18
Sudah tak terasa H-2 sebelum kepergian Jojo semakin membuat Kinara merenung sedih, namun untuk menutupi semuanya ia harus pura-pura menjadi gadis yang ceria didepan Jojo. Bagaimanapun juga ia tak ingin perpisahan nanti menjadi hal yang menyedihkan, ia mau menjadi perpisahan bahagia yang tak akan pernah di sesali Jojo.
"Kinara, Are you okay?" Jevano mendekatkan dirinya ke Kinara. Membuat kepala gadis itu bersender di pundaknya, sembari mengelus Alus surai panjang gadis itu. "Kenapa?"
"H-2 Jojo No... aku belum siap..."
"Kinara..."
"Iya aku tau aku salah kalau kaya gini, tapi gimana No... aku sayang banget sama Jojo,"
"Iya aku tau kamu sayang sama Jojo. Aku juga sayang sama Jojo, tapi kamu ingat kan yang aku bilang? Kalau Jojo lihat kita sedih nanti dia juga merasa sedih,"
Kinara memeluk tubuh Jevano erat. "No... Jojo akan baik-baik aja kan ya? Aku takut..."
"Kamu lihat sekarang Jojo udah seberani dan sehebat ini diumurnya yang sekarang, jadi apa yang perlu diragukan lagi? Jojo hebat Nar, aku bahkan belum tentu bisa jadi kaya dia diumur yang segitu,"
Kinara mengangguk setuju, perkataan Jojo memang benar adanya, "Aku harus apa No? harus apa biar pura-pura bahagia di depan Jojo?"
"Kamu coba berfikir positif, tentang Jojo, tentang masa depannya, dan yang lain. Pikiran negatif yang kamu ada di pikiran kamu sekarang cuma buat kamu tambah sedih Nar, kamu gak bisa stuck disitu aja. Jangan sampai semua pikiran itu buat kamu ketinggalan banyak hal,"
"I will try my best,"
"Good gurl, that's my gurl, aku ada seuatu untuk kamu,"
"Apa?" Tanya Kinara kebingungan.
"It's secret, I can't tell you right now. Kamu kalau mau siap-siap dari sekarang gapapa, nanti aku jemput jam 7 malam,"
"Jojo ikut?" Jevano menggelengkan kepalanya.
"Tumben gak ajak Jojo?"
"Kamu tanya terus, liat aja nanti,"
"Ih Nono aneh!"
"Karena aku aneh kamu jadi suka kan?"
"I-iya sih..."
Jevano tertawa gemas mencubit pipi Kinara, kemudian mereka saling bercanda dan tertawa, melempar bantal kesana kemari, berlarian tak tentu arah. Jevano bahagia, akhirnya Kinara bisa tersenyum lagi.
Kinara gak boleh sedih...
Kinara dunia gue, kalau Kinara sedih maka gue juga ikut sedih.
Kinara berjalan hati-hati sembari dengan mata yang ditutup oleh Jevano. Dengan lembut Jevano menuntun gadisnya, membawa ke suatu tempat yang bahkan sudah ia siapkan sejak beberapa hari terakhir. "No, kamu mau bawa aku kemana?"
"Sebentar,"
"Pala aku pusing kalau jalan merem kaya gini, lama banget sih ini, kita gak jalan kaya gini terus sampai Bandung kan ya?"
"Kamu bawel, enggak mungkin aku bawa kamu jalan sampai Bandung, sabar sedikit lagi."
Kinara mendengus kan nafasnya, sebenernya bukan karena pusing yang ia dapatkan, melainkan rasa penasaran yang terus meningkat. "Udah boleh buka belum No?"
"Okay itung 1 sampai 3 ya, baru buka,"
Jevano menghitung mundur, kemudian membuka perlahan ikatan kain Dimata Kinara.
Cahaya terang seakan menusuk Indra penglihatan nya, matanya berbinar begitu indah melihat hanya banyaknya lampu hias disepanjang jalan. "Jevano..."
"Ayo, kita belum sampai," Ujarnya tersenyum menuntun tangan sang kekasih.
"No... aku mau nangis nih,"
"Nanti aja ya nangisnya, hari ini kita bahagia dulu Nar," Kinara mengangguk setuju, ia harus bahagia, bahagia dan bersyukur akan semua yang telah ia dapatkan.
Mereka terus berjalan dengan langkah kecil, sembari menikmati indahnya jejeran lampu dan juga langit malam yang masih dihiasi bintang dan bulan.
"Mamah!" Teriak bocah kecil itu menghampiri.
Kinara kebingungan, menoleh ke arah Jevano. "Jojo?"
"Iya aku yang ajak,"
"Jojo ada disini? sendirian?"Anak itu menggelengkan kepalanya, menunjuk ke arah dimana terdapat banyak orang lainnya.
"Halo bestie!" Sahut Somi dengan penuh semangat. "Sini-sini kita lagi barbeque-an,"
"Oy Kinara, lama banget maneh datengnya," Itu suara Haikal yang cempreng seakan merusak suasana hangat.
Kinara mendengus kan nafasnya, "Haikal kenapa ada disini sih, aturan usir aja, dia nanti yang paling banyak abisin makanan," balas Kinara langsing mendapat tawaan dari yang lain.
"Kak Kinara," Panggil gadis kecil membawa karangan bunga.
"Wah Cika juga ada disini?" Gadis kecil itu mengangguk, memberikan
karangan bunga itu kepada Kinara.
"Ini dari Cika untuk kakak Kinara yang cantik!"
Senyum merekah terlihat dipipi Kinara, "Makasih banyak Cika, ini bagus banget!" Ujarnya mengusap lembut rambut Cika.
Dengan semangat Kinara menghampiri temannya yang masih sibuk memasak, "Jijellll rajin banget Lo, suruh aja si Haikal yang masak," ujar Kinara.
"Yang ada nanti gosong, gak bener kalau dia yang masak," Celetuk Somi.
"Wah nih anak nantangin, Gatau aja gue mantan MasterChef Junior," Sombong Haikal.
"Aduh anying, rasanya gue mau dadah ke kamera, bilang 'Halo-halo gue gak kuat nanganin Haikal spesies teraneh yang ada di bumi,' Kalau bisa dia di pindahin ke mars gue juga rela deh," Ujar Somi yang memang merasa sebal melihat tingkah sombong Haikal.
"Nih anak berantem Mulu anjir, Lo berdua mending diem deh. Atau gue ramal 4 tahun lagi emak Lo berdua jadi besanan,"
Mendengar ucapan Giselle membuat Somi teringat akan kata Jojo kemarin hari, dimana ia dan Haikal pernah dikatakan akan menjadi pasangan suami istri dimasa depan. "Anying jangan gitu dong! gamau gamau gamau!"
"Biasanya sih yang kaya gini malah terkabul." Sahut Kinara
Haikal memulai aksinya, "Som, mau tau fakta gak?" tanya Haikal.
"APAAN?!"
"Sebenernya kita tuh jodoh, cuma Lo aja yang gak mau sama gua."
Mereka tertawa bersama mendengar lawakan Haikal. Malam itu mereka mengisi semuanya dengan tawa hangat dan bercerita tentang banyak hal, bermain bersama membuat kenangan indah.
"Pah..." Panggil Jojo sembari menarik pelan baju Jevano.
Lelaki itu menoleh, "Iya?"
"Terimakasih Papah, terimakasih papah udah mau bantu Jojo siapkan hadiah untuk mamah,"
Jevano berdiri membuat tingginya sama dengan Jojo. "Sama-sama Jojo,"
"Jojo senang sekarang mamah gak sedih lagi Papah..." Senyum tulusnya sungguh terlihat indah. "Papah juga gak sedih lagi kan?"
Jevano menggelengkan kepalanya, "Enggak, Papah gak perlu sedih, Papah punya anak yang hebat kaya Jojo untuk apa sedih?" balasnya tersenyum.
Jojo berjalan maju mencium pipi kanan Jevano, dan memeluk tubuh lelaki itu. "Papah, Terimakasih banyak, Jojo sayang Papah," Hati Jevano terasa tersentuh mendengar anaknya berucap seperti itu.
Bohong kalau ia tak bersedih jika mengingat hari esok Jojo akan pergi, bohong kalau ia sekarang sepenuhnya diisi kebahagiaan. "Papah juga sayang Jojo,"
"Jojo ingat pesan-pesan papah ya?"
"Iya Papah, Jojo pasti selalu ingat,"
"Terimakasih Jojo..."
"untuk apa?"
"Terimakasih sudah jadi anak yang hebat dan bertahan sampai sekarang, "
"Papah... i can't crying today, we must be happy right?"
[aku gak boleh menangis hari ini, kita harus bahagia kan?]
"Iya, harus happy ya Jo? semuanya harus ditutup dengan kisah yang indah,"
"Papah benar, ayo papah sekarang kita ke mamah,"
Kemudian kedua lelaki itu berjalan menghampiri Kinara, memeluk tubuh Kinara secara bersamaan.
"Eh-eh kenapa nih?"
"Gapapa, pengen peluk aja," Ujar Jevano yang memeluk Kinara dari belakang.
"Jojo juga sama kaya papah, mau peluk ajah," sahut suaranya lucu.
"Gemesh banget dua jagoan mamah," Kinara membalikkan tubuhnya, mengubah posisi untuk kembali berpelukan bersama. "Sekarang pelukan Teletubbies!"
Mamah, Papah Terimakasih,
Jojo benar-benar bahagia bisa datang ke tahun ini.
Tuhan terimakasih telah menyatukan mamah dan papah, terimakasih telah membuat mereka selalu bersama, bahkan sampai akhir hayatnya...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co