Sebenarnya Winter sangat takut untuk masuk sekolah hari ini, tapi ia lebih takut lagi jika Shasha akan mengancam untuk menyebarkan isi dalam amplop itu.

Suhu tubuh Winter saat ini sangat tidak mendukung, badannya terasa panas dan juga lemas. Bahkan bunda dan ayah sudah melarang Winter untuk sekolah, namun tetap gadis itu bersi keras untuk kuat.

"Adek yakin gapapa?, badan kamu anget gitu loh dek." tanya Ayah Baekhyun.

"Gapapa kok yah,"

"Dek, kamu sama Sungchan pacaran ga sih?, kok kalian jadi deket banget ya," tanya Bunda tiba-tiba.

"E-engga kok bun, Sungchan nya aja yang suka ngintilin aku,"

"Bukan enggak, tapi belum dek. Untung-umtung si Sungchan masih sabar hadapin lo," ujar Jeffery selaku orang yang paling sering menjadi tempat curhatan seorang Rajasungga Chana Abrian.

"Kalau kamu pacaran sama Sungchan Ayah setuju dek, kalau ayah liat Sungchan anak baik." Bukannya senang, justru gadis itu malah merasa sedih mendengar ucapan Ayahnya.

'Tapi aku ga cukup baik untuk dia yah,'

"Dek, lo disekolah gaada yang usilin kan?,"

"E-engga bang,"

"Yaudah, kalau ada apa-apa cerita. Jangan di pendam sendiri, kita disini selalu ada untuk kamu,"

"Iya bunda, adek pasti cerita, " senyumnya muncul untuk menutupi semua rasa sakitnya.

'Maaf, Winter janji akan cerita tapi bukan sekarang.'

"Jalan dulu ya bun," ujar Jeffery memakai helm nya.

"Dah bun,"

"Hati-hati ya kalian," ujar Taeyeona diangguki kedua anaknya.

Jeffery melajukan motor vespa hitam nya menuju sekolah sang adik. Jujur sebenarnya Jeffery pun merasa ada yang tidak baik dengan adik nya saat ini. Dia yakin pasti terjadi sesuatu disana.

"Dek, kata Ningning, Shasha juga sekolah disana ya?," tanya Jeffery tiba-tiba.

"I-iya,"

"Lo ga di apa-apain kan sama dia?," Winter terdiam sejenak mengingat semua perlakuan Shasha terhadap dirinya.

"Engga bang. Shasha baik kok,"

"Baik apa nya!, muka dia judes gitu setiap ketemu lo kok,"

"Lo bener baik-baik aja kan?,"

"........,"

"Dek, jawab gw."

"Baik bang, a-adek gapapa serius,"

"Ck. Tapi perasaan gw gaenak tentang Shasha dek, lo tau kan perasaan gw tuh selalu tepat dari dulu,"

"Abang mikir apa sih?, Shasha baik kok,"

"Serah lu deh dek. Tapi kalau sampe ada apa-apa dan lo ga cerita, gw akan marah banget sama lo."

"Udah sampe, adek sekolah dulu bang. Dahhhhh!,"

"Ck. Kalau di omongin pasti gitu terus." Gumam Jeffery melihat Winter yang sudah menjauh.

Winter berjalan cepat menuju kelasnya, dengan pandangan yang turun kebawah. Entah kenapa sejak Shasha melakukan hal kepadanya, Winter kini malah menjadi seperti dulu. Menjadi Winter yang selalu takut dengan orang-orang yang nenatapnya.

Langkah terakhir sebelum memasuki kelas terhenti, ketika seseorang menyebut namanya, membuat ia menoleh cepat.

"Winter!."

"Kenapa?," tany nya kepada Ningning, yang baru saja menyebut namanya.

"Lo akhir-akhir ini kok beda si nter?, lo sehat kan?," tanya Giselle.

"Sehat kok, gw gapapa."

"Serius nter, gw khawatir sama lo nih!." Tegas Ningning.

"Gw gapapa kok, gausah khawatir. Maaf ngerepotin kalian, karena suka buat kalian jadi kepikiran."

"Ih kok gitu, kita kan temen. Jadi wajar kalau ada rasa khwatir,"

"Udah selesai nanya kan?, gw masuk kelas duluan." Karina berjalan memasuki kelas dengan hawa tatapan yang dingin.

"Karina kenapa ?," tanya Giselle, namun Winter dan Ningning hanya bisa menggedikan bahunya tak tahu dengan yang terjadi.

"Mungkin lagi badmood,"

Ting!

0812********

|Babu kegudang
|cepet!

Winter menghelas nafasnya jenuh, dia lelah di perlakukan seperti ini. Namun apa daya Shasha bahkan lebih licik dari yang ia kira.

" kalian ke kelas duluan aja. Gw ada urusan," ujar Winter.

"Ehhh tapi kan dikit lagi---" Winter berlari tanpa mendengarkan ucapan Ningning.

Gadis itu mempercepat larinya, tak memperdulikan banyak pandangan yang terheran melihatnya.

Dia berhenti membuka pintu gudang dengan segera.

Cklek

Byurrrr

Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya Shasha dan teman nya membuat perangkap, membuat baju Winter basah saat membuka pintu gudang.

Mereka bertiga tertawa riang, melihat baju kotor dan bau Winter karena siraman air yang tercampur dengan beberapa telur, tercium bau sangat amis.

Shasha berjalan mendekati gadis itu, tertawa sangat senang, memunculkan smirk nya.

Gadis licik itu menautkan jari jemarinya di belakang rambut Winter yang terurai panjang. Winter tidak ingin menangis, tapi kenapa dirinya terlalu jujur dengan mengeluarkan air mata saat ini?.

"S-sha sakit....," rintih gadis itu.

"Kemarin gw liat lo ketawa sama malaikat lo yang satu itu, dan apa lo tau?, gw jadi tambah benci sama lo Winter!." Tanganya semakin menarik rambut Winter.

"Gw bener-bener gasuka liat lo bahagia begitu aja, di atas semua penderitaan gw selama ini!."

"Tapi ...., bukanya lo yang bahagia di atas penderitaan gw Sha?," tanya Winter.

"Gw pengen lo rasain, yang gw rasain dulu Winter!."

"Sha, gw ada salah apa sih sama lo?, sampai lo tega senekat ini,"

Shasha tertawa "Lo masih ga sadar diri ya Winter?,"

Plak

"Itu biar lu sadar, kalau lo ngerebut kak Na dari gw Winter. Lo yang paling ngerusak kisah cinta pertama gw!. Seandainya lo ga dateng pasti semuanya ga akan terjadi."

Brak

"Yang ini agar lo sadar, karena lo sahabat-sahabat gw jadi jauhin gw. Dan beralih begitu aja ke lo!."

"Sha..., tapi gw, Karina,Giselle, Ningning ga pernah sama sekali jauhin lo."

"Lo salah!. Kalian semua kemana?!, kemana disaat gw butuh?. Kalian bahkan ga perduli sedikit pun tentang gw. Kalian semua cuma sekedar penasaran dengan hidup gw. Dan ga benar-benar perduli,"

"Sha..., lo salah!."

"Gw gak pernah salah winter!. Gw selalu benar!."

"Gw benci lo!, gw benci banget sama lo. Lo selalu jadi orang pertama yang ngerusak kebahagiaan gw."

"Sha...,"

"Winter, seandainya dulu lo ga kegatelan sama Kak Na, pasti gw yang akan selalu ada di samping dia. Seandainya lo gaada gw pasti udah bahagia sama dia Winter."

"Sha... tapi gw dulu gatau kalau lo suka sama kak Na, seandainya gw tau, gw pasti akan jadi orang pertama yang menjauh, dan relain kak Na untuk lo."

"Omong kosong!. Mulut lo cuma bisa berkata manis Winter, rasanya gw mau muntah kalau denger ucapan lo."

"Bahkan Kak Na sakit aja lo ga pernah tau!. Kenapa sih manusia kaya lo selalu dapat keberuntungan. Lo gak ada di saat Kak Na butuh lo, lo juga gaada di saat-saat terakhir Kak Na."

" Gw sedih dan benci, disaat gw ada di samping kak Na, tapi yang dia cari justru lo. Gw benci sama lo!!!!."

"Kenapa hidup lo seberuntung itu Winter?!."

Brak

Shasha menendang sebuah bangku dengan keras. Apa ia salah jika marah saat ini?. Shasha menangis deras jika mengingat seorang Navan. Lelaki yang memiliki senyum indah yang bahkan tak pernah menjadi miliknya.

"Sha...., gw salah Sha. Gw minta maaf,"

"Gak Winter!, gw udah terlanjur benci sama lo!. Saat nya lo ngerasain apa yang gw rasain dulu."

"Gw gasuka liat lo tersenyum bahagia tanpa penyesalan sedikit pun. Jadi gw mau lo jauhin dia, jauhin orang yang selalu buat lo tersenyum sampai saat ini."

Play:
No longer - NCT 127

Sungchan berjalan ke sekeliling sekolah, ke setiap ruangan maupun halaman, hanya untuk mencari sang musim dingin nya. Langkah besarnya tak henti untuk bergerak, begitu juga dengan fikirannya.

Matanya tertuju sesaat ketika melihat seorang gadis yang baru saja berjalan dari arah belakang sekolah.

"Karina!." Gadis itu menghentikan langkahnya.

"Hm?."

"lo liat musim dingin ga?,"

"........"

"Lo liat ga?."

"Enggak. Gw gak tau."

"kalau lo liat kasih tau gw ya," Karina hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Langkah besar Sungchan mulai bergerak kembali untuk mencari Winter. Entah kemana gadis itu pagi-pagi seperti ini sudah menghilang, padahal dikit lagi jam pelajaran akan dimulai.

"Gudang," gumam Sungchan teringat ruangan tersebut.

Lelaki itu berlari kencang, menuju gudang secepat mungkin. Langkah nya terus bertambah cepat ketika mengingat keadaan Winter kemarin di gudang itu.

Mengingat betapa lemahnya kondisi Winter dengan luka dan juga baju basahnya saat itu. Ia harap kejadian itu tak kan terulang lagi untuk yang kedua kalinya.

Brakkk

Dengan satu tendangan, Sungchan membuka pintu itu keras. Seketika kakinya lemas dan kaku, melihat gadis yang ia cintai dalam kondisi tidak baik.

Dia mengutuk dirinya sendiri, kenapa ini bisa terjadi?.

"Musim dingin....," gumam Sungchan mendekati gadis itu, menyamakan tingginya dengan Winter.

"Kamu kenapa sih?, suka banget main air, bajunya basah lagi kan."

"Musim dingin, tangan kamu memar gini, ini kenapa?, ini pasti sakit banget kan?." Ujarnya namun tak mendapat sahutan sedikit pun dari Winter.

"Siapa yang tampar kamu!, ini muka kamu sampai merah banget!."

"telur?!. Siapa yang lakuin ini semua?!. Baju kamu disiram siapa?. "

"Musim dingin!."

"Musim dingin jawab aku!. Ini ga mungkin kan kalau kamu yang lakuin sendiri." Yang di panggil hanya diam tak bergeming sedikit pun, masih dengan kepala yang di telungkupkan ke lututnya.

"Musim dingin tolong tatap aku, aku gabisa liat kondisi kamu kaya gini!."

" Siapa yang lakuin ini semua ke kamu?," Sungchan menggenggam tangan Winter yang sudah bergetar ketakutan.

"Musim dingin...., jangan kaya gini tolong. Ayo bilang siapa yang lakuin ini semua!."

Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap wajah lelaki di depannya yang sudah terlihat khawatir dan mata yang telah berkaca-kaca menahan tangis.

"Siapa yang lakuin ini semua?....," satu kalimat lagi membuat pertahanan air mata Sungchan turun.

Anggap saja Sungchan cengeng, tapi ia benar-benar tidak tega melihat kondisi Winter saat ini. Ia tahu semuanya tampak tak biasa, ia yakin pasti ada sesuatu dibalik ini semua.

"Kenapa kamu gamau cerita sama aku sampai sekarang?, apa benar kamu belum percaya sama aku?,"

"Musim dingin!. JAWAB AKU!," air mata gadis itu turun, ia kembali menelungkupkan kepalanya, namun naas karena gerakan iitu di tahan Sungchan.

Sungchan menangkup wajah Winter dengan kedua tangan nya. "Kamu tau gak?, aku sakit banget liat kondisi kamu kaya gini, aku ngerasa diri aku udah gak berguna, aku udah gagal jagain kamu....," Sungchan memeluk Winter, tak perduli jika seragamnya akan kotor nanti.

"Musim dingin...., lukanya pasti sakit kan?," tanyanya dengan derai tangis.

"Musim dingin...., percaya sama aku. aku sayang sama kamu, aku mau jagain kamu, tolong biarin aku jadi tameng pelindung kamu...., aku gamau liat kamu kaya gini lagi...."

Winter melepas pelukan Sungchan, ia berdiri sekuat tenaga dan di ikuti lelaki itu. Winter menggeleng kepalanya untuk menahan setiap derai tangis.

"Gabisa Sungchan...,"

"Kenapa?..., kamu masih belum percaya sama aku?,"

Winter mengangguk, "jauhin gw mulai sekarang!. Gw gasuka disaat lo deket-deket gw,"

"K-kenapaa?,"

" gw benci dengan kehadiran lo!. Gw risih dengan lo dan segala tingkah keanak-anakan lo!."

" Jauhin gw!. Gw gasuka sama lo!. Dan gw rasa ucapan gw kemarin salah."

"Gw ga akan bisa terima orang lagi untuk jadi bola salju dalam hidup gw,"

Sungchan mengambil satu tangan Winter "Musim dingin!. Ini bukan kamu kan?, siapa yang suruh kamu?, apa ada yang ancam kamu untuk lakuin semua ini?."

"Gaada!."

" Ini diri gw yang sebenarnya Sungchan. Gw yang munafik, gw yang pembohong."

" Gw selalu pura-pura bahagia di depan lo. Gw udah capek sekarang, gw gamau lagi lo deket-deket gw. Jauhin gw mulai sekarang dan seterusnya!,"

"Gak!. Aku gabisa, aku ga akan menjauh dari kamu!. Aku juga akan tetap jagain kamu!." tegas lelaki itu.

"Gw bisa jaga diri gw sendiri!."

"Dan jangan ikut campur dengan semua urusan gw!."

"Urusin aja hidup lo yang terlalu ke kanak-kanakan."

Winter pergi melepaskan genggaman Sungchan. Entah kemana kakinya berlari tanpa tujuan bersamaan dengan tangisnya yang tertahan.

Ia tak tau, kenapa semuanya terasa sakit. Walaupun semua kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri.

Sungchan hanya bisa menatap kepergian Winter, air matanya terus mengalir. Ia tidak yakin bagaimana menjalankan hari-harinya tanpa Winter lagi.

Kenyataan pahit sungguh mengikis hati Sungchan, disaat ia maju satu langkah, Winter justru akan mundur untuk menjaga jarak.

Bukan kah dulu Winter yang menyuruh Sungchan menunggunya?, lalu kenapa sekarang Winter yang malah meninggalkan Sungchan terlebih dahulu?.

Dia tak membutuhkanku lagi
Semakin aku menginginkanmu, kenyataanku semakin berat

-No Longer - NCT 127



Aku sedih~ aku pun gembira~

Makasih banget yang udah rajin vote dan komen yah, aku seneng banget bacain komentar kalian. Kadang ngakak sendiri.

Dan maaf banget update nya 1000 tahun:(. Semangat untuk kalian yang nungguin tanpa kepastian.

i lop yu tri tausen-Jeffery

Ayo hujat aku karena buat chapter ngeselin ini:).

Kasian bujang nya mama Victor :(. Kalau dia di giveaway-in Ada yang mau nampung dia ga?.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co