2
Kinara dan Jevan sudah pusing tujuh keliling dengan kejadian ini. Hujan semakin mereda, Kinara dan orang yang ia anggap seperti musuh itu memutuskan untuk membawa anak kecil ke sebuah restoran dekat sana, lantaran anak kecil yang datang tak diundang tiba-tiba mengeluh "Mama, pa ... aku lapar," Bayangkan betapa shock nya kedua remaja itu mendengar seorang anak kecil menyebut mereka sebagai mama-papa.
Di depan sini Kinara dan Jevan diam membeku melihat anak kecil itu makan dengan lahap. "Jev ... Ini kita lagi di prank kali ya? coba cari deh kayanya ada kamera tersembunyi, ih keren banget nanti bunda gw liat gue masuk tipi indosayang."
Bukannya mencari kamera tersembunyi justru Jevan berdecak, "Trus menurut lo cahaya tadi editan 3D gitu?" Kinara mendungus kesal. "Kalau ngomong di pikir dulu Kinar,"
Jevan mengalihkan wajanya, kini ia menatap anak lelaki berbaju putih tepat duduk di depannya. "Nama kamu siapa?" Tanya Jevan kepadanya secara lembut.
"Pa ... di masa depan, papa kasih nama bagus buat aku. Namaku Jovan pah, tapi biasanya mama dan papa panggil aku Jojo." Kinara dan Jevan sontak saling bertatapan aneh untuk kesekian kalinya.
"Ha? aku mama kamu? dan dia nih cowok fakboy papah kamu? Kayanya kamu salah orang deh, gak mungkin banget di masa depan gue nikah sama Jevan Fakboy, ew."
"Jojo jangan dengerin kata dia ya, sekarang aku mau tanya ke kamu lagi, apa boleh hm?" Jojo mengangguk dengan wajah gembung yang penuh makanan. "Kamu benar datang dari masa depan? kenapa kamu yakin kalau aku dan dia orang tua kamu?"
"Pawpa akuw dawtang kesiwni untuk suawtu tuwjuan. " Kinara memberi kan minuman kepada Jojo. "Dan aku yakin, aku anak kalian. Memangnya kalian gak sadar kalau wajahku mirip dengan papa?" Kinara baru sadar, benar adanya wajah Jojo dan Jevan sangat mirip.
"Gw gak boong Jev, tapi muka Jojo mirip banget sama muka lo." Ujar Kinara yang masih nampak kaget
Kinara mendekatkan badannya untuk meneliti setiap inci wajah Jevan. "Woah, Mata, bibir, sama alisnya mirip lo Jev. Kayanya bener dia anak lo, tapi 100% gak mungkin sih kalau gw emaknya." Kinara mengalihkan pandangannya "Kayanya kamu bener deh, dia papah kamu, cuma kamu salah aku bukan mama kamu Jo."
"Ulang tahun mama itu tanggal 11 dan papa tanggal 23, kalian lahir di bulan yang sama. Benarkan?"
"KOK TAU?!"
"Ma ... Jojo mau bobo siang." Kinara ngusak rambutnya sendiri, dia pusing banget sama anak ini. "Ini kayanya si adek ngigo deh, dek rumahnya di mana? yuk biar kak Jevan anter." Jevan membelalakan mata, bagaimana bisa jadi dia yang disuruh untuk mengantar Jojo.
"Kok jadi gua?"
"Kan lo bapaknya."
"ya lo kan emaknya."
"GAGAGAGGA gue gak punya anak, mana mungkin juga gue nikah sama lo di masa depan Jev. " Jevan yang mendengarkan recohan Kinara jadi kesal sendiri. "Ya takdirkan gak ada yang tau Kinar."
Jojo nampak bingung dengan pertengkaran kedua orang tuanya. "Ma ... Pa ... udah ya berantemnya, Jojo mau bobo siang, ayo kita pulang."
"Ini anak ngadi-ngadi banget ya Tuhan. Gimana ini Jev ya ampun, gak mungkin gue bawa ke rumah gw. Kalau bunda gue tau nanti yang ada kita dikira abis ngapai-ngapain karena tiba-tiba punya anak segede ini. Aduh anjir pala gue mau pecah, hidup gw kenapa gini aneh aneh banget sih. Jev ngomong kek jangan diem mulu, "
"udah selesai ngomongnya?" Tanya Jevan.
"Bangsa-" Jevan langsung menatap tajam mata Kinara. "Ada anak kecil, jaga mulut lo." Kemudian Jevan bangkit dari duduknya dan mengenggam tangan anak kecil itu. "Ayo kita pulang."
Kinara membesarkan matanya terlonjak kaget dengan kelakuan mahkluk aneh Jevan Aaric Yoando. "Ha? gimana-gimana maksud lo? lo mau bawa dia kemana Jev?"
"Kemana pun." Ujarnya meninggalkan Kinara yang wajahnya sudah semakin kesal.
Jevan memberhentikan motornya di sebuah hutan yang tak terlalu luas dekat dari perumahan mereka. Kinara berjalan dengan langkah ragu sembari menggandeng tangan Jojo. "Ma ... Papa mau ajak kita kemana?" Tanya Jojo nampak lugu.
"Mam- eh aku juga gatau, Jev ... lo mau ajak kita kemana?"
Mata Jojo berbinar saat melihat sebuah rumah pohon kayu di depan sana. "Uwah itu rumah pohon kan Ma? Ma Jojo mau kesana!!!" dengan segera Jojo berlari cepat dengan langkah seribunya. "Eh-eh jangan lari nanti jatoh! woy anak kecil woy! astaga, anak siape sih ini." Teriak Kinara kemudian ikut menghampiri Jojo.
Mereka bertiga menaiki tangga kayu itu perlahan. "Uwahhh," Ujar Jojo dan Kinara bersamaan. Jevan menyadari saat ini, jika memang benar Jojo adalah anaknya ia juga yakin bahwa Kinara adalah ibunya. Bisa Jevan sadari dengan jelas wajahnya Jojo memang sangat mirip dengannya, dan sepertinya dia mewariskan sifat dan setiap kelakuan Kinara, pikirnya.
"Jojo, kamu disini dulu ya nak," Ujar Jevan. "Jev? apasih lo seriusan mau tinggalin Jojo disini?" Tanya Kinara.
"Terus mau gimana lagi? lo mau bawa Jojo ke rumah lo? enggak kan? jadi mending lo diem." Kinara mendengus, walaupun dirinya sedikit bingung dengan kehadiran Jojo, tapi disisi lain dia juga pasti sangat khawatir jika Jojo ditinggalkan di tempat ini sendirian, mengingat Jojo masih anak kecil yang butuh banyak perhatian dan jagaan dari orang tua.
"Ma ... jangan tinggalin Jojo," Ujar Jojo dengan menahan air matanya yang akan jatuh. Perlahan namun pasti Jevan mendekat ke arah Jojo dan Kinara.
"Jojo, kamu disini dulu ya, kamu bilang tadi ingin bobo kan? bobo disini dulu ya sementara. Aku janji nanti jam 7 malam aku balik kesini," Ujarnya dengan lembut menngenggam bahu
"Iya papa aku gapapa ... tapi papa Janji ya?" Jojo menjulurkan jari kelingkingnya. "iya Papa janji." Sekian detiak Kinara tersenyum melihat kedua lelaki itu. "Papa mau pulang dulu ya, ada beberapa makanan udah papa taruh di meja sana. "
"Ma ... "
"Aku nanti kesini lagi kok tenang aja, kamu bobo aja yang tenang ya ... Jojo anak pemberani kan? jadi pasti gapapa dong kalau di tinggal sebentar, "
Kinara mengelus rambut Jojo. "Iya ma ..."
"aku pulang dulu ya, "
"iya ma ... pa ... dadahhh,"
Dengan langkah hati-hati dibantu Jevan Kinara turun dari tangga itu. Kembali menaikki motor kawasaki ninja hitam seperti sebelumnya. Kinara memandangi jalan di perumahan ini. Dulu perumahan ini ramai dengan teman-temannya, namun satu-persatu dari mereka pindah ke kota lain, dan hanya tersisah dirinya dengan Jevan.
Kalian pasti tahukan setiap orang pasti punya alasan dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Begitu juga dengan Kinara yang lebih memutuskan untuk membenci Jevano. Tepatnya perasaan benci itu datang saat Kinara beranjak kelas 10.
Bisa di ingat dengan jelas Kinara sempat menyimpan perasaan kepada Jevan untuk tujuh tahun lamannya, namun perasaan itu sempat berhenti saat Kinara tahu Jevano berpacaran dengan Siyeona sahabatnya sendiri.
Sangat sakit, namun tetap ia lebih merelakan perasaan nya yang hancur di bandingkan hubungan pertemanan nya hancur.
Waktu itu berita tersebar begitu luas tentang putusnya Jevan dengan Siyeona, sebagai sahabat Siyeona, tentu Kinara pasti ikut merasakan sedih, apalagi tentang penyebab mereka putus adalah karena beredarnya foto Jevan yang tengah mencium seorang gadis.
"Jevan brengsek," itu kata pertama yang langsung Kinara katakan di depan wajah Jevan saat mengetahui tentang rumor yang tersebar.
Kinara menurunkan dirinya dari motor itu, "Lo nanti ke rumah pohon lagi kan?" Tanya Kinara memastikan "Iya nanti gw dateng."
"Hm okay."
"Nitip salam buat bunda lo," Ujarnya sebelum beranjak ke rumahnya, yang tepat bersebelahan dengan rumah Kinara.
Dengan mood yang berantakan saat ini Kinara memasuki rumahnya, berlari cepat menuju kamar tercinta kemudia melemparkan tubuhnya ke kasur, menutupkan mata sejenak. "Gue... Nikah sama Jevan? apa mungkin?" Kinara mengusak rambutnya pusing. "Gak mungkin, tapi ... wajah Jojo bener mirip wajah Jevan pas kecil, argghhhh!!! hidup gue aneh banget sih ya Tuhan."
"Kinar, makan dulu sayang. "
"Iya bunda nanti,"
"Makan cepet, ini ada rendang buatan Tante Tiffany" ujar bunda sekali lagi.
Mendengar nama Tiffany atau yang biasa di kenal sebagai mami Jeno, membuat Kinar segera bangkit dan turun tangga dengan semangat. "Otw makan bunda."
"Yeuh giliran ada rendang Tante Tiffany baru Lo dateng." Ujar kak Theo dengan mata sinis. "Sirik aja sih anaknya pak Raden Suho Diningrat Tresno Joyo ." Balas Kinar.
"Ngaca?! Emang Lo kira Lo anak siapa?"
Kinar tertawa, melupakan statusnya yang juga sebagai anak dari Suho Jumaidin dan Irene Kanjeng ayu putri. "Kalau makan jangan ngomong ih, nanti kalian keselek baru tau rasa."
"Tau tuh Bun, salahin Abang yang ngajak ngomong."
"Iya-iya salahin Abang... " Balas Theo pasrah.
"Dek, nanti tolong kasih kue itu ke Tante Tiffany ya, " ujar Irene menunjuk sebuah kotak di meja makan. "KOK AKU BUN?"
"Abang mau pergi abis ini, terus siapa yang mau anter? Kamu Jadi anak gadis tuh yang sopan dan Rajin Kinar, kalau disuruh gak boleh nolak itu ajaran eyang kamu ke bunda."
"Ya tapikan it-"
"Gak ada tapi-tapian. Anter kuenya? Atau uang jajan hilang?"
Gadi itu mendengus nafasnya berat "Ya Tuhan ... Iya aku anter bundaaaaakusayang ... "
Kinara melangkahkan kakinya terpaksa menuju rumah Jevan, ugh sudah lama sekali rasanya tak pergi ke rumah ber cat abu-abu ini. Kinara membuka pagar itu, memasuki halaman rumah yang cukup luas.
Ia mengetuk perlahan, berdoa dan berharap semoga bukan Jevan yang buka pintunya. "Plis jangan Jevan jangan Jevan plus jangan Jev-"
"Ngapain kesini?" Haduh baru juga berdoa langsung di tolak balik sama Tuhan.
"Nih bunda kasih kue untuk mami Lo "
"Masuk."
"Eh enggak usah, gue mau buru-buru bali-"
"Mi ada Kinar dateng bawa kue," ujar Jevan dengan senyum liciknya, disisi lain Kinar berdecak kesal dengan tingkah lelaki ini.
"Iya suruh masuk aja," Kinar membesarkan matanya ke Jevan. "Tuh udah disuruh masuk sama Mami,"
"Ck. Jevan rese! Minggir Lo," Kinar berjalan dengan sengaja mendorong bahu Jevan keras. "Emang ya semua cowok sama aja," gumamnya pelan.
"Eh Kinar, kamu makin cantik aja sih, udah lama lho kamu gak main kesini, padahal rumah kita tetanggaan."
Kinar menggaruk kepalanya berusaha mencari alasan yang tepat. "Ehm... I-itu mi, Kinar akhir-akhir ini sibuk belajar sama lagi persiapan lomba cheers,"
"Sibuk belajar? Yakin?" Ejek Jevan.
"Ck. Mending mulut Lo diem aja ya Jev, "
"Rajin belajar tapi remed terus," aduh emang ya mulut cowok kalau kompor tuh rasanya lebih pedes daripada cewek. Rasanya Kinar udah mau Jambak rambut Jevan biar diem, tapi gak bisa keinget disini masih ada Mami nya Jevan.
"Kalian kenapa sih, semakin gede malah jadi semakin sering berantem, kalian itu harus hati-hati... kata orang kalau kita benci orang itu, bisa aja nanti ternyata dia jadi jodoh kita." Kinara dan Jevan saling bertatapan.
"Enggak!" Ujar keduanya bersamaan.
"Tuh kan jawab nya aja barengan, kaya sehati gitu,"
"Mami..."
"Iya-iya mami bercanda," Tiffany berjalan mendekati Kinar mengambil kue yang di pegang Kinar lalu menaruhnya di meja makan. "By the way, Kinar udah punya pacar belum sayang?"
Uhuk uhuk
"Jangan ditanya mi, gaada cowok yang mau sama cewe galak kaya Kinar."
"Ya Jevan! Banyak kali yang suka sama gue, gue nya aja yang gak mau sama mereka."
"Masa?"
"Taulah, Mami Jevan nya tuh mi..." Tiffany tertawa melihat tingkah mereka berdua, "kok jadi gua?"
"Gak Taulah,"
"Tapi kalau di lihat-lihat kamu sama Kinar cocok loh Jev," Tolong Kinar udah angkat tangan, dia takut banget berharap lebih jauh tentang Jevan.
"Mami kalau ngomong jangan aneh-aneh." Jevan berdecak meninggalkan kedua gadis itu.
"Ih ngambek si Nono." Ujar Tiffany melihat bahu anak nya yang sudah menjauh.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co