16
Kinara memasang senyum bahagia nya sepanjang pagi ini, bagaimana tidak iya tengah bersiap diri menunggu jemputan sang pacar barunya aka Jevano. Sorry sekarang udah pacar ya, bukan embel-embel Jevano buaya lagi.
Tepat di depan matanya ia melihat seorang anak kecil berdiri di depan sebuah cermin, memakai baju putih dan juga dasi lucu seakan-akan sedang bersiap diri pergi ke sekolah. "Jojo? Lagi apa?" Bingung Kinara memperhatikan anak lelakinya.
"Mama Jojo sudah keren belum?"
Kinara menahan tawa melihat Jojo menyisir rambutnya belah tengah layaknya orang jaman dulu. "Keren-keren. Tapi ini baju siapa? Siapa yang suruh kamu pakai baju ini?" Sontak Jojo menunjuk arah Theo yang masih santai memakan roti bakar.
"Om Theo mah, katanya Jojo akan terlihat keren."
"Abang anak gue Lo apain?!"
Uhuk uhuk!
Theo tersedak akan ucapan Kinara yang terlalu tiba-tiba. "Anak? Jojo anak Lo? Anjing yang bener asu."
"Y-ya bukan lah... Maksud nya tuh bercanda. "
"Anjrit. Anak tolol bercanda nya main mamah papah, kek anak kecil." Ujar Theo kesal.
"Biarin."
"Tapi keren anjir Jojo pake baju itu, liat dah kasep pisan kaya gue."
"Ganteng sih, mirip Jevano."
"Tuh anjing. Beneran ini anak Lo sama Jevano kan?"
"Abang tau gak, Bu Aminah tetangga sebelah abis bangun menara Eiffel." Ujarnya mengalihkan topik.
"Gue tau Lo mau ngalihin topik, tapi topik Lo gak masuk akal monyet. Bikin kesel aja Lo pagi-pagi, makan tuh roti, gue mau berangkat."
Gadis berambut panjang itu tersenyum lebar, walaupun Theo kadang menyebalkan tapi disisi lain menurutnya lelaki itu sangatlah perhatian, bisa dibilang sosok bunda kedua baginya. "Makasih Abang sayang."
"Sama-sama adikku sayang."
"Najis."
"Mulut Lo gue selepet ya."
Dengan segera dia berlari kemeja makan, melahap dua buah roti bakar yang sudah pasti terlihat lezat dengan isian selai kacang kesukaannya. "Jojo, ayo sini makan bareng mamah, jangan sisiran terus kamu udah ganteng,"
"Seriusan mamah? Jojo udah rapih belum mah?"
"Udah, udah ganteng 101%. Emang mau ketemu siapasih ganteng-ganteng banget."
"Hm... Ketemu teman Jojo mah."
"Teman Jojo Chika doang kan?" Anak itu tersenyum mengangguk. "GEMESH banget, oh iya nanti kamu bawain Chika roti bakar juga ya? Kasih ke dia."
"Ai ai capten!"
"Good boy." Ia tersenyum mengusap rambut Jojo. "Mamah jangan disentuh, rambut Jojo udah bagus."
"Ahahaha iya-iya maaf sayang."
Suara ketukan dipintu berhasil menarik atensi mereka berdua, Jojo berlari membuka pintu itu. "Papah!" Sontak Jevano membesar kan matanya kaget dengan pakaian Jojo saat ini.
"Tumben pakai baju itu?"
"Iya Pah, kata om Theo ini bagus, bagus kan pah?" Kinara mengedipkan matanya kepada Jevano, agar memberi kode yang seharusnya ia lakukan.
"A-ah iya bagus, tapi rambut kamu... Sini papah bantu benerin biar tambah ganteng,"
"Boleh pah!"
Jevano membawa anak itu ke meja rias kamar Kinara, merapihkan rambut Jojo dengan rapih dan telaten. "Pah, Am i handsome?" Tanya Jojo tersenyum depan Jevano.
"Of course. You're my son, you look like me, Papah handsome anak Papah juga handsome." Mereka berdua tertawa bersamaan, percayalah jika seandainya kalian bisa lihat mereka berdua, pasti sontak kalian akan mengira mereka berdua nampak seperti anak kembar, dengan senyum bulan sabitnya.
"Ekhem, udah belum nih siap-siap nya anak ganteng."
"Sudah mah,"
"Uwah gantengnya!!!"
"Makasih." Jawab Jevano.
"Dih kepedean, orang gue bilang ke Jojo."
"Mamah, papah said I look like him, so if you said I'm handsome it's means papah is handsome too."
[Mamah, Papah Bilang, aku mirip dengan nya, jadi jika kamu bilang aku ganteng, berarti papah juga ganteng,]
Kinara cuma bisa senyum, anaknya pinter sama kaya bapaknya. "Hmm okay-okay you both are handsome. Ayo berangkat udah mau telat nih."
"Let's go!" Semangat Jojo berseru.
Seisi kelas masih ramai, seperti biasa mereka bercanda dan bergurau membentuk beberapa circle di dalamnya. Dan disini Somi, Giselle, Haikal dan juga Kinara tengah berbincang mengenai hal yang memang mungkin akan dibilang gila jika orang-orang lain mendengarnya.
"Jadi gimana?" Tanya Somi.
"Waktunya sisah 1 Minggu, awalnya gue emang gak suka sama kehadiran Jojo, tapi sekarang gue bener-bener udah nyaman dia disini. Gue takut dia pergi,"
"Emang gak bisa perpanjang kontrak apa?" Tanya Haikal.
"Lo kata kerja anjing, sebel gue nih." Giselle menahan amarahnya setengah mati jika sudah berbicara dengan Haikal.
Kinara hanya terdiam meratapi dirinya dan waktu yang terus berjalan. Semua pikiran negatif seakan terus berjalan, tanla sadar Kinara meneteskan air matanya. "Hueeee! Gue gak sanggup! Gue gak mau Jojo balik kemasa depan, gue mau egois, gue ... Gue jahat ya?"
"Eh -eh kok nangis." Panik Haikal dan tiba-tiba keluar dari kelas.
"Lah malah kabur Haikal."
Giselle mengusap pundak gadis itu. "Nar, hey why are you crying? Ingat kan tujuan Jojo datang kesini? Bagaimana pun juga dia harus melanjutkan kehidupan nya yang dimasa depan. Kebayang gak? Kalau Jojo terus disini, nanti pasti akan banyak yang berubah di masa depan, gimana kalau malah memperburuk semuanya?"
Seakan tersihir ucapan Giselle, gadis itu terdiam sejenak. "Gue harus gimana?"
"Nikmatin waktu Lo sekarang, manfaatkan sebaik mungkin Nar, jangan buat keputusan Jojo kembali ke masa lalu malah jadi keputusan yang salah." Sambung Somi.
"Jujur gue ngerasa Jojo tuh anak yang keren banget, gue bersyukur Jojo jadi anak Lo Nar,"
"Iya kalian bener... Gue seharusnya gak gini ya? Gue jadi egois sendirian..."
"Gapapa Nar... Wajar, Lo cuma takut kehilangan. Gue tau Lo pasti udah sayang banget sama Jojo."
"Iya Jel... Sayang banget, gue yakin Jojo pasti banyak alamin hal berat di masa depan, tapi gue kagum dia hebat, dia sama kaya Jevano, sama persis." Kinara kembali nangis berpelukan dengan kedua temannya.
"Nar... Udah yok, jangan sedih-sedih lagi, liat tuh ada yang nungguin Lo." Kinara menolehkan kepalanya kebingungan.
"Jevano?"
"Aku tau dari Haikal. Mau keluar gak?"
"Tapi dikit lagi pelajaran nya mulai. "
"Bolos sehari gak akan buat kita gak naik kelas," selanjutnya lelaki itu menggandeng tangan sang kekasih.
"Mau kemana?" Tak mendapat jawaban dari sang lelaki membuat hatinya sedikit merasa jengkel. Dengan penuh usaha Kinara menyamakan langkah besar Jevano dengan dirinya.
Jevano menoleh kearah belakang, melihat Kinara yang kesusahan menyamakan langkah dengan dirinya.
"maaf."
Kini permintaan maaf Jevano malah membuat Kinara bingung. Namun selanjutnya terjawab jelas ketika lelaki itu melangkahkan kakinya lebih lambat, menuntun lembut dan menyamakan langkahnya dengan Kinara.
"Om Haikal!" Teriak Jojo dengan semangat saat menemukan Haikal duduk dibangku Kantin Bu Ayu.
"Oy bocah, Weh ganteng banget, tumben dah."
"Om Haikal gak belajar? Kenapa malah pergi ke kantin?" Tanya Jojo nampak polos.
Kini Haikal tergagap bingung menjawab apa "Heum, anu..."
"Pasti Abang Haikal bolos lagi ya?" Tanya Cika yang tiba-tiba datang.
"Nah tuh Cika tau,"
Jojo menggelengkan kepalanya, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Enggak boleh seperti itu, bolos sekolah adalah sifat orang pemalas, dan itu enggak baik om..."
"Benar, aku setuju sama Jojo."
"Buset dah gue di ceramahin anak bocah."
Tiba-tiba seorang gadis tertawa keras mengarah ke arah mereka. "Mampus diceramahin anak kecil, marahin aja Jo, emang tukang bolos nih," sambung Somi masih tertawa.
"Yah Lo disini ngapain?"
"Free class nyet, makannya gue bisa kesini, kalau Lo kan kesini setiap jam."
"Setiap hari gua males Som, tapi kalau hari Senin malesnya jadi 2x lipat."
"Segoblok nya orang goblok gak ada yang segoblok Lo gila, Lo hebat sih."
"Makasih atas pujiannya."
"Aneh."
"Kalian sama ya seperti dimasa depan, walaupun sudah menikah juga suka bercanda." Ujar Jojo tiba-tiba.
"Ha?!"
"Gimane-gimane maksudnya? Aku nikah sama anak kecebong ini?" Tanya Somi nunjuk Haikal, dan dijawab anggukan oleh Jojo. "ANJRIT GAK MUNGKIN, KAMU PASTI SALAH."
Jojo dan Cika tertawa melihat ekspresi lucu dari Haikal dan Somi. "yang bener aja masa gue kawin sama bule depok."
"Kalian punya anak namanya Haesom, mereka seumuran dengan Jojo, ah iya kita juga satu sekolah."
"GAK GAK!"
"Som, anying yang bener aja. Tapi gapapa sih." Santai Haikal.
"Kok gapapa?!"
"Ya gapapa, Lo memperbaiki keturunan gua."
"Anying Haikal, tapi Lo memperburuk keturunan gue."
"Ih bangsat, gua gini-gini most wanted sekolah, mata Lo aja yang burik gak bisa lihat ketampanan gua."
Somi bergedik ngeri melihat Haikal yang udah pede setengah mati. "Kelakuan Lo yang bikin Lo keliatan jelek!" Setelahnya Somi memilih pergi menjauhi Haikal, gatau, intinya kalau Somi dekat-dekat dengan Haikal bawaan nya mau istighfar terus.
Kalau mau lihat lebih banyak manips bluesy boleh follow Instagram @nanayyyg__ Yap!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co