11
Dengerin lagu mellow tambah ngefeel :)
Kedua pasangan suami istri itu telah bersiap dengan koper besar mereka. Perlahan wanita bersurai indah panjang berhenti di depan sang anak, memperhatikan wajah anak itu dengan lamat-lamat, mengelus rambutnya secara perlahan. "Jojo gakpapa kan Mamah tinggal sebentar?"
"Iya mama, Jojo udah belani,"
"Jojo anak pintar, dan berani, nanti pasti mamah pulang secepatnya untuk kamu,"
Kini suaminya datang menghampiri anak dan ibu yang nampak lucu dengan perbincangannya. "Udah selesai belum peluk-pelukannya?" Tanya sang suami sekaligus ayah dari anak itu. "Jojo masa cuma mamah doang yang di peluk? Papah gak di peluk juga hm?"
"Cini papah, Jojo peyuk papah juga," Mereka bertiga berpelukan hangat, layaknya keluarga kecil yang sungguh bahagia.
"Jojo anak berani, jangan buat kakek sama nenek kerepotan yah, Mamah cuma seminggu disana, nanti mamah akan segera pulang," Kinara mengecup kening sang anak, memeluknya sekali lagi.
Bocah kecil itu tersenyum, sembari menahan air mata nya, berusaha meyakinkan diri bahwa ia anak yang berani dan kuat. "Nanti pas pulang papah bawain hadiah ya, karena Jojo udah berani,"
"Seliusan papah?" Jevano mengangguk tersenyum. "Iya serius, papah janji."
"Makasih papah, mamah... Cepat Puyang yah,"
"Iya sayang, jangan lupa makan lho,"
"Ciap kapten!" Kinar terkekeh dengan tingkah anaknya yang bisa dibilang sebelas-dua belas dengan sang suami.
Perlahan Jevano membantu istrinya mengangkat koper dan di taruhnya di bagasi mobil. Mereka berdua melambaikan tangannya ke Jojo dengan senyuman. "Mamah pergi ya sayang..."
"Papah pergi Jojo, jadi anak yang baik ya, jangan repotin kakek-nenek."
"Iyah papah mamah bawel," Kinar membesarkan matanya, siapa yang mengajarkan anaknya seperti itu. "Hahaha belcanda mamah, hati-hati di jalan ya!"
Mobil putih itu melaju cepat menelusuri jalanan. Sepanjang jalanan Jevano selalu mengenggam tangan istrinya, seakan tak mau istrinya pergi menjauh. "No, aku takut deh kalau tinggalin Jojo, apa kita bawa dia aja yah?"
"Kan disana udah ada bunda sama ayah Nar, gausah takut. Kalau kita bawa Jojo, nanti kasihan dia sendirian karena kita terlalu sibuk dengan kerjaan, udah tenang aja ini kan cuma seminggu."
"Iya tapi no,"
Jevano mengelus lembut tangan istrinya. "Tenang ya, semuanya akan baik-baik aja,"
"No, maafin aku ya..." lirih Kinara mengeluarkan rasa yang terjanggal dihatinya.
Jevano memandang sekilas sang istri. "Kenapa? Kok minta maaf?"
"Ya seharusnya aku jagain Jojo di rumah, jadi ibu yang baik untuk dia, apalagi di masa sekarang Jojo butuh banget perhatian orang tua. "
"Maaf No, aku egois banget ya? Aku malah lebih pilih pekerjaan aku daripada tanggung jawab aku..."
Lelaki itu menggeleng kan kepalanya. "enggak Nar, kamu itu udah jadi ibu yang baik. Kamu kerja kecapekan, tapi masih ngurus Jojo di rumah, aku kagum sama kamu."
"Tapi No..."
"Kalau memang mau minta maaf, jangan minta maaf ke aku, mungkin kamu seharusnya minta maaf ke Jojo. Menurut aku kamu udah jadi istri, ibu yang baik, dan kamu juga udah jadi diri kamu sendiri, itu alasan aku terus cinta sama kamu Nar." Jevano mengelus tangan istrinya lembut, menyalurkan rasa damai.
Dikala ini, di dalam sebuah mobil, mereka berdua berusaha saling membuka pikiran, memaafkan, dan menyadari bagaimana diri mereka yang bahkan terkadang sulit untuk dikendalikan . "Aku juga minta maaf, mungkin selama ini aku masih egois sama kamu, aku masih sering marah-marah gak jelas kalau lagi pusing sama kerjaan, aku yang bahkan masih punya pemikiran childish. Aku minta maaf Kinar."
Wanita itu menolak keras ucapan Jevano, "Kamu gak perlu minta maaf, memahami sifat kamu udah suatu kewajiban bagi aku No, cinta bukan sekedar hubungan kasih sayang, tapi juga tentang menerima semua yang ada pada diri pasangan kita."
"Kinara, aku sayang banget sama kamu Nar..." Balasnya mengecup tangan sang istri.
"Aku juga sayang banget sama kamu no, jangan pergi ya, terus sama aku."
"Aku janji gak akan pergi dari kamu Nar, bahkan kalau bisa aku ingin kita meninggal bersama, aku gak bisa bayangin gimana hidup aku tanpa kamu nanti, pasti untuk bernafas aja susah."
"Aku juga gak tau No, aku takut banget kehilangan kamu, dan aku harap juga begitu, kita akan terus bersama bahkan sampai di akhirat nanti..."
Drttttt
Drtttt
Jevano melepaskan tautan tangan diantara mereka, kemudian menggerakkan tangannya untuk menjawab telepon."Halo?"
"Iya saya lagi berangkat kesana,"
"No, jangan telfonan sambil nyetir, bahaya no." Ujarnya mengingatkan sang suami.
"Bentar Kinar,"
"Urus aja semuanya, nanti sisahnya saya yang akan urus, kerjain aja dulu, saya masih ada di mobil, nanti kalau sudah sampai saya langsung ke kantor,"
"Iya--
"JEVANO LIHAT DEPAN!"
BRAKKK
Tepat detik itu juga di dalam hujan deras, mobil itu terpental jauh dari jalanan. Semua waktu didunia seakan berhenti, menyedarkan mereka berdua.
Tubuh wanita itu sudah terlentang dipenuhi banyak darah, beberapa badannya terkena pecahan kaca, sungguh ini sangat sakit. Dengan samar-samar ia mencari keberadaan sang suami. "Jevano... Sakit..."
Perlahan tangannya bergerak mengenggam tangan suaminya yang sudah tak sadarkan diri tepat disampingnya. "Je-vano... aku sayang kamu dan Jojo..."
"Nar...Maafin aku..." Air mata mereka berdua mengalir, saling berbagi rasa sakit di malam hari yang diselimuti hujan deras.
Malam itu air hujan bercampur dengan warna merah gelap darah, mereka saling berpegangan erat, menutup mata, dan menyerah secara bersamaan.
Rasanya Tuhan terlalu cepat mengabulkan doa mereka untuk pergi ke akhirat bersama. Jevano berhasil, ia benar-benar berhasil menepati janjinya untuk tidak meninggalkan Kinara, kini apakah mereka berdua bahagia telah pergi bersama secepat ini ke alam sana?
Di sini anak itu berdiri, di depan makam kedua orang tuanya, hatinya benar-benar sakit, disaat kedua orang tuanya benar menepati janji mereka untuk kembali, namun dengan cara yang berbeda.
"Papah... Jadi ini hadiah yang papah mau kasih ke Jojo?" Tanya anak itu.
"Mama? Mah... Mama gapapa pergi, Jojo gak akan marah, mamah gapapa kerja, Jojo juga gak akan marah mah... Mama boleh tinggalin Jojo, tapi jangan tinggalin Jojo selamanya..."
Mungkin dipikiran kalian saat ini yang Jojo lakukan hanya menangis menatapi kedua makan orang tuanya, tapi kenyataanya sangat berbeda, sejak tadi anak lelaki itu tidak bisa mengeluarkan air matanya sedikit pun, dadanya memang sesak, hatinya sangat sakit, tapi kenapa ia tidak bisa mengeluarkan air matanya?
"Mah... Pah... Jojo sayang kalian, Papa pernah bilang kalau Jojo anak yang kuat, iya pah... Jojo sekarang gak nangis,"
"Jojo..." Panggil sang nenek meratapi kesedihan cucunya. "Kamu boleh nangis sayang, orang yang kuat juga boleh nangis,"
Anak kecil itu menggeleng kan kepalanya. "Enggak nenek, Jojo gak perlu nangis, mamah dan papah bahagia disana, kenapa Jojo harus menangis?"
Sang nenek memeluk cucunya dengan sangat erat, menangis di pelukan cucunya sendiri. "Nenek jangan nangis ya, mamah dan papah udah gak kesakitan lagi disana, mereka bahagia nek..."
"Jojo..." Kakek nya mengelus rambut cucunya lembut. "Mamah dan Papah gak pernah tinggalin kamu, mereka selalu ada disamping kamu sayang, tapi bedanya sekarang kamu gak bisa melihat mereka..."
"Mah, pah... Aku baik-baik aja disini, kalian juga harus baik-baik ya disana..."
"Jojo sayang kalian..." Akhirnya satu tetes air mata berhasil keluar jatuh dipipinya. Jovan, anak lelaki yang penuh kekuatan sama seperti sang Papah, Jovan anak lelaki yang memiliki hati lembut sama seperti sang Mama nya, Jojo akan selalu mengingat mereka berdua dalam hidupnya. "Pergi ke tempat yang indah ya mah... Pah...
Tersenyum semuanya;)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co