22
Awan yang tadi pagi terlihat cerah entah mengapa kini malah menjadi abu kelabu. Gadis itu berjalan dengan santai menuju gerbang depan sekolahnya.
Dia mendudukan dirinya tenang, memasang earphone di kuping nya sembari menunggu sang kakak menjemput nya.
"Hai dek," sapa seorang lelaki yang baru saja datang.
"Halo, kenapa kak?," jawabnya melepas earphone yang terpasang.
"Kamu lagi nunggu jemputan ya?,"
"Iya kak,"
"Loh emang ga di jemput orang tua kamu?,"
"Biasanya di jemput ayah, tapi gatau kayanya hari ini yang jemput abangku."
"Kamu udah nunggu lama disini?,"
"Lumayan kak,"
"Mau mampir ke rumah kakak gak?, rumahnya dekat sini kok,"
"Ah makasih, gausah kak."
"Udah gapapa ikut kakak, nanti kakak ambil motor untuk anter kamu pulang,"
"Gausah kak, ini kayanya abang aku datang sebentar lagi."
"Ini udah mulai gerimis loh, nanti kalau baju sama buku kamu basah gimana?,"
Gadis itu terdiam sebentar mencari alasan,"tas aku anti air."
"Udah gapapa kamu ikut kakak aja ayo. Kasian kakak liat kamu sendirian disini," lelaki itu menarik tangan sang gadis.
"G-gak kak!. Aku mau nunggu bus aja!."
"Ck. Keras kepala banget sih jadi anak!. Udah ikut aja!, rumah kakak gak jauh dari sini kok!."
"Gausah kak!. " lelaki itu menjambak rambut panjang sang gadis "arghhhh sakit kak,"
"Cepet jalan anak bodoh!."
"Gamauuu!!!."
" Tolonggggg !!!." Gadis itu menangis deras ketakutan, untuk kesekian kalinya dia harap ada orang yang bisa membantunya saat ini.
Plak
"Jangan berisik!. Mending diem sebelum leher indah kamu tergores benda ini," lelaki itu menunjukan pisau lipat di tanganya.
"K-kak aku gamau!. Bundaaa tolonggggg!!!!." Lelaki itu menahan pergerakan gadis di hadapanya.
"Bunda tolong, Ayah tolongin adekkkk!!!,"
"Arghhhhh bangsat!." Rintih lelaki itu saat sang gadis berusaha melawan dengan menggigit bagian tanganya.
Gadis itu berlari sekuat tenaga nya "Tolongggggggg!!!!."
'Bunda.... ayah... abang.. kalian dimana,'
Bughhhhh
Dengan sekali hantaman balok kayu, gadis itu terbaring lemah di jalan. Badannya tak bisa lagi di gerakan, pandanganya juga mulai buram.
"Ayah, bunda, abang..., tolong adek," ujar gadis itu sebelum pandanganya tertutup cahaya gelap.
Gadis itu terbangun, merintih kesakitan di sekujur tubuh. Dia menahan tangis nya sekuat mungkin saat melihat tubuh lelaki dewasa di samping nya yang tanpa menggunakan sehelai kain sedikit pun.
Dia segera merapihkan bajunya, menutupi beberapa luka di badan nya. Ia berjalan perlahan mengambil tas nya, kemudian keluar dari tempat itu.
Dia terus berlari tanpa tujuan, menangis dan menahan rasa sakit di tubuhnya. Langit gelap semakin membuatnya takut, tak ada seorang pun yang terlihat di jalan itu.
Dia berlari cepat ketika melihat kotak telfon umum di dekat toko itu, gadis itu mengambil beberapa koin yang ia simpan di tas nya.
"Bunda..., tolong angkat."
"Ayahh....,"
"Bang tolong angkat telfon nya, adek takut disini," gusarnya.
Tak ada satupun orang yang mengangkat telfon nya, dia semakin takut. Dia menatap telapak tanganya yang hanya tersisah kan satu koin lagi.
Dengan penuh harapan ia kembali memasukan koin tersebut, tangan nya yang gemetaran menekan tombol-tombol di sana. Berusaha mengingat beberapa digit nomor yang masih teringat di kepalanya.
"Tolong kali ini jawab..." tangis nya.
"Tolong aku..., tolong jawab hiks,"
"Halo?, siapa ya?"
"Halooo, kak Na, tolong aku...,"
"Ini siapa?,"
"Kak, tolong Winter...,"
"W-winter takut kak."
"Kamu dimana?!."
"G-gatau, tapi kayanya ini gajauh dari sekolah,"
"Apa?, suaranya putus-putus,"
"Kak Na, masih di dekat sekolah, kamu ada dimana?,"
"Aku di--,
"Oh ternyata kamu disini gadis bodoh."
"K-kak, jangan!."
"aku gamau lagi!."
"Aku mau pulang!."
Lelaki itu tersenyum licik. "Yaudah ayo pulang ke rumah kakak,"
"Gamau!. Aku gamau lagi!."
"Ayo gapapa, udara di luar terlalu dingin, jadi mending kamu hangatin badan kamu di rumah kakak."
Gadis itu menggeleng kuat, dia berjanji ga akan kembali ke tempat terkutuk itu. "K-kenapa kakak lakuin ini ke aku?,"
"Ga cuma kamu kok yang aku perlakuin kaya gini," ujarnya enteng.
"Kakak udah gila!. Bajingan!."
"Aku gamau pergi ke rumah terkutuk itu lagi!." Kakinya bergerak untuk lari, namun sialnya lelaki itu masih bisa mengejar dan menarik kera bagian belakang sang gadis.
"K-kak tolong, aku gamau lagi hiks,"
"Aku mau pulangggg!!!!."
"Aku akan antar kamu pulang, tapi bukan ke rumahmu, melainkan ke rumah Tuhan."
"Kakak akan anter kamu ke surga yang indah," bisik nya di samping telinga gadis kecil itu.
Bughh
Gadis itu menendang titik vital sang lelaki, tak perduli dengan dia yang sedang kesakitan, gadis itu lebih memilih lari sejauh-jauhnya.
"Tolonggggg!!!!,"
"Tolong siapapun, tolong aku."
"Winter!."
Gadis itu menoleh, kemudian lari menghampiri orang yang memanggilnya tadi. Hatinya kini sedikit lega, walaupun masih penuh dengan derai tangis.
"W-winter...,"
"Kak Na... Winter takut kak," tangis gadis itu di pelukan kakak kelasnya.
"K-kamu kenapa?,"
"Winter mau pulang kak. Tolong winter, kita harus cepet."
"Kamu kenapa!."
"Aku mau pulang kak! aku takut!."
"Tapi pelaku nya udah ketangkep kan bang?," tanya Sungchan.
"Udah, dia di penjara seumur hidup."
Sungchan bernafas lega "baguslah, emang bajingan kaya dia gaboleh menghirup udara dengan tenang."
"Urusan Shasha gimana?," tanya Jeffry.
"Gw belum kasih videonya ke pak Johny bang,"
"Kok belum?!. Kenapa lo bego banget sih?, dia tuh udah nyebarin semua aib Winter. Mending gausah dikasih ampun." Ujar kekesalannya.
"Gw ngerasa ini bukan hak gw bang. Gw gabisa laporin video ini begitu aja. Gw udah putusin, bakalan tanya dulu ke Musim dingin setelah dia sadar nanti. Karena semuanya dia yang ngerasain, jadi dia yang berhak memutuskan. "
"Tapi kalau lo kasih tau Winter, pasti dia akan nolak untuk ngelaporin Shasha."
"Kalau emang pilihan dia itu, gw cuma bisa terima karena itu keputusan dia bang. "
"Terserah lo deh Chan, setelah lo tau semua ini, lo masih bisa terima adek gw kan?,"
"Gw dari awal udah janji sama diri gw bang. Gw akan mencintai dia dari segala kekurangan nya . Hidup gw juga belum sempurna, gw butuh orang yang bisa melengkapi hidup gw, orang itu cuma satu. Musim dingin,"
"Dia orang yang paling pantas untuk ngisi lembaran di hidup gw, cuma dia bang."
"Semua ini juga bukan salah dia, gw yakin itu."
"Makasih, makasih udah terima adek gw." Sungchan mengangguk .
"Oh iya, tentang Navan itu....,"
"Shasha benci banget sama Winter, karena menurutnya Winter udah ngerebut Navan dari dia. Shasha juga lebih benci lagi disaat Winter gatau sama sekali tentang penyakit kanker yang merenggut nyawa Navan."
"dulu Navan sama Winter itu saling suka, mereka deket banget, kemana-mana selalu bareng, gw juga ga nyangka kalau Navan ternyata ada kanker. "
"Navan itu mirip sama lo Chan, dia sama ceria kaya lo, dia baik banget. Dia selalu jagain Winter, dia jagain Winter sampai sisah hidupnya. "
"Dan gw rasa lo hadir buat melanjutkan tugas dia untuk jaga adek gw. Gw percaya sama lo, jadi jangan rusak kepercayaan gw."
🎵My everything - NCT U
Gadis itu melangkah kah kaki nya ke sebuah ruangan luas yang di selimuti dengan cahaya putih, tak ada satupun orang disana, tak ada satupun suara disana. Semuanya sangat sunyi.
"Ini dimana?," tanya gadis itu melihat sekeliling ruangan.
"Halo apa ada orang disini?,"
"Ayah... bunda.. abang kalian dimana?,"
"Sungchan dimana?,"
Gadis itu terus berjalan tanpa tujuan arah. Matanya terperanjap kepada seseorang yang berdiri di depan sana. Dengan perlahan dia menghampiri orang itu.
"Hai,"
"K-kak Na?,"
"Winter...,"
Gadis itu berlari mendekap tubuh sang lelaki berbadan tegap dengan senyuman yang sangat tulus. Ia sangat merindukan lelaki ini, lelaki yang selalu memiliki senyuman indah di setiap kondisi.
"Aku kangen banget sama kak Na. Kakak kemana aja?," tanya nya.
"Aku gak kemana-mana Winter. Aku selalu ada di samping kamu."
"Aku gamau kak Na pergi lagi, kakak tetap disini ya," ujarnya menatap lelaki itu.
Lelaki yang ditatap hanya tersenyum "kak, jangan kemana-mana lagi....,"
"Maafin aku..., aku pergi begitu aja tanpa pamit, ada banyak juga yang dulu aku sembunyiin ke kamu, maaf. " gadis itu menggelang erat.
"Engga kak, engga perlu minta maaf,"
"Aku sayang sama kamu Winter,"
"Aku juga sayang sama kakak,"
"Tapi...,"
"Kenapa kak?,"
"Kita udah berbeda dunia, kamu sekarang harus berani untuk buka hatimu ke orang lain ya, setelah aku pergi, kamu harus lanjutin hidup kamu sebahagia mungkin."
"Kakak mau kemana lagi?,"
"Aku harus pergi jauh, ke tempat indah."
"Aku boleh ikut kak?," tanya nya polos.
Lelaki itu menggeleng. "Jangan, bukan sekarang waktunya. Ada banyak orang disana yang tungguin kamu, banyak yang berharap agar kamh kembali, jangan hancurkan harapan mereka."
"Tapi kak aku gamau pisah lagi sama kakak, aku sayang kak Na. Kak Na juga dulu kan janji untuk jagain Winter, terus kenapa kak Na pergi?."
"Maafin aku, ini semua adalah pilihan terbaik dari Tuhan . Maaf aku belum bisa tepatin janji itu ke kamu. "
"Tapi kenapa jalan terbaik nya harus sebuah perpisahan?,"
"Memang perpisahan itu menyakitkan, tapi ga selamanya, suatu perpisahan adalah hal yang buruk. Kamu harus percaya sama takdir Tuhan, rencana Nya bahkan lebih indah dari yang kita bayangkan."
"K-kaakk....,"
"Jangan sedih, ada banyak orang disana yang tunggu kamu. Kamu harus berjuang sedikit lagi, ini baru setengah jalan dari hidup kamu."
"Tapi aku mau ada kakak disamping aku,"
"Lelaki itu. Aku percaya lelaki itu bisa jaga kamu lebih baik dari aku. Dia akan jadi orang yang bantu kamu menulis setiap kisah indah bersama. "
"Tapi aku mau nya kakak."
"Ada saat nya bola salju bergantian dengan bola salju yang lain di musim dingin selanjutnya Winter. Aku yakin kamu udah bisa terima dia sebagai bola salju kan?,"
Gadis itu terdiam meneteskan satu air matanya. "Aku gamau lihat kamu menangis di depan aku. Kamu gadis hebat Winter, kamu juga baik, kamu berhak mela jutkan hidup kamu selayak mungkin."
"Aku percaya kepada lelaki itu, dia bahkan jauh lebih baik dari pada aku."
"Aku ga punya waktu banyak disini, 'Ia' sudah memanggil ku lagi, untuk kembali."
"Kak. Kakak mau kemana, kakak jangan pergi,"
Lelaki itu memgambil tangan mungil sang gadis "Aku sayang kamu Winter..., kamu janji ya sama aku, kalau kamu harus terus bahagia bersama orang yang kamu cintai, jangan khawatirkan aku disini, aku juga sudah bahagia, tak merasakan sakit seperti dulu."
"Kak..., Terimakasih. Tapi kak, tolong tetap disini sama aku."
"Maafin aku. Akan selalu ada kata selamat, dalam setiap kata selamat tinggal." Senyum nya melepaskan genggaman. "Kamu harus bahagia,"
Gadis itu menangis deras melihat lelakinya semakin menjauh menuju satu titik dan tak terlihat lagi.
"Kak Na....,"
"Kakkkkk.....,"
"Kak Na...., kakak sudah bahagia kan disana?, "
"kakak sudah ga merasakan sakit lagi kan?,"
" aku yakin orang sebaik kakak akan ditempatkan ke tempat yang sangat indah."
"Tuhan ku titip dia.....,"
" ku mohon jaga dia selalu disamping mu,"
"dia hanya manusia ceroboh yang penuh dengan kesalahan, sama seperti manusia lain nya."
"Tapi ku mohon ampuni semua kesalahan nya, jaga senyumnya indahnya agar tak pernah luntur."
"Aku sayang dia Tuhan, jaga dia...,"
"Biarkan aku dan dia bahagia, walaupun sudah tak lagi bersama...,"
Aku ingin melindungi siang dan malammu
Kau keajaiban bagiku, aku berharap kau bisa melihatnya
-My Everything - NCT U
Double update ahay
Makasih untuk kalian yang udah vote dan komen, makasih juga yang masih setia nungguin , cie nungguin🙂
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co