Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

19

nanayyyg_


Sudah sekitar seminggu Sungchan dan juga Winter menjaga jarak. Winter selalu menjauh jika berada di dekat Sungchan, bahkan sudah seminggu ini, dia mengganti tempat duduknya agar lebih jauh dari lelaki itu.

Sudah seminggu juga bagi Sungchan menahan semua kenyataan pahit ini, ia masih tak percaya semuanya akan terjadi begitu cepat.

Hari-hari Sungchan semakin pahit tanpa adanya Winter, terasa semakin gelap tak ada cahaya yang menghiasi seperti biasanya. Ternyata seorang Winter sangat berpengaruh di hidup Sungchan.

Jangan kalian fikir kalau Sungchan itu terlalu putus asa dengan semua ini, karena sebenarnya Sungchan juga selalu berusaha mencari kebenaran yang terjadi, ia yakin bahwa ucapan Winter minggu lalu hanyalah kebohongan.

"Sungchan, makan malam dulu di suruh mama," ujar Echan saat melihat adiknya terdiam merenung memperhatikan jalanan melalui jendela kaca.

"Ga laper."

"Cih, maag lu kambuh baru tau rasa lo,"

"Pergi, gw pengen sendirian,"

"Galau lu kaya anak perawan banget sih,"  ujar Echan membuat Sungchan sedikit kesal.

"Bang, gw gamau ribut." Echan menggeleng mendekati adiknya, ia tahu kondisi Sungchan saat ini sedang dalam masalah yang cukup sulit.

Apalagi jika teringat beberapa hari lalu Sungchan menangis deras saat berbagi cerita kepada Echan tentang semuanya. Echan kali ini tidak tertawa melihat Sungchan menangis, justru kini ia bangga. Karena air matanya ia keluarkan untuk gadis yang benar-benar Sungchan cintai.

"Chan, lo yakin kan kalau yang ngomong semua itu bukan Winter yang sesungguhnya?," tanya Echan menepuk pundak Sungchan.

"Yakin bang,"

"Terus kenapa lo sampai sekarang masih mikirin omongan itu?, kenapa lo masih diem aja disini. Terlalu larut dalam rasa sedih juga gabaik Chan, sekarang bukan saatnya untuk sedih-sedihan. Justru ini saatnya lo perjuangin semuanya."

"Maksud abang?,"

"Lo percaya sama Winter, lo juga percaya kalau dia pasti lagi dalam tekanan seseorang kan?, lo harus cari tau siapa dibalik ini semua Chan. Jangan diem terus kaya orang goblok."

"Lo pernah bilang kan?, kalau pas lo nemuin Winter, dia lagi dalam keadaan yang ga baik, dia juga banyak luka-luka. Menurut lo yang ngelakuin semua itu orang jahat atau orang baik?,"

"Jahatlah!."

"Nah itu dia. Lo harus bantu Winter, pegangan lo saat ini cuma keyakinan perasaan lo ke Winter. Sekarang saatnya lo jadi power rangers yang bisa selamatin Winter dari semua kesulitan ini,"

"Jangan cuma jadi penonton Chan, semuanya akan tetap sama kalau lo cuma diem ga bergerak. Perjuangin semuanya, kalau lo emanh bener-bener cinta sama dia," ucap Echan terakhir sebelum kembali ke meja makan.

"Makan lo jaenal!. Ntar maag lo kambuh ngerepotin satu keluarga,"

"Baru juga tadi gw mau muji lo bang, karena terlalu bijak. Tapi sekarang gajadi karena jiwa bobrok nya udah balik lagi,"

Karina masih terdiam di kamarnya, merebahkan tubuhnya menatap langit kamar yang di penuhi lampu-lampu bintang.

Pikiran nya bergerak mengingat kejadian seminggu lalu, kejadian yang sulit ia percaya. Sungguh sangat sulit, sampai membuatnya tak berani berbagi cerita nya.

Ting!.

Shasha
|Lo masih mau
temenan sama cewe itu?

|Cewe yang udh ngerusak
Kebahagian lo ?.

|Jangan bodoh Karina,
kalau kaya gini terus,
Posisi gw yang dulu akan lo
Rasakan juga.

|Posisi disaat
Winter ngerusak semua
Kebahagiaan gw.

|gw punya 2 pilihan untuk lo.

|gabung gw?, atau kebahagiaan
Lo yang sesungguhnya akan rusak.

"Arghhhhhh!!!!." Karina mengusak rambutnya gusar. Dia pusing dengan semua ini, apa dia bisa tetap menjadu sahabat Winter, walaupun Winter telah merusak kebahagiaanya?.

Di sisi lain, ia juga tidak bisa untuk gabung bersama Shasha, bergabung untuk menyakiti Winter. Tidak dia tidak bisa melakukan itu.

"Gw benci sama lo Winter!."

"Gw benci banget!!!!."

Prang

Karina menangis setelah memecahkan bingkai foto nya dengan Winter saat di taman bermain tahun lalu.

Sungguh hatinya saat ini sangat hancur, kenapa?, kenapa disaat dia baru merasakan sedikit kebahagiaan, kebahagiaan itu hancur cepat begitu saja.

Tolong biarkan Karina bahagia sedikit saja, dia hanya ingin memiliki Rajeno, lelaki yang ia kagumi selama ini.

"Winter lo jahat....,"

Awan gelap yang tak ditemani bintang sedikit pun, membuat lelaki itu hanya bisa merenung di depan Jendela kamarnya. Memandang ke arah lampu jalan yang terbaris secara rapih.

"Musim dingin...., aku kangen kamu...," gumam nya.

"Kamu gak kangen aku ya?, Sim, ternyata sesakit ini perasaan aku di tinggalin kamu."

"Ck. Masih aja sih lo Chan, lo udah merenung disitu sepuluh kali, gw yang liatnya aja bosen." Ujar Haechan yang masih merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Bang..., menurut abang, Musim dingin suka sama Uchan ga?,"

"Kalau gw teliti dan telaah secara seksama sih kayanya....,"

"Apa?,"

"Engga."

"Bang!. Yang serius dong!."

"Ck iya iya, kata gw sih dia juga suka."

"Karena apa?,"

"Keliatan lah dari sikap nya. Sikap Winter berubah ketika ketemu lo, dia jadi lebih terbuka. Eits tapi gatau itu karena dia yang mulai nyaman sama lo, atau karena virus bobrok lu yang menular,"

Sungchan membuang nafas ketika mendengar ucapan abangnya. Apa iya Winter udah mulai nyaman sama dia?.

"Sungchannnnn!!!!, turun ada bang Jahe nyariin," teriak Koeun dari lantai bawah.

"Tumben bang Jahe, ada apenih." Kepo Echan.

Sungchan langsung lari keluar kamar, dan menuruni tangganya menemuin Jeffery sang calon kakak ipar.

"Tum---,"

"Lo tau Winter di mana gak Chan?," tanya Jeffery memotong ucapan Sungchan.

"Loh?!. Gw gatau bang,"

"Kok lo gatau sih?!. Kan biasanya lo yang suka ngintilin dia,"

"T-tapi gw udah seminggu menjauh dari musim dingin bang,"

"Loh?, kenapa?!. Lo gak serius sama adek gw?!," tanya Jeffery tajam.

"Gak gitu bang. "

"Terus kenapa?!,"

"Musim dingin yang nyuruh gw menjauh...,"

"Kok bisa?!."

Sungchan lagi-lagi membuang nafasnya. Dia menggeleng kan kepala tanda tak mengerti. "Gw juga gatau bang,"

"Kok perasaan gw jadi ga enak ya, di sekolah ada yang gangguin adek gw ga?,"

"Gak a---     Shasha!, eh tapi gw ga yakin juga. Hari dimana Musim dingin nyuruh gw menjauh, disitu di kondisinya lagi parah bang. Gw yakin pasti ada yang gangguin dia, tapi dia sama sekali gamau cerita."

"Tuhkan dugaan gw bener!. Gw yakin 100% ini Shasha yang lakuin."

"Kok lo bisa bilang kaya gitu bang?,"

"Shasha itu benci banget sama Winter."

"BERARTI YANG BASAHIN BAJU DAN BUAT LUKA MEMAR DI  MUSIM DINGIN SHASHA DONG!."

"SHASHA BANGSAT!. adek gw lo apain Anjing!. Lo juga!. Kenapa lo baru bilang sekarang?!." Jeffery mengambil kera baju Sungchan "lo bilang lo mau jagain adek gw!. Tapi apa?!. Lo ternyata cuma bisa ngomong doang!,"

Brukk

"Bang!. Udah, sekarang bukan waktunya berantem!." Echan menengahi kedua lelaki itu.

Sungchan berusaha berdiri  setelah mendapat pukulan dari Jeffery. "B-bang..., Musim dingin ngelarang gw untuk ikut campur dalam semua urusan dia, gw gatau harus apa bang. Maafin gw..., ini salah gw. "

"Sekarang baru sadar lo!.  ayo bantu gw cari Winter!."

" musim dingin dimana bang?!."

"Mana gw tau Jaenal!. Ah gw tonjok lagi dah lu, kesel gw lama-lama."

"Udah malem begini, terus gimana?!." Tanya Echan.

"Ayo carilah!. "

Dengan segera Sungchan mengambil ponsel nya, dan membuka grup chat kelasnya. "Bentar bang  gw minta bantuan yang lain. Kali aja ada yang bisa bantu."

"Bang. Coba lu ke rumahnya si Shasha- Shishi itu," ujar Echan.

"Bener!. coba gw kesana duluan. Chan kalau lo udah nyari bantuan, atau nemuin Winter kasih tau gw,"

"Iya bang."

Berakhlak mulia 69

TOLONG BANTUIN GW!|
MUSIM DINGIN  JODOH
GW ILANG

Guanlin
|Gak lucu Jaenal

GW GAK BERCANDA |
JAENUDIN!

Daehwi
|ada konspirasi apa
lagi ini miskah???.

bacot!|
  gw sleding nih nanti!|

Guanlin
|loh padahal tdi Sore gw
Masih liat dia di sekolah.

Sendirian??,|

Daehwi
|oh iyagw juga liat tadi!.
|Bareng Shasha and the gang

Chenle
|Otw k rmh lu.

Sip|

Chenle, Guanlin, Daehwi, Ningning, Gisselle sudah berkumpul di rumah Sungchan. Semuanya masih kaget tak percaya dengan yang terjadi saat ini.

"Kok bisa ilang?!." Bingung Ningning.

"Gw ngerasa ada yang menjanggal sama Winter, beberapa akhir ini. Lo sama Winter berantem ya?," tanya Gisselle menghadap ke Sungchan.

Lelaki itu menggeleng "Gw gak pernah marah ke musim dingin."

"Selle, jangan-jangan Shasha...," tebak Ningning.

"Nah itu cewe!. Gw juga curiga sama tuh mahkluk astral." Ujar Guanlin.

"Gw udah telfon polisi tadi, mereka bilang bakalan bantu,"

" Kalau gitu sekarang kita nyebar aja,"  Guanlin berdiri sigap membawa kunci mobilnya.

"Gw mau nyusul bang Jeff," Ujar Sungchan.

"Gw ikut sama lo," Echan tiba-tiba datang melemparkan kunci mobilnya ke Sungchan.

"Yaudah, kalau udah ada yang nemuin langsung kasih kabar ya!." Mereka semua mengangguk dengan ucapan Sungchan.

Sungchan dan Echan segera berlari memasuki mobilnya, dan melajukan dengan kecepatan di atas rata-rata. Jangan fikirkan lampu lalu lintas yang sudah ia lewati sejak tadi.

"Sungchan goblok!. Lo mau cari Winter apa cari mati!." Sungchan tak menjawab pertanyaan abangnya.

"Pelan-pelan!."

"Gak bisa bang!." Tegas nya sesekali menoleh ke abang nya. "Abang liat Shareloc yang di kasih bang Jeff cepet!."

Echan membuka ponselnya, dengan cepat membuka roomchat dan melihat shareloc yang telah di berikan Jeffery.

"Oh ini deket sekolahan Chan!." Seru Echan, membuat Sungchan lebih kencang menginjak gas nya.

"SUNGCHAN GW GAMAU MATI!. CINTA BOLEH TAPI GOBLOK JANGAN!."

Sungchan memberhentikan mobilnya di depan rumah besar ber-cat putih. Dia menghampiri mobil Jeffery yang terlihat juga parkir di depan sana.

"Langsung ke dalem aja." Ujar Echan di angguki Sungchan.

"Shasha mana gw bilang!. Gw cari Shasha bukan cari lo!." Teriak Jeffery kepada lelaki tua di depannya.

"Kamu udah ga punya sopan santun ya?!. Berani-berani nya dateng ke rumah orang tengah malem begini!, terus teriak-teriak!. Buat apa kamu cari anak saya?!. Ini bukan waktunya bertamu, jadi silahkan pergi!." "

"BACOT!." Tegas Jeffery di depan muka lelaki itu. "Gw cuma mau ketemu anak lo, lagi pula gw kan tadi udah sopan!. Tapi lo nya aja yang ngelunjak, gw juga ikut ngelunjak lah!."

Sungchan segera menghampiri Jeffery. "Bang Jeff...., bang udah bang, jangan terbawa emosi." ujar Sungchan berusaha  menengahi.

"GW BILANG GW MAU KETEMU SHASHA!. SHASHA KELUAR LO BANGSAT!. JANGAN BERANI NYA SEMBUNYI DOANG, SEMBUNYI PAKAI HARTA BAPAK LO!."

Plak

"JAGA MULUT KAMU!. JANGAN JELEK-JELEKIN ANAK SAYA SEPERTI ITU!."

"Percuma pak kalau cantik tapi kelakuan nya bajingan!." Sahut Echan.

"APA MAKSUD KAMU HA?!. KELUAR KALIAN DARI RUMAH SAYA!. ATAU SAYA BUTUH POLISI UNTUK USIR KALIAN SAAT INI JUGA?!."

"Udah bang, jangan emosi. Kita cari Musim dingin di tempat lain," Sungchan menepuk-nepuk pundak Jeffery. "Pak, maaf untuk yang sebelum nya, kita kesini niatnya cuma untuk temuin Shasha, nanya tentang sesuatu dan bukan untuk berantem."

"Tapi kalau bapak gak izinin, yaudah gapapa. Maaf udah ganggu ketenangan nya malem-malem begini, kita pamit dulu pak," Sungchan menunduk meminta maaf, kemudian membawa Jeffery pergi keluar dari rumah tersebut.

"Ekhem!. Shasha gaada di rumah. Dia sudah gak pulang ke rumah dua hari,"

Gadis itu berjalan cepat menelusuri detiap lorong gelap yang hanya di terangi dengan lampu senter pada ponselnya.

Ting!.

******
|lo udah tau kan
tempatnya?

Gadis itu semakin mempercepat langkahnya setelah membaca pesan tersebut. Tangan nya suda gemetar ketakutan walau hanya melewati lorong gelap.

"Jangan takut!. Cuma gelap ga ada apa-apa," ucapnya menguatkan diri.

Langkah kakinya berhenti di sebuah ruangan tampak lusuh, dengan segera ia membuka pintu itu.

Cklek

"Ternyata lo dateng juga Rin,"

Kakinya terhenti tak berani mendekat, "Sha...,"

"Kenapa?, bukanya lo mau ikut gabung main sama kita Rin?, kok  tiba-tiba jadi takut gitu." Tanya Shasha mendekat ke arah Karina.

"T-tapi Sha...,"

"Main yuk sekarang, atau mau gw kasih contoh dulu?," Karina terdiam tidak bisa berucap lagi, ketika melihat tubuh lemah sahabatnya tergeletak di lantai dengan beberapa ikatan tali.

"Rin...," rintih gadis yang tergeletak itu, berusaha meminta tolong.

Bruk

"Lo mau ngapain ha?!. Karina ga akan bantuin lo!." Jina mendorong tubuh gadis itu.

"Rin, ayo dong main. Masa cuma diem doang, kasih tau semua kekesalan lo ke dia, semua rasa sakit yang lo rasain karena cewe kotor itu."

Karina meneteskan air matanya jika mengingat betapa sakit hatinya. "Winter....

"Kenapa lo jadi egois?!. Kenapa lo jadi ambil semuanya?!. Dulu lo ambil kak Na dari Shasha, dan sekarang lo mau ambil kak Jeno dari gw?!." Ujarnya menangis deras, melampiaskan semua amarahnya.

"Rin..., semuanya ga seperti yang lo pikirin....,"

"Lo salah Rin...,"

"Gw salah dimana nya Winter?," Karina menghapus air matanya. "Maaf kalau gw jahat, tapi ini semua karena lo!."

Brakkk



Selamat menunggu lagi:)


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co