Truyen3h.Co

MY FUTURE SON |JenoKarina|✅

17

nanayyyg_

Bocah lelaki itu berjalan dengan langkah kecil sembari menggandeng tangan gadis disampingnya. Sepanjang jalan hanya ia isi senyuman indah, entah mengapa setiap melihat gadis kecil disampingnya Jojo merasa bahagia. "Jojo mau bawa Cika kemana?" Tanya gadis kecil itu kebingungan.

"Jojo mau bawa Cika ke sana," Tunjuk nya ke arah kolam ikan.

"Oh kolam ikan ya, kamu suka lihat ikan?"

Yang ditanya menggelengkan kepalanya. "Tidak terlalu suka, tapi kalau Jojo lihat nya bareng Cika, Jojo jadi suka."

Mereka berdua memilih duduk di rumput-rumput, bocah lelaki itu membuka kotak bekal yang Mamahnya tadi berikan, ia tak akan lupa kalau Kotak bekal itu harus diberikan ke Cika. "Ini tadi mamah suruh aku kasih ini ke kamu,"

"Wah roti bakar, pasti enak banget ya?!"

Jojo tersenyim mengangguk sebagai jawaban. "Cika, ada yang ingin Jojo katakan,"

"Iya kenapa Jojo?"

"Aku harus pergi," Cika membulat kan matanya kaget. "Waktu aku disini sisah sedikit Cika, aku sudah janji kepada kakek untuk kembali, jadi aku gak boleh ingkari."

Cika yang tadi sedang makan roti bakar kini terdiam, rasanya untuk menelan roti bakar yang tadinya sangat enak kini berubah menjadi tak ada rasa. "Kamu mau pergi kemana Jojo? jauh gak? akan balik kesini lagi gak? nanti aku gak punya teman lagi Jojo..." Cika menangis, air matanya kini menderu keluar.

"Maaf Cika... Aku gak akan balik lagi,"

"Kalau begitu tadi kamu tidak perlu bilang! Aku sedih kalau kamu bilang seperti ini,"

"Maafin aku Cika, aku cuma mau pamit terlebih dahulu, apalagi pamit ke kamu, kamu yang udah temenin Jojo main dan juga cerita-cerita banyak hal, Setidaknya Jojo harus pamit, agar Cika tidak khawatir,"

Cika berhamburan tangis memeluk Jojo, "Bagaimanapun juga, walaupun Jojo udah pergi nanti, Cika akan terus anggap Jojo sebagai sahabat terbaik Cika. Jojo ingat kata ibu Cika ya, kata ibu Jojo itu keren, Jojo hebat, Jojo harus selalu bahagia. Walaupun kita udah gak bareng lagi, tapi Jojo harus janji gak boleh lupain Cika ya?"

Gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya. "Iya Cika aku janji, Cika juga harus selalu bahagia,"

"Cika, ini hadiah dari Jojo untuk Cika."

"Wah gelangnya lucu banget Jojo!"

"Kamu suka?"

"Suka bangettt bangettt, Terimakasih Jojo! ini akan selalu ku simpan, aku janji!"

"iya sama-sama Cika,"

Kedua anak itu saling tertawa dan bercanda gurau sembari mencelupkan setengah kakinya di kolam ikan.

Tanpa mereka sadari ada dua orang yang memperhatikan mereka dari belakang. "Mereka lucu banget ya Jev,"

"Iya,"

"Jadi keinget dulu kita pas kecil juga pernah kaya mereka, yah... sebelum negara api menyerang sih itu," Jevano tertawa mendengar Kinara bergurau.

"Siapa yang mulai tuh penyerangannya? kamu duluan kan? tiba-tiba marah gak jelas."

"Lagi nyebelin sih! Deket-deket sama cewek terus,"

"Oh... jadi ceritanya dari dulu itu kamu cemburu ya?"

"Ih apaansih! gak gitu... Ah Gatau ah," Kinara melanggangkan kakinya kabur menjauh dari Jevano.

"Yah kok kabur, Kinara ... hey,"

"Gatau ah malessss."

Malam ini tepat di malam Sabtu, hari kebahagiaan Kinara karena esoknya ia akan bisa bangun siang hari, tak perlu memikirkan terlambat masuk sekolah atau di hukum saat upacara. "Kamu laper gak?" Tanya Kinara ke Jevano.

"Laper sedikit, kamu?"

"Laper BUANGETTT,"

"Cari makan diluar mau?" Kinara sontak mengangguk semangat. "Ajak Jojo ya, aku bawa mobil papi,"

"Okay siap, tapi jangan buru-buru ya aku mau siap-siap, make up juga."

"Siap-siap untuk apa? udah gitu aja, gak usah cantik-cantik."

"Loh, kenapa? kamu suka ya liat aku buluk begini?" Bingung Kinara.

"Kata siapa buluk? orang cantik gitu, gak perlu siap-siap pakai make up, kalau make up nanti makin cantik jadi makin banyak yang suka sama kamu, aku makin banyak saingan Nar."

Gatau pokoknya Kinara mau pergi ke mars, saltingnya dia udah next level banget! "Jevano! udah mending Lo diem, sana hush."

"Aku diusir?"

"Ih bukan gitu! aku salting tau?!"

Jevano tertawa melihat tingkah lucu Kinara, kemudian bergerak maju memeluk gadis itu, mengelus lbit surai panjangnya. "Lucu banget sih, please don't leave me..."

"Hey, i love you for always, and I'll not leave you, I really adore you Jevano, I really love you to the moon, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, and go back."

"Okay satu sama, sekarang aku yang salting. Siapa yang ajarin kamu gombal kaya gini Kinar?"

"Loh padahal kamu lebih jago gombalnya bapak Jevano."

Cup

Dengan cepat Jevano mengecup bibir Kinara, kemudian tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kinara nya Jevan cantik banget, gak boleh ada yang ambil ya? Kalau ada yang ambil aku marah, marah banget,"

"Kamu lucu kalau cemberut kaya gini, kaya anak kecil. Yaudah sana izin pinjam mobil dulu sama papi kamu Je,"

"Bentar, masih mau peluk..."

"Udah ah pegel,"

"Iya sebenernya gue tuh cuma ngontrak disini, soalnya dunia udah di ambil sama nih dua orang bucin."

"Ih Abang apaansih!"

"Halah, btw jadian diem-diem aje. Traktir dong, kasih pj."

"Gak!"

"Dih pelit anak monyet. Jepan, Lo kalau mau jadi adik ipar gue harus nurut sama gue."

"Gak usah di dengerin, udah kamu ambil mobil gih, biar mahkluk gaib ini aku yang urus Jev," Jevan kembali tertawa, Kinara tetaplah Kinara, ia suka dengan Kinara yang selalu menjadi dirinya sendiri. "Jev? sana, kok malah bengong."

"Oh iya, yaudah sebentar, kayanya aku mau bawa sepeda juga,"

"Iya yaudah terserah kamu,"

Jojo tersenyum lebar melihat ramainya isi pasar malam ini, sungguh rasanya sangat unik baginya ketika melihat banyak pedangang kecil berjualan, bahkan saking bahagianya ia sampai membeli semua jajanan yang ada disana. "Mamah, lihat jajanan yang Jojo beli," Ujarnya tersenyum membawa banyak plastik makanan.

"Yaampun banyak banget Jojo, itu emang bisa kamu makan semua?" Jojo menggelengkan kepalanya.

"Enggak mah, tapi ini mau aku bagi ke yang lain,"

Kinara menyamakan tingginya dengan Jojo, "Mau Jojo kasih kesiapa aja?" tanya nya lembut.

"Ini buat Om Haikal, yang warna pink ini untuk aunty Jijel, terus yang ini untuk aunty Somi. Ah sebentar ini juga untuk om Theo."

"Loh kamu kasih itu semua ke mereka untuk apa?"

"Sebagai kenang-kenangan mah," Mendengar ucapan Jojo malah membuat Kinara tiba-tiba sedih.

Kinara memeluk tubuh Jojo, "Ah iya, Jojo anak baik ya, kalau begitu nanti Mamah juga mau kasih Jojo kenangan,"

"Kasih apa mamah?"

"Ada deh, rahasia."

"Kinara, Jojo," Panggil Jevano yang datang dengan sepedanya. "Aku beli makanan, ayo kita makan bareng,"

Jojo mengangguk semangat, "Ayo Pah! Jojo sudah lapar, tapi kita makan dimana?"

kemudian Kinara mengajak mereka ke tepi sungai, mencari tempat yang pas untuk bisa duduk dengan santai. "Disini aja ya," Ujarnya duduk di rerumputan dengan diatasnya terdapat tikar kecil.

"Iya mamah gak apa,"

Jevan ikut mendudukan dirinya bersama mereka, mengeluarkan makanan yang tadi ia beli. "Makan yang banyak Jojo," Ujar Jevan mengelus rambut bocah kecil itu.

"Iya papah, Jojo makan yang banyak biar cepat besar." Kinara terkekeh melihat Jojo berbicara dengan keadaan mulut yang penuh.

"Mah, tau gak? tadi aku kasih hadiah ke Cika,"

Kinara dan Jevan saling bertatapan, lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. "Wah kasih hadiah apa?"

"Gelang lucu mah, Aunty Jijel ajarin Jojo buat gelangnya, lalu Jojo kasih ke Cika. Tapi mah, mamah tau gak? pas dipakai Cika ternyata ukurannya pas, cantik juga kalau dipakai Cika."

"Cantik gelangnya atau Cika nya nih?" goda Kinara.

Pipinya memerah malu "Dua-duanya cantik mah..."

"GEMESH banget bocilku!"

"Oh iya, udah jam 11:55, dikit lagi ada kembang api,"

"Itu apa mah?"

"Hm, apaya jelasinnya bingung, intinya kalau di tempat ini biasanya ada perayaan kembang api setiap akhir bulan. Ah kamu harus lihat nanti, pasti bagus banget,"

Jojo semakin tergiur dan penasaran, "Iyamah! Jojo harus lihat, tapi Jojo sebenarnya sudah sedikit ngantuk mah,"

"Ah sisah 5 menit lagi, tapi kalau kamu mau tidur gak apa,"

"Enggak deh, Jojo mau lihat bareng sama kalian, karena kedepannya belum tentu Jojo bisa kaya gini lagi,"

Jevan mengelus rambut Jojo. "Anak papah keren," Kemudian tangan Jevan bergerak memeluk Jojo dan juga Kinara, memandangi indahnya langit yang diisi ribuan bintang disana.

"Mamah, Papah, I really love you both,"

"We love you too Jojo... Jojo anak hebat, anak keren, anak yang pemberani," Kinara berusaha sekuat tenaga menahan air matanya turun. "Jojo... Mamah gak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi mamah harap Jojo selalu bahagia ya?"

"Iya mamah..."

"Maaf Jo, mungkin aku yang di masa depan belum bisa jadi mamah yang baik, maaf. Tapi kamu harus ingat Jo, mamah dan papah selalu sayang Jojo, walaupun kami yang dimasa depan gak bisa selalu bersama Jojo, tapi percayalah kita selalu disamping kamu, mamah dan papah pasti selalu jagain Jojo dari atas,"

"Mamah bahagia banget punya anak sekeren Jojo, rasanya mamah gak bisa berhenti puji Jojo, karena emang kamu anak yang hebat. Jojo..."

"Iya mah?"

"Janji sama mamah ya, selalu jadi anak yang baik, lakuin semua yang Jojo suka ya, dan jangan pernah membohongi perasaan Jojo... Kalau Jojo sedih Jojo boleh nangis, kalau lelah Jojo juga boleh istirahat,"

"Kita hanya manusia Jo, itu hal yang wajar untuk kita merasa sedih, Gak apa untuk merasa gak baik-baik aja, Jojo... Mamah cuma mau Jojo selalu bahagia," Kinara meneteskan air matanya.

"Mamah... as you said before, Kalau sedih boleh menangis, Mamah maafin Jojo ya... Jojo jadi buat mamah sedih..."

Kinara menggelengkan kepalanya, "Mamah gak sedih Jojo... Mamah bahagia, bahagia punya Jojo dalam hidup mamah..."

"Jo..."

"Iya Papah?"

"Jojo, i know you are a good boy, but sometimes when things are hard and you can't do it alone, it's okay to ask for help. People are there for you, to listen, to provide different perspectives and to help in whatever way they can, intinya kamu gak sendirian, banyak orang baik di sekeliling kamu Jo,"

[Aku tahu kamu anak yang baik, tapi terkadang ketika keadaan sulit dan kamu tidak bisa melakukannya sendiri, tidak apa-apa untuk meminta bantuan. Orang-orang ada untuk Anda, untuk mendengarkan, memberikan perspektif yang berbeda dan membantu dengan cara apa pun yang dapat mereka lakukan.]

Jojo memahami benar pesan yang diberikan kedua orang tuanya, namun kenapa rasanya sedikit berat, dada nya sedikit sesak, ah kini rasanya sedih terus melanda. "Mamah, Papah... Boleh Jojo menangis sekarang?"

Kinara yang masih menangis menganggukkan kepalanya. "Boleh Jojo," Dengan begitu air mata nya turun. Mereka kembali mengeratkan pelukan, malam ini rasa sedih, bangga, nan juga bahagia tercampur aduk, pada akhirnya mereka bertiga harus sadar bahwa hidup adalah tentang mereka yang datang dan pergi.

Dibawah langit malam dan ribuan bintang juga dengan kembang Api yang bertebaran indah, keluarga kecil itu berpelukan, menghangatkan suasana, menikmati waktu nya.

"Mamah...Papah...Terimakasih ..."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co